MARRIED WITH MR. COOL

MARRIED WITH MR. COOL
MENGHORMATI TITAH IBUNDA



Mereka melanjutkan perjalanan. Natan yang fokus menyetir mobil memasang raut wajah yang sangat kesal. Sedangkan Raya hanya terdiam, ia masih memikirkan ayah sambungnya tersebut yang masih tidak memiliki perasaan.


Padahal Raya bisa saja mengeluarkan keahlian bela dirinya, secara gadis malang itu pernah mendapatkan juara 1 tingkat nasional pada saat sekolah menengah pertama. Karena sang ibunda berpesan, ‘Sayang, kita sebagai wanita harus kuat secara mental ataupun fisik karena wanita juga mendapatkan porsi sama dengan seorang pria. Kamu harus belajar bela diri, untuk menjaga dirimu sendiri ya Sayang.’


Semenjak sang ibunda dipanggil oleh Tuhan dan bersemayan di surga, Raya tidak mau berlatih bela diri lagi karena setiap kali ia mencoba melakukan kegiatan tersebut pastinya deruan air mata akan mengalir begitu deras.


Namun, hal ini membuat Natan begitu kesal dengan wanita yang duduk tepat disampingnya itu. “Kenapa kamu malah membiarkan pria tak tahu diri itu memukulmu? Apa kamu takut bila dikatakan anak durhaka hah?”


Glek!


Raya menelan salivanya, kemudian menoleh ke arah Natan yang masih fokus memandang ke depan.


“Saya hanya ingin menghormati seseorang yang berusaha untuk membesarkan saya,” jawab Raya dengan pelan.


Tapi pendapat Raya tadi dielak oleh Natan, pria ini mengerutkan dahi lalu melirik istri sahnya dengan tajam. “Apa pantas pria itu kamu hormati? Bila wajahmu sampai babak belur dan ia melakukan kekerasan, apa kamu mau diam saja? Apa kamu tidak memiliki pikiran yang rasional hah membiarkan seseorang menyakitimu?”


Glek!


Raya kembali menelan salivanya, ia memejamkan mata beberapa detik dan menghembuskan napas. Jika diingat sang ayah selalu berperilaku kasar dan semena-mena kepada Raya semenjak sang ibu meninggalkan dirinya selama-lamanya.


“Ia saya adalah wanita yang tidak bisa berpikir secara rasional seperti yang Anda ketakan tadi. Karena ia adalah pria yang sangat dicintai oleh almarhum ibu yang sangat saya cintai di dunia ini. Maka dari itu saya juga harus menghormatinya,” jelas Raya seraya manik mata berwarna coklatnya berkaca-kaca.


Deg!


Tiba-tiba hati Natan seperti tertusuk belati yang begitu tajam. Entah mengapa ucapan Raya membuat dirinya sangat merasa bersalah karena sudah membentak istri sahnya ini.


‘Kenapa dia sampai melakukan hal ini, membiarkan seseorang menyakitinya karena ia begitu sayang dengan ibunya. Hah! Kenapa?’ bisik Natan dalam relung hatinya.


Tenyata Natan juga begitu, ia membiarkan sang ayah mengusik kehidupannya menurut putra tunggal keluarga Moise ini. Ia bisa saja memberontak ketika ingin dinikahkan dengan Raya, karena dia sudah memiliki seseorang yang akan dinikahinya dalam waktu dekat.


Sebenarnya Natan tidak takut akan ancaman yang diberikan oleh Wiguna kepadanya, mengenai seluruh aset perusahaan akan diberikan kepada orang yang membutuhkan dan beberapa persennya lagi akan disumbangkan kepada yayasan.


Ia hanya patuh dan selalu ingat titah sang ibunda yang mengatakan, ‘Natan, kamu adalah satu-satunya harapan Mamah dan Papah. Dan Mamah mohon kepadamu Sayang, jika Mamah tidak bisa menemanimu di dunia ini lagi, kamu harus menuruti apa yang diperintahkan Papah ya Nak. Karena semua yang Papah perintahkan adalah hal yang baik untukmu, meski caranya sedikit keras dan tegas itu untuk bekal kamu juga Nak.’


