
Mata Raya masih melek dengan memegangi dadanya yang bergetar begitu cepat, ia cepat melihat ke samping tapi nyatanya sudah tidak ada sang suami.
Grruuudduk!
Bunyi gemuruh hujan begitu keras di luar mansion mewah ini, suasana hati tak menentu seakan Raya berfirasat tak baik mengenai suami sahnya tersebut.
Telapak tangannya masih menekan dadanya begitu kuat ia rasakan detakan jantung tak tak henti-hentinya. Sampai ia memutuskan beranjak dari ranjang dan berlari pelan menuju luar kamar bertanya kepada Ana mengenai Natan.
“Ana ...,” panggil Raya sedikit diperkeras karena suara hujan menghambat gelombang suaranya.
Seperti biasa, Ana yang bertugas menyiapkan sarapan Tuan Muda terlihat membersihkan peralatan dapur bersama beberapa pelayan lainnya.
“Ana ...,” panggil kembali Raya dengan memegangi pundak wanita yang sudah ia anggap sebagai temannya itu dengan ekspresi wajah yang panik dan sendu ia menatap mata Ana begitu dalam.
“Hey Raya ...,” suaranya terdengar diperkeras karena ia terkejut melihat ekpresi dari temannya tersebut, akan tetapi secara bersamaan ia langsung tersadar bahwa ada beberapa orang pelayan di dekatanya. Maka dari itu ia mengubah cara panggil Raya menjadi Nyonya Muda.
“Ada apa Nyonya Muda? Apakah ada sesuatu yang menyebabkan Anda seperti ini?” tanya Ana kepada Raya.
Namun, tidak langsung menjawab Raya hanya menundukkan kepalanya saja. Sebenarnya apa yang sangat dikhawatirkan wanita ini sampai-sampai ia begitu panik dan seperti sangat berpikir sangat keras.
Ana pun mengajak Raya ke sebuah tempat yang tidak banyak ada pelayan lainnya. Agar mereka dapat leluasa berbicara. Ana memegangi kedua pundak temannya seraya melihat mata Raya yang sudah bergeming air mata.
“Raya, sebenarnya apa telah terjadi? Dan apa yang kamu pikirkan?” geram Ana bertanya kembali.
Raya pun mengangkat wajahnya melihat sendu ke arah Ana. “Ana ... entah kenapa dadaku bergetar, aku memiliki firasat buruk mengenai ...,” ucapan Raya terhenti, ketika Laras, pelayan senior itu berteriak kencang memanggil beberapa orang kepercayaan Tuan Mudanya untuk segera menuju ke rumah sakit Kertha Usada.
Pembicaraan serius itu berubah menjadi senyap, kedua wanita itu terpaku mendengar apa yang dikatakan oleh Laras. Wajah wanita setengah baya itu benar-benar panik dan ia memerintahkan Ana serta beberapa orang lainnya segera menuju ke rumah sakit.
“Saya ikut juga Mbak Laras ...,” ungkap Raya dengan wajah yang sangat panik.
Laras menggelengkan kepalanya, “Tidak Nyonya, Anda tidak di izinkan ikut oleh Tuan Wiguna.”
Apa yang menjadi mimpinya tadi ternyata benar, semua ini adalah bertanda buruk bagi Natan. Tak mampu untuk menahan air mata yang tersekat ia pun mengeluarkan air mata tersebut, seraya memohon kepada Laras, “Tolong izinkan saya untuk ikut ke rumah sakit, karena bagaimana pun saya adalah istri dari Tuan Natan.”
Laras hanya bisa terdiam, dahinya sedikit mengkerut tanpa kata-kata lagi ia mengizinkan wanita yang sangat dibencinya itu ikut dalam mobil menuju rumah sakit Kertha usada yang letaknya 20 menit dari mansion megah ini.
Sebenarnya apa yang terjadi dengan suami dari Raya itu?
Ana menggenggam tangan sahabatnya itu yang gemetaran dengan erat, meyakinkan kepada Raya bahwa Natan baik-baik saja. “Raya, semuanya akan baik-baik saja. Kita hanya perlu berdoa saja agar keadaan Tuan Natan membaik.”
