
Juni, 2011.
Namaku Terang.
Hari ini tepat seminggu sebelum aku sidang skripsi. Rasanya seluruh hari di Teknik Industri UGM tak pernah sedeg-degan sekarang. Mendadak semua berputaran di kepalaku. Landasan teori, semua komponen penelitian, hasilnya. Aku bahkan tak bisa mengontrol diriku sendiri. Ini lebih menyeramkan daripada harus berhadapan dengan soal-soal ujian semesteran.
“Kamu tak perlu gugup, jika kamu mengerjakan semua penelitian itu sendiri, kamu akan baik-baik saja. Jika kamu menulis skripsimu sendiri dan hasilnya kamu kuasai, kamu tak perlu takut menghadapi sidangmu nanti,” begitu nasihat Pak Budi Hartono, dosen pembimbingku, sore itu setelah mengetahui aku benar-benar depresi.
Jadi aku disarankan untuk melupakan sejenak skripsiku, lalu bisa menetralkan otakku kembali. Aku menuruti saran dari Pak Budi yang selama empat bulan terakhir ini sudah menjadi orang yang sangat dekat denganku.
Dari semua pikiran yang mendadak memenuhi otakku, terselip sedikit rasa rinduku padanya. Kamu apa kabar? Aku akan sidang skripsi dua hari lagi. Dan kamu tahu, aku sudah memasukkan dokumen beasiswaku untuk Georgia Tech. Aku ingin rasanya memeluk Noah kali ini. Satu persatu lukisan di langitku mulai terwujud, dan sesungguhnya orang yang ingin kuberitahu adalah dia.
Suatu malam, kira-kira empat bulan yang lalu, aku sedang benar-benar kepikiran dia. Aku menangis, sama seperti tangisku saat sehari setelah kehilangannya. Kayla memberitahu via SMS bahwa proposal skripsinya diterima oleh dosen. Kulihat beberapa temanku mulai memasang status di facebook. Tuhan, terima kasih. Ini keajaiban. Proposal skripsiku diterima. Kemudian aku meringkuk sendirian di kamar, membayangkan betapa menyedihkannya hidupku tanpa Noah.
Saat aku datang ke pertemuan wajib dosen pembimbing pada hari Senin (Pak Budi memberikan jadwal dua kali seminggu, Senin dan Rabu), aku datang tanpa membawa progres apa-apa. Aku hanya bisa menyelesaikan BAB 1, tanpa membawa rancangan penelitian apapun. Kemudian beliau bertanya, apakah aku baik-baik saja? Aku bilang aku sangat baik-baik saja. Meski pun aku tak nampak baik-baik saja.
Tiga hari kemudian, semua anak bimbingan Pak Budi mendapatkan persetujuan proposalnya dengan coretan sana-sini. Di ruangan laboratorium mereka tampak bercerita tentang rencana penelitian mereka. Sementara kertas proposalku hanya ada satu coretan saja. SPEED UP! Kemudian aku tersadar bahwa lukisan-lukisan langitku memang harus diwujudkan secepatnya.
Hanya aku yang bisa mewujudkan mimpiku, bukan orang lain. Semuanya hanya tools.
Sebulan aku menyusun rancangan penelitianku. Aku memilih Operation Research. Sebulan kemudian aku melakukan penelitian, sebulan aku menulis, dan sebulan revisi. Di bulan keempat, Pak Budi menyetujui penelitianku untuk sidang. Ini diluar dugaanku. Meskipun selama empat bulan ini aku masih saja terbayang-bayang oleh Noah. Seandainya dia masih ada, dia pasti akan skripsi juga. Dia pasti kebingungan akan memilih topik apa. Kukira dia akan memilih Simulasi karena dia sangat menyukainya. Tapi apakah dia bisa? Beberapa pertanyaan konyol itu melintas saja di kepalaku.
# # #
Siang ini, aku sedang duduk berdua dengan Kayla di kantin kampus. Aku sedang membaca ulang skripsiku.
“Kamu sebaiknya santai, Rang. Kaku gitu,” ujar Kayla kepadaku.
Aku tak menghiraukannya dan masih sibuk membolak balik halaman skripsiku.
“Kemarin Janaka nanyain kamu. Sombong katanya sekarang,”
“Kenapa?” tanyaku masih tanpa mengalihkan pandangan dari skripsi. “Bukannya dia yang sombong.”
“Ya, mungkin dia masih menaruh hati sama kamu.”
