MARRIED WITH MR. COOL

MARRIED WITH MR. COOL
PERASAAN YANG RUMIT



Natan melihat ke arah Raya yang masih terpaut akan kenanangan masa lalunnya. Sedangkan Sarah pun juga menatap sembari menyempitkan kedua pubil matanya melihat kekonyolan yang dilakukan sang suami.


“Sayang, kita ke mengarah ke depan saja karena acaranya sudah akan di mulai,” ujar Sarah dengan suara lembutnya yang berusaha untuk memusatkan perhatian kepadanya.


Hmm!


Derwin hanya mengangguk pelan, seakan dirinya tidak ingin melepaskan Raya begitu saja.


“Raya dan Pak Natan, silahkan duduk di kursi tamu undangan kami. Dan terima kasih banyak karena sudah datang ...,” senyum palsu yang diberikan Sarah membuat Natan mengabaikannya.


Lalu dengan melentingkan suara sehingga terdengar jelas, Natan pun mengajak Raya dan berkata, “Ayo Sayang, kita duduk di sebelah sana saja.”


Natan menarik tangan Raya dengan pelan, lalu berubah menjadi sedikit kuat karena sangat terlihat jelas istrinya itu masih ingin menyuarakan apa yang dirasakannya saat ini kepada pria yang menjadi cinta pertamanya itu.


“Hei Raya! Janganlah bersikap seperti wanita redahan! Dia itu sudah milik orang lain dan sadar dirimu telah dibuang olehnya, kenapa kamu harus repot untuk mempedulikan dia lagi atau bingung akan perasaanmu kepadanya?” bisik Natan yang masih menarik tangan Raya menuju ke kursi tamu undangan.


Seketika dunia yang seperti terhipnotis masa lalu, kini buyar. Wanita yang berpenampilan rapi dan juga elegan bak bidadari ini menggelengkan kepalanya cepat, lalu ia berceletuk dalam hati, ‘Kenapa aku bersikap sangat bodoh seperti ini? Benar apa yang dikatakan Tuan Natan tadi, aku itu telah dibuang oleh Derwin dan ia pun mengkhianati cinta tulus yang sudah aku berikan sejak dulu. Tapi dari tatapannya tadi, ia seolah menyesal telah melakukan semua ini kepadaku. Aah! Tidak ... tidak semua hanya replikasiku saja, karena aku masih menganggapnya pria yang sangat baik untukku! Aku memang wanita yang bodoh!’


Merasa Raya tidak menjawab dan bibirnya masih bungkam tanpa suara, Natan mencondongkan tubuhnya dan memperhatikan istri sahnya itu dengan detail. “Hey! Apa kamu tidak mendengar apa yang saya katakan tadi? Atau perkataan saya telah membuatmu sakit? Hmm, maafkan saya jika perkataan saya tadi membuatmu sakit.”


Ungkapan dari Natan membuat Raya menoleh ke arah samping suaminya yang sudah duduk dengan tegap. Manik mata Raya melihat detail Natan seperti apa yang dilakukan pria itu tadi, hal ini membuat sorot mata mereka saling beradu.


Raya terheran dan sedikit terkejut akan ucapan pria yang terkenal tidak memiliki sikap semaunya saja itu. Tadi ia mendengar ucapan maaf dari mulut seorang Natan, si pria yang tak pernah tahu perasaan siapa pun, menurut Raya.


“Maaf?” tanya Raya dengan ekspresi wajahnya yang sangat melankolis. Entah saat ini dirinya benar-benar sensitif karena suasana hatinya begitu tak memungkiri.


Hmm?


Natan malah memiringkan kepalanya seakan tidak paham dengan ucapan satu kata yang terlontar dari mulut tipis indah sang istri sah.


Karena Raya seakan ingin mendengar jawaban dari Natan, pria ini pun mengangguk dan membenarkan apa yang telah ia ucapkan tadi. “Iya saya minta maaf dengan ucapan saya tadi. Saya rasa ucapan saya sebelumnya telah membuat kamu sakit.”


Tanpa membalas perkataan dari sang suami, Raya hanya memberikan senyuman tipis untuk Natan lalu ia kembali memperhatikan pergelaran acara pernikahan sang mantan kekasih dan sahabatnya yang akan segera di mulai.


