
Raya hanya bisa terdiam, dirinya salah memperkirakan perasaan Natan kepadanya. Ia tidak akan lagi berprasangka pria berhati dingin itu memiliki perasaan.
Sampainya di dalam ia disambut oleh Ana dan Laras.
“Selamat malam Tuan dan Nyonya, hidangan masakannya sudah siap,” ucap Ana seraya menundukkan kepalanya.
Natan mengangguk, “Terima kasih Ana.”
Lalu pria itu melirik Raya sebentar dan ia mengajak istri untuk makan terlebih dahulu, “Ayo ke ruang makan, sebelum tidur makan dulu.”
Namun, karena terlanjur sedikit tersinggung dengan perkataan ketus suaminya itu, Raya menggelengkan kepalanya, “Tidak Tuan, sudah saya katakan tadi, saya tidak lapar dan saya ingin langsung beristirahat.”
Glek!
Natan menelan salivanya saat mendengar kata penolakan dari istrinya langsung. Ekspresi wajah Raya benar-benar tampak begitu kecewa, bukan ... bukannya dia berharap jika Natan mencintainya, akan tetapi ia hanya ingin mendapatkan jawaban jujur dari pria yang selalu bersikap aneh kepadanya itu.
Meski ia tidak mungkin secepat itu jatuh cinta, akan tetapi Raya menginginkan Natan jujur akan perasaannya saat ini. Setidaknya ia bisa membuka hati dengan pria yang sudah memiliki ikatan suci kepadanya.
Natan tidak memberhentikan Raya, ia membiarkan istrinya melangkah menuju kamar. Seperti tak peduli dengan apa yang dilakukan istrinya itu. Ia ke dapur dan baru saja menyantap dua sendok, ia tak selera makan.
Ia termenung, seraya dalam hatinya berbisik, ‘Kenapa dia sangat cetus kepadaku? Dan tampaknya ia merasa kecewa? Atau dia berharap jika aku memang memiliki perasaan kepadanya? Aah, entahlah saat ini aku hanya fokus akan pekerjaanku yang terbengkalai gara-gara kegundahanku yang tak karuan ini!’
Hmm!
Namun, Natan memejamkan matanya sedetik dan meremas sendok stainless itu dengan kuat sampai tangannya gemetaran. Sekuat hati ia ingin tak mempedulikan Raya, ia tidak mampu melakukannya.
Dengan suara pelan, ia memanggil Ana, “Ana ... Ana ... apakah kamu masih berada di sana?”
Ana menjawab seraya sedikit berlari pelan, “Iya Tuan Muda saya masih stand by di sisi luar ruang makan.”
Natan menoleh ke arah depan, ia memerintahkan pelayan yang terlihat sangat dekat dengan istrinya itu untuk menyiapkan makanan.
“Tuan, apakah semua makanan ini akan Anda makan di dalam kamar?” tanya Ana seraya ingin membawakan nampan yang di atasnya telah berisikan penuh makanan hangat dan bergizi.
Pria pemilik tatapan indah itu hanya mengangguk dan sedikit tersenyum tipis, dan ia menolak Ana untuk membawakan nampan tersebut. “Biar saya saja yang membawanya ke dalam kamar Ana.” Natan mengambil nampan yang sudah dibawa Ana.
“Tapi Tuan, tidak sepantasnya Anda yang membawa ...,” belum aja Ana selesai berbicara, Natan sudah memotong ucapan wanita manis itu dengan sopan, “Tidak Ana, semua ini perintah saya. Jadi tolong berikan saya kesempatan untuk membawa nampan yang berisikan makanan untuk diri saya ini ya.”
Tubuh tegap dan idealis itu menyusuri mansion mewah ini, ia berjalan dengan sempurna. Dan sampailah dirinya di depan kamar.
Hah!
Tampaknya Natan sedikit gerogi dan ia menghembuskan napas keras agar merasa sedikit menenangkan.
Gleekk!
Bola mata Raya pun mengembang, “Tuan? Kenapa Anda tidak mengetuk pintu terlebih dahulu?” Raya sedikit panik, ia segera mengambil pakaiannya begitu cepat dan berlari menuju kamar mandi untuk berganti baju di sana.
