MARRIED WITH MR. COOL

MARRIED WITH MR. COOL
MASALAH BARU



Mereka berdua duduk di dalam ruangan luas pewaris Moise ini. Natan benar-benar seperti orang yang sangat serius saat ini, ia menatap Daniel bagaikan seorang penjahat yang akan segera diiterogasi dengan sedetail mungkin.


Karena belum membuka mulut sama sekali, Daniel pun berantusias untuk bertanya kepada atasan yang terkenal dingin tapi hatinya begitu lembut ini.


“Pak, apakah Anda sakit? Kenapa sejak tadi Anda hanya terdiam dan menatap saya seperti ingin memangsa saya,” ucapan Daniel yang tampak serius tapi seakan mengajak Natan sedikit bergurau.


“Daniel, apakah benar mantan Derwin Satria itu adalah Raya Sena?” tanya Natan sembari mencondongkan tubuhnya dan sedikit berbisik, agar ucapannya tidak di dengar siapa pun terutama sang ayah, meski di ruangan besar ini tidak ada siapa-siapa.


Hmm!


Pria pemilik paras hampir sama dengan Natan ini tanpa ragu segera menganggukkan kepalanya dan menjawab pertanyaan dari atasannya itu. “Benar Pak, saya juga memiliki foto mereka saat mereka sedang menjalin kasih.”


Manik mata pria yang sudah mulai memiliki perasaan perbeda kepada istri sahnya itu menyempit. Dan ia tidak suka dengan hal ini.


“Mana segera tunjukkan kepada saya!” perintah Natan meminta Daniel untuk segera menunjukkan foto Raya dan Derwin.


Meski dia tahu ketika melihat foto itu, mungkin saya ia merasakan sakit dalam relung dadanya. ‘Tidak, aku tidak akan sakit melihat foto mereka berdua! Toh juga itu hanya kenangan dulu, dan aku juga tidak peduli!’  Mungkin ini yang digumamkan dalam hati Natan, karena ia terus mencoba mengelak mengenai wanita yang telah menggerakkan hatinya itu.


Daniel segera merogoh ponselnya dalam tas, ia mencoba menyentuh layar smartphonenya itu dan ....


“Ini Pak foto mereka,” ucap Daniel seraya menunjukkan foto Derwin, Raya, dan seseorang wanita.


Foto yang dilihat oleh Natan, bukannya membuat pria ini kesal atau cemburu. Ia malah begitu simpati dengan Raya. Terlihat jelas pada saat itu mereka bertiga dipenuhi rasa kebahagiaan. Posisi Derwin ditengah-tengah sembari merangkul kedua wanita yang ada disamping kiri dan kanannya. Wanita itu tidak lain adalah Raya dan Natan meyakini, bahwa wanita yang satunya lagi adalah sahabat dari istri sahnya itu.


Glek!


Saliva Derwin susah untuk digerakkan masuk ke dalam kerongkongan. Karena ia ingat sebuah pesan yang dikirimkan oleh wanita beberapa hari lalu di ponsel Raya. Ia sengaja tidak memberitahu istrinya itu, karena ia sebenarnya tidak ingin wanita tersebut sedih. Menurutnya segera menghapus pesan itu adalah hal yang terbaik buat Raya.


Namun, keputusannya salah ia seharusnya menjadi jembatan mengenai hubungan masa lalu yang telah Raya jalani. Tanpa berusaha meninggalkan masalah yang harus dihadapi.


‘Seperti yang kemarin malam aku pikirkan, aku harus meminta wanita itu untuk mengabulkan permintaanku!’ bisiknya dalam hati.


“Bisa kirimkan foto itu kepada saya, Daniel?” pinta Natan.


Daniel kembali mengangguk, “Tentu saja bisa Pak.”


Beberapa menit kemudian. “Pak bisakah saya ke ruangan saya saat ini? Karena Tora belum makan,” ujar Daniel, pria pemilik pengagum terbesar setelah Natan ini yang begitu menyayangi ikan peliharaannya.


Hah!


Natan menghela napas, dan ia berceletuk kepada bawahannya yang ia sangat percayai itu. “Daniel ... Daniel, kapan kamu mau mendapatkan kekasih jika kamu selalu memberikan perhatian kepada ikan emas yang ada di meja kerjamu itu?”


Tidak mau kalah, Daniel menggelengkan kepalanya dan menjawab pertanyaan dari Natan yang sebenarnya khawatir dengan teman yang memiliki usia sama dengannya ini. Karena Natan tidak pernah sama sekali melihat Daniel mengajak ataupun membicarakan masalah wanita kepadanya.


