
Sontak perkataan dari Natan membuat Aurora terperanjat dan mengejar pria yang masih berstatus kekasihnya itu dengan cepat. Ia menarik lengan Natan dan melontarkan ucapan lirih untuk membuat pria tersebut merenungkan apa yang diputuskannya tadi.
“Sayang, tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita saat ini. Aku berjanji kepadamu untuk tidak mengkhianatimu lagi. Aku minta maaf dengan apa yang kulakukan saat ini.”
Hmm!
Wajah Natan tidak berekspresi sama sekali, karena luapan emosinya ia simpan dalam-dalam dilubuk hati. Tatapannya begitu tajam menyorot manik mata Aurora yang sudah mengeluarkan air mata palsunya itu.
“Apakah permintaan maaf bisa segera menghapus apa yang kamu perbuat padaku saat ini, hah! Sudah kubilang kita akhiri saja hubungan yang telah kita jalin sejak lama! Aku tidak ingin lagi melihatmu dan kita sudah tidak memiliki hubungan apa pun!” tegas Natan seraya menepis tangan Aurora yang melingkar dilengannya.
“Tunggu Sayang ...,” ucap Aurora mengejar Natan yang sudah masuk ke dalam mobil.
Tanpa mempedulikan kekasih yang sangat ia cintai itu, Natan dengan kuat menekan pedal gasnya sampai mobilnya tak terlihat lagi.
Hah!
AAAAAA!
Ia berteriak dengan kencang seraya memukul setir mobilnya. Ia masih tidak menyangka kekasih yang dia cintai secara tulus itu telah berpengkhianat kepadanya.
Manik mata Natan memerah, tapi ia tidak sampai mengeluarkan air mata. Karena ia pikir, dirinya tidak pantas untuk menangisi wanita murahan seperti Aurora.
Hanya saja harga dirinya sebagai seorang pria terinjak-injak atas perilaku tak masuk akal yang dilakukan kekasih yang sangat dia hormati dan hargai itu.
Sudah masalah yang ditimpanya mengenai Raya, kini ia dikacaukan oleh pengkhianatan yang dilakukan oleh wanita yang sangat ia cintai. Bagaimana kepala Natan tidak ingin pecah saat ini? Ia sudah tidak mampu mengucapkan atau bergumam apa pun, karena rasa sakit dan kecewanya bertumpuk tiada henti.
Sampai di kediaman keluarga Moise, ia disambut oleh pelayan pribadinya yaitu Laras dan Ana.
“Selamat malam dan selamat datang di rumah Tuan Muda Natan,” ucap Laras seraya ia membungkukkan tubuhnya memberikan penghormatan kepada tuan mudanya tersebut. Begitu pula Ana yang secara bersamaan membungkukkan tubuhnya.
Akan tetapi wajah Natan begitu pucat, dan ia tampaknya butuh istirahat. Tak seperti biasa Natan yang selalu menjawab salam dari pelayannya pun terus melangkahkan kakinya ke arah kamar. Terlihat jelas wajahnya dipenuhi akan permasalah yang tidak bisa diceritakan sama sekali saat ini.
Braak!
Dengan keras dia medobrak pintu kamarnya tersebut, hal ini membuat Raya yang sedang duduk di sofa terkejut dan wanita itu sedikit bangkit melihat Natan dengan wajah pucat beserta kesalnya masuk ke kamar.
Raya tidak berani bertanya apa pun, tapi ia sudah mengetahui Natan sedang tidak baik-baik saja. ‘Apa yang harus aku lakukan saat ini? Apakah aku perlu melontarkan sebuah kata kepadanya? Hmm kenapa wajahnya begitu pucat seperti tidak makan-makan dalam kurun waktu beberapa hari lamanya?’ bisik Raya dalam hati memperhatikan Natan yang sedang melepas jas dan dasinya.
Merasa ada yang memperhatikan, pria dengan wajah tiada tara itu berucap tanpa menoleh ke arah wanita yang ada dipojokan kamar ini.
“Apa yang kamu lihat? Apakah kamu ingin melihat saya tidak memakai apa-apa?” celetuknya sembari membuka kancing kemeja satu persatu, sehingga otot idealisnya sudah tampak begitu menawan.