Aku menutup skripsiku, lalu kuseruput es teh manis di depanku. “I never know, Gadis Manis.” Kucubit pipi Kayla sampai merah. “Kudengar waktu kita KKN, dia sedang dekat dengan adik angkatan kita. Aku sudah jarang ngobrol sih dengan dia.”
“Nah itu, mungkin dia menganggapmu sombong karena itu. Tidak jaga jarak, kan?”
“Dengar ya gadis manis, dia itu sahabatku sejak aku kecil. Bagaimana aku bisa jaga jarak dengannya. Masalahnya, dia yang justru kayak jaga jarak. Aku juga nggak tahu kenapa.” Aku ingat bahwa beberapa bulan lalu, aku sempat diajak makan sama Janaka, dan dia cerita bahwa dia sedang dekat dengan adik angkatan yang dulu sering minta bantuan kepadanya. Aku tak tahu mengapa dia menceritakan itu kepadaku.”
Kayla mendadak menatapku serius. “Apakah kamu benar-benar masih memikirkan Noah?” Keningku mengerut mengikuti arah pertanyaan Kayla. “Kamu belum bisa membuka hatimu untuk orang lain? Aku tidak bermaksud apa-apa, tapi kupikir kamu harus mulai perlahan untuk memikirkan masa depanmu.”
“Aku sudah membukanya bahkan ketika sadar aku akan kehilangan dia untuk selamanya, tapi...” aku menggantungkan kalimatku. Lanjutku, “Aku belum siap saat ini. Percayalah, suatu saat aku akan siap.” Aku tersenyum. “Dan untuk Janaka, dia sahabatku. Aku bahkan tidak tahu, apakah dia benar-benar mencintaiku atau hanya perasaan khawatir seorang sahabat.” Aku menelan ludah, memahami kalimat yang kukatakan barusan.
Kulihat ada Janaka yang sedang berdiri di depan tempat fotokopian. Aku berdiri lalu memanggil namanya, dia menoleh. Aku memberi isyarat dia agar bergabung denganku dan Kayla. Ketika dia datang, dia mengambil tempat duduk di sampingku.
“Sepertinya sudah seabad tidak bertemu denganmu?” dia mengacak rambutku, sesuatu yang dulu sering ia lakukan. “Bunda apa kabar?”
“Kamu yang sibuk dengan adik angkatan kita. Yang mana sih orangnya?” aku pura-pura bertanya, padahal aku sudah tahu. “Bunda nanyain tuh, kamu jarang main katanya sekarang.”
Janaka hanya tersenyum kecil. “Kapan ke Parangtritis?”
“Lusa. Aku mau nyekar ke makam nenek sebelum sidang. Sudah lama aku tidak nyekar.”
“Mau kujemput. Kebetulan besok pagi aku ada urusan di gedung pusat, siangnya aku bisa menjemputmu.”
“Bunda pasti akan senang kamu datang. Percayalah. Dia selalu terobsesi bahwa kamu adalah puteranya yang hilang.” Aku tertawa, tapi itu benar.
Aku dan Janaka menoleh ke arah Kayla yang duduk di depan kami. Kayla berkata, “Anggap saja aku kecoa yang sedang mengais-ais dengan kaki-kakiku.”
“Kayla, untuk pecinta KPOP, bahasamu sangat menjijikkan,” kataku sambil tertawa.
# # #
Hari ini adalah waktu yang kutunggu-tunggu selama empat tahun kuliah di Teknik Industri. Aku mendapat jadwal sidang pertama, pukul 09.00. Aku bangun sangat pagi, lalu berjalan-jalan seorang diri menggunakan sepeda untuk menenangkan pikiran. Jogja sedikit mendung sejak shubuh. Semoga tidak hujan. Saat pukul tujuh, gerimis sedikit turun menemani keberangkatanku. Bunda sangat cerewet pagi ini.
“Apakah kamu sudah sarapan?”
“Bukankah tadi Bunda melihatnya?”
“Jangan lupa untuk membawa buku-buku referensi.”
“Aku sudah menyiapkan sebaik mungkin tadi malam.”
“Kamu tidak makan Mas Kobis kan tadi malam?”
Aku menggeleng.
“Mie goreng pakai cabai?”
Aku kembali menggeleng.
“Jangan biarkan perutmu sakit. Ehm..tunggu.” Bunda mengamatiku. “Mengapa kamu tidak memakai lipstik sedikitpun? Kamu harus terlihat cantik hari ini.”
“Aku tidak biasa memakainya.”
“Kamu harus memakainya.”
“Nanti aku memakainya.”
“Sekarang, Terang Azzahra Puteri Cantikku.”
