MARRIED WITH MR. COOL

MARRIED WITH MR. COOL
BAYANGANNYA



Tanpa memeluk kembali ke arah tubuh wanita yang ia kasihi itu, Natan malah melamun entah mengapa pikirannya selalu terbayang wajah Raya Sena, wanita yang sangat ia benci.


Dengan cepat ia membuyarkan bayangan tersebut dan menjawab pertanyaan Aurora yang sejak tadi terus bertanya, “Kenapa kamu Sayang? Sepertinya ada sesuatu yang kamu pikirkan?”


“Tidak Bee, aku hanya sedikit lelah dan banyak pikiran,” jawab singkat Natan.


“Sayang, kenapa kamu tidak ingin menemuiku dengan cepat? Aku menunggumu sejak tadi dan selalu memikirkanmu?” tanya Aurora dengan begitu manja sembari masik memeluk tubuh Natan dari samping. Mereka berjalan menuju ruang tamu.


Mereka duduk saling bertatapan di sofa. Dengan penuh tekanan Natan memberitahu kepada Aurora apa yang dia pikirkan saat ini. “Bee, aku mohon kepadamu sekali lagi jangan mengancamku dengan cara seperti itu. Kamu tahu kan aku tidak pernah hanya sekadar berbicara, aku akan membuktikan ucapanku. Mohon dengan sangat jangan melakukan hal yang bodoh karena kamu ingin segera aku nikahi. Kamu tahu juga kan akhir-akhir ini aku selalu sibuk, setiap hari ada meeting yang dilakukan perusahaan star up dan perusahaan-perusahaan besar lainnya. Aku tidak fokus untukmu saja, banyak hal yang harus aku lakukan dengan pekerjaanku.”


Tumben sekali Natan begitu tegas dengan penekanan yang tidak pernah diucapkan sebelumnya kepada Aurora.


“Tapi Sayang, aku sangat khawatir bila mana wanita kampungan itu akan mengambil hatimu. Aku tidak mau semua itu terjadi dan ...,” ujar Aurora seperti anak kecil 5 tahun itu segera dipotong oleh Natan.


“Bee ...,” Manik mata lelaki tampan yang memiliki hidung mancung itu menatap dengan tajam netra mata kekasihnya, sambil kedua tangannya berada di bahu Aurora.


“Berapa lama kita sudah bersama hum? Apa kamu masih tidak mempercayaiku? Apa pernah aku menghkianatimu Aurora?”


Saat ini Natan benar-benar berbeda, tatapannya begitu tajam dan sedikit terlihat kesal dengan perilaku wanita yang benar-benar ia cintai. Tapi beberapa hari ini, hati Natan begitu kacau mengenai perasaanya kepada Aurora.


‘Aku kenapa ini? Kenapa wajah Aurora seperti wajah wanita menyebalkan itu?’ geramnya dalam hati sembari menelan salivanya yang begitu heran.


Dengan cepat ia mengalihkan pandangan dan melepas genggaman kedua tangannya di atas bahu Aurora seraya menggeleng-gelengkan kepadanya.


“Kamu kenapa Sayang?” tanya Aurora yang melihat gelagat aneh pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.


“Tidak Bee, aku tidak kenapa. Aku baik-baik saja kok,” elak Natan dengan memijat-mijat kepalanya yang ingin pecah memikirkan wajah Raya.


Padahal Aurora masih ingin berdebat dan menyudutkan wanita kampungan tersebut, agar Natan tidak gundah. Apalagi beberapa hari ini perilaku Natan sangat berbeda kepadanya. Dan diperkuat lagi dengan berita dari Laras. Namun, seperti sudah mengenal sikap Natan yang tidak suka di desak ia pun segera mengubah sikapnya yang seakan penuh pengertian.


“Sayang ...,” desis Aurora sembari merengut lengan kiri Natan dan wanita itu memeluk dengan erat dengan meletakkan kepalanya di bahu sang kekasih.


“Aku minta maaf ya karena telah membuatmu semakin tertekan. Aku hanya tidak ingin kamu terlalu dekat dengan wanita tak tahu diri itu. Dan aku tidak ingin kamu semakin cuek denganku,” lanjut Aurora dengan mata berbinar.


“Aku tahu Bee, aku tahu semua yang kamu rasakan. Lagian aku tidak macam-macam dan melakukan hal sewajarnya,” jawab Natan yang mencium pundak kepala Aurora.


Bagaimanapun juga Aurora lah wanita yang telah lama menemani Natan, meskipun hatinya sedikit gusar akan kehadiran sosok wanita yang sangat mirip dengan sang ibu.


‘Apa yang sedang ia lakukan di ruanganku di bawah ya? Apakah dia sudah makan? Hmm sepertinya belum karena aku langsung mengajaknya kemari,’ bisik Natan dalam hatinya yang masih memikirkan Raya.


Dengan dalih ingin memerintahkan Diah dan Nia untuk membawakan Raya makanan, Natan menyuruh Aurora untuk membuatkan sesuatu.


“Bee, apakah aku bisa minta tolong?” tanya Natan seraya tersenyum tipis.


Huum!


Aurora hanya mengangguk dan tidak mengeluarkan kata-kata.


“Bee, aku ingin minum teh hangat karena kepalaku sangat pusing. Bisakah kamu membuatkannya untukku?” pinta Natan.


Aurora menganggukkan kepalanya kembali dan menjawab, “Baiklah Sayang, tunggu sebentar di sini ya.”


Sekelibat Auora berbisik dalam hatinya, ‘Apakah dia sedang menyembunyikan sesuatu dariku? Kenapa dia sangat berbeda? Apakah ini semua karena wanita kampungan yang tak tahu diri itu?’


Memastikan sang kekasih sudah menuju ke dapur, Natan dengan cepat merogoh ponselnya dan memberikan pesan kepada Diah.


Kling! Kling! Kling!


Beberapa kali ponsel wanita itu berbunyi, ia tidak bisa fast respon karena masih ada pengunjung yang sedang konsultasi mengenai penyewaan.


Sampai-sampai ponsel Diah berdering kencