MARRIED WITH MR. COOL

MARRIED WITH MR. COOL
DIANTARA DUA PILIHAN



Sarah sangat khawatir jika Derwin melihat mantan kekasih yang sangat dicintai pria itu. Benar saja, dengan mata yang terbelalak Sarah menoleh ke arah pria disampingnya tersebut.


Bola mata Derwin tak henti-hentinya menatap lurus ke depan, dan raut wajahnya tiba-tiba berubah ia seperti ingin mendekati Raya.


“Sayang ...,” panggil Sarah sembari menggerakkan tangan yang sedang merangkul lengan Derwin.


Namun, tidak ada pergerakan sama sekali dari Derwin. Pria itu terus menatap tajam ke arah mantan kekasihnya, seakan Rayalah yang telah menduakannya sekarang.


Apa yang sebenarnya dirasa oleh pria yang jelas-jelas telah mengkhianati Raya lebih dulu. Bahkan siapa yang kini merasa menyesal meninggalkan seseorang yang sangat berharga tersebut.


Seperti pematah katakan, nasi sudah menjadi bubur dan menyesalan akan selalu datang terlambat ketika kita baru menyadari arti dari kehilangan seseorang yang sangat mencintai kita begitu tulus.


Entah mengapa air mata menetes melalui manik mata Derwin, sehingga ia dengan cepat mengusapnya. Lalu melayangkan pandangan ke arah wanita yang sejak tadi sudah memperhatikannya begitu detail.


“Ah, mataku kelilipan Sayang. Maafkan aku,” elak Derwin yang sedang membuat alasan logis, tapi biarpun begiti Sarah sudah tahu lebih dulu kekasihnya itu sampai mengeluarkan air mata.


“Apakah kita perlu pindah dan mencari restauran lain?” tanya Sarah memberikan pertimbangan kepada Derwin.


Pria itu segera menggelengkan kepalanya dan menjawab, “Tidak perlu, kita makan di sini saja. Lagian aku sudah lapar.”


Sebenarnya Derwin tidak lapar sama sekali, semua itu adalah alasannya saja agar bisa melihat Raya. Meskipun saat ini hatinya begitu sakit dan membuatnya hancur.


Mereka berdua memutuskan untuk mencari tempat duduk dibelakang Natan, sedangkan Raya dapat mengakses mereka berdua.


Uhuk!Uhuk!


Ketika ingin memasukkan nasi goreng yang dipesan oleh gadis sederhana ini, Raya melihat Derwin yang berdiri ingin mempersilahkan Sarah untuk duduk di depannya. (Nasi goreng tersebut tidak ada di daftar menu, tapi Natan menyuruh pemilik restauran ini menyediakan nasi goreng hanya untuk Raya. Tentunya Natan tidak segan-segan menawarkan bayaran yang fantastik hanya dengan membiarkan Raya bisa menyantap nasi goreng itu).


“Kamu kenapa?” tanya Natan yang khawatir dengan Raya.


“Tidak kenapa-napa Tuan, saya hanya keselak saja,” jawab Raya dengan kebohongan.


Dalam hatinya berbisik begitu heran, ‘Kenapa mereka harus makan di restauran yang sama denganku? Apakah mereka memang sengaja melakukan hal ini agar aku bisa mengiklaskan mereka? Tapi bagaimanapun juga aku sudah membiarkan mereka menggapai apa yang mereka inginkan!’


Seikhlas hati manusia, pasti masih ada rasa kesal dalam dada. Apalagi masalah yang mereka miliki timbul karena adanya pengkhiatanan orang terdekat. Setiap kali Raya mengingat kejadian di sebuah kafe beberapa pekan lalu, dirinya sangatlah hancur dan seakan dunia ini tidak bisa ditempuh lagi.


Sungguh begitu sakit yang dirasa di dada wanita cantik berparas ayu ini. Sambil berusaha tetap tenang dan membuyarkan rasa sakitnya, ia terus makan seperti orang yang kelaparan.


Hmm!


Perilaku yang dilakukan oleh Raya mengundang tanda tanya besar bagi Natan. “Kenapa makanmu seperti orang yang tidak makan selama berbulan-bulan?”


Raya diam, ia memaksa makanan yang sudah penuh di dalam mulutnya agar tetap bisa masuk.


Natan mengkerutkan dahinya, dan dia segera memegangi pergelangan tangan Raya. “Apa kamu tidak mendengar perkataan saya?”