“Iya, aku akan memakainya.” Dan aku memakainya.
“Apakah kamu sudah sarapan?”
“Bunda, kamu sudah menanyakannya tadi.”
“Astaga, mengapa aku jadi ikutan panik. Tenang-tenang. Ambil nafas, Puteriku.” Bunda memberi contoh. “Rileks.”
“Nasihat itu untuk Bunda harusnya.” Aku mengecup pipinya.
Bunda memutar tubuhku. “Lihat dirimu, cantik sekali hari ini.” Dia tersenyum. “Apakah Bunda perlu ikut?”
Aku menggeleng. “Aku akan gugup kalau ada Bunda karena Bunda pasti kelihatan khawatir. Tenanglah di rumah, nanti Terang akan memberitahu hasilnya via telepon.”
Aku melirik diriku di cermin yang ada di kamar. Hari ini aku memakai stelan jas warna hitam dengan dalaman warna merah marun. Tadinya Bunda memaksaku untuk menggunakan gaun Aku mengucir rapi rambutku.
Aku ke kampus diantar oleh Lik Ilham, yang tentu saja sekarang kupanggil ‘bapak’, menggunakan Xenia silvernya. Gerimis tak jadi berubah hujan. Langit cukup menyenangkan, tidak cerah, tidak mendung. Sendu. Aku melirik langit sekilas, tergantung di atas sana lukisan-lukisan yang kubuat. Ada nama Noah, dan aku berbisik lirih dalam hati. Aku sidang skrispsi hari ini, doakan aku.
Kampus belum terlalu ramai ketika aku datang. Bapak mengecup keningku dan memberi semangat.
“Kamu jangan lupa berdoa,” ujarnya, aku mengangguk.
Ruang Sidang 1 untukku hari ini. Aku dibantu oleh petugas TU untuk menyiapkan peralatan. Proyektor sudah menyala, buku-buku referensi sudah ada di meja, tiga cetak skripsi sudah ada di meja penguji. Ada tiga dosen penguji hari ini, Pak Andi, Bu Aini, dan Pak Bagyo. Tentu saja ada Pak Budi sebagai dosen pembimbing.
Aku menunggu kehadiran para dosen penguji ketika kurasakan ponselku bergetar di tas. Aku sebenarnya tak ingin diganggu oleh hal-hal semacam itu. Tapi kupikir ada yang penting, jadi aku melihatnya. SMS dari ayah.
Semangat hari ini. Kamu yang terbaik, Sayang. Aku tersenyum. Rasanya begitu gembira memiliki keluarga-keluarga yang begitu perhatian.
Hari ini dimulai dengan bismillah. Aku memulainya.
# # #
Lima belas menit kemudian, aku diminta untuk masuk ke ruangan kembali. Tubuhku mendadak menegang. Kaku. Tidak, aku bahkan tidak siap untuk mendengarkan pengumumannya.
“Kudengar kamu akan melanjutkan S2 ke GT?” tanya Pak Bagyo. “Bagaimana jika kamu gagal hari ini?”
“Bagaimana jika hari ini kami nyatakan kamu tidak lulus dan harus mengulang skripsimu?” tanya Bu Aini.
Mukaku pucat.
“Tidak, mereka bercanda,” kata Pak Andi sambil tertawa. Dan kulihat Pak Budi juga ikutan tertawa. “Selamat ya, Terang Azzahra, ST.”
Rasanya seluruh tubuhku tenggelam ke lautan es di Antartika.
# # #
Ketika aku keluar menemui teman-temanku, semua orang memberiku selamat. Kayla membawa satu ikat mawar merah cantik. Dia memelukku erat sambil mengucapkan selamat. Satu persatu memberiku selamat. Maleo sibuk mengambil gambar kami. Aku tertawa-tawa saja ketika melihatnya sok bergaya sutradara yang mengarahkan adegan kami. Ada Gema juga di sana. Tapi, aku tidak melihat Noah. Mendadak semua orang membeku di tempatnya, tinggal aku yang berputar-putar seorang diri mencari Noah. Dia tidak ada. Dia memang sudah tidak ada.
Hei Bodoh, lukisan langitku telah terwujud satu. Apakah kamu gembira untukku?
Aku menangis, semua orang mungkin mengira bahwa tangisanku adalah tangisan haru. Tapi tidak, aku menangis untuk Noah. Karena lelaki itu tidak ada di sini hari ini.
Perayaan kelulusan itu berangsur-angsur memudar saat sidang kedua sudah akan dimulai.