“Cinta itu rumit Pak, saya lebih memilih menyayangi siapa yang patut saya sayangi. Saya akan melepas seseorang yang pantas dilepas. Karena jika membicarakan tentang cinta apalagi sudah masalah hati tidak akan ada habisnya. Sama seperti Anda kan Pak? Anda sedang jatuh cinta kepada seseorang kan?” celetuk Daniel yang mengira-ngira perilaku Natan yang begitu aneh akhir-akhir ini sembari sedikit tersenyum seperti mengitimidasi.


Sontak ucapan Daniel membuat Natan gelagapan, ia segera memalingkan pandangannya dan berujar tegas. “Kamu jangan mengatakan hal yang aneh-aneh Daniel!”


Tingkah laku Natan tidak bisa dibohongi, raut wajahnya memerah dan ia juga tidak dapat melihat mata anak buahnya itu karena Natan tidak ingin Daniel mengetahui hal ini. Kendatipun pria cerdas yang sudah sangat mengerti asam manis pahitnya mengenai cinta itu telah mengetahui atasannya tersebut sedang falling in love kepada seseorang.


Daniel hanya tersenyum dan ia kembali izin kepada Natan, “Pak saya ke ruangan saya saat ini. Oh iya jika Anda membutuhkan teman untuk berdiskusi mengenai seseorang yang sedang Anda incar beritahu saya hahaha ...,” tawa Daniel seperti mencoba menggoda atasannya yang selalu dingin dan serius itu.


Hah!


Haha! Namun, berusaha tetap ingin mengerjai atasannya, Daniel malah tertawa sangat kencang. Sampai ia tidak tersadar tepat di depannya kini berdiri pemilik perusahaan ini, yaitu Pak Wiguna Moise.


“Sepertinya kamu dan Natan hari ini sangat bahagia, Daniel.” Senyum Wiguna karena bahagia melihat anak buahnya dapat bercanda dengan putra dinginnya itu.


Daniel baru tersadar, ia segera membungkukkan tubuhnya memberi hormat kepada Wiguna Moise.


“Selamat pagi, Pak Wiguna. Tumben sekali Anda pagi-pagi sudah ada di kantor,” ucap Daniel.


Wiguna tersenyum tipis, sembari menepuk-nepuk pundak pria yang sudah ia anggap putranya itu. “Iya, ada yang saya bicarakan dengan Natan. Saya masuk dulu ya, Daniel.”


Pria pemilik aura bijaksana itu melangkahkan kakinya menuju ruangan putra tunggalnya tersebut.


Ternyata, Natan masih belum tersadar ada orang yang masuk ruangannya. Ia masih bergumam sendiri mengenai ucapan Daniel tadi.


“Apa yang Daniel katakan? Tidak ... tidak, aku tidak mungkin tertarik dengan wanita menyebalkan itu! Wanita yang membuatku kacau seperti ini!”


Hmm!


Uhum!


Wiguna sengaja menggetarkan suaranya agar di dengar oleh putra kesayangan yang begitu bingung itu. “Sebenarnya apa yang sedang dipikirkan dan diperbincangkan putra papah kali ini?’


Tubuh ideal Natan segera tergeser, ia menoleh ke arah sumber suara sembari bola matanya mengembang. Ternyata ia tak sadar akan keberadaan ayahnya saat ini.


“Pah? Sejak kapan Papa ada di sini?” tanya Natan, yang sangat berusaha menampilkan wajah biasa saja. Seperti tidak ada apa-apa.


“Jawab dulu pertanyaan Papa, siapa wanita yang telah membuat putra Papa seperti ini? Apakah wanita itu bernama Raya Sena?” Wiguna malah balik bertanya, dan ia mencoba membercandakan putranya.


“Tidak Pah!” tegas Natan dengan meninggikan pita suaranya.


Hehe!


Wiguna hanya tersenyum, dan tidak memperpanjang masalah tersebut. Mereka berdua pun berbincang sangat serius dan sepertinya mereka memiliki project yang akan dikerjakan diluar kota.


“Jadi mulai minggu depan, pembangunan apartemen itu akan dilakukan di ibukota?” tanya Natan setelah mendapatkan penjelasan dari ayahnya.


Wiguna mengangguk. “Oh iya, CEO CEDO grup akan ikut dalam perancangan pembangunan ini karena ternyata ayah dari CEO muda itu adalah rekan papah yang pernah membantu papah dulu. Oh jangan lupa, karena pelaksanaan ini cukup lama kamu ajak juga Raya ikut ke ibukota.”


Hah!


Sontak hal ini membuat Natan bingung, secara CEO CEDO grup adalah Derwin. Dan Derwin adalah mantan pacar dari Raya. Kenapa ketika pria ini sudah membuka hatinya, masalah baru terjadi.


Tapi ada hal yang ingin Natan beritahu kepada Derwin langsung, jika Raya kini telah menjadi istri sah darinya.


Bersambung.