
Raya masih membangong terpaku karena tampak bingung apa yang sebenarnya dilakukan suaminya itu.
Ia melihat Natan menatap dengan sorot yang sangat tajam, seakan ia ingin mengatakan suatu hal yang begitu sulit untuk dilontarkan.
Wanita cantik dengan rambut yang masih tersanggul rapi melangkahkan satu langkah kakinya ke depan, lalu ia menengadahkan wajah ayunya itu karena Natan lebih tinggi darinya.
“Tuan, apa yang sebenarnya ingin Anda katakan? Tolong jangan membuat saya bingung seperti ini!” tegas Raya.
Nyatanya apa yang diucapkan oleh Natan tadi hanyalah ilusinya untuk menyatakan perasaan kepada istri sahnya itu. Sampai saat ini ia tidak tahu alasannya mencintai wanita yang bukan kriterianya sama sekali.
‘Astaga, apa yang kulakukan tadi? Apakah itu hanya ilusiku saja karena aku sangat tertarik kepadanya? Tidak ... tidak, bagaimanapun juga aku harus menyimpan perasaanku ini sampai aku tahu alasan apa diriku mencintai wanita ini!’ geram Natan dalam hatinya.
Bagaimanapun juga Natan tetaplah Natan, seorang pria yang sangat berhati-hati dan begitu logis dalam segala hal. Meskipun ia terkadang gundah akan perasaannya juga, tapi ia memiliki prinsip yang sangat kuat. Bukannya naif atau tak mengakui perasaannya sendiri, ia hanya ingin mengetahui alasannya sampai bisa meletakkan hati kepada wanita yang dipaksa menjadi istrinya itu.
Natan memalingkan pandangannya seraya menelusuk kepalanya menggunakan jari-jari panjanganya itu. Kepalanya benar-benar pusing hanya karena wanita yang masih menatapnya dengan tajam di depan.
“Tuan, sepertinya ada yang membelenggu hati Anda beberapa hari ini.”
Natan menaikkan wajahnya, hanya melihat Raya tanpa mengatakan sepatah kata apa pun. Dari mata yang berkaca-kaca, Raya mengetahui apa dirasa oleh suaminya yang sungguh gundah itu.
Raya melangkahkan kakinya pelan menuju ke arah depan, kini apa yang dilakukan Natan dibalikkan oleh Raya, tapi wanita ini mengatakan sesuatu hal. Tidak seperti Natan tadi hanya menyoroti mata istrinya dengan ilusi yang dia buat sendiri.
Natan melangkah mundur, seperti menghindari Raya dengan masih menatap tegak manik mata indah istrinya.
“Tuan, tolong katakan apa yang Anda rasakan saat ini! Kegundahan, sikap aneh, dan kegelisahan yang ada pada hati Anda saya mengetahuinya!” Raya menghentikan langkahnya, dan semakin menatap Natan begitu tajam.
Sampai Natan menggerutkan dahinya, ia tak tahu kalimat apa yang harus dilontarkan kepada istri sahnya ini.
“Apa perlu saya yang memberitahu perasaan apa yang sedang Anda rasakan saat ini?” ucap Raya yang membuat jantung pria tampan yang ada di depannya itu tidak aman.
Deg!
‘Natan, kamu harus tenang! Bukannya wanita ini hanya memancingmu agar kamu mengatakan segala rasa yang ada dihati!’ bisik Natan kepada dirinya sendiri.
Hum?
Tidak seperti biasanya, Raya yang selalu menuruti atau patuh kepada suaminya. Perilakunya kini semakin berani, bukan ingin mempojokkan Natan hanya saja wanita ini menginginkan Natan bersikap seperti biasanya tanpa merasa ada beban.
Jika Natan terus seperti ini, hari-hari pria itu akan sulit nantinya. Semua berantakan karena cintanya kepada istri sahnya itu.
“Apakah Tuan mencintai saya?”
Pertanyaan itu seperti boomerang bagi Natan, mulutnya bungkam seakan tak mampu mengelaka dan kubil matanya membesar. Sorot matanya memudar.
Hmm?
Raya memiringkan kepalanya, sepertinya ia ingin sekali mendengar jawaban dari suami sahnya itu.