“Tidak ada selebrasi yang kekal, cukuplah sekadarnya saja,” kata Pak Budi mengingatkan kami. “Terang, kutunggu revisianmu, ya.” Beliau tersenyum kepadaku.
Benar kata beliau. Tak ada selebrasi yang kekal. Sebahagia apapun kita, cukuplah sekadarnya saja menanggapinya. Begitu juga ketika kehilangan seseorang, secukupnya saja sedihnya. Jadi aku membiarkan hatiku melega siang itu, menikmati kelulusanku.
Janaka datang siang kemudian membawa sebuket bawar merah, cantik sekali. Dia mengucapkan selamat padaku. Kayla menyenggol lenganku. Ya, kupikir aku harus mulai melihatnya. Pengorbanannya. Aku ingat bahwa dia dulu adalah teman diskusi yang menyenangkan. Sepertinya memang seperti itu. Jadi ketika dia mengajakku makan, sore harinya, aku menyetujuinya. Kubuka hatiku lebar-lebar.
# # #
Sore ini adalah bulan Juli tahun 2011.
Aku baru saja kelar mengurus persyaratan wisuda untuk bulan Agustus nanti. Aku mengelap keringat di mukaku. Dua botol air mineral telah tandas. Beberapa kali aku harus bolak-balik ke fotokopian, naik tangga, ke bagian Tata Usaha.
Siangnya aku janjian dengan Pak Andi. Aku meminta beliau untuk membuatkan surat rekomendasi beasiswaku ke Georgia Tech. Mas Satria sudah memberi tips-tips untuk mendaftar beasiswa ke universitas itu. Jadi aku mengikuti saran-sarannya. Dia juga mengirimiku contoh esay yang pernah ia buat. Bulan ini, aku begitu bersemangat sekali.
“Intinya jujur dengan dirimu sendiri. Jangan lupa berdoa,” ujar Mas Satria tadi malam ketika aku chat dengannya. Aku bukannya pesimis, tapi saran dan nasihat dari orang-orang seperti menguatkan hatiku.
Akhirnya sore hari, aku bisa kembali ke rumah. Aku belum makan. Kepalaku sedikit pusing. Ini pasti darah rendah yang kumat. Terpaksa aku harus mengendarai sepedaku pelan-pelan. Ngomong-ngomong masalah sepeda, aku tidak pernah menjual sepeda yang menemani perjuanganku ini. Meskipun beberapa kali dia sangat merepotkan, tapi dia sangat baik.
Aku bersenandung lirih sepanjang jalan untuk mengusir rasa sakit kepala yang terasa sangat menyakitkan. Jalan Grafika di utara Rumah Sakit Sardjito mendadak menjadi sangat panjang. Sepedaku terasa berat. Kepalaku seperti didatangi jutaan lebah yang menggelayutinya. Aku menghentikan sepedaku, kupegang kepalaku. Lalu semuanya gelap.
# # #
Saat perlahan mataku terbuka, aku mencium bau khas yang kukenal. Semuanya putih. Ini rumah sakit, pikirku. Aku menarik punggungku ke atas. Tak ada siapa pun. Pintu dibuka dan muncul suster yang membawa nampan obat untukku. Sudah sadar, kata perawat itu. Aku memegangi kepalaku yang masih sedikit berdenyut. Di belakang perawat itu, muncul laki-laki yang kukenal.
Deja vu, pikirku. Aku seperti pernah mengalaminya. Lelaki itu tersenyum lebar. Aku melihatnya berbeda. Dia memakai kemeja kotak-kotak panjang yang lengannya digulung hingga siku, celana jeans, rambut klimis yang disisir rapi.
“Hai, Terang. Sudah sadar?” tanyanya. “Syukurlah, aku sempat khawatir.”
Aku tak percaya memandang Mas Bara ada di depanku.
# # #
“Tadi aku baru dari kampus, lalu kulihat kamu berhenti di tepi jalan. Lalu pingsan. Jadi aku membawamu ke RS Sarjito,” kata Mas Bara. Dia mengantarkanku pulang dengan Jazz-nya. “Kamu nggak papa, kan, kuantar pulang begini?” tanyanya.
Aku menggeleng, memberi jawaban. Darah rendahku hanya kumat. Dokter sudah memberi obat dan aku diperbolehkan pulang.
“Mas Bara jarang kelihatan di kampus?” tanyaku, mencoba mencairkan suasana. Sejak keluar dari parkiran rumah sakit, aku hanya diam saja.
