MARRIED WITH MR. COOL

MARRIED WITH MR. COOL
MENCARI TAHU



Wajah Natan masih gusar, bahkan semakin terlihat gusar karena ia begitu kesal di saat dirinya mendengar Raya mengigau dan menyebutkan nama seorang pria.


“Siapa itu Derwin Satria?!” tanya Natan sendiri seperti orang yang sedang berbicara dengan makhluk astral. Tangannya di lipat dan dahinya berkerut. Ia layaknya seperti seseorang yang sedang memecahkan sebuah teka-teki.


Hah!


Ia menghembuskan napas dengan lantang dan kembali menatap detail wajah Raya sampai ke pori-pori wanita cantik yang kini mengeluarkan tetesan air mata.


“Sebenarnya apa yang sedang dimimpikan wanita menyebalkan ini? Atau mungkin kejadian yang menyedihkan sehingga ia sampai mengeluarkan air mata di alam bawah sadarnya?” gumam Natan kembali.


Tanpa sadar jari jemari lantang pria tampan itu ingin mengusap air mata yang jatuh ke pipi Raya. Seketika ia sangat ingin air mata tersebut enyah dari wajah wanita yang masih terjerumus dalam bawah sadarnya.


Deg! Deg!


‘Suara apa ini? Tidak mungkin suara hatiku? Aku hanya ingin mengusap air mata yang membasahi pipinya saja dan tidak melakukan apa pun. Tapi kenapa aku deg-degan seperti ini?’ bisik Natan dalam relung hatinya yang tampak begitu heran dengan perasaan yang terbelenggu dalam jiwanya.


Baru saja ingin mengusap tetesan air tersebut, dengan cepat Raya tersadar dan segera mengusap air mata yang telah membasahi pipinya.


‘Ya Tuhan, aku bermimpi tentang Derwin dan Sarah sampai terasa di dunia nyata,’ celetuk Raya dalam hati yang belum sadar ada Natan sedang duduk di atas sofa.


Netra mata Natan mengembang, ia bukannya terkejut karena melihat Raya sudah bangkit dari tidurnya yang sedang bermimpi itu. Ia malah layaknya seperti patung mannequin yang tidak bisa bergerak sama sekali.


‘Astaga kenapa aku kaku begini?’ tanya Natan sembari bola matanya menari.


Baru saja menggerakkan lehernya yang terasa pegal karena tidur dalam posisi seperti itu, Raya pun menoleh ke samping dan ...


“Astaga, Tuan ... kenapa Anda diam saja di sana? Saya kira tidak ada orang di sini,” ucap Raya terkejut seraya mengelus-elus dadanya yang ingin copot.


Natan langsung tergagap, ia tidak tahu harus menjawab apa. Masa iya dirinya menjawab, ‘Saya ingin mengusap air matamu yang membasahi pipi indahmu.’ Mana mungkin Natan akan mengatakan hal itu!


“Aah, a-nu ta-di saya ...,” jawaban Natan terhenti, ia menghembuskan napas berlahan agar tidak tampak gugup seperti ini.


Wajah dingin dan tatapan sinis kembali Natan perlihatkan. Dengan tegas ia berkata, “Kamu tidak perlu tahu apa yang sedang saya lakukan!”


“Apa kamu sengaja tidak makan sampai hari berganti menjadi malam begini? Atau mungkin kamu memang sengaja melakukannya agar kamu sakit dan semua itu akan merepotkan saya saja, hah?” lanjut Natan dengan nada tinggi seperti biasanya.


Hah!


Raya hanya bisa menghembuskan napas dalam hati dan berargumen sendiri dalam dirinya, ‘Aku tidak mengerti sama sekali dengan pria ini, kenapa dia selalu bersikap dingin dan menyebalkan seperti ini?!’


“Saya ketiduran tadi Tuan, dan belum sempat untuk makan,” jawab lembut Raya, padahal dirinya ingin berkata dengan nada tinggi juga sekali-kali kepada Natan.


“Kamu banyak alasannya ya, bilang saja kamu ingin sakit sehingga saya akan memberikan perhatian kepadamu!” elak Natan yang sebenarnya ia yang ingin diperhatikan dengan Raya.


“Hah?” Mulut Raya menganga lebar dan ia begitu bingung dengan apa yang dikatakan oleh tuannya tadi.