Merasa ada yang aneh, Natan segera menghentikan apa yang telah Raya lakukan. “Sebenarnya apa yang kamu rasakan? Jika ada beban yang kamu rasa tolong ceritakan, jangan siksa dirimu seperti itu! Saya tahu kamu tidak terlalu lapar, tapi kenapa tiba-tiba makan begitu lahap seperti ini?!”


Lalu tiba-tiba air matanya menetes dan berteriak kepada Natan, “Tidak bisakah saya makan dengan lahap?!”


Sontak hal ini membuat Natan terkejut, dan ia kira Raya sungguh frustasi tentang dirinya. ‘Apakah aku membuat dia sedih seperti ini? Tapi apa salahku?’ tanya Natan begitu heran seraya memandang Raya sangat dalam.


“Tolong izinkan saya untuk makan makanan saya kembali,” pinta Raya dengan menatap Natan begitu dalam.


Natan pun melepas pelan tangannya yang melingkar dipergelangan tangan Raya. Pria ini masih meraba-raba menyebab tingkah yang Raya lakukan saat ini.


Hah!


“Tuan, saya sudah selesai makan. Bisakah kita segera pulang, karena kepala saya begitu sakit?” ucap Raya setelah menghabiskan makanannya dengan cepat.


Natan baru saja menyantap makanannya setengah. “Kamu kenapa sih?”


Raya hanya menggelengkan kepala saja, matanya tidak kuat untuk menahan tidak melirik ke arah Derwin dan Sarah.


Dan tak diduga pandangan mata Derwin dan Raya saling bertemu, mereka seperti ingin sekali melontarkan sebuah kata yang membelenggu dihati mereka satu sama lain.


Hal itupun diketahui oleh Natan, ia segera melirik ke arah belakang dan menyempitkan matanya. ‘Siapa dia? Oh pria itu bukannya pria yang ...,’ geram Natan dalam hatinya.


Berita yang diiformasikan oleh Daniel tadi belum lah lengkap, Natan masih belum tahu Derwin Satria itu siapa. Ia hanya tahu bahwa Derwin adalah CEO dari CEDO grup yang akan bekerja sama dengan perusahaannya.


Dengan cepat merasa Natan meliriknya, Derwin pun menepis pandangan sendu itu ke arah samping.


“Kenapa kamu masih melihatnya dengan tatapan seperti itu, Derwin? Yang ada di depanmu saat ini adalah aku, bukan Raya!” tegas Sarah yang raut wajahnya begitu kesal melihat tingkah laku Derwin.


Kendatipun Sarah tahu, bahwasanya Derwin tidak akan pernah bisa melupakan secara pure bayangan Raya dalam hati pria tersebut. Karena pada saat itu, Derwin selalu bercerita tentang kebaikan dan perilaku Raya kepada Sarah.


Entah mengapa Sarah memiliki niat untuk merebut Derwin, karena dia ternyata juga meletakkan perasaan kepada pacar sahabatnya tersebut.


“Maafkan aku Sarah,” ungkap Derwin seperti tidak ada rasa bersalah sama sekali. Memang kini hatinya seperti memiliki cabang yang menuju pilihan sulit. Satunya mengarah ke mantan dan satunya lagi menuju ke arah wanita yang sebentar lagi akan dinikahinya.


“Oh iya, Sarah. Apakah kamu sudah memberitahu acara pernikahan kita kepada Raya? Apakah dia membalas pesanmu?” tanya Derwin kepada Sarah.


“Sudah, tapi dia tidak sama sekali menjawab pesanku mungkin saja dia tidak ingin datang!” jawab ketus wanita yang dulu mengatakan sahabat dari Raya itu.


Nyatanya pada saat itu, pesan dari Sarah yang membaca adalah Natan dan pria tersebut menghapus semua pesan yang telah dikirimkan oleh sahabat Raya tersebut.


Natan masih menelisik bola mata Raya, sampai membuat wanita ini canggung dan bertanya, “Anda sedang melihat apa, Tuan? Apakah Anda tidak ingin mau segera pulang? Saya yakin Anda pasti juga lelah.”


Hmm!


Pewaris tunggal Moise menyodorkan tubuhnya lalu menatap Raya dengan tajam, “Katakan kepada saya jujur, siapa pria yang kamu lihat dibelakang saya itu?!”


Bersambung.