MARRIED WITH MR. COOL

MARRIED WITH MR. COOL
MELIHATNYA BERDUA



Official CEDO Grup


Sejak tadi Derwin hanya terdiam di kursinya sembari menatap langit yang sudah dihiasi bintan-bintang dari ruangan kerja yang dibatasi dengan kaca itu.


Ia meletakkan jari telunjuknya di bibir, dan sorot matanya tampak kosong. Ia benar-benar seperti begitu keras memikirkan sesuatu. Entah apa yang sedang dipikirkannya, apakah masalah pekerjaan atau mungkin masalahnya yang belum terselesaikan dengan sang mantan kekasih, Raya Sena?


Semua jawaban itu hanya ia yang mengetahuinya, karena sekretarisnya sejak tadi sudah menyarankan Derwin istirahat saja di rumah. Namun, pria yang wajahnya begitu lusuh itu hanya diam seperti patung tanpa bergerak sedikitpun.


Tok! Tok! Tok!


“Permisi Pak, apakah Anda ingin makan sesuatu? Saya akan membelikannya,” tawar sekretaris Derwin seraya membungkukkan tubuhnya.


Derwin menutup wajahnya sebentar, lalu menoleh ke arah Nila dan ia pun beranjak bangun dari kursi empuknya itu. “Maafkan saya Sekertaris Nila, ruangan saya sangat berantakan karena saya benar-benar kacau. Tidak perlu dibersihkan sekarang, kamu pulang saja karena ini juga sudah lebih dari jam kerja.”


Setelah berkata seperti itu, Derwin mengambil jasnya dan segera meninggalkan ruangan itu. Melajukan mobil yang ia gunakan, dan segera pulang ke rumah agar wanita yang akan menjadi istrinya beberapa hari lagi tidak khawatir.


Dreet! Dreet!


Ponsel Derwin berdering, dengan memasang bluetooth melalui mobilnya ia memencet sebuah tombol sehingga suara kekasihnya terdengar jelas.


“Iya Sayang Raya, ada apa?” ucap Derwin tanpa sadar ia menyebutkan nama Sarah dengan nama mantan kekasih yang sebenarnya masih ia cintai.


“Sayang, apakah kamu tidak salah menyebut namaku?” tanya Sarah dari ujung sana.


Derwin : “Tidak salah, aku kan menyebutmu dengan nama Raya? Apakah ada yang salah?”


Pria ini belum juga tersadar, ia masih dengan santai dan pedenya menyebutkan nama sang kekasih dengan sebutan mantan kekasihnya. Karena pikirannya penuh akan bayangan Raya saat ini.


Tanpa berucap sama sekali, Sarah mematikan ponselnya.


Tut! Tut! Tut!


Hah?


Dahi Derwin mengerut, ia terheran mengapa Sarah langsung mematikan ponselnya tanpa sebab. “Apakah jaringan di rumah sedang gangguan?” celetuknya mengira-ngira.


Tanpa menelpon balik, Derwin hanya fokus melajukan mobil putihnya itu sambil membayangkan perilaku terbaik yang selalu Raya berikan kepadanya.


Entahlah apa yang Derwin inginkan saat ini. Semua hal ini hanya pria tersebutlah yang mengetahuinya.


Beberapa menit kemudian, Derwin memencet bel rumahnya dengan wajah yang datar. Ia terlihat sangat lelah dan begitu kacau dengan dasi yang compang-camping.


Ting! Nong!


Begitu juga, Sarah menyambut pria yang akan menjadi suaminya itu dengan wajah yang begitu datar.


“Kamu kenapa memandangku seperti itu?” tanya Derwin ketus, karena ia hanya ingin disambut dengan hangat dan ia juga perlu seseorang yang dapat mencairkan kegundahan hatinya saat ini.


Namun, dengan berlagak yang tidak menerima apa yang disebut oleh Derwin tadi, Sarah masih menyempitkan bola matanya tajam ke arah sang kekasih.


Pria itupun kembali mengkerutkan dahinya dengan wajah masam, sebelum memperpanjang masalah Derwin sudah meminta Sarah agar tidak memulai argumen.


“Sayang, aku sungguh lelah karena kerja. Tolong jangan memulai untuk berargumensasi denganku, aku hanya ingin istirahat sekarang,” jawab Derwin yang melepaskan sepatunya lalu melaju ke ruang tamu dan menghempaskan tubuh indahnya itu ke sofa.


Hah!


