
Natan mendekat dan Daniel pun tersadar ada atasannya tepat berada di hadapannya. “Pak? Kenapa Anda ada di ruangan saya?” tanya pria pemilik wajah sebelas dua belas dengan atasannya itu. Lalu ia pun berdiri sembari memberikan hormat kepada pewaris tunggal keluarga pemilik perusahaan raksasa di beberapa kota ini.
Hmm!
Natan menyempitkan matanya, dalam benaknya berpikir dan mengira-ngira sebenarnya foto siapa yang sedang dilihat sahabatnya itu sehingga Daniel menampilkan wajah yang tak seperti biasanya.
Dengan posisi tangan dilipat dan postur tubuh yang tegap, Natan menyelidik dan ia pun bertanya, “Foto siapa yang kamu lihat Niel?”
Hah?
Mimik wajah Daniel yang tadinya terkejut akan kehadiran atasannya yang mendadak, kini semakin terkejut dan kubil matanya pun mengembang. ‘Lah, kenapa Pak Natan menanyakan hal ini?’ bisiknya dalam hati.
Daniel segera menggelengkan kepalanya, dan segera menjawab, “Tidak ... tidak siapa-siapa Pak. Saya hanya ...,”
Bukannya memberhentikan gelagat penyelidikannya, Natan malah melangkahkan kaki pelan seraya matanya menatap Daniel dengan penuh sorot mencurigakan. Bukan Natan namanya jika ia tidak mendapatkan jawaban yang pas dan pasti.
“Katakan kepadaku Niel, kamu bicara dengan sahabatmu saat ini bukan atasanmu.”
“Pak Natan, Anda seperti penyelidik yang memiliki sertifikat bintang lima saja. Sudah saya katakan tadi bukan ...,” pembicaraan Daniel terhenti ketika foto yang ia simpan di bawah buku di ambil oleh atasannya itu.
Hah!
Ekspresi wajah Natan berubah drastis, yang tadinya begitu mengerikan seperti ingin mempertanyaan beratus pertanyaan kepada sahabatnya itu kini berubah sangat terkejut. Sampai-sampai mulut pewaris ini mengaga tak percaya dengan apa yang ia lihat dalam foto.
Daniel yang melihat ekpresi wajah tuannya yang menurutnya berlebihan hanya bisa menerka-nerka, mengapa Natan sangat terkejut melihat siapa yang berada dalam foto tersebut.
“I ... ini bukannya?” Natan melihat Daniel tak percaya.
“Hmm, ada hubungan apa kamu dengan dia Niel?” lanjut Natan sembari melihat kembali lembaran foto tersebut.
Awalnya Daniel tidak ingin bicara masalah pribadinya yang sangat jarang orang mengetahui, meskipun dengan Natan sendiri yang sudah dia anggap sebagai sahabat dan saudara sendiri.
“Jangan-jangan kamu adalah kekasihnya?” tebak Natan, ia pun kembali memasang wajah seperti mencurigai pria yang tak pernah memiliki isu miring terhadap wanita-wanita cantik di sini.
Daniel sama sekali tidak pernah menampakkan ketertarikan kepada semua wanita yang ada di kantor megah ini. Padahal karyawati-karyawati di tempat ini tidak hanya memiliki fisik yang begitu menawan, tapi value yang sangat luar biasa. Dikarenakan perusahaan Moise Grup memiliki kualifikasi penerimaan tenaga kerja begitu ketat. Sudah jadi jika semua orang yang masuk dalam Moise Grup orang tersebut adalah memiliki nilai yang tak bisa dipungkiri lagi.
Bahkan pria yang terkenal memiliki sifat yang begitu ramah dan sangat peduli dengan siapa pun (ia sangat peduli dengan ikan mas yang diberi nama Tara, apalagi dengan manusia tak gampang meletakkan hatinya kepada para gadis yang ada di sini.
Jadi ini alasan Daniel masih tetap teguh akan prinsipnya, tetap sendiri dan tidak pernah terdengar dekat dengan siapa pun di kantor.
Setelah mendengar tebakan dari sahabatnya itu, tiba-tiba wajah Daniel menjadi merah padam seperti kepiting yang baru direbus. Ia tampak begitu malu dan matanya menyoroti diberbagai sudut ruangan.
“A ... anu Pak, tidak. Tolong jangan mengasumsikan hal yang belum terjadi, lagian saya dan dia tidak pernah memiliki hubungan sedekat itu seperti yang Anda katakan,” elak Daniel.
Hmm!
