MARRIED WITH MR. COOL

MARRIED WITH MR. COOL
TAKDIR



Semua yang Ana alami telah Natan ketahui, ia memberikan pil penetral racun yang diberikan seseorang di rumah ini.


Beberapa menit kemudian, tubuh Ana yang dingin, wajah begitu pucat dan mata merah membaik setelah meminum pil yang diberikan oleh tuannya tersebut.


“Apakah kamu sudah merasa baikan, Ana?” tanya Natan yang cukup khawatir akan kondisi pelayan terbaiknya itu.


Ana hanya mengangguk, tak perlu meminta penjelasan apa yang sudah ia makan atau minum tadi. Natan hanya mengecilkan kubil matanya, seperti sedang memikirkan sesuatu hal yang sangat serius.


Sama seperti pertanyaan tadi, sebenarnya Ana kenapa? Siapa yang membuat dirinya seperti itu?


Pil yang memang Natan miliki dari dokter ahli sejak lama, memang sangat sempurna dalam menetralkan racun. Pewaris dan Wiguna selalu membawa pil ini setiap waktu, karena mereka mengetahui bahwa mereka adalah subjek yang selalu diincar untuk dirobohkan sewaktu-waktu.


Maka dari itu, beberapa hari belakang ini ia selalu mengecek cctv di rumahnya. Pria pemilik insting yang sangat kuat ini merasa ada yang tak beres dalam rumahnya, sehingga ia terus mengontrol ketika ada waktu luang.


Merasa Ana sudah membaik, ia memberikan ruang kepada Ana untuk beristirahat. Tapi sebelum itu wanita cantik ini diberikan perintah ringan. Dan Ana pun tak keberatan sama sekali untuk mengiyakan perintah Tuan Mudanya.


Beberapa saat kemudian, Daniel dengan bentuk tubuh yang terlihat susunan roti sobek yang begitu menawan masih sibuk memilih pakaian dalam lemari luas milik Natan.


“Hah, pakaiannya begitu banyak sampai-sampai aku susah untuk memilihnya,” celoteh Daniel seraya memengagi beberapa pakaian di dalam lemari.


Baru saja selesai memilih sweter berwarna putih dan celana pendek selutut dengan kain yang begitu nyaman untuk dibawa tidur. Tiba-tiba ia terkejut dengan sosok yang berada tepat dihadapannya saat ini.


Wajahnya berubah menjadi merah padam, kedua bola mata yang indah mengembang, dan hentakan jantungnya tak bisa terhenti begitu cepat.


Deg! Deg!


“Ka- kamu?” Suara Daniel yang biasanya sangat gagah dan menawan, kini berubah menjadi gagap tak terkontrol.


Begitupula dengan Ana yang membawa secangkir teh hangat, ia diam terpaku bagaikan patung yang tak dapat berkeming sedikitpun. Ia tak menyangka pria yang dicari dan di nanti sejak lama ada dihadapannya saat ini.


“Kamu seorang pria yang tak sayang nyawa,” celetuk Ana kepada Daniel, karena mengingat pertemuan mereka dulu.


Belum saja menjawab pernyataan Ana, wanita itu langsung berteriak histeris. AAAH!


“Kenapa? Kamu kenapa?” sontak teriakan yang begitu menggelegar itu membuat Daniel khawatir dengan Ana.


“Cepat, pakailah pakaianmu Tuan!” suruh Ana kepada pria yang sangat ia nanti-nanti sejak dulu itu.


Daniel melihat tubuhnya lalu ia tersenyum malu. Ia pikir Ana kenapa sampai berteriak ketakutan seperti itu, nyatanya ia hanya takut akan tubuh kekar yang dimiliki oleh Daniel.


Sewaktu mereka bertemu dan Ana dengan tiba-tiba meninggalkan Daniel, ada satu hal yang sangat wanita ini sesali. Ia tak sempat menanyakan apa permasalah yang sedang dihadapi seorang pria pemilik tatapan tajam itu.


Ia malah terburu-buru karena ia dikabarkan bahwasanya kakek yang hanya tinggal dengannya waktu itu jatuh dari kamar mandi. Dan akhirnya, kakek yang ia miliki satu-satunya pun meninggal dunia.


Beberapa hari berlalu, Ana berjalan di rel kereta api dan ia sudah mengetahui jika dihari itu tak ada kereta yang melintas. Ia tiba-tiba mengingat wajah pria yang pekan hari ia temui, dengan begitu frustasi dan penuh akan goncangan yang tak bisa dilontarkan.


Ana dapat merasakan apa yang mungkin dirasakan oleh pria yang ditemuinya dikala itu, meski wanita ini tak tahu pasti permasalah pria tersebut.


