
Sepatu kuda yang selalu digunakan oleh Tuan pemilik kediaman ini menghentak di lantai marmer. Dengan senyum bersahaya dan selalu hangat, Wiguna menyebarkan kepada setiap pelayan yang bekerja di mansionnya ini.
Dengan cepat Laras menyambut kedatangan Wiguna yang hendak mengabarkan bahwasanya pria berkarismatik ini akan pergi keluar kota untuk beberapa bulan karena project baru yang akan dikerjakan bersama perusahaan-perusahaan star up lainnya.
Laras, pelayan yang paling lama mengabdi dikeluarga Moise membungkukkan tubuhnya dan meletakkan keduan tangannya di bawah dada. Mengucapkan salam hormat kepada Wiguna Moise, “Selamat pagi Tuan Wiguna. Apakah ada hal yang perlu saya lakukan? Karena saya dengar Anda akan keluar kota hari ini.”
Pria yang rambutnya sudah memutih sebagian itu tersenyum. “Hallo Laras, bagaimana kabarmu? Saya sangat pulang ke rumah dan selalu menginap di beberapa villa karena urusan perusahaan. Maka dari itu saya sangat jarang melihat para pelayan yang sudah membantu di rumah saya ini,” ucap pria setengah baya itu sembari melirik ke arah Ana dan tersenyum ramah kepada wanita yang belum ia kenal itu. Dikarenakan Wiguna sangat jarang menghiraukan pelayan-pelayan yang ada di sini, akan tetapi ia tersadar jika wajah yang dilihatnya adalah wajah baru.
Sontak Ana segera menganggukkan kepalanya. Dan Wiguna melanjutkan perbincangannya tadi dengan Laras.
“Iya saya ada keperluan sebentar dengan Natan. Ada beberapa dokumen yang harus saya terima dari dia. Ketika saya mencari ke kantor, kata bawahannya anak itu belum datang juga. Hmm, baru kali ini saya merasa aneh dengan putra saya itu. Tumben sekali dia tidak bekerja di hari efektif ini. Padahal sejak dulu ia selalu datang lebih awal dan tidak pernah absen, bahkan pada saat weekend sekalipun,” ungkap Wiguna sebagai seorang ayah yang terheran kepada putra tunggalnya tersebut.
Wiguna melirik manik mata Laras kemudian ke arah Ana, seraya ia ingin tahu yang sebenarnya terjadi dengan Natan. Karena sikap dan perilakunya sedikit aneh beberapa hari ini.
“Apakah kalian mengetahui mengapa sikap Natan sedikit aneh akhir-akhir ini?” Wiguna melontarkan pertanyaan kepada Laras dan Ana.
Pria yang masih memiliki tubuh tegap seperti berusia 40 an ini sebenarnya sangat memperhatikan anak semata wayangnya. Akan tetapi, ia tidak bisa memposisikan dirinya seperti sang istri yang begitu dekat dengan Natan.
Wiguna hanya ingin fungsinya sebagai seorang ayah terpakai, meskipun putranya tidak mesti lagi diberikan perhatian sedetail itu lagi. Karena Natan bukan seorang anak remaja lagi, yang harus selalu diperhatikan.
Laras hanya terdiam dan kemudian melirik Ana. Karena dia mengetahui apa yang menyebabkan Tuan Mudanya itu sangat aneh. Namun, ia tidak ingin melontarkan penyebabnya utamanya. Hal ini disadari oleh Laras, dikarenakan Natan beberapa hari lalu pernah bertanya mengenai Raya kepadanya.
Sedangkan Ana mengetahui sejak Tuan Mudanya itu menyuruhnya untuk mempersiapkan sarapan pagi kepada Raya. Dengan raut wajah seperti seorang yang sedang falling in love, Natan dengan lembut memperintahkan dirinya untuk mengantar makanan yang telah dimasak.
Tanpa menunggu aba-aba lagi, Ana dengan lugas memberitahu kepada Tuan Besarnya itu terkait sikap Natan yang sangat aneh. “Mohon maaf sebelumnya Tuan Wiguna. Saya ingin menanggapi terkait apa yang Anda tanyakan tadi, mengenai Tuan Muda Natan. Sepertinya yang saya rasa Tuan Muda sedang jatuh cinta dengan ...,” ucapan wanita lugu itu terhenti karena tangan Laras dengan lugas mencubit lengan Ana yang diletakkannya dibelakang pada saat berbicara kepada Wiguna.
Aww! Desis Ana yang terkejut dengan serangan Laras.
Sontak hal itu membuat Wiguna bertanya, “Kamu kenapa Nak?”
