
Mereka pun sampai di gedung Santha Maria. Natan dan Raya di sambut hiasan serba putih, dengan latar bunga mawar yang melambangkan arti cinta itu.
Huum!
Raya menghela napas dan matanya menyoroti tamu undangan yang sudah berangsur-angsur masuk ke dalam. Sepasang suami istri ini masih berada dalam mobil, karena Natan memang sengaja tak turun sebelum Raya membuka pintu mobil mewahnya itu terlebih dahulu.
Pria ini sejak tadi sebenarnya memperhatikan Raya yang terlihat jelas wanita itu enggan untuk masuk ke dalam.
Natan melirikkan pandangannya mengarah ke sisi kiri, melihat wanita yang berpenampilan mempesona itu. “Katanya kamu ingin cepat-cepat ke acara pernikahan mantan kekasihmu agar tidak terlambat, tapi kenapa masih berada di dalam mobil? Mau sampai kapan kamu akan tetap di sini?”
Mendengar Natan berkata, Raya menoleh ke arah sang suami. Ekspresi wajahnya sungguh datar, sepertinya hati Raya sungguh tidak baik-baik saja saat ini.
Glek!
Raya menatap Natan dengan menelan salivanya. Akan tetapi, pria tampan dengan jas putih yang begitu rapi tersebut malah tak mampu untuk menyoroti mata Raya saat ini. Ia segera memalingkan pandangan sembari berucap dengan ketus, “Jangan melihat saya seperti itu! Karena saya tidak menyukai cara tatapanmu!”
“Tuan ...,” panggil pelan Raya dengan suara yang begitu lembut.
Hal ini juga tak mampu Natan tahan, suara Raya benar-benar menggoda imam seorang pewaris tunggal Moise ini. ‘Kenapa dia memanggilku dengan suara seperti itu? Apakah dia mencoba untuk merayuku? Tapi kenapa hari ini ia benar-benar menawan sekali seakan aku ingin memiliki dia seutuhnya, dan tidak ingin aku biarkan mantan kekasihnya itu mencuri perhatian wanita ini!’
Natan menjawab dengan suara nada ketusnya kembali, “Jangan memanggil saya dengan suara manja seperti itu!”
Uhum!
Raya seakan ingin membicarakan suatu hal penting kepada sang suami. “Tuan, apakah saya boleh meminta sesuatu kepada Anda?”
Natan menoleh ke arah Raya, “Minta apa?” jawabnya cepat.
Tanpa berpikir panjang, Raya dengan leluasa meminta pria yang sudah menjadi suaminya itu. “Tuan, bisakah Anda bersikap seperti layaknya seorang suami terhadap saya? Saya berjanji untuk permintaan ini, Tuan lakukan di dalam gedung dan selama acara pernikahan Derwin dan Sarah.”
Deg!
Seketika jantung Natan berdebar dengan begitu kencang, baru pertama kali ia mendengar permintaan aneh ini. Memang benar selama menjadi suami istri dan telah terikat satu sama lain, Natan tidak pernah sama sekali memperlakukan Raya sebagai seorang istri. Pria itu bahkan menganggap Raya sebagai pengganggu dan akhir-akhir ini ia menyadari perasaannya, namun ia juga masih berkelahi antara logika dan hatinya sendiri.
Logikanya terus memperjelas bahwa Raya adalah wanita yang mungkin sama saja seperti Aurora, sang mantan kekasih. Wanita yang hanya menginginkan harta dari pria ini, tanpa memperdulikan cinta yang paling Natan butuhkan dari pasangannya.
Sedangkan hatinya perlahan terbuka, tak kadang Natan membiarkan hatinya berjalan sendiri untuk memberikan ruang kepada Raya. Maka dari itu, ia selalu bersikap seperti pada awal dirinya bertemu dengan Raya. Karena ia masih bergejola dengan logika dan hatinya yang sangat bertolak belakang.
Hmm!
Natan menyoroti manik mata Raya yang kini berkaca-kaca. “Kenapa saya harus melakukan hal itu untukmu? Apakah kamu ingin balas dendam kepada mantan kekasihmu, dan berusaha untuk membuat cemburu dia?”
