
Setelah mengatakan hal itu, Natan pun segera memalingkan pandangannya karena saat mata mereka saling beradu untuk beberapa menit, ada yang berbeda dari sorot mata Raya. Sepertinya wanita itu sudah menyadari apa yang dirasakan suami sahnya kini.
Natan pun berceletuk dalam hatinya, ‘Aku harus meminimalisir melihatkan perasaanku kepadanya. Karena aku tidak ingin dianggap sebagai pria yang sedang jatuh cinta kepadanya! Lagian aku juga belum tahu penuh akan dirinya semenjak aku disuruh untuk menikahinya.’
Pendirian Natan benar-benar kuat, terkait menilai Raya Sena. Ia masih membuat benteng tinggi untuk dirinya mengenai istri sahnya ini, ia hanya takut kejadian ulang kembali lagi menimpa dirinya terkait masalah asmara.
Ia sudah sangat sakit hati, bilamana Aurora hanya menginginkan dirinya karena harta yang dimiliki keluarga Moise, bukan karena hati pria pemilik wajah hampir sempurna ini.
Kendatipun perasaannya terus bergejola, bahwa Raya adalah wanita yang ia cintai saat ini. Namun, menurutnya kini Raya mungkin adalah seseorang yang mampu mengisi hatinya disaat dia mengalami sakit hati yang begitu parah akibat Aurora.
Senyuman menyeruak kembali di wajah pria yang sangat memiliki karismatik luar biasa itu kepada sang istri sah. Karena para tamu undangan masih memperhatikan mereka berdua.
“Ayo rangkul tangan saya, agar kita terlihat seperti sepasang suami istri yang begitu romatis. Ini kan yang kamu mau? Ingat apa yang semua saya lakukan tadi hanyalah keinginanmu, tolong jangan berpikiran secara berlebihan!’ bisik Natan mempertegas Raya.
Wanita itu hanya bisa mengangguk tanpa menjawab apa yang dikatakan pria dianggapnya terlihat tampak berbeda di hari ini.
Dalam relung hatinya bergumam, ‘Apa yang dikatakan Tuan Natan memang benar, aku tidak perlu berpikir berlebihan. Apalagi sampai mengira bahwa Tuan Natan melakukan semua ini karena kemauan hatinya.’
Mereka melanjutkan melangkahkan kaki dengan sejalan, seperti penuh kebahagiaan. Hal ini meyakinkan Derwin Raya benar-benar sudah melupakannya begitu saja, dan membuat hati pria yang sangat mencintai gadis itu sakit.
Saat membuat ancang-ancang, Raya menyondongkan tubuhnya ke arah Natan kemudian ia pun berbisik, “Tuan, saya tidak tahu gerakan dansa bagaimana, apakah kita urungkan saja niat untuk berdansa bersama?”
Hmm!
Ekspresi wajah Natan seperti sangat lelah akan perkataan dari wanita yang ada di depannya. “Kenapa tadi kamu tidak mengatakan saja jika kamu tidak bisa berdansa?” celetuk Natan seperti biasa, seraya memelankan nadanya agar tidak didengar oleh tamu yang lain.
Lalu ia segera melanjutkan celetukannya itu dengan nada yang sedikit lebih lembut dari sebelumnya, “Sudahlah ketika berdansa, ikuti saja gerakan tubuh saya. Atau kamu boleh menginjak kaki saya, agar memudahkanmu bergerak mengikuti gerakan tubuh saya.”
Hmm!
Mendengar suruhan dari suami sahnya itu, Raya sedikit canggung karena masa iya ia harus menginjak kaki seorang Natan? Bukannya itu nanti membuat kaki pria tersebut akan sakit, karena sepatu berhak yang digunakan Raya, walaupun haknya tidak terlalu tinggi hanya 3 sentimeter saja.
Raya pun mengelak, ia tak mungkin melakukan apa yang diperintahkan Natan karena semua itu akan membuat pria tersebut akan sakit.
“Tapi Tuan, saya tidak dapat ...,”
Ssstt!
Natan meletakkan telunjukkan di bibir tipisnya itu, seakan memberitahu Raya agar tidak membantah perintahnya. “Jangan banyak bicara, ikuti saja apa yang saya katakan!”
Haaah!
Raya menghela napas, karena sikap asli Natan tampak kembali, seorang pria yang selalu ingin diikuti permintaannya!
Natan menganggukkan kepalanya, seakan ia memberikan isyarat agar Raya mengikuti pergerakannya. “Injak saja kaki saya!” suruhnya dengan tegas, agar Raya tak merasa ragu lagi untuk menginjak kaki suami sahnya.