Walaupun sempat ingin memberontak dan tidak setuju dengan kemauan sang ayah, Natan mencoba mengerti apa yang diperintahkan ayahnya saat ini. Ia melihat nilai plus di dalam diri Raya. Wanita ini rela disakiti demi seseorang yang sangat ia cintai di dunia ini, karena tidak ada yang mulia melakukan sesuatu pengorbanan demi seseorang yang sangat dicintai. Kendatipun hal tersebut begitu tak masuk akal dan membuat sakit.


Natan hanya terdiam ketika Raya mengatakan hal tersebut dan karena perutnya sudah tidak bisa diajak kompromi ia segera mencari restauran terdekat.


“Kita makan dulu, sehabis itu baru pulang,” ucap singkat Natan.


Namun, tiba-tiba manik matanya mengembang lalu berceletuk dalam hatinya, ‘Apakah aku dan wanita ini sekarang akan dinner? Tidak ... tidak, aku harus mengklarifikasi agar dia tidak ke gr-an!’


Setelah mobil mewah Natan berhenti diparkiran, Raya menoleh kesamping karena ia melihat Natan masih diam terpaku tak bergerak.


“Tuan, apakah Anda tidak ingin turun?” tanya Raya sembari mencondongkan wajahnya mendekati wajah Natan.


Pria yang memiliki sikap dingin bak 15 pintu ini menoleh ke arah Raya dan, “Jangan mendekat! Sudah sejak awal saya katakan kepadamu, jangan dekat-dekat dekat dengan saya!”


Jika saja Raya bisa menjawab dengan ketus, “Lah yang mengatakan kita dinner siapa?!” Namun, gadis itu memilih untuk diam dan memiringkan kepalanya beberapa centi karena ia sedikit bingung dengan penjelasan tuannya itu.


“Ayo turun!” perintah Natan, lalu Raya mengiyakan apa yang dikatakan pria itu dan ia pun mengikuti Natan keluar dari mobil.


“Ketika kita berjalan, tolong atur jarak beberapa centi dariku. Aku tidak ingin jika banyak orang yang berpendapat bahwa kita adalah pasangan!” titah Natan kembali dengan tatapan seperti biasa, sangat tajam dan begitu mematikan.


Raya tidak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya. Wanita ini hanya berbisik, ‘Hah! Pria ini begitu menakutkan!’


Baru saja melangkahkan kaki beberapa jengkal, tatapan para kaum hawa sudah terpusat kepadanya. 


“Waah, dia tampan sekali. Apakah dia adalah seorang artis atau publik figure?” celoteh salah satu pengunjung.


“Waah, tampak begitu sempurna pesona yang dia miliki? Tapi wanita yang dibelakang itu apakah kekasihnya?”


Semua gerutu dari beberapa pengunjung selalu dihempas oleh Natan, meski ia mendengarnya dengan jelas karena para pengunjung berucap di depan pria yang sedang mencari sebuah kursi untuk mereka duduki.


“Di sana saja, aku mau tempat yang sedikit sepi,” ujar Natan kepada Raya menunjuk salah satu kursi yang disamping kiri dan kanan tidak begitu padat.


“Iya, terserah Anda saja Tuan,” jawab singkat Raya.


Setelah duduk saling berhadapan, Natan segera mengangkat tangan dan ingin memesan makanan.


“Saya mau ruth’s chris steak mozarellanya satu, dan beef bakar barbeque. Minumnya air putih saja.”


“Baik Tuan,” ucap pelayan restauran sembari menulis pesanan tuan muda yang begitu tampan itu.


Hmm!


Raya masih diam, ia membaca-baca menu makanan di sana. Astaga harganya begitu luar biasa, bahkan satu makanannya bisa dia pakai bayar kos-kosan.


Natan melihat ekspresi wajah Raya yang begitu lucu. 


Uhum!


Pria dengan jas yang masih rapi ini menutup mulutnya menggunakan tangan yang dilipat, sambil pura-pura sedikit mengeluarkan suara.


Sontak Raya menoleh ke arah Natan, dan dengan polosnya ia berkata, “Nasi goreng ada ya Mbak?”


Hah!


Plak!


Natan hanya bisa menepuk dahinya sendiri dan menggeleng-gelengkan kepala, karena ia begitu pusing dengan kemauan Raya saat ini.


Bersambung.