Ana melirik bola mata Laras bak seperti ibu tiri yang begitu tajam. Karena tahu apa yang harus dia katakan selanjutnya, Ana hanya tersenyum paksa dan berucap, “Tidak kenapa-napa Tuan Wiguna.”
Pria yang berpenampilan sangat rapi itu hanya menganggukkan kepala. Karena ia sedikit bingung dengan Ana yang tiba-tiba berdesis seperti kesakitan.
“Nak, kamu tidak melanjutkan ucapan yang kamu katakan tadi kepada saya? Natan sedang jatuh cinta dengan siapa Nak?” tanya Wiguna dengan wajah yang sangat penasaran, dikarenakan dia tahu bahwa putranya itu sangat keras kepala mengenai pasangan yang dipilihnya.
Yang ditakutkan Wiguna saat ini adalah sang putra masih mencintai kekasihnya itu. Padahal sejak lama sebenarnya Wiguna sudah mengetahui bahwasanya Aurora sering gonta-ganti pasangan ketika dirinya dan para team petinggi sedang mengatakan acara dibeberapa hotel bintang 5. Namun, sebagai seorang ayah yang harus menjaga hati putranya, Wiguna tidak serta merta memberitahu kebusukan yang dilakukan tambatan hati putranya itu. Ia hanya memberitahu bahwa Aurora bukanlah wanita yang baik untuk Natan nikahi.
Ana masih terdiam tak memberikan jawaban atas pertanyaan tuannya tersebut. Karena tidak ingin menimbulkan kecurigaan, dengan cepat Laras membuka mulutnya dengan suara lembut memberitahu kepada Wiguna.
Hehe!
“Namanya seorang pria Tuan, apalagi Tuan Natan bukan pria remaja lagi. Pastinya ia telah memiliki seorang wanita yang membuatnya selalu jatuh cinta. Seperti yang Anda ketahui, bahwa sebelum Tuan Natan menikah dengan Nyonya Raya, Tuan Natan sudah memiliki kekasih bernama Aurora yang sangat ia cintai. Bahkan setiap detik dan setiap menit Tuan Natan selalu menceritakan mengenai Nona Aurora yang sangat cantik itu kepada saya.” Laras sengaja melebih-lebihkan perkataannya itu. Padahal Natan tidak pernah sama sekali menceritakan masalah pribadinya, terutama masalah asmaranya kepada Laras.
Maka dari itu Laras kesal akan pertanyaan Natan mengenai wanita kampungan menurutnya itu beberapa hari lalu. Mengapa Natan sampai mempedulikan Raya sudah makan dan harinya bahagia di mansionnya itu?
Wiguna hanya diam, ia sudah menduga keras kepala yang dimiliki oleh mendiang istrinya turun ke putra semata wayangnya itu.
“Hmm, anak itu!” gumam Wiguna.
Namun, seakan ingin mengetahui lebih lanjut yang dirasakan sang putra. Wiguna kembali bertanya kepada Laras, “Jujur dengan saya Laras, apakah ketika Natan sudah menikah dengan Raya, kekasihnya itu pernah ia bawa ke rumah saya?”
Baru saja Laras ingin berbohong, agar Wiguna cegah untuk membiarkan Natan dengan Aurora. Dengan cepat Ana menjawab, “Tidak sama sekali Tuan. Tuan Muda tidak pernah membawa wanita lain, selain Nyonya Raya. Dan pagi kemarin Tuan Natan memberikan saya perintah untuk menyiapkan makanan sehat dibawakan ke kamar untuk Nyonya Raya, sebelum Beliau berangkat kerja. Lalu dia terus memastikan kepada saya, agar Nyonya Raya sarapan dan istirahat yang banyak.”
Ana tidak akan takut dengan tatapan mengerikan yang diberikan oleh pelayan senior itu. Ia bahkan melirik Laras dengan santai, dan ia melontarkan hal secara jujur.
Ekspresi wajah Wiguna yang tadinya sedikit cemberut kini berubah begitu bahagia ketika mendengar ucapan dari Ana.
“Wah, masa iya Natan seperti itu kepada Raya? Haha, saya jadi ingat dengan mendiang istri saya. Kalau begitu saya ke dalam dulu ya. Apakah Natan sekarang masih di kamar?” tanya Wiguna.
“Beliau sedang di ruang kerjanya Tuan,” jawab Ana seraya tersenyum.
Wiguna meninggalkan senyum hangat kepada kedua pelayannya itu, dan menuju ke ruang kerja Natan.
Glek!
Ketika membuka pintu ia melihat adegan yang begitu romantis dilakukan oleh putra dan menantunya itu. Sontak hal ini membuat Raya tersadar dan wajahnya begitu terkejut ketika Wiguna sudah memperhatikan mereka dari luar pintu.
Hah!
“Tuan Wiguna?”
Bersambung.