Ia menghembuskan napas panjang, seperti ingin membuang segala hal yang membelenggu dalam hatinya saat ini. Seraya tangan kanannya berada di dahi, dan kepalanya menengadah dipunggung sofa berwarna soft itu.


Namun, merasa tidak puas Sarah berdiri tepat di depan sang kekasih dengan masih memasang wajah kesal. “Apa kamu mau menghindari kesalahan yang kamu buat tadi?”


Hmm!


Derwin duduk dengan posisi tegak saat ini, ia menelisik Sarah dengan tatapan sedikit tajam. “Sarah, kesalahan apa sih yang telah aku buat? Aku baru saja pulang dari kerja, seharusnya kamu tahu apa yang perlu kamu lakukan. Menyambut pria yang akan menjadi suamimu dengan baik dan memberikan sambutan yang hangat, tidak seperti ini.”


Sarah terdiam, ia pun duduk di samping Derwin Satria dengan bola mata yang berkaca-kaca. “Tolong jujur katakan kepadaku, apakah kamu masih memiliki perasaan kepada Raya?”


Sontak hal itu membuat Derwin terbelalak, ia sangat terkejut dengan pertanyaan dari Sarah.


“Kenapa kamu menanyakan hal ini?” tanya Derwin dengan wajah yang bertanya-tanya seperti orang yang kebingungan.


“Apakah kamu tidak sadar, Sayang. Tadi ketika kamu menyebutkan namaku, kamu menyebutkan nama Raya. Apakah Raya begitu sulit untuk kamu lupakan dalam kehidupanmu, Sayang?” ungkap Sarah yang memegangi perutnya, seakan wanita ini mengingatkan bahwa Derwin telah memiliki seorang bayi yang harus ia tanggung jawabkan.


Ah!


Derwin segera menutup matanya dan berbisik dalam hati, ‘Astaga apa yang aku lakukan?’


Setelahnya ia segera meletakkan kedua tangannya dengan lembut dipundak wanita yang dulu pernah menjadi sahabat Raya. Dengan tatapan penuh penyesalan, Derwin berucap begitu lembut. “Sayang maafkan aku, tadi diriku benar-benar kacau karena banyak proposal yang harus aku kerjakan bersama team. Ini untuk persiapan perusahaan kita akan bergabung dengan perusahaan bonafit seperti Moise Crops, jadi pikiranku benar-benar kacau. Ku harap kamu dapat mengerti dan memahamiku saat ini ya, Sayang.”


Mulut manis seorang pria tidak bisa dielakkan sama sekali. Derwin sengaja berbohong, karena semua ini untuk mempereda Sarah berpikir yang aneh-aneh. Ia hanya tidak ingin Sarah kembali membahas Raya, karena jujur sampai saat ini pun Derwin belum bisa melupakan kebaikan yang telah diberikan Raya kepadanya.


Merasa sang kekasih perlu hiburan, Derwin mengajak Sarah ke suatu tempat untuk sekadar makan malam.


“Sayang, sudah jangan itu lagi dipikirkan. Bagaimana jika kita makan saya yuk keluar, lagian sudah lama juga aku tidak bisa menghabiskan waktu denganmu. Apalagi kamu sedang mengandung, kamu harus makan yang banyak dan juga makan makanan yang sehat,” ucap Derwin sembari mengusap-usap pundak kepala kekasihnya itu dan tersenyum tipis.


Tapi ketika Sarah berusaha tersenyum kepada Derwin, pria ini malah melihat senyuman manis Raya dan ia segera menggelengkan kepalanya lalu beranjak. “Aku mandi sebentar saja, lalu kita berangkat makan malam.”


Menuju ke kamar mandi, pria ini berbisik direlung hatinya, ‘Kenapa bayangan Raya selalu menghantuiku?’


Beberapa menit kemudian bersiapan sudah selesai, Sarah kembali tersenyum dan ia berusaha memahami kekasihnya ini karena memang benar, bahwa Derwin tidak akan pernah lupa dengan Raya. Akan tetapi Sarah sangat berusaha keras agar dia bisa menjadi wanita satu-satunya dalam hati sang kekasih.


Sampailah direstauran bintang lima itu. Mereka mencari tempat duduk yang tidak terlalu ramai.


Namun, tiba-tiba Sarah melihat Raya sedang duduk di depan seorang pria dan tanpa sadar Derwin pun juga melihat mantan kekasihnya itu.


Bersambung.