
Tangan kekar itu mengingat pergelangan tangan Raya sangat erat. Pria itu seperti enggan untuk melepaskan tangannya. Matanya terpaut ingin mengatakan banyak hal yang tidak bisa ia katakan saat ini.
Apa sebenarnya yang diinginkan Derwin, pria yang sudah meretakkan relung hati Raya yang begitu tulus.
Tidak ingin mengulang kisah lama dan tidak ingin terlarut akan kesedihan, kendatipun hati ingin menangis, Raya meminta tolong kepada Derwin untuk segera melepaskan tangannya.
“Tolong lepaskan tanganmu, apakah kamu ingin dilihat dengan Sarah memengagi seseorang yang sudah kamu buang begitu saja saat ini?!” tegas Raya.
“Raya ...,” panggil lembut Derwin yang menatap manik mata mantan kekasihnya itu dengan dalam.
Raya menggelengkan kepalanya. “Apa sih yang kamu mau Derwin, tolong lepaskan tanganku sekarang. Aku tidak ingin mendengar alasanmu karena kamu sudah menjelaskannya dan sudah memberitahu alasannya. Tolong jangan bahas hal ini lagi, berikan ketenangan pada kehidupanku! Sekarang juga tolong lepaskan tanganku!” pinta Raya dengan melontarkan ucapan tegas dan nada bicaranya meninggi, karena ia sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakit yang ia rasakan saat ini.
Namun, entah darimana asal suara seorang pria menyuruh Derwin untuk melepaskan pergelangan tangan istri sahnya.
“Hey kau, apakah kau tidak mendengar permintaan dari wanita yang ada di depanmu!”
Dari balik dinding, Natan muncul dengan gagahnya. Ia seakan seperti superhero yang akan menyelamatkan seseorang wanita yang dicintainya.
Hmm!
Derwin memasang wajah tak karuan, ia mengkerutkan dahi sedetik lalu mengubah ekspresi wajahnya yang sangat kesal karena kedatangan Natan.
Tidak berkata-kata lagi, Derwin menundukkan kepala dan ia segera meninggalkan mereka berdua. Karena ia sadar, ia harus menghindari Natan, tanpa harus berdebat dengannya.
Natan mendekati Raya, ia tidak bertanya apa pun masalah pria yang sengaja memengangi pergerlangan tangannya sangat erat. Ia hanya berucap, “Ayo kita pulang.”
Pewaris tunggal ini tidak ingin ingin membahas masalah yang telah dilalui oleh Raya. Karena ia baru saja mendapatkan kabar dari Daniel sesudah Raya ke toilet.
Beberapa menit yang lalu.
Ketika Natan menyantap makanannya kembali, telponnya berdering. “Hmm, Daniel? Apakah dia menemukan informasi baru?”
Dengan cepat ia mengangkat telpon dari anak buahnya tersebut, “Iya Daniel, apakah kamu mendapatkan berita baru mengenai Derwin?”
Daniel : “Pak Natan, saya baru mendapatkan data mengenai Pak Derwin terkait mantan pacar yang ia miliki. Katanya Pak Derwin akan segera menikah beberapa hari lagi bersama seorang wanita yang diyakini sahabat mantan pacarnya.”
Natan : “What? Apakah pria itu mengkhianati mantan pacarnya dan memilih untuk menikah dengan sahabat mantannya itu?”
Seketika Natan terdiam, entah mengapa ia mengingat pesan yang dibaca beberapa hari lalu di telpon Raya. Karena kasus Derwin sama dengan kasus yang Raya alami, hanya saja Raya adalah korban dan Derwin adalah pelaku.
Mereka melanjutkan perbincangan dalam telpon itu. Namun, saat fokus mendengar suara Daniel, Natan menoleh ke arah depan ia melihat ada seorang pria yang menuju ke arah toilet juga beberapa detik setelah Raya berjalan.
Daniel : “Yah, apa yang Anda katakan benar Pak Natan. Katanya Pak Derwin memutuskan mantan kekasih secara sepihak, dan parahnya si wanita kini dikabarkan telah dijual oleh ayahnya dan ia menikah dengan seorang pria kaya raya. Mantan pacar dari Pak Derwin yang saya tahu adalah Raya Sena.”
Uhuk! Uhuk!
Ketika meminum air putih, Natan menyemprotkan air itu karena ia begitu terkejut dengan apa yang sudah dikatakan oleh Daniel. Ia benar-benar syok, bahwasanya wanita yang sangat dibenci ternyata memiliki kisah kelam sebelumnya.