Natan malah mengeram, ia tak henti-hentinya untuk melontarkan pertanyaan agar menemukan akarnya di mana.
Natan memperhatikan kembali foto yang masih ia pegang, lalu mengucapkan dengan nada santai, “Oh, jadi ini yang disukai oleh pria berperawakan sempurna dan memiliki jenjang karier yang sangat luar biasa seperti Daniel. Wanita yang memiliki senyum indah dan begitu sederhana.”
Daniel segera mengambil foto yang dipegang oleh Natan, lalu ia pun berkata, “Ia hanyalah wanita yang saya kagumi beberapa tahun lalu. Dan saya pun tidak tahu namanya siapa.”
Hahaha!
Bukannya tersentuh mendengar curhatan pertama sahabatnya, Natan malah menertawakan Daniel dengan sikap yang tidak merasa bersalah sama sekali.
“Kenapa Anda tertawa Pak?” tanya heran Daniel.
Natan hanya merasa bahwa pria seperti Daniel juga memiliki kisah asmara yang mengenaskan. Sama seperti dirinya yang gagal total membina sebuah hubungan, tapi semenjak adanya Raya Natan menjadi pria yang mengetahui dirinya sendiri.
“Tidak ...,” Natan menjawab dengan tawa yang masih memenuhi seisi ruangan Daniel.
Huum!
“Ayolah Pak, kita ke ruangan meeting saja. Saat ini kita mengadakan meeting kan?” Daniel mencoba menghilangkan apa yang sudah mereka bahas.
Natan pun menghentikan tawanya itu dan ia kembali menyoroti sahabatnya. “Niel, aku mau tanya apakah wanita ini masih mengisi hatimu sampai saat ini?”
Daniel tak menjawab, tapi wajahnya kembali merah menandakan bahwa hal itu memang benar.
Putra tunggal Wiguna itu pun merangkul Daniel sembari membisiknya sesuatu. “Niel, kamu harus memberitahu dulu siapa wanita itu dan aku akan membantumu untuk kamu bertemu dengannya.”
Mau tidak mau karena ia mengetahui sikap atasannya itu, Daniel menceritakan segalanya mengenai wanita yang ada di dalam foto.
Perempuan memiliki senyum yang indah itu adalah wanita yang membantu Daniel saat dirinya masih berusia 20 an. Ketika itu Daniel muda yang masih belum paham akan cinta dikhianati oleh pacarnya yang sangat ia cintai.
Di saat itu pula kedua orang tua Daniel memutuskan untuk bercerai dan ia pun tak tahu harus berbuat apa. Tepat pada malam hari saat hujan turun dengan deras, kekacauan dalam hatinya membeludak. Ia tidak ingin melanjutkan kehidupannya yang ia kira tak ada arah sama sekali.
Ia berjalan di rel kereta api seorang diri, dan menunggu kereta melindas tubuhnya hidup-hidup. Entah dari mana datangnya, ada seseorang menarik pergelangan tangannya dengan erat sampai memerah.
Gadis itu sangat parah dengan kelakuan yang dilakukan oleh Daniel. Ada berkataan yang paling ia ingat ketika sang gadis memberikan ia petuah, “Hey kamu, aku tidak tahu siapa kamu dan aku mau kamu tetap menjalankan kehidupan seperti mana biasanya. Aku tidak tahu masalahmu bagaimana dan seperti apa perjalanan hidupmu, tapi yang harus kamu tahu adalah sepahit dan semenyakitkan kehidupanmu semuanya akan berjalan seiring berjalannya waktu dan hargailah dirimu sendiri karena kamu berharga!”
Setelah itu ia pun meninggalkan Daniel dengan membalikkan badan munggilnya itu dan ia tersenyum kepada Daniel. Ia kembali berkata, “Aku harap kita akan bertemu suatu saat nanti ....”
“Sampai saat ini saya tidak tahu namanya, saat ia tersenyum dan berkata seperti itu saya langsung merogoh ponsel saya, berniat untuk menemukannya setelah kami berpisah. Tapi ini sudah beberapa tahun berlalu, kita tidak pernah bertemu,” ucap Daniel setelah menceritakan apa yang ia alami dengan seorang wanita yang sangat ia kagumi itu.
Meski hanya bertemu beberapa menit, wanita itulah yang telah memberikan pandangan kehidupan kepada Daniel sehingga ia bisa tumbuh seperti Daniel saat ini.
Natan tersenyum ia berbisik dengan penuh penekanan, “Niel, aku tahu siapa wanita itu!”
Bersambung.