
Pagi itu adalah pagi di mana Natan meluapkan segala emosinya dengan menangis sejadi-jadinya dipundak wanita yang ada selalu di dekatnya.
Natan baru menyadari seiklas apa pun dalam mencintai pasti akan ada luka yang tersirat, apalagi mencintai seseorang yang sama sekali tidak mencintai dirinya.
Rasanya begitu sakit dan luka dalam batin teramat perih rasanya.
Sore ini Natan dan Raya bersiap untuk ke acara pernikahan Derwin, mantan kekasih Raya yang telah mengkhianatinya.
Natan dengan jas rapi berwarna putih dan gaya rambut sedikit berbeda seperti sebelumnya, (gaya seperti anak muda yang tidak terlalu *******). Pria yang memang tampan menggunakan apa pun ia masih terlihat sama begitu menawan ini menunggu Raya duduk di sofa.
Ia sedang memakai jam tangan di pergelangan kirinya seraya bergumam dalam hati, ‘Apakah dia akan berpenampilan sempurna? Apakah dia akan melihatkan kecantikannya kepada mantan kekasih?’
Sebenarnya Natan tidak terlalu menyetujui hal ini, namun atas perintah ayahnya ia pun mengiyakan untuk datang ke acara pernikahan mantan kekasih istri sahnya.
Secara tiba-tiba ia mengingat kejadian pagi itu. Setelah meluapkan segala emosinya dan memeluk tubuh Raya dengan erat, pria tersebut melepaskan pelukannya. Ia menerka begitu dalam manik mata coklat Raya yang begitu indah, seperti memancarkan hal yang meneduhkan.
Seketika tanpa bisa mengontrol perasaannya, Natan mendekatkan bibir tipisnya ke bibir Raya. Ia menikmati manis bibir wanita yang tengah terpaut kebimbangan akan tindakan yang dilakukan suaminya.
Namun, bukannya memberontak Raya mengikuti balutan indah yang Natan pimpin. Benar-benar diluar dugaan. Mereka sama-sama mengeluarkan segala emosi yang mereka dapatkan dari mantan kekasih. Hati mereka seperti menyatu pada saat itu. Detakan jantung Raya maupun Natan begitu berdebar, seakan mereka menemukan cinta sejati yang akan mempersatukan kedua jiwa yang telah disakiti oleh cinta akibat pengkhianatan.
Wajah Natan memerah, netra matanya mengembang dan ia dengan cepat menutup wajahnya yang terlihat malu ketika mengingat kejadian itu. “Astaga apa yang aku lakukan pada saat itu?” celetuknya.
Lalu ia menggelengkan kepala dan kembali bergumam, “Aku benar-benar kalut saat itu dan tidak bisa mengontrol segala perasaanku! Tapi seharusnya aku tidak melakukan hal itu. Hmm”
‘Apa ya yang ia pikirkan ketika aku menciumnya?’ ucapan ini tidak ia keluarkan dari mulut tipisnya itu, ia hanya memendamnya dalam hati.
Natan rupanya sampai saat ini masih memikirkan apa yang sebenarnya Raya pikirkan ketika ia mencium wanita tersebut tanpa aba-aba sebelumnya.
Uhuk!
Tiba-tiba Raya tersendak, padahal ia tidak meminum apa pun. Ia sedang duduk di meja rias sembari menunggu Ana menghiasinya dengan bedak yang begitu tipis, dan hiasan di wajah yang sangat terlihat natural.
“Raya, kamu kenapa? Aku ambilkan segelas air putih ya?” ucap wanita yang begitu lugu itu kepada Raya.
Raya pun tersenyum mengarah wanita yang sudah ia anggap sebagai sahabatnya di kediaman besar ini. Sambil menggelengkan kepala dengan pelan, “Tidak Ana, tidak perlu aku baik-baik saja kok.” Senyuman hangat Raya tersirat kembali mengarah Ana.
“Kamu yakin Raya?” Ana hanya menyakinkan wanita yang menjadi nyonya itu.
Huum!
Raya kembali tersenyum dan menganggukkan kepalanya penuh semangat, untuk meyakinkan kepada Ana bahwa dirinya benar-benar baik-baik saja.
“Terima kasih sudah mengkhawatirkanku ya Ana. Dan terima kasih kamu selalu peduli kepadaku,” ujar Raya begitu lembut.