Ketika Raya memalingkan wajahnya, Natan melirik matanya mengarah wanita yang begitu lugu itu. Dan segera menambali ucapan dari wanita yang mulai membuat Natan tertarik kepadanya. “Lalu apa maksudmu melihat saya dengan tatapan seperti itu? Dasar wanita otak mesum!”
Darah merah yang berada dalam tubuh Raya seketika naik ke atas, dan membuat wajah wanita manis itu memerah. ‘Apa katanya aku wanita mesum?!’ gerutunya dalam hati.
Raya menutupi mulutnya seraya terus memperjelas maksud darinya melihat Natan secara detail. “Bukan begitu Tuan, tolong jangan mengatakan hal itu kepada saya. Karena saya bukan wanita otak mesum!”
Natan pun juga tidak mau kalah dengan pendapat yang dilontarkan oleh istri sahnya itu. “Lalu apa lagi jika kamu bukan otak mesum. Kamu sengaja kan menunggu saya membuka kemeja saya ini dan melihat seluruh tubuh saya tanpa busana?”
Raya segera menggelengkan kepalanya dan menepis kembali apa yang sudah dipikirkan oleh Natan. “Sudah saya bilang saya bukan orang seperti itu Tuan. Saya tadi memperhatikan Anda, dan saya pikir Anda tidak baik-baik saja saat ini.”
Hmm!
Natan menaikkan salah satu alisnya. Ia menelaah apa yang diucapkan oleh Raya, dan ia kembali bertanya seperti biasa dengan nada ketus yang ia miliki. “Lalu jika saya tidak baik-baik saja saat ini apakah kamu akan peduli?”
Raya terdiam sejenak, ia juga manusia yang sedikitnya memiliki perasaan kepedulian pada manusia lainnya. Meskipun pria yang ada di dekatnya ini adalah pria yang menurutnya sangat menyebalkan.
“Kenapa kamu diam saja?” tanya Natan yang ingin mendengar jawaban dari wanita yang telah mampu membuat hatinya bergerak secara perlahan-lahan.
Glek!
Raya menelan salivanya dan entah mengapa jantungnya berdetak begitu cepat. Padahal hal ini sangat gampang dia lontarkan karena ia memang sangat peduli sama siapa pun. Namun, seketika ia tidak bisa mengucapkan kata peduli kepada pria yang masih menunggu jawabannya di belakang itu.
“Kamu mendengar saya atau tidak?” tanya Natan kembali.
Raya menunjukkan kosakata melalui gestur tubuhnya. Ia mengangguk dan diikuti dengan kata, “Iya saya melakukan hal itu karena saya peduli kepada Anda.”
Mata pria yang hatinya masih kacau ini seketika mengembang disaat dia mendengar ucapan dari istri sahnya itu. Dalam hati dia berbisik, ‘Apa? Dia peduli kepadaku?’
Saat itu juga, Natan tak lagi bertanya apa pun. Ia melangkah menuju kamar mandi dan sebelum dia masuk ke dalam, ia meminta kepada Raya. “Mulai sekarang tidurlah di kasur saya, dan kamu tidak lagi boleh tidur di sofa.”
Sontak hal itu membuat pikiran wanita ini mengembangkan pendapat yang aneh-aneh. ‘Apa? Dia memintaku untuk tidur diranjangnya? Apa dia maksud akan tidur bersama dalam satu ranjang dan melakukan hal layaknya suami istri? Ternyata dia lah yang memiliki otak mesum!’
Kubil mata Raya menyempit menyoroti dengan tajam manik mata Natan yang indah itu. Mereka berdua saling beradu tatapan tajam. Seperti Natan mengetahui apa yang sedang istri sahnya itu pikirkan mengenai permintaannya yang terlontar beberapa menit tadi.
“Apa yang kamu pikirkan?” Natan ingin mengetahui apa yang Raya pikirkan saat ini.
“Apakah kamu berpikir saya akan menyentuhmu ketika kita tidur dalam ranjang yang sama? Dasar wanita yang pikirannya mesum! Saya hanya peduli kepadamu karena tidur di sofa membuat badan terasa pegal, jadi saya menyuruhmu tidur di kasur saya. Dan tentunya ada pembatas nantinya! Camkan itu!” jelas Natan seraya menggerakkan jari telunjuk dan tengah mengarah ke mata wanita yang hanya bisa terdiam paku di depan pria tampan itu.
Bersambung.