Tak seperti pengganti pada umumnya yang memperlihatkan ekspresi wajah yang sangat bahagia ketika disandingkan dengan pengganti wanita. Begitu jelas Derwin tak menginginkan acara ini berlangsung, apalagi di acara pentingnya ini wanita yang sangat ia cintai datang menghadiri dengan pria yang sudah sah menjadi suami dari mantan kekasihnya, Raya.


Mengetahui fakta yang telah didengarnya langsung dari mulut seorang partner yang akan membantu membangkitkan perusahaannya, membuat hati Derwin sesak. Ia sangat menyesal melakukan pengkhianatan ini kepada wanita yang masih sangat ia cintai sampai kapan pun.


Semenjak Derwin datang dalam hubungan persahabatan Raya dan Sarah, wanita itu seakan berubah menjadi kambing berbulu domba. Sifat iri dengkinya terhadap sahabatnya sendiri tak dapat dicegah dan ia pun menghalalkan segala cara agar ia mendapatkan dan merampas Derwin dari genggaman sahabatnya sendiri, yaitu Raya Sena.


Acara berjalan dengan lancar, mereka saling mengucapkan janji suci kepada pendeta dan waktunya mereka memberikan cinta mereka dengan saling memadupadankan bibir mereka dihadapan para tamu undangan.


Ketika hal itu terjadi seketika air mata menetes membasahi pipi Raya tanpa ia sadari, dan saat itu pula Natan terus memperhatikan Raya dengan meyakinkan bahwa wanita yang ada disampinya ini akan baik-baik saja.


Natan menggenggam erat tangan Raya dan ia ia berucap dengan tegas kepada wanita yang sangat hancur hatinya ini melihat pria yang masih ia cintai malah bersanding dengan sahabatnya sendiri. “Raya jangan khawatir saya akan ada selalu untukmu, dan tolong jangan bersedih karena dia, karena saya akan selalu menjagamu. Saya berjanji tidak akan membuatmu sedih karena saya adalah suamimu dan semua mengenai dirimu adalah tanggung jawab saya sekarang.”


Suara Natan begitu kecil, bahkan tidak sampai terdengar oleh indra pendengaran Raya. Dikarenakan juga para tamu undangan bersorak meriah ketika Derwin dan Sarah berjanji untuk mengingat tali ikatan menjadi suami dan istri secara sah.


Raya berusaha mengusap air matanya yang tak dapat berhenti melihat kebahagiaan Derwin dan Sarah. ‘Kenapa aku malah menangis? Seharusnya aku berbahagia atas kebahagiaan orang-orang yang aku sayangi dulu!’ tegasnya dalam hati.


Derwin yang berada di atas panggung pun melirik ke arah mantan kekasihnya. Ia tahu Raya pasti akan menangis melihatnya seperti itu dengan Sarah, dan rasa sakit yang dirasakan oleh Raya dapat Derwin rasakan.


Ia hanya bisa terdiam dan memperhatikan Raya dari jarak jauh. Yang membuatnya sakit pula, ada seorang pria yang terlihat sangat mengkhawatirkan Raya, siapa lagi kalau bukan Natan.


Hati Derwin begitu sesak, ketika Raya diperhatikan sangat detail dengan Natan. Perasaan mereka memang begitu rumit.


“Apakah kamu menangis?” basa-basi Natan agar Raya tak curiga, jika dirinya terus memperhatikan wanita yang ada di sampingnya itu.


Ah?


“Tidak Tuan, mata saya hanya kelilipan saja,” elak Raya yang berusaha menghapus air matanya itu.


Natan menggerakkan bibirnya ke samping atas, ketika mendengar jawaban Raya yang jelas-jelas berbohong karena sejak tadi perhatiaannya selalu tertuju kepada wanita yang sangat rapuh berada di sampingnya itu.


“Kamu berbohong Raya, saya mengetahuinya. Kamu meminta saya bersikap seperti suamimu untuk di acara ini kan? Tidakkah saya boleh mengetahui apa yang kamu rasakan karena saya adalah suamimu di acara ini?”


Mendengar perkataan Natan membuat Raya menaikkan wajahnya dengan manik mata yang memerah, Raya pun membalas pertanyaan suami sahnya tadi. “Tuan saya hati saya hancur.”


Deg!


Sontak netra mata indah Natan menyoroti pandangan dirinya ke arah Raya. Hatinya pun sungguh sakit mendengar paparan yang terlontar dari wanita cantik itu.


Bersambung.