Maka dari itu, Raya terus menyebutkan nama Derwin sampai dibawa ke alam bawah mimpinya. Karena ia memang tidak bisa menerima kejadian menyakitkan tersebut.
Sejak tadi Natan dan Raya hanya terdiam satu sama lain, tidak ada yang membuka pembincangan sama sekali. Sampainya di rumah mereka disambut oleh para pelayan.
Natan sangat cepat sekali melangkahkan kakinya, sampai membuat Raya seperti harus mengejarnya.
Beberapa maid yang suka menjulid pun berekasi ketika Natan dan Raya sudah menuju ke kamar mereka.
“Apakah mereka sedang bertengkar?” tanya salah satu maid.
“Aku rasa iya, coba lihat Tuan Natan dengan wajahnya yang sangat datar dan begitu kesal. Tapi wajah Tuan Muda kita kan memang seperti itu, meski kesal atau tidak wajahnya akan tetap seperti itu,” elak maid yang ada di samping kiri.
Wanita polos yang menjadi sahabat Raya pun hanya bisa terdiam, ketika sahabatnya itu selalu menjadi topik pembicaraan baru dengan maid-maid yang sangat mengidolakan Natan.
Ana hanya bisa memanjatkan doa, agar sahabatnya itu tidak kenapa-napa dan bisa menjalin hubungan baik dengan tuan yang dikenal begitu dingin itu.
Sedangkan Laras, wanita yang memang ingin menyingkirkan Raya sangat senang. Ia pikir Natan sedang bertengkar dengan Aurora, tentu saja hal ini akibat Raya. Dan Natan akan terus membenci wanita kampung itu, lalu nasib wanita tersebut akan tragis. Wanita kampung itu akan diusir dengan kasar dengan Natan. Hal ini sudah terekam dipikiran Laras sejak tadi.
Sampainya di kamar, yang hanya ada mereka berdua saja. Raya masih diam dan ia tidak melangkah mendekati Natan.
Sedangkan pria itu seperti tidak menghiraukan Raya. Ia melepaskan jas dan kemejanya untuk mandi saat ini. Dengan wajah yang masih datar, Natan menuju ke kamar mandi.
“Apa yang harus aku lakukan saat ini? Haruskan aku mengucapkan terima kasih banyak kepada Tuan Natan karena dia sudah membantuku tadi ketika Derwin berusaha untuk memaksaku mengingat masa yang begitu menyakitkan itu?” gumam Raya yang memutuskan untuk duduk di sofa, karena jujur tubuhnya begitu lelah dan ia ingin segera beristirahat.
Tapi sejak tadi ia berpikir, kalimat apa yang harus dia lontarkan kepada pria pemilik wajah yang sangat dingin itu. Ia harus menemukan kalimat tepat, agar Natan tidak mengamuk begitu menakutkan.
“Apa yang kalimat tepat untuknya?” gerutu Raya kembali.
Hmm!
Draak!
Raya hanya memikirkan itu sampai Natan sudah selesai mandi. Pria dengan tubuh idealis itu hanya menggunakan handuk putih yang menutupi area bahwanya, sedangkan otot liat yang masih sedikit basah itu tak ia tutupi. Hal ini membuat Raya segera memalingkan pemandangan indah itu.
Natan masih bersikap dingin, tanpa memulai berbicara. Karena ingin segera menyelesaikan masalah agar Natan tak bersikap seperti ini lagi, Raya beranjak dan mulai mendekati Natan yang sedang mengenakan sweater berwarna putihnya itu.
“Tuan Natan, saya ingin mengatakan sesuatu kepada Anda,” ucap Raya.
Namun, Natan masih tetap diam tanpa suara.
Hal ini membuat Raya canggung, tapi ia tetap berusaha untuk mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Natan yang telah membantunya.
“Tuan, terima kasih banyak telah membantu sa ...,”
“Tolong jangan berbicara dengan saya lagi, saya ingin istirahat atau kamu ingin tidur bersama dengan saya saat ini?”
Seketika ekspresi Raya berubah ia menganga dan manik matanya mengembang ketika mendengar ucapan Natan. Entah itu hanya gurauan atau ucapan yang sangat ingin dilakukan Natan dengan Raya. Atau si pria dingin ini sedang cemburu?
Bersambung.