MARRIED WITH MR. COOL

MARRIED WITH MR. COOL
MEMILIKI PERASAAN



Tatapan Natan begitu tajam, tak dia biarkan wanita yang sangat ia kenal sampai lolos. Ia beranjak dan meninggalkan Daniel yang begitu bingung akan gerak-gerik atasannya itu.


“Pak Natan, Anda mau kemana? Tunggu saya ...,” ucap Daniel sembari mengejar atasannya yang sudah berjalan seperti berlari mengejar seseorang.


“Tuan, bagaimana dengan minumannya?” teriak seorang bartener kepada kedua pria yang terbirit-birit meninggalkan meja bar diclub malam ini.


“Iya Tuan, nanti kami akan ke sini lagi. Tolong biarkan saja minuman yang dipesan oleh atasan saya,” ujar Daniel sedikit dikeraskan karena mereka sudah berada pada jarak yang cukup jauh.


Natan masih menelisik matanya dan ia bertuju pada suatu tempat yang dikerumuni oleh beberapa orang yang sedang bergoyang menyesuaikan musik jazz di tempat tersebut.


Namun, ada wanita yang berusaha menggoda pria berperawakan sempurna itu. Ia memegangi lengan Natan yang masih terbalut oleh kemeja panjang berwarna gelap itu. “Tuan, apa yang Anda cari? Mari berdansa dengan saya dan Anda akan berbahagia pada malam hari ini.”


Natan mengkerutkan dahinya, ia mendelik dan berucap begitu ketus, “Saya tidak menyukai wanita seperti Anda! Apakah Anda bisa menjauh dari saya?”


Daniel hanya bisa terdiam dan menggelengkan kepala saja, ketika mendengar ucapan ketus dari atasannya itu kepada setiap wanita yang akan menggodanya. Biarpun wanita itu memiliki paras bak bidadari tanpa kurangnya sedikitpun.


“Pak Natan ... Pak Natan ... sejak dulu tidak pernah berubah sikapnya dengan semua wanita, pasti ia akan berkata dengan ketus dan sangat menakutkan sehingga tidak ada yang berani mendekatinya,” celetuk Daniel yang memperhatikan atasannya dari dekat.


Ketika wanita itu menjauh, Daniel pun mendekat ia bertanya kembali kepada Natan, terkait sebenarnya apa yang sedang pria ini kejar.


“Pak siapa yang Anda lihat? Kenapa Anda seperti melihat seseorang yang Anda kenali?” tanya Daniel.


“Tadi saya seperti melihat ...,” jawab Natan seraya menoleh ke arah Daniel dan ia tidak bisa melanjutkan ucapannya itu.


Meskipun Daniel adalah pria yang terkenal dekat dengan Natan, namun pria yang memiliki usia sama dengan pewaris tunggal Moise ini tidak tahu menahu akan kisah asmara yang dimiliki oleh Natan.


Karena Natan tidak ingin menceritakan masalah pribadinya kepada siapapun.


Pria pemilik bola mata coklat itu segera memalingkan padangannya kepada Daniel, dan ia kembali menelusuri tempat yang dipadati oleh lautan manusia ini. ‘Aku yakin aku tadi melihat dia! Tapi kemana dia dan pria itu?’


Natan sejak tadi menelisik setiap sudut ruangan, akan tetapi pencariannya membuahkan hasil yang nihil. Seseorang yang ia cari tidak ia ketemui.


Akankah benar yang dia lihat itu adalah Aurora sang kekasih?


Dia memutuskan untuk berhenti melangkah dan mencari tempat yang sedikit lebih sepi. Ia menutup matanya menggunakan telapak tangan kanan. Dan berusaha menghembuskan napas pelan untuk mengontrol emosi yang begitu membeludak.


Daniel seakan tidak tahu harus melakukan apa kepada atasannya yang begitu aneh beberapa hari lalu ini. Ia pikir Natan bersikap aneh karena ia harus mengurus beberapa project besar yang akan segera dilaksanakan.


Akan tetapi perilaku aneh Natan bukanlah karena pekerjaan, semua hal ini akibat perasaan cinta yang tidak tahu dia bawa kemana.


Ia merogoh ponselnya dan segera menelpon sang kekasih. Namun, telpon dari pria ini tidak diangkat sudah dua kali dengan Aurora. “Jangan katakan jika yang aku lihat tadi adalah dirimu!” celetuknya.


