MARRIED WITH MR. COOL

MARRIED WITH MR. COOL
TIDUR BERSAMA



Manik mata saling beradu dan dentuman kencang antara jantung Natan dan Raya saling saut menyaut menjadikan irama yang begitu indah serta kepanikan yang luar biasa.


Mereka masih belum sadar apa yang mereka lakukan saat ini, posisi tubuh idealis pewaris tunggal keluarga Moise tersebut masih menindih wanita cantik yang saat ini tidak bisa melakukan pergerakan sama sekali.


Astaga apakah ini adalah sesuatu momen di mana mereka akan saling membuka hati masing-masing? Jawabannya ada pada lubuk hati mereka berdua.


Beberapa menit berlalu, Natan segera bangkit dan ia langsung mengusap bibir tipis berwarna pink itu dengan punggung tangan kanannya sembari berucap tanpa memandang Raya yang masih tersungkur di bawah lantai marmer berwarna abu tersebut. “Tolong jangan berpikir apa-apa tentang masalah ini, karena saya tidak sengaja melakukannya!”


Tanpa berbasa-basi lagi, Natan melangkah pelan meski kakinya masih terasa cukup kaku. Ia segera duduk di sofa empuk di ruang tamu seraya bergumam seperti menyesali kejadian tadi. “Kenapa aku harus menyentuh bibir wanita itu! Astaga, apa yang harus aku lakukan pastinya dia berpikir yang tidak-tidak mengenaiku!”


Sedangkan Raya saat ini dengan bisa menghembuskan napas lega setelah suami sahnya tidak ada di dekatnya. Ia berusaha mengangkat tubuhnya dan posisi duduk sembari menatap lurus seperti berpikir. ‘Kenapa dia melakukan hal itu? Tapi katanya dia melakukan tidak sengaja, dan bibirnya begitu lembut.’


Namun, tanpa sadar Raya baru saja mengagumi bibir pria yang seharusnya ia benci itu. Ia pun segera meletakkan kedua tangannya yang menutupi wajah cantik tersebut, seraya berteriak kencang.


AAAAAAA!


Teriakannya menggelegar sampai menusuk indra pendengaran Natan Moise yang berada di ruang tamu. Sontak hal ini membuat pewaris tunggal itu terheran, karena kakinya masih kaku ia hanya berteriak dari ruang tamu sambil bertanya kepada wanita yang baru saja ia cium itu.


“Kamu kenapa? Apakah ada hal yang tidak beres?” teriak Natan.


Raya pun tersadar teriakannya sangat keras, sehingga ia segera menutup mulut dan menjawab bertanyaan tuannya tersebut, “Tidak Tuan, tidak ada hal yang perlu Anda khawatirkan.”


Hum!


“Siapa juga yang mengkhawatirkan kamu? Saya hanya memastikan kamu sedang tidak di gigit kalajengking di apartemen ini!” saut Natan yang sedikit cetus, namun aslinya wajah pria tampan ini tersenyum tiada henti sejak tadi.


Namun, senyuman itu kandas saat Natan menerima pesan dari sang kekasih, Aurora Batari.


Aurora : Sayang, apakah kamu sudah sampai rumah? Jangan lupa istirahat yang cukup ya, aku sangat mencintaimu semoga kita bisa tetap seperti ini dan aku juga berharap nantinya kita bisa tidur bersama. Dan aku berjanji akan menjadi istri yang baik untukmu, i love you so much honey.


Natan hanya melirik tanpa membuka aplikasi chat dari kekasihnya tersebut, dengan ekspresi wajah yang begitu datar dan hati yang begitu bingung.


Pria ini tidak membalas dan hanya meletakkan telponnya di atas meja kaca yang ada di depannya. Lalu meremas rambutnya dengan menggunakan jari-jari lentiknya tersebut, dalam benaknya berucap, ‘Maafkan aku Aurora, tapi kenapa perasaanku padamu begitu hampa dan pudar rasanya.’


Hal ini segera di tepis oleh Natan, ia tidak ingin menjadi pria yang tidak dapat menjaga perasaannya kepada wanita yang sangat dia cintai dulu itu. Dia pun membalas pesan Auora.


Natan : Terima kasih banyak atas perhatianmu, Bee. Maaf tidak selalu bisa menemanimu dan aku juga mencintaimu.


