MONOCHROME IN LONELY ROAD

MONOCHROME IN LONELY ROAD
BAGIAN 18



Sehari sebelum Terang pergi ke tempat Pak Lik Giyono di Parangtritis, dia melihat Noah sedang berbicara dengan seorang wanita anggun di parkiran mobil kampus. Saat itu, dia sedang berjalan dari arah kantin bersama dengan Kayla. Matanya awas melihat Noah yang berdiri satu meter di depan wanita yang ia ajak bicara. Untung saja, Kayla berhenti di depan papan mading sehingga Terang bisa tenang melihat apa yang sedang terjadi di parkiran.


Wanita itu bukanlah jenis wanita seperti Bunda. Dia anggun dengan balutan baju terusan selutut warna merah marun. Rambutnya digelung kecil rapi dan mukanya putih menyala diterpa sinar matahari sore. Kakinya terlihat putih bersih dari jauh.


“Terang, mau ikut ke Gramed? Aku pengen beli beberapa buku untuk dibawa ke Bandung. Kayaknya bakal menjemukan berada di dalam kereta lebih dari 5 jam,” tanya Kayla. Yang ditanya tampak gelagapan. “Kamu lagi liat apa sih?”


Terang menggeleng, menyadari bahwa sejak tadi dia tidak memperhatikan apa yang dibicarakan oleh Kayla. “Aku mau pulang,” ujarnya kemudian.


“Nggak mau ikut?”


Terang menggeleng.


“Kamu lagi ngeliat seseorang?” tanya Kayla lagi. Terang lagi-lagi menggeleng dan terlihat salah tingkah, dia sok-sok melihat papan pengumuman di depannya yang jelas-jelas tidak ada informasi yang baru sejak seminggu lalu. “Kamu ngeliat Noah?” tanya Kayla saat melihat Noah sedang berjalan ke arah vespanya.


“Maksudmu?” Terang mengikuti arah mata Kayla dan melihat Noah sudah tidak ada di depan Alphard hitam. “Aku mau pulang, jadi kamu ke Gramedia sendiri aja.”


“Hei, tunggu.” Kayla mengejar Terang yang sudah menuruni anak tangga ke parkiran motor dan sepeda. “Kamu ngehindar, ya? Pasti ada yang sedang kamu rahasiakan. Noah, kan?”


“Nggak ada.”


“Kuperhatiin, sekarang kamu jarang pergi sama Janaka dan lebih sering sama Noah.”


Terang berhenti, lalu memperhatikan Kayla. “Jangan sok tahu, Drama Queen.”


“Aku hanya menebak. Kulihat kamu jadi akrab sama Noah sejak dia pindah kosan.”


“Nggak ada yang berubah. Sudahlah, aku mau pulang.”


“Jika bukan karena Noah, Janaka?”


“Mengapa jadi dia?” tanya Terang dengan suara sedikit naik.


“Aku tahu dia menyukaimu, dan kalian sudah bersahabat sejak kecil. Jadi, kenapa sih nggak jadian aja? Dia baik, kamu baik.”


Terang menghela nafas kecil. Itu yang sejak dulu ia tanyakan pada dirinya sendiri. Mengapa dia tidak jadian dengan Janaka, padahal ia tahu Janaka menyukainya. “Dia nggak pernah bilang mencintaiku,” kata Terang.


“Sungguh?”


Terang mengangkat bahu. Terang tak berniat untuk menjelaskan apa-apa pada Kayla, jadi dia memilih untuk menuju sepedanya. Noah sudah tidak terlihat di parkiran.


Malam harinya, Terang melihat Noah keluar dari kamarnya. Seperti biasa, dia hanya mengenakan boxer hitam dan kaus tanpa lengan berwarna putih yang sudah lecek. Terang sendiri sedang duduk di depan kamarnya. Bunda sudah pergi duluan ke Bantul.


Noah menghampiri Terang dan bertanya, apakah besok mereka jadi ke Bantul. Terang menjawab dengan anggukan. “Maaf, tadi sore, nggak kasih tebengan. Padahal aku melihatmu di dekat parkiran bersama Kayla.”


“Tadi kamu melihatku bersama mami?” tanya Noah sambil menatap Terang.


