
Beberapa kemudian, Natan menggerakkan tubuhnya secara perlahan-lahan sedangkan Raya tidur di sofa begitu lelap.
Dari cara wanita itu merawatnya, Natan merasa jika Raya benar-benar wanita yang sangat tulus untuk menjadikan partner hidupnya.
Ia masih mengingat apa yang dikatakan Raya tadi ketika Natan memutuskan bertahan untuk tak sadarkan diri, agar pria ini mengetahui seberapa tulus wanita yang tak ia kenali mencintainya.
Dari berbicara tentang senja, dan Raya pun menatap bintang-bintang yang terpancar di atas langit. “Tuan Natan, jika Anda sadar nantinya saya akan menjadi seorang wanita yang sangat bahagia di hidup ini. Karena saya baru tersadar jika Anda adalah pria yang harus saya sayangi dan cintai, saya yakin mungkin Anda belum memiliki perasaan apa pun kepada saya saat ini, namun suatu saat nanti Anda akan memiliki perasaan yang sama dengan apa yang saya rasakan sekarang. Atau mungkin Anda juga sudah memiliki perasaan yang sama dengan saya? Semua itu hanya Anda yang tahu. Entah saat pertama kali bertemu dengan Anda, getaran jantung saya tak henti-hentinya berdetak kencang. Saya pikir hal itu adalah hal biasa, karena saya sedang menikahi pria yang begitu menakutkan seperti macan yang selalu ingin menerkam mangsanya. Tapi semenjak saya bersama Anda, entah mengapa hidup saya lebih berwarna dan saya semakin tahu arti kehidupan. Saya akui karena saya adalah wanita yang sangat munafik dalam mengutarakan perasaan, seharusnya saya tak seperti ini dan mengakui saja jika saya mencintai Anda. Tapi tanya sejak kapan saya memiliki perasaan ini, saya pun tidak tahu. Intinya saya hanya ingin Anda cepat sadarkan diri dan bisa berbicara kembali dengan saya.”
Ucapan Raya di dengar begitu jelas oleh pria yang berbaring di ranjang rumah sakit dengan kesadaran penuh.
Sampai tiba saatnya, ada dua dokter yang memang menangani Natan sampai pria ini sembuh total.
Tak bergeming sedikit pun, Raya masih terlelap dengan mimpi indahnya karena ia sudah seharian tak dapat tertidur.
Dokter itu terkejut, bahwa Natan sudah sadarkan diri. Padahal estimasinya Natan akan tersadar sehari atau dua hari akan datang.
“Tuan Natan, apakah Anda bisa bergerak dan berbicara?” tanya dokter tersebut, lalu ia segera memeriksa bagian luka yang mesti diberikan penanganan lebih intens.
Natan hanya mengangguk, dan ia begitu pucat.
Pria ingin mengalami gangguan sementara pada bagian otak sensorisnya, untuk pergerakan dibagian kaki. Dan ia pun juga mengalami retak pada pergelangan kaki bagian kanan, sehingga ia mungkin tidak bisa berjalan dulu menggunakan kaki selain kursi roda.
Akan tetapi melihat semangat besar dari pewaris tunggal keluar Moise ini, membuat para dokter merasa lega dan tersenyum lebar. Bisa saja Natan akan segera sembuh, jika ia juga memiliki semangat juang dalam penyembuhannya.
Dokter terus memberikan obat khusus melalui infus atau suntikan yang mempercepat berbaikan sistem sensoris dalam otak.
Setelahnya, merasa ada suara bisik di dalam ruangan. Raya terbangun dengan nyawa yang belum full berada di dalam tubuhnya.
“Astaga, maafkan saya karena saya tertidur dok, saya tidak tersadar jika ada Anda masuk ke sini,” ujar Raya seraya menundukkan kepalanya.
Kedua dokter itu hanya tersenyum melihat tingkah lucu istri dari tuan muda yang memiliki kuasa besar ini.
“Tidak ... tidak masalah Nyonya Raya, kami hanya memeriksa kondisi Tuan Natan saja, dan kami juga sudah selesai melakukan hal itu. Kami izin undur diri dulu ...,” Kedua dokter tersebut menundukkan kepalanya sembari melangkahkan kaki menuju ke luar ruangan.