Raya yang masih belum berani melihat wajah Natan pun dia memutuskan untuk tetap berada di depan kamar mandi dengan menyandarkan tubuhnya di balik dinding.


Geerok!


Perut Natan pun berbunyi, sejak tadi pagi ia belum sama sekali menyantap apa pun. Hanya bayangan Raya saja menghantui benaknya, sampai dia harus meminum air gurasan dari Tora, ikan kesayangan Daniel.


Hah!


Sebelum melihatkan wajahnya, Raya menghembuskan napas dan menariknya beberapa kali agar dia tidak gugup bertatapan langsung dengan Natan setelah kejadian tadi.


“Aku harus bertingkah biasa saja, anggap semua hal yang sudah terjadi tadi tidak ada sama sekali!”


Ia pun memberanikan diri untuk melangkah dan ...


Natan dengan tatapan sayunya langsung berkata, “Ayo kita makan saya sudah lapar!”


Merasa kakinya sudah membaik, ia pun beranjak dan mengambil jaket tebal berwarna coklat itu, lalu ia buang ke wajah Raya.


“Cepat ikuti saya, apakah kamu mau saya kunci di kamar ini lagi?” ucap Natan seraya berjalan begitu cepat.


“Baik Tuan,” jawab Raya dengan menundukkan kepada lalu mengikuti Natan dari belakang.


Beberapa menit kemudian, Natan dan Raya keluar dari kamar apartemen. Hal ini menjadi pusat perhatian Nia dan Diah yang masih bertugas di bagian resepsionis.


Mereka melihat ada yang begitu aneh. Di saat Natan berjalan menuju lobby depan, ia seperti sedang membenarkan sabuk yang melingkar dipinggangnya. Dan yang paling mengejutkan adalah rambut Raya sangat acak-acakan. Hal ini membuat kedua gadis muda itu langsung bisa membuat persepsi yang masuk akan karena mereka melihat gerak-gerik kedua orang yang baru saja keluar dari kamar apartemen.


Nia segera menyenggol pundak temannya yang sejak tadi matanya kembang kempis melihat gerak-gerik Natan dan Raya. “Hey Yah, apakah kamu berpikiran sama dengan apa yang aku pikirkan sekarang?”


Diah tidak menjawab, ia hanya mengangguk seakan tahu apa yang ingin Nia bicarakan.


Apa yang mereka pikirkan ketika melihat pria dan wanita sekamar lalu pria dan wanita tersebut berpenampilan acak-acak seperti yang mereka curigai mengenai Natan dan Raya.


“Apakah mereka sedang melakukan adegan 21+ ?” tanya Nia yang begitu penasaran kepada kedua orang itu.


Diah yang jarang ikut membicarakan seseorang pun akhirnya buka mulut. “Sepertinya yang kamu katakan benar Nia, secara logis kenapa Tuan Natan berjalan begitu cepat dan ia juga membenarkan sabuknya? Lalu wanita yang ada di belakang Tuan Natan wajahnya sangat kusut. Aku pikir Tuan Natan adalah pria yang setia dan sangat mencintai Nona Auora,” pendapat Diah menilai pria yang sangat ia kagumi sejak dulu sebelum Natan menjalin kasih dengan Aurora.


“Aah, kamu jangan terlalu menilai seorang pria dengan satu sisi yang kamu lihat saja, Yah. Namanya juga pria pastinya dia akan merasa bosan dengan makanan yang sering ia santap,” elak Nia.


Namun, Diah teguh akan mendirian menilai Natan adalah pria yang tidak seperti itu. “Tapi tidak semua pria seperti itu, Nia. Aku tahu Tuan Natan sama sekali tidak pernah melakukan itu dengan Nona Auora, buktinya saat dia kemari dia memilih tidur di lantai bawah.”


“Aah, sudahlah Diah. Kamu tidak bisa menilai seorang dalam satu sisi saja, itu sudah aku jelaskan tadi. Tapi aku yakin sekali, mereka berdua pasti tidur bersama!” tegas Nia tak mau kalah.


Saat diparkiran, Natan mendapatkan telpon dari Daniel. “Tuan, saya sudah tahu informasi mengenai Derwin Satria.”


Bersambung.