Terang mengangguk kecil. “Dia cantik sekali. Aku sangat iri dengan orang-orang yang bisa tampil anggun dan cantik seperti mamimu,” katanya dengan nada riang.


Noah sedang tak ingin diajak bercanda. Bahkan dia kemudian minta ijin untuk ke kamarnya lagi.


Terang pun tidak mencegahnya. Dia memilih untuk pergi ke atas kamarnya. Tempat itu rencananya memang akan dijadikan kos-kosan lagi oleh Lik Ilham, tetapi karena terkendala dana, saat ini belum selesai. Untuk menuju ke sana, Terang harus menaiki tangga yang masih berantakan dan belum disemen rapi di samping kamarnya. Di atas sinilah, Terang biasanya  menyendiri. Ketika ia membutuhkan waktu untuk menenangkan pikirannya, sambil memandang hamparan padi kuning di sawah belakang kos-kosannya yang sekarang tinggal beberapa petak. Sawah itu mulai ditimbun tanah di beberapa tempat, rencananya sawah itu akan dibuat jalan yang menghubungkan Pogung dengan Jalan Monjali. Jalan beraspal yang membelah sungai. Di atas sungai akan dibangun jembatan lebar.


Terang duduk di tepi balkon yang belum berdinding. Kakinya menjuntai di udara. Ada apa dengannya? Tiba-tiba dia memikirkan Noah. Kemudian dia menggeleng-geleng pelan. Mengusir nama itu yang beberapa hari ini ada di otaknya.


# # #


 


 


Di dalam kamar, Noah tidak main games. Dia duduk di kasur yang terhampar di lantai. Di tangannya ada diary warna hitam. Di halaman pertama diary, ada nama kakeknya yang ditulis dengan tinta biru. Tulisan kakeknya yang sangat rapi. Di bagian backcover ada foto Noah kecil yang sedang berlari dan tertawa lebar, hasil jepretan kakeknya.


Kertas diary itu sudah menguning di beberapa bagian. Noah melompat beberapa halaman. Ke halaman yang ia sangat hafal. Tulisan kakeknya yang rapi. Di tengah-tengah ada timbul bercak lingkaran, seperti air. Noah selalu yakin air itu adalah air mata kakeknya.


Noah menutup diary itu. Kemudian memejamkan mata. Tulisan di diary itulah yang sempat membuatnya terpuruk setelah kepergian kakek. Tulisan kakeknya yang dirahasiakan darinya. Bahkan dari maminya. Kini hanya Noah sendiri yang mengetahuinya.


Noah sempat ingin menyalahkan Tuhan tentang semuanya. Tentang papinya yang pergi mendahuluinya, maminya yang menikah lagi dengan selingkuhannya, kakeknya yang juga pergi. Hidupnya seperti terjatuh di sumur yang sangat dalam dan gelap. Ia hanya melihat satu titik terang di atasnya. Titik itu jauh sekali. Maminya menjadi sangat gila karena terobsesi ingin menjadikan Noah penerus perusahaannya. Memintanya untuk kuliah dengan sebaik mungkin. Menyuruhnya melupakan kamera.


Melupakan kamera, berarti melupakan papinya.


Melupakan foto, berarti mengingkari kakeknya.


Maminya yang lupa, selama bertahun-tahun dia meninggalkan Noah dan bersenang-senang dengan lelaki yang sangat Noah benci. Tapi satu hal yang pasti, Noah tak bisa melihat maminya menangis. Betapa pun ia sangat membenci keadaannya, ia tak bisa membenci maminya. Seperti yang pernah kakeknya bilang. Batu janganlah dibalas batu.


Noah meremas sprei bergambar Batman dan Joker. Ia memejamkan mata. Ada batu besar yang mengganjal di hatinya kini. Ia kabur dari kosan yang lama dan tak ingin ditemui oleh maminya lagi. Karena ia ingin menyendiri, karena ia sudah cukup menuruti maminya yang meminta untuk kuliah di TI UGM. Karena dia tak ingin menangis seperti waktu kecil lagi.


Karena kini, dia tahu, untuk apa ia bertahan sampai sekarang. Itu semakin jelas, karena sekarang ia bertemu dengan Terang. Karena ia jatuh cinta dengan gadis aneh itu.


# # #