Akan tetapi Raya mengejar kedua dokter itu dengan bertanya, “Dok, lalu bagaimana kondisi suami saya?”
Kedua dokter tersebut pun menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuh.
“Dok, saya mohon jangan pergi dulu. Saya ingin tahu bagaimana kondisi suami saya saat ini?” suara Raya sedikit ngos-ngosan dan begitu terlihat jelas ekspresi wajahnya sangat khawatir, ia ingin sekali mendengar hal baik mengenai pria yang sudah mampu menggerakkan hatinya itu.
“Maaf Nyonya Raya, saya akan memberitahu Anda besok atau dua hari lagi. Terima kasih telah meluangkan waktu Anda kepada kami. Kami izin untuk kembali ke ruangan kami.” Kedua dokter itu pun segera meninggalkan Raya.
Seakan ada yang ditutupi, memangnya apa yang telah terjadi? Mungkin itu yang saat ini ada dalam benak wanita cantik tersebut.
Hah!
Ia menghela napas berat dengan tubuh yang begitu letih, seraya memandangi dengan detail wajah suaminya yang sedang berbaring di ranjang.
Keesokan harinya paginya, entah mengapa Natan ingin memberitahu kepada sang istri bahwa ia sudah tersadar.
Ia menggerakan tangannya, dan ia merasa sangat haus. Namun, Raya masih tertidur dengan posisi kepala di ranjang Natan.
“Raya ... saya sangat haus, apakah kamu bisa mengambilkan saya segelas air?” suara begitu pelan, hampir tak dapat di dengar oleh seorang wanita yang masih tidur terlelap. Karena Raya baru saja bisa tertidur setelah bergadang seharian menjaga Natan.
Tak ada pergerakan sama sekali dari istrinya, Natan pun berinisiatif untuk mengelus-elus kepala istrinya beberapa kali.
Seketika ....
Hah!
Raya terbangun dengan mulut mengaga sangat terkejut, seakan segala doa dan harapannya menjadi nyata. Apa yang ia harapakan dan doakan terwujud, Natan tersadar kini.
“Tuan Natan, apakah Anda sudah tersadar?” Raya tak menyangka sama sekali, ia segera memeluk Natan dengan kebahagiaan tiada tara.
Namun, Natan berbisik, “Raya, apakah kamu tahu saya sedang sakit? Jadi tolong jangan memeluk saya begitu erat.”
“Aah, maaf ... maafkan saya Tuan, karena saya sangat bahagia Anda tersadar,” ujar Raya dengan mengusap air mata bahagianya yang mengalir begitu deras.
Ia masih tak menyangka, dirinya bisa mendengar suara indah Natan dan melihat ekspresi wajah datar pria menyebalkan yang sangat ia cintai ini.
“Sudah cukup kamu menatap saya seperti itu, Raya. Bisakah kamu mengambilkan saya segelas air karena saya sangat haus,” pinta Natan.
Memang karakter tidak bisa dirubah, ia tetap pria menyebalkan yang pernah Raya temui dan sekaligus pria yang benar-benar memiliki hati tiada palsu.
Dengan cepat, Raya mengambilkan apa yang dipinta oleh sang suami.
“Ini Tuan air putihnya.” Raya menyodorkan segelas air, dan ia meletakkan gelas itu di sisi meja samping.
Ia berusaha membangungkan Natan dengan posisi sedikit duduk, lalu ia pun memberikan air putih itu agar diteguk oleh sang suami.
Sekiranya sudah, Raya dengan sigap mengambilkan sarapan untuk Natan. “Tuan, tunggu sebentar ya saya akan segera kembali.”
Dengan tatapan yang sayu, Natan hanya menganggukkan kepalanya saja. Lagipula kondisinya belum terlalu sehat betul.
Raya membawa sendiri nampan yang berisikan bubur dan buah-buahan segar.
“Tuan ayo sarapan dulu, Anda harus makan yang banyak karena beberapa hari ini Anda belum makan,” ucap Raya sambil menyendokkan bubur ayam itu ke dalam mulut Natan.
Pria itu menggerakkan bibirnya naik, karena hanya ada dua wanita yang sangat mempedulikan dirinya begitu tulus pada saat sakit, kedua orang itu adalah ibundanya dan istrinya sendiri.
Bersambung.