Daniel masih berekspresi begitu datar karena ia masih bingung harus melakukan apa. “Sebenarnya siapa yang Anda lihat Pak?”


Natan tidak menjawab, wajahnya begitu menakutkan sembari meletakkan ponselnya di daun telinga. Baru yang ketika kali Aurora menjawab telpon dari sang kekasih.


Natan : “Darimana saja kamu, Aurora?” suara Natan tampak begitu kesal.


Aurora : “Kamu kenapa Sayang? Apakah kamu tidak sadar ini sudah malam? Aku sedang beristirahat dan kebetulan ponselku diluar, aku lupa meletakkannya.”


Natan : “Oke baiklah, semoga apa yang kamu katakan tadi benar.”


Natan : “Iya aku diluar. Baiklah aku sedang sibuk, aku akan menutup telponnya ya. I love you Bee.”


Tanpa menunggu jawaban dari sang kekasih, Natan menutup telponnya dan melirik ke arah bawahannya yang sejak tadi mengira-ngira siapa yang diajak bicara oleh atasannya sejak tadi.


Hmm!


‘Apakah Pak Natan sedang memiliki komplik dengan wanita yang ditelponnya itu? Ohh ternyata Pak Natan sudah memiliki kekasih, tapi kenapa dia seperti seseorang yang seakan dirinya sedang jatuh cinta ketika aku membicarakan mantan pacar CEO dari CEDO grup di ruangan tadi pagi?’ bisik Daniel yang masih berpikir keras.


“Apakah Anda tidak bisa bercerita kepada saya Pak? Mungkin saja saya bisa memberikan Anda solusi?” tawar Daniel.


Hah!


Mereka duduk di sofa yang sudah disediakan, dan Natan memanggil pelayan wanita untuk menyuruhnya mengambilkan minuman alkohol di bar tadi.


Namun, pikiran Natan masih terbayang akan seorang wanita mirip Aurora yang tadi dia lihat begitu jelas. Ia harap itu hanyalah halusinasinya saja, tapi secara bersamaan dia juga menginginkan hal itu benar terjadi.


Memang sangat sulit menjelaskan hati seseorang yang terkait akan cinta.


“Daniel ...,” panggil Natan sembari ia meneguk alkohol seloki.


“Pak, jangan minum banyak-banyak. Ingat Anda memiliki sakit dibagian perut,” Daniel mengingatkan atasannya yang begitu lemah dengan alkohol.


“Daniel, apakah kamu pernah memiliki perasaan kacau saat menyukai seseorang?” tanya Natan.


Hmm!


Daniel mengkerutkan dahinya, seperti masih mengira-ngira apa yang akan ingin ditanya oleh atasannya itu.


“Maksud Anda? Anda menyukai seseorang tapi hati Anda sakit atau kacau?” Daniel menjelaskan kembali apa yang ingin Natan katakan sebenarnya.


Natan kembali meneguk sloki kedua dan ia mencoba berterus terang kepada teman yang ada di depannya ini. “Saya sedang memiliki perasaan kepada dua orang sekaligus. Saya tahu, semua ini adalah kesalahan besar tapi saya juga tidak bisa melawan perasaan saya saat ini.”


Hmm!


Daniel menyempitkan matanya, ia berpikir apa yang akan dilontarkan kepada Natan. “Kenapa Anda memiliki perasaan kepada wanita pertama?”


Sebelum menjawab, Natan kembali meneguk sloki ketiga. Matanya sudah memerah dan ia berkata dari lubuk hatinya, “Karena yang saya tahu, dia adalah wanita yang baik dan waktu saya mengalami titik terendah dia menemani saya.”


“Dan kenapa Anda memiliki perasaan kepada wanita kedua?” Daniel segera menyodorkan pertanyaan selanjutnya kepada Natan.


Hmm!


Wajah pria tampan ini begitu kusut, matanya pun tampak sayu walaupun ia masih terdasar 100%. Dan ia sedikit tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari Daniel. “Entahlah saya tidak mengetahui mengapa saya bisa meletakkan perasaan saya kepada wanita yang sangat menyebalkan itu!” tegasnya kepada Daniel.


Sudah sangat jelas, Daniel mengetahui apa yang harus dia katakan kepada atasannya itu. Kira-kira siapakah yang akan disarankan oleh Daniel kepada Natan?


Bersambung.