“Maksud Anda bagaimana ya Tuan? Bukankah saya sudah mengatakan tadi jika saya ketiduran dan belum sempat untuk makan,” tegas Raya yang menekankan kepada Natan.


Setelah berada di dalam toilet, bukannya mau membuang air kecil. Natan malah merogoh ponselnya dan mencari nama Daniel, orang yang dipercayainya.


“Niel, kamu masih di kantor?” tanya Natan dalam ponsel.


“Selamat malam Pak Natan. Tentu saja Pak saya dan rekan lainnya masih stay di sini karena acara rapat belum selesai dengan CEO Royal Grup,” jawab Daniel di ujung sana.


Natan : “Lah kenapa kamu bisa menerima telpon saya jika kamu masih mengadakan rapat dan kenapa masih mengadakan rapat dengan CEO Royal Grup, bukankah jadwal rapat dengan mereka sudah selesai sore tadi?”


Daniel : “Kami sedang istirahat sebentar Pak Natan. Dan saya ada di ruangan sedang memberi makan Tora (ikan emas kesayangan Daniel). Dan terkait kami melanjutkan meeting sesi kedua dengan pemilik perusahaan star up seperti Pak Daryan adalah karena perusahaan CEDO Grup tiba-tiba membatalkan meetingnya dengan kami karena CEOnya sedang sakit.”


Natan : “Memang siapa CEO dari CEDO Grup?”


Daniel : “Pak Derwin namanya Pak Natan.”


Mendengar jawaban dari bawahannya membuat Natan begitu terkejut, secara ia baru saja mendengar Raya menyebutkan seseorang dengan nama itu. “Apa yang kamu bilang Derwin? Namanya Derwin siapa?” tanya Natan dengan nada yang cepat.


“Derwin Satria ...,” jawab Daniel singkat.


Manik mata Natan mengembang. “Daniel, saya ingin kamu mencari tahu siapa Derwin Satria itu. Dan yang terpenting siapa saja wanita yang pernah memiliki hubungan dengannya! Jangan banyak tanya lagi, saya ingin informasi mengenai Derwin Satria segera saya terima paling lambat besok malam!”


Sedangkan Raya sudah tidak tahan, ia ingin membuang air kecil.


Tok! Tok!


“Tuan Natan, apakah Anda sudah selesai?”


Dengan cepat Natan mengakhiri telponnya dengan Daniel. Baru saja membuka pintu, Raya sudah masuk tanpa permisi.


Natan hanya bisa menggelengkan kepalanya seraya masih menatap Raya dari luar pintu kamar mandi. “Dasar wanita itu memang begitu ceroboh dan tidak ada lembutnya sama sekali.”


Haaaahh!


Geram Raya yang begitu lega mengeluarkan air seninya. Namun, bayangan Derwin selalu menghantuinya apalagi dia baru saja bermimpi mengenai mantan kekasihnya tersebut.


“Seharusnya aku bisa menerima dan ikhlas dengan apa pun keputusan Derwin. Karena aku tahu bahwa segala hal yang dipaksakan tentu akhirnya akan tidak baik. Mungkin selama ini Derwin hanya tertekan menjalin hubungan denganku. Dan pantasnya aku berterima kasih kepadanya karena dia telah jujur dengan perasaannya kepadaku dan juga kepada Sarah, meskipun yang mereka lakukan begitu menyakitiku,” gerutu Raya.


Setelahnya ia mencuci wajah dan ia menatap dirinya sendiri di kaca besar toilet Natan. “Aku tidak boleh begini, aku harus melupakan Derwin. Sepantasnya aku mendoakan mereka berdua bahagia dan hidup tentram menjalin bahtera rumah tangga yang akan mereka jalankan. Dan aku juga harus ke pernikahan mereka berdua, karena bagaimanapun juga mereka adalah orang yang pernah membuatku berarti dan membuatku mencintai diriku sendiri. Tapi masalahnya bagaimana meminta izin ke pria menyebalkan itu?”


Ia membuka pintu seraya masih bergumam sendirian. Tanpa sadar Natan melipat kedua tangannya dan bersandar di dinding depan toilet.


“Siapa yang kamu sebut dengan pria menyebalkan hum?” Tatapan sinis Natan menuju istri sahnya.


Manik mata indah Raya mengembang, ia pun berbisik dalam hati, ‘Gawat! Sepertinya Tuan Natan mendengar apa yang sedang aku bicarakan tadi!’


Bersambung.