Mas Bara tertawa sedikit. “Aku sudah jarang kuliah. Tadi aku ke kampus dipanggil Bu Rini karena skripsiku yang belum juga kelar.”
“Oh, maaf, aku tidak bermaksud...”
“Tidak masalah, Terang.” Dia tersenyum. “Aku sekarang bisnis jus. Masih kecil-kecilan sih. Tapi hasilnya lumayan. Aku bikin gerobak-gerobak jus, lalu menyewa lahan di depan minimarket. Ya, kalau sudah menyentuh duit, rasa-rasanya aku jadi lupa sama kuliah.” Dia tertawa lagi. “Kamu sudah lulus, ya?”
“Tinggal nunggu wisuda nih, Mas.”
“Jadi melanjutkan S2 ke luar negeri?”
Aku mengangguk. “Kok Mas Bara bisa tahu?”
“Gini-gini, aku dulu pernah naksir sama kamu lho. Jadi aku suka stalking he he he.” Mas Bara menoleh ke arah Terang. “Ngomong-ngomong, aku sekalian minta maaf untuk masalah yang dulu. Kupikir-kupikir aku sangat kurang ajar dulu. Kadang terobsesi terhadap sesuatu, apalagi itu cinta, bisa membuat kita gila,”
“Aku sudah melupakannya kok Mas. Sudah lama sekali.”
“Tapi aku tetap wajib minta maaf, kan?” Dia tersenyum lagi.
“Iya Mas, aku sudah memaafkan kok. Lupakan saja. Jadi sekarang, Mas Bara buka bisnis, nih? Kuliahnya gimana?”
“Kamu sudah nonton film 3 idiot, belum?”
Aku mengangguk.
“Seperti kata Viru Sastrabudhi, si rektor dalam film 3 idiot. Hidup itu selalu diawali dengan perlombaan, siapa membunuh siapa. Dan kuliah adalah sebuah ajang perlombaan. Kita awalnya berlomba dan saling membunuh pesaing ketika akan masuk ke universitas. Ketika telah diterima, kita juga akan saling membunuh. Siapa yang bertahan dengan keuletannya, dialah yang nanti akan terlihat berhasil. Siapa yang tidak, ya akan tersingkir. Setelah menyadari bahwa aku mulai ogah-ogahan di kampus, aku mulai banting stir ke bisnis. Ya, ini gila sih.” Mas Bara membelokkan mobilnya ke daerah pogung. “Rumah masih sama, kan?” tanyanya.
Aku mengangguk. “Prinsip itu kayaknya berlaku juga ya Mas untuk cinta?”
“Kamu nyindir aku nih?” Dia tertawa.
Aku menggeleng, sambil cekikikan. “Bukan begitu, Mas.”
“Tapi aku setuju, prinsip itu juga berlaku untuk cinta. Siapa membunuh siapa. Siapa yang paling kuat bertahan untuk berjuang, ya dia yang menang.”
Aku tersenyum. “Sekarang Mas Bara sama siapa?”
“Kamu kepo nih?” Dia tertawa lagi. “Aku sekarang pacaran sama anaknya temannya mami. Setidaknya dulu aku pernah bilang bahwa aku pernah suka sama kamu ya. Jadi aku tidak penasaran lagi. He he he.”
Aku menatap jalanan di depan. Muncul wajah Janaka yang membawa bunga di depanku.
Tapi entahlah, Tuhan selalu punya rahasia-rahasia menarik tentang makhluk-Nya. Sampai kapanpun mungkin aku tak pernah akan mendengarkan Janaka bilang bahwa dia menyukaiku. Atau aku hanya menebak-nebak saja, atau Kayla ternyata salah. Janaka mungkin hanya menganggapku seorang sahabat kecilnya, seperti dahulu. Jadi sampai cerita ini berakhir, dia tidak pernah bilang. Dia hanya memberi ruang luas untukku menginterpretasikannya. Dia memberiku bunga, sementara tak ada seorang pria pun yang datang memberinya. Dia mengajakku makan, bercerita, menjemputku kemudian, menemaniku di perpustakaan mencari referensi untuk revisian skripsiku.
Jadi, bagaimana aku bisa tahu bahwa dia mencintaiku? Mungkin Mas Bara benar, urusan percintaan pun akan ada prinsip ‘siapa membunuh siapa’.
Begitulah Tuhan menulis untuk umatnya. Kehidupan, cinta, karier, rejeki. Dan juga kematian adalah rahasia-Nya. Begitulah kisah ini akan berakhir. Semuanya mendadak kembali lagi, ketika Noah datang kembali padaku.
# # #