Kaki jenjang Natan melangkah, sembari dirinya berucap, “Saya begitu lelah, marilah pulang.” Natan sengaja mengsamping pembahasan yang sedang mereka bicarakan.
Hmm!
Raya memejamkan matanya sedetik, lalu ia menghembuskan napas dengan pelan. Ia pun sedikit mengeraskan suaranya, “Tuan, bisakah Anda menjawab pertanyaan saya terlebih dahulu?!” Ia pun membalikkan tubuhnya lalu kembali menyoroti mata indah sang suami.
Sontak tubuh ideal itu otomatis membalik ke arah belakang. Natan juga menyoroti mata indah istrinya tersebut.
Mereka hanyalah kedua insan manusia yang tidak berani jujur dengan perasaan masing-masing. Raya yang masih terbelenggu akan cinta masa lalunya, sedangkan Natan yang masih takut wanita yang kini ia cinta berperilaku sama seperti mantan kekasihnya itu.
Tidak ada yang menyalahkan, keduanya begitu keras kepala untuk ketenangan hati masing-masing karena adanya masa lalu yang begitu menyakitkan hati.
Mereka hanya ingin pelan-pelan menata hati, agar mendapatkan pasangann yang sungguh mengharapkan satu sama lain. Tidak seperti memiliki pasangan yang ada apanya. Natan membutuhkan wanita yang mencintainya begitu tulus, dan Raya membutuhkan pria yang bisa menghargainya sebagai seorang wanita.
Pandangan mereka saling beradu seperti adanya magnet yang tidak dapat dipisahkan. Seandainya mereka mengatakan perasaan masing-masing secara leluasa dan jujur, maka mereka tidak bergemulat akan perasaan yang begitu rumit ini.
Natan membalikkan tubuh indahnya itu dan memunggungi Raya, serta berujar, “Apakah kamu tidak mendengar perkataan saya tadi? Saya sungguh lelah dan saya ingin beristirahat, ayo pulanglah atau kamu ingin tetap di sini?”
Tatapan tegas Raya kini memudar, ia menundukkan kepalanya tak mengerti akan perasaannya dan perasaan yang dimiliki oleh suaminya itu.
Sama-sama saling mencintai, tapi sama-sama menutupi apa yang dirasa antara satu sama lain. Apakah ini yang dinamakan cinta orang dewasa? Ternyata lebih rumit dari cinta anak-anak remaja, yang hanya perlu membutuhkan kalimat cinta lalu jadian.
Mereka ingin melihat dan merasakan bukti sebuah cinta yang memang ada dalam hati mereka masing-masing.
Tidak dapat menolak, Raya melangkahkan kaki begitu berat karena ia merasa malu ketika mempertanyakan perasaan Natan kepadanya. ‘Kenapa aku sampai bertanya jika Tuan Natan mencintaiku? Hah! Aku memang benar-benar wanita gegabah! Lalu bagaimana aku bersikap dengan pria dingin 15 pintu ini? AAAAAA, seandainya aku bisa menghilang seketika dari permukaan bumi ini!’ gumam Raya dalam hatinya.
Di dalam mobil, Natan memulai pembicaraan meski sudah hampir 30 menit mereka hanya terdiam.
“Apakah kamu lapar? Kamu belum makan sama sekali dari tadi sore. Kamu mau makan apa?” Lirik Natan sekelibat ke arah samping menuju Raya, lalu ia fokus ke depan kembali mengedarai mobilnya.
Hmm!
“Saya tidak lapar Tuan.”
Lirik Natan yang tidak suka mendengar jawaban istrinya itu. Natan segera menelpon pelayan dimansionnya. “Ana, tolong buatkan saya sup daging. Sebentar saya sampai rumah.”
Beberapa menit kemudian setelah dirinya menelpon Ana, Natan turun tanpa membukakan pintu Raya.
Ia melangkah menuju ke dalam, lalu Raya pun ikut di belakangnya.
Masih berada di teras, Natan membalikkan tubuhnya lalu berkata, “Oh iya permintaanmu tadi saat di pantai mengenai dirimu ingin memperpanjang jika saya berperilaku sebagai suamimu, saya tolak! Saya akan terus memantaumu, dan jangan coba-coba lagi mengatakan seakan kamu mengetahui perasaan yang saya rasakan kepadamu! Perasaan saya hanya saya yang tahu!”
Bersambung.