Semua tamu undangan lainnya asyik menggerakkan tubuh dengan alunan musik yang terdengar begitu menyedihkan ini.
Alunan demi alunan telah mengiringi pergerakan tubuh Natan dan Raya. Sorot mata indah wanita cantik yang berada di depan Natan begitu tajam, seperti ia larut dalam kondisi ini.
“Tuan, apakah kaki Anda sakit karena saya telah menginjaknya?” tanya Raya dengan tatapan mata yang tak bisa dihindari.
Begitu pula dengan Natan, ia menampilkan wajah datarnya menatap detail wajah Raya sampai ke pori-pori. Lalu ia pun menjawab dengan nada seperti biasa, sedikit berceletuk, “Jangan khawatirkan saya. Saya tidak selemah itu, rasa sakit ini tidak terasa apa-apa dibanding apa yang saya rasakan karena perlakukan pengkhianatan yang dilakukan oleh mantan kekasih saya! Saya juga tahu apa yang kamu rasakan, mengenai mantan pacarmu yang menikah dengan sahabatmu sendiri. Pastinya sangat sakit kan?”
Lagi-lagi kedua mata mereka beradu tak ingin saling mengindari satu sama lain. Mereka memiliki sorot mata yang sama-sama mendalam, entahlah apa yang sedang mereka pikirkan saat berdansa bersama.
Beberapa menit, masing-masing pasangan bertukar pasangan dan meneruskan dansanya dengan pasangan lain. Mereka semua sedang menikmati alunan musik klasik dan sampai saatnya Raya pun tergusur dari pasangan lain sehingga ia kini berpasangan dengan mantan kekasihnya, yaitu Derwin.
Deg!
Kedua pasangan kubil mata seketika mengembang. Raya dan Derwin terkejut karena ia mendapatkan pasangan yang tak sepantasnya bersanding.
Namun, semua hal ini menjadi kesempatan bagi Derwin mengatakan suatu hal dari lubuk hatinya.
Saat tangan kiri Derwin ingin merangkul pinggang Raya, wanita itu seperti kelabakan dan ia berkata, “Aku harus mencari pasangan yang lain.”
Tek!
Akan tetapi kekuatan Derwin dalam mencegah Raya untuk pergi sangat kuat, ia tidak akan semudah itu melepaskan sang mantan kekasih yang sangat ia cintai ini.
“Raya, kenapa kamu terlihat tidak suka jika kita berdansa bersama? Maafkan aku ya Raya, selama menjadi kekasihmu dulu aku tidak pernah mengajakmu berdansa sama sekali,” ujar Derwin dengan menatap tajam wanita yang hanya berusaha untuk menghindari sorotan mata sang mantan kekasih, agar mereka tak melakukan kontak mata yang cukup lama.
Raya langsung menjawab dengan menaikkan wajahnya, dan kini ia menatap tajam pria yang telah membuatnya sangat kecewa dan sakit. “Itu hanyalah masa lalu, jangan lagi kamu ungkit masalah itu.”
Mendengar ucapan Raya yang sedikit bergetar, membuat Derwin tersenyum paksa, ia tahu sebenarnya apa yang dirasa oleh sang mantan kekasih. “Raya, jangan mencoba menyembunyikan perasaanmu sekarang. Aku tahu kamu begitu kecewa kepadaku karena aku telah mengkhianatimu dan menikah dengan sahabatmu sendiri. Tapi apakah kamu tahu semua yang kulakukan sekarang adalah perilaku cuekmu saat kita masih menjalin kasih? Aku pernah mengatakanmu bahwa aku benar-benar butuh seseorang yang mampu berada di sisiku ketika aku sangat hancur karena kehilangan kedua orang tuaku. Tapi kamu tidak mendengarkanku, jadi yang selama ini menemaniku adalah Sarah.”
Manik mata Raya berkaca-kaca mendengarkan ucapan Derwin.
“Lalu dari perkataanmu tadi, semua ini adalah salahku? Kenapa kamu tidak mengatakannya apa yang kamu rasakan? Jika aku salah seharusnya kamu memberitahuku, bukannya mencari cinta dari sahabatku sendiri!” Raya tidak bisa mengendalikan emosinya, sampai-sampai Natan yang sejak tadi memperhatikan mereka pun mendekat.
Tanpa berucap apa pun, tangan Raya ditarik dengan pelan dari Derwin. Lalu dia melihat ke arah belakang, “Tolong jangan ganggu istri saya, sekarang dia adalah wanita yang saya miliki seutuhnya!”
Natan dan Raya pun segera meninggalkan panggung, mereka tanpa aba-aba meninggalkan acara pernikahan Derwin dengan Sarah.
Bersambung.