Ana tersenyum membalas senyuman Raya yang sejak tadi terpancar melalui wajah cantiknya itu. “Tentu saja aku akan selalu peduli kepadamu, Raya. Karena kamu adalah sahabatku.”
Raya hanya tersenyum saja tanpa menjawab ucapan Ana tadi, karena ia tiba-tiba melihat wajah Sarah, sahabat yang sangat ia sayangi itu. ‘Sarah, hari ini adalah hari di mana kamu mengikat janji suci dengan mantan kekasihku. Aku harap kamu bahagia dengannya ...,’ bisik Raya dalam relung hatinya yang terdalam.
Rasanya begitu sakit jika mengingat hal-hal dulu. Sarah begitu dekat dan sangat peduli kepada Raya, namun karena adanya cinta hubungan mereka menjadi renggang bahkan adanya pengkhianatan diantara mereka.
Tetesan air mata berlinang dari manik mata wanita cantik ini, dan ia pun segera mengusapnya.
“Raya, kamu kenapa?” Ana yang menyadari hal itu segera bertanya kepada temannya ini.
Raya segera menyela, “Ah, tidak Na. Mataku hanya kelilipan saja.” Seperti biasa Raya selalu memberikan senyuman tulus kepada sahabat barunya ini.
Ana sebenarnya tahu Raya sedang memikirkan sesuatu yang mungkin menyedihkan, tapi wanita ini seakan tidak ingin memperpanjang suatu hal yang belum mau diceritakan oleh Raya.
Tangan Ana sangat lihai mengikat rambut panjang Raya. Kini dengan polesan wajah begitu natural dan rambut yang disanggul rapi, Raya terlihat begitu elegan dan sangat anggun. Apalagi dres yang ia kenakan berwarna putih sebawah lutut dengan kiasan kain transparan yang mengkiasi lengannya.
“Sudah, ayo keluar Raya karena Tuan Natan sudah menunggumu sejak tadi,” ujar Ana sembari memengangi kedua pundak sahabatnya itu dan menatap wajah Raya di cermin.
Raya menganggukkan kepalanya seraya melihat Ana dari pantulan kaca dan ia tersenyum. “Terima kasih Ana atas bantuanmu.”
Ana merangkul Raya dan membawanya ke luar untuk bertemu dengan tuan muda di mansion ini.
“Permisi Tuan, Nyonya Raya sudah siap untuk diberangkat bersama Anda,” kata Ana kepada tuannya yang sedang menundukkan kepala, entah sepertinya Natan memikirkan sesuatu.
Seketika pria bak pangeran itu mengangkat wajahnya, dan ....
Netra mata Natan mengembang, dan mulutnya sedikit menganga melihat kecantikan luar biasa yang terpancar dari istri sahnya itu. Sangat terlihat jelas, Natan begitu terpatah dan terpesona dengan wanita yang ada di depannya ini.
Natan mematung dan relung hatinya memuji Raya, ‘Kenapa dia sangat cantik hari ini?’
Namun, Raya menanggapinya dengan wajah datar ia pun mengeluarkan suara, “Tuan, ayo kita berangkat. Nanti kita terlambat ....”
Hmm!
Wajah yang terlihat penuh akan pesona tiba-tiba berubah seperti biasanya. Dengan sekuat tenaga, Natan ingin terlihat biasa saja meskipun ia tidak yakin akan terus melakukan hal itu.
“Kenapa lama sekali sih? Tidak bisakah kamu berdandan seadanya saja? Dan kenapa malah berdandan sespesial ini?” celetuk Natan seraya menghempas padangannya.
Bukannya Raya yang menjawab, tapi Ana wanita lugu itu merasa bersalah karena ia telah lama menyita waktu untuk meriasi nyonyanya.
Segera Ana membungkukkan tubuh. “Maafkan saya Tuan Muda, saya salah karena saya memilih riasan yang cocok untuk Nyonya.”
Natan melirik Ana dan ia mengelak, “Tidak Ana, kamu tidak salah tidak perlu minta maaf.”
Setelah berkata seperti itu, ia menyoroti matanya dengan tatapan tajam ke arah Raya. “Ayo berangkat, kamu tidak ingin terlambat melihat mantan kekasihmu itu kan?”
Hmm!
Natan buat saja gara-gara, padahal dalam hatinya ia mulai takut hati Raya masih bertuju kepada Derwin, sang mantan kekasih.
Bersambung.