Senyuman paksa terpancar dari wajah kalem wanita yang masih menunduk itu. Dan Natan tanpa bisa berpaling, netra matanya terus memperhatikan sang istri.
“Jadi kamu ingin berpura-pura hidup bersama saya? Tujuannya agar mantan kekasihmu bisa bahagia? Apakah kamu pikir dia akan bahagia melihatmu bahagia bersama pria lain?” pertanyaannya yang berangsur-angsur keluar dari mulut Natan membuat Raya terdiam dan sepertinya ia sangat berpikir dengan keras.
Hmm!
“Saya tidak tahu Tuan, pendapat semua yang saya lontarkan kepada Anda hanyalah sundut pandang saya saja. Tapi Derwin adalah pria yang baik yang saya tahu, dan saya yakin ketika saya bahagia dia akan bahagia juga,” ujar Raya.
Hahaha!
Natan malah menjawab dengan tawa sedikit meledek kepada wanita yang berpikir selalu positif ini.
“Apakah kamu sengaja menghibur diri? Mana ada seorang pria baik selingkuh dengan sahabatmu sendiri hah? Dia sama saja kan melukai hatimu, apakah seorang pria yang sudah melukai hati kekasihnya adalah pria yang masih baik juga di matamu?” elak Natan yang berbicara terhadap sudut pandangnya terhadap Derwin.
Raya menaikkan wajahnya, dan kini ia menoleh ke arah Natan dengan senyuman yang begitu tulus. Hal ini membuat Natan sedikit terkejut, ‘Kenapa wanita ini malah tersenyum? Kenapa dia tidak melontarkan suatu kata mengenai mantan kekasihnya yang busuk itu?!’
Bukan karena Derwin adalah mantan kekasih wanita yang kini ia sukai, sehingga ia sangat marah. Ia hanya tidak menyukai pendapat Raya yang selalu mengatakan jika Derwin adalah pria baik. Padahal nyata-nyata Derwin adalah pria yang membuat Raya seperti sekarang ini, tidak memiliki gairah hidup.
Setelah tersenyum Raya berusaha membuka pintu mobil, namun Natan mencegahnya. “Kamu jangan buka pintu sendiri. Kamu menginginkan saya bersikap seperti seorang suami kan? Jadi biarkan saya membukakan pintu untukmu!”
Baru saja ingin membuka pintu, Natan kembali menoleh ke belakang dan meyakinkan kepada Raya dengan menyempitkan bola matanya. “Tapi ingat, saya bersikap seperti ini hanya saat ini saja! Karena saya hanya kasian kepadamu dan saya juga mengingat pesan Papa!”
Setelah memberikan peringatan itu, jari panjangnya membuka pintu mobil mewah tersebut dan dengan sigap ia membuka pintu sebelah kiri. Ia seperti seorang pria yang sangat mencintai pasangannya. Semua tamu yang ingin menuju ke dalam berpusat kepada Natan dan juga Raya.
Mereka berdua seperti yang sedang mengatakan acara pernikahan. Karena paras yang dimiliki Natan dan juga Raya benar-benar menawan.
“Ayo Tuan Putri silahkan turun,” ucap Natan begitu manis dengan posisi tubuh sedikit menunduk dan memberikan tangan kanannya untuk dipegang oleh Raya.
Heh!
Raut wajah Raya sedikit aneh, karena ia merasa perlakukan Natan kepadanya sungguh diluar dugaan dan terkesan berlebihan.
Karena diperhatikan oleh beribu-ribu pasang mata, Raya sengaja tersenyum paksa dan ia mendekati mulutnya ketelinga Natan. “Tuan, perlakuan Anda kepada saya mungkin terkesan berlebihan. Apakah Anda bisa memperlakukan saya seperti layaknya standar suami istri yang biasa saja?” bisik Raya kepada Natan.
Hum!
Mendengar hal itu Natan malah tersenyum dengan ekspresi licik. Sepertinya ia sedang memikirkan suatu strategi untuk Raya.
Bersambung.