Sedangkan Natan ia juga terkejut melihat pemandangan tadi, pria ini segera melempar pandangan ke samping dan mulutnya bungkam serta wajahnya sudah merah madam karena begitu malu.
‘Astaga! Sedetik saja aku duluan masuk, bisa saja aku melihat bentuk tubuhnya!’ gumamnya pria tampan itu dalam hati.
Beberapa menit kemudian Raya keluar dari kamar mandi dengan tubuhnya yang sudah terbalut pakaian tidur. Akan tetapi rambutnya masih basah, ia lipat menggunakan handuk khusus yang digunakan untuk mengeringkan kepala.
Raya berjalan pelan, melihat Natan yang sedang duduk dengan kaki kanan dilipat dan pria itu sedang sibuk membaca buku.
“Kenapa lama sekali di dalam, sup dagingnya sudah hampir dingin,” ungkap Natan tanpa melihat istrinya yang sudah berada di depannya saat ini.
Raya melihat banyaknya makanan di atas meja. “Hmm! Saya sudah kepada Anda tadi jika ...,”
Natan segera meletakkan bukunya di samping dan ia mendelik istrinya dengan menjawab cepat, “Meski kamu tidak lapar tetaplah makan, saya tidak ingin kamu sakit! Makanlah, jangan membuat saya marah atau perlu saya menyuapi kamu?”
Pria ini bersikeras sekali memberikan makanan kepada Raya, karena ia mendengar perut wanita itu berbunyi berbarengan dengan perutnya tadi di dalam mobil. Iya memang benar, Raya padahal sangat lapar karena ia terlanjut kecewa dengan Natan maka dari itu dia melupakan cacing yang sudah ngamuk dalam perutnya itu.
“Sini duduklah di samping saya,” suruh Natan lalu pria itu kembali fokus membaca buku mengenai pembukuan keuangan yang sedang ia periksa dibeberapa apartemen milik keluarga Moise itu.
Raya tidak bisa menolak, ia sangat tahu sikap suaminya tersebut yang tidak ingin ditentang. Sembari menyuap makanan secara perlahan, Raya sedikit melirik Natan yang begitu cool dan sangat menawan.
Natan menyadari hal itu, lalu pria tersebut bertanya, “Apa yang sedang kamu perhatikan?”
Raya langsung gelagapan, ia pun segera menyendok kuah sup daging dengan nasi itu ke dalam mulutnya banyak-banyak seraya menggelengkan kepala. “Tidak, saya tidak sedang memperhatikan Anda.”
Natan tidak menjawab, ia hanya melirik dengan tajam ke arah istrinya. Lalu kemudian ia kini membahas tentang acara yang sedang ia lakukan di kantor.
“Saya hanya mengingatkan kepada kamu, jika Papa meminta saya untuk mengurus projectnya yang akan dibangun di luar kota dalam waktu dekat ini. Besok dan lusa saya akan membahas bersama para kolega dan para CEO yang ingin bekerja sama dengan perusahaan Moise Grup. Dan setelah itu saya diminta oleh Papa untuk mengajakmu ikut serta ke luar kota karena saya dan beberapa petinggi memerlukan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan project besar tersebut,” jelas Natan kepada istrinya yang asyik menyantap makanan yang telah dibawakannya.
Raya pun menoleh dan ia berkata, “Jadi saya ikut ke luar kota bersama Anda Tuan? Tapi ...,”
Natan kembali memotong pembicaraan istrinya, “Sudah tenang saja, kamu tidak ikut ketika saya bekerja. Kamu cukup diam di tempat yang sudah disediakan.”
Mereka pun menjalankan kesibukan masing-masing. Raya yang menaruh makanan ke dapur seraya kembali menggosok giginya, sedangkan Natan mandi lalu langsung tertidur.
Mereka tidur dalam satu ranjang yang sama dengan pembatas.
Keesokan harinya.
“AAA tidak!” Raya teriak, kubil matanya membesar seraya ngos-ngosan keringatnya bercucuran membasahi pelipisnya. Sebenarnya apa yang terjadi?
Bersambung.