Ana memeluk tubuh Raya, ia pun mengelus-elus pundak sang teman dengan berbisik begitu tegas, “Tolong jangan katakan hal seperti itu Raya, seakan kita semua akan ditinggal oleh Tuan Muda. Kita saya belum tahu keadaannya, intinya saat ini kita hanya perlu berdoa dan terus berdoa untuk keselamatan Tuan Muda Natan.”
Gemuruh tidak henti-hentinya bersuara, air mata dari langit seakan menandakan adanya kesedihan yang meliputi hati wanita cantik yang telah resmi menjadi istri pewaris tunggal keluar Moise.
Raya kembali meneteskan air matanya seraya memeluk erat tubuh wanita yang sangat mengerti keadaannya saat ini.
‘Saya mohon kepadamu, Tuhan. Tolonglah selamatkan nyawa pria yang kini telah membuat saya bersemangat menjalani kehidupan. Jangan lagi Engkau mengambil orang-orang yang sangat saya sayangi di dunia ini, biarlah saya merasakan apa itu cinta dan kasih sayang yang sejati selain kepada-Mu, kepada siapa lagi saya meminta,’ doa Raya dalam hatinya yang benar-benar khusyuk.
Saat sampai di rumah sakit Kertha Usada, Raya berlari kecil bersama beberapa pelayan dan beberapa pengawal berpakaian hitam-hitam menyambut kedatangan Raya berserat pelayan lainnya.
Mereka menjadi pelapor untuk mengarahkan Raya dan pelayan lainnya menuju ke ruangan khusus untuk Natan.
Karena masih kepikiran, dan tidak ingin suaminya kenapa-napa Raya pun melontarkan pertanyaan dengan suara gemetar, “Tu ... Tuan apakah Tuan Natan kondisinya baik-baik saja?”
Pria tinggi besar dengan kepala botak itu melirik ke arah Raya, ia membunggukkan tubuhnya lalu berkata, “Mohon maaf Nyonya Muda, kami tidak bisa mengatakan apa pun. Tuan Wiguna hanya memerintahkan kami untuk mengatar rombongan ke ruang Tuan Muda Natan, selain itu kami tidak bisa memberitahu apa pun kepada Anda Nyonya.”
Manik mata Raya meneteskan air mata kembali, apakah Natan separah itu atau sebenarnya apa yang terjadi dengan Natan!
Ingin rasanya Raya berteriak saat itu karena ingin mengetahui segera keadaan suaminya. Sampailah di koridor mewah, yaitu terdapat ruangan yang disewa oleh keluarga Moise untuk beberapa pengawal dan beberapa pelayan menginap dalam kurun waktu yang tidak pasti.
Dengan mata yang meneteskan air mata, Raya bergegas mendekati ayah mertuanya yang sedang berdiri di depan ruangan yang diyakini ruangan Natan di rawat.
“Papa ...,” teriak Raya membuat Wiguna terkejut.
Netra mata pria setengah baya itu mengembang, dan ia mendekati Raya serta menyentuh lembut pundak menantunya tersebut. “Nak Raya, kenapa kamu kemari? Papa sudah pesan kepada Laras agar kamu tetap di rumah,” ucap Wiguna melihat manik mata anak perempuannya itu yang membengkak akibat terus meneteskan air mata.
“Pah, bagaimana keadaan Natan? Apakah dia baik-baik saja?” tanya Raya cepat, ia sangat ingin melihat wajah suaminya itu detik ini juga.
Wiguna malah terdiam, pria yang berperawakan begitu bijaksana itu pun menunduk ia seperti tidak dapat mengatakan apa pun. Mulutnya bungkam tak bersuara.
“Pah, tolong jawab Raya. Sebenarnya apa yang terjadi kepada Natan? Sekarang keadaannya bagaimana? Tolong beritahu Raya Pah, Raya tidak ingin Natan kenapa-napa. Jadi tolong jujur kepada Raya ...,” desis wanita cantik itu kepada ayah mertuanya dengan air mata yang terus mengalir.
Hmm!
“Natan ...,” Wiguna memberhentikan ucapannya, ia tidak dapat melanjutkan kalimat yang begitu sulit untuk disampaikan, sembari matanya bergeming ingin mengeluarkan air mata juga.
Bersambung