Dalam hatinya sangat ingin bertemu pria pemilik tatapan tajam itu, dan ia berjanji ingin menanyakan hal apa yang sedang dialami pria tersebut sampai memutuskan melakukan tindakan bunuh diri.


Ternyata pepatah yang mengatakan bahwa dunia seperti daun kelor, benar adanya. Seseorang yang sudah ditunggu dan dinanti kini bertemu kembali. Pertemuan ini menjadi titik awal mereka menjalin sebuah hubungan yang mereka harapkan sejak dulu.


Apakah ini yang dinamakan takdir?


Sedangkan Natan masih menunggu seseorang yang ingin menuju kamar. Dengan kaki yang disilang dan tangan yang dilipat, Natan begitu santai memanggil seseorang yang sangat ia percayai bahkan melebihi seorang ibu.


“Mbak Laras, kamu mau kemana?” tanya Natan yang sangat berbeda dengan sebelum-sebelumnya, kali ini ia sangat ketus dan wajahnya nampak menakutkan.


Sontak Laras, wanita setengah baya itu terkejut akan kehadiran putra tunggal Tuan Wiguna.


Seperti biasa, Laras menyambut Natan dengan ucapannya yang memanjakan seseorang sebagai putranya. “Eh Tuan Muda, kenapa Anda di sini? Apakah ada yang perlu Anda ceritakan, mengenai Nona Aurora mungkin?”


Dengan tatapan yang tajam, Natan melangkah maju dan ia pun melontarkan sebuah pertanyaan, “Mbak Laras, hubungan apa yang kamu miliki dengan Aurora sebenarnya? Dan apa maksudmu meletakkan bubuk racun di minuman Ana? Yang lebih parahnya lagi, kamu meletakkan bubuk itu secara perlahan di makanan Papah dan makanan saya! Apakah semua ini karena harta, hah?!”


Mata Natan melotot sangat mengerikan, sampai Laras tak bisa berkata apa pun. Dalam hati busuknya berbisik, ‘Sialan! Kenapa dia mengetahui semua rencanaku?!’


“A- anu Tuan, tolong Anda tenang. Mana mungkin saya tega melakukan hal itu kepada Tuan Wiguna yang sangat saya hormati dan kepada Anda yang sudah saya anggap sebagai putra saya sendiri,” elak Laras yang memutar balikkan fakta.


Heh!


Natan tersenyum palsu, dan ia tak lagi mendengar penjelasan yang terlontar dari mulut busuk wanita setengah baya ini. Ia sudah mengetahui semuanya, dan ia memberikan amplop tebal kepada Laras.


Meskipun Laras memiliki niat jahat kepadanya dan keluarganya, namun Laras juga pernah mengabdikan dirinya dikeluarga ini walaupun ada suatu alasannya ia melakukannya.


“Sekarang juga kamu keluar dari kediaman saya, dan saya tidak ingin melihat kamu lagi menginjakkan kaki di rumah ini! KELUAR!”


Beberapa haripun berlalu, dan permasalahan yang ada berangsur gugur. Seperti yang dijanjikan oleh Natan ia akan membuatkan acara pernikahan begitu indah untuk Raya, seseorang yang diyakini sebagai takdir.


Di sebuah gedung, di mana mereka mengucapkan janji suci untuk pertama kalinya, kali ini mereka mengadakan acara yang sangat meriah. Natan ingin, memberitahu semua orang diseluruh dunia ini ia sangat mencintai wanita pemiliki nama Raya Sena.


Dalam ingatan janji, Natan mengucapkan dengan tulus dan ia menatap penuh hangat kepada wanita yang sangat ia kasihi berada di hadapannya.


“Sayang, aku akan selalu mencintaimu dan selalu menjadi rumahmu dikala aku lelah.”


Lalu Raya pun menjawab dengan penuh keharuan, sampai ia mengeluarkan air mata bahagia. “Aku masih tidak menyangka, Tuhan memberikan pria sepertimu. Aku juga akan selalu mencintaimu sampai usiaku senja.”


Tiba saatnya Raya melemparkan buket bunga, sebagai tradisi yang dilakukan dalam pernikahan. Dan yang mendapatkan buket itu adalah Ana.


Raya berteriak sangat kencang, “Aku menunggu kalian seperti kami, dan segera mengucapkan janji suci ....”


Semua tamu undangan tersenyum sumringah, begitupula dengan Ana dan Daniel, wajah mereka berubah memerah karena tersipu malu.


Acara pernikahan perjalan dengan lancar. Usai sudah perjalanan cinta Natan dan Raya, dua individu yang di takdirkan untuk bersama satu sama lain, meskipun pada awalnya mereka tak saling memiliki ikatan.


Happy Ending.