
Wajah gusar dengan bibir yang komat-kamit seperti dukun. Kakinya yang jenjang menuju ke ruangannya begitu tergesa-gesa. Ia ingin segera menemui wanita yang diyakini menyebalkan dan membuatnya kacau.
Hal ini diperhatikan oleh kedua bawahannya yang sedang berjaga di loby depan.
Netra mata Diah dan Nia, kedua gadis muda yang memiliki perawakan sempurna sebagai resepsionis gedung apartemen Moise Crops itu tiada henti memperhatikan orang kedua paling berpengaruh dalam perusahaannya ini.
“Aku baru pertama kali melihat wajah Tuan Natan tampak bingung dan sepertinya ia kali ini tidak terkontrol. Biasanya wajah pria itu sangat datar dan dingin,” bisik Nia yang mendekati bibirnya ke telinga rekan kerjanya.
Diah pun setuju dengan apa yang sudah dipaparkan sang teman. “Aku juga tidak pernah melihat Tuan Natan seperti itu. Sudahlah mungkin dia benar-benar sedang ada masalah atau mungkin dia sibuk. Secara yang aku dengar Tuan Besar Wiguna akan segera pensiun menjadi Presdir Moise Crops dan akan digantikan oleh Tuan Natan.”
Hmm!
Nia mengangguk masih mengira-ngira mengenai Tuan yang sangat dikagumi oleh kalangan kaum hawa itu. “Tapi menurutku bukan itu saja, Yah. Atau mungkin dia kacau mengenai Nona Aurora? Atau mungkin juga ada orang ketika dalam hubungan mereka dan membuat Nona Aurora menangis seperti tadi?”
Hush!
Diah meletakkan telunjuknya tepat di bibir, mengisyaratkan rekan kerjanya agar tidak berasumsi sesuatu yang belum tentu kebenarannya. Apalagi Nia hanya sekadar menilai dari sudut pandangnya saja.
“Tolong jangan membuat gosip yang tidak-tidak, Nia. Bisa jadi Tuan Natan benar-benar frustasi secara grup Moise Crops tidak hanya memiliki gedung apartemen ini saja, masih banyak lagi properti yang dimiliki perusahaan raksasa ini,” tegas Diah kepada Nia.
Nia yang pada awalnya hanya ingin mengutarakan apa yang ia pikirkan, kini memayunkan bibirnya dan bergerutu. “Iya ... iya Yah, aku kan hanya ingin berasumsi saja kenapa kamu melontarkan ucapan seperti ibuku saja.”
Beberapa menit setelah mereka menyelesaikan pembicaraan dan kembali fokus bekerja, tiba-tiba ada suara yang terdengar dari samping.
“Diah, kunci yang saya berikan kepadamu mana ya? Saya lupa memintanya tadi. Oh iya apakah kamu sudah meyakini wanita itu makan?” tanya Natan tak henti-henti.
Sontak mendengar suara serak basah yang selalu membuat para wanita terkagum-kagum itu membuat Diah dan Nia segera berdiri dan memberikan hormat dengan membungkukkan tubuh mereka.
“Selamat sore Tuan Natan.”
“Kuncinya sudah saya letakkan di depan ruangan Anda, dan lagi pula ruangan itu Anda bisa buka dengan pin atau sidik jari Anda,” jelas Diah.
Plak!
Natan menepuk dahinya, karena ia baru saja hilang fokus. “Astaga kenapa aku bisa lupa jika ruangan itu bisa aku buka sendiri!” gumam Natan seraya menggeleng-gelengkan kepalanya dan tanpa berkata apa pun ia kembali memutar tubuh idelanya itu menuju ke ruangannya.
Sontak hal ini membuat Diah dan Nia sangat kebingungan sekaligus ingin tertawa. Setelah meyakini tuannya sudah jauh, tanpa bisa ditahan lagi Nia membuka mulut lebar-lebar dan menahan perutnya.
Hahaha!
“Baru kali ini aku melihat Tuan Natan sekonyol itu ... pria yang selalu bertingkah perfeksionis dan hampir tidak pernah melihatkan kekurangan hari ini benar-benar berbeda. Ia seperti bukan Tuan Natan yang aku kenali!” ujar Nia yang masih menertawai tingkah gegabah tuannya tersebut.
“Hey Yah, kenapa kamu diam saja?” lanjut Nia sembari menepuk pundak temannya yang masih menatap ke arah lurus.
Ternyata Diah bukannya diam, ia sedang memikirkan sesuatu ketika ia mendatangi Raya di ruangan Natan.
Diah menoleh ke arah samping, menatap temannya yang tidak berhenti-henti tertawa karena bagi Nia melihat kekonyolan Natan adalah hal yang benar-benar langkah. Bahkan ia sampai belum menyangka pria yang sangat dikenal kulkas itu bisa seperti anak kecil, yang meminta kunci tapi nyatanya ruangan tersebut bisa ia buka sendiri menggunakan sidik jari dirinya sendiri.
“Nia, apakah kamu tahu kata orang dulu mengenai seseorang yang sangat terlihat sempurna tiba-tiba ia bertingkah tak biasa?” tanya Diah seraya mengkedikkan satu matanya.
Nia terdiam dan memberhentikan gelak tawanya.
“Aku tidak tahu, Yah. Memang apa yang dikatakan orang dulu mengenai hal itu?” Nia malah balik bertanya karena ia memang tidak paham dengan apa yang dilontarkan rekannya tersebut.
“Katanya jika ada orang yang tampil berbeda dengan biasanya, mungkin orang itu sedang berurusan dengan kata yang bernama cinta. Tidak salah lagi, seseorang itu mungkin sedang jatuh cinta,” jelas Diah kepada Nia.
Wanita yang berada tepat di depan Diah mengkerutkan dahinya. “Maksudmu apa Diah? Jangan bilang kamu akan mengatakan bahwa Tuan Natan itu sedang jatuh cinta?” tunjuk Nia yang ingin penjelasan dari Diah secara detail.
Hmm!
Tanpa ragu lagi, Diah menganggukkan kepalanya seakan apa yang diucapkan Nia memang benar adanya bahwa Tuan Natan sedang jatuh cinta kepada seseorang.
“Ahh, jangan ngaur deh Yah. Katamu tadi jangan mengucapkan hal yang tidak-tidak mengenai Tuan Natan. Eh, tapi benar apa yang kamu katakan Yah. Kamu setuju kan dengan asumsiku tadi. Jangan-jangan Tuan Natan ...,” ucapan Nia terhenti karena Diah memotongnya.
Hush!
“Sudah ... sudah jangan ngegibah lagi mengenai Tuan Natan. Ayo kita fokus kerja lagi ...,” ajak Diah yang merangkul temannya untuk kembali fokus pada komputer masing-masing.
Sedangkan Natan sejak tadi belum membuka ruangan itu. Ia malah melamun dan berpikir. ‘Aku kenapa sih? Apa yang sedang mengacaukan benakku? Sepertinya aku butuh istirahat,’ gumam Natan dalam relung hatinya.
Ia pun memutuskan untuk membuka pintu, tapi ketika masuk ke dalam tidak ada siapa pun di sana. Natan terkejut dan berusaha mencari Raya di sudut ruangan, “Di mana wanita menyebalkan it ...”
Gumamnya terhenti, karena baru saja ia dibuat panik dengan Raya ternyata wanita cantik itu tidur dengan posisi tangan dilipat, kepala di letakkan di atas sofa dan duduk di bawah lantai.
“Hah! Kenapa dia harus tidur dengan posisi seperti itu? Apa mungkin dia sangat suka tidur di bawah?”
Manik matanya pun melirik makanan yang sama sekali tidak tersentuh oleh Raya. “Apa pikir wanita ini ultramen yang begitu kuat tanpa memakan sesuatu apa pun sejak pagi tadi?”
Natan sengaja duduk di atas sofa seraya masih menatap wajah Raya yang tampak terlihat begitu lelah.
Dih!
Namun, beberapa detik setelah menatap dengan penuh penasaran Natan langsung memalingkan pandangannya lalu bergumam kembali, “Apa pedulinya aku dengan wanita ini? Mana dia makan atau tidak terserahnya, lagian bukan tanggung jawabku jika dia jatuh sakit!”
Setelah mengucapkan hal itu, tiba-tiba dahi Raya mengerut dan sepertinya ia sedang mengigau dengan menyebutkan nama seseorang. “Derwin Satria, tolong jelaskan semua ini!”
Wajah Natan langsung berubah gusar. “Berani-beraninya dia menyebut nama seorang pria di depan suami sahnya sendiri! Aku harus mencari tahu siapa itu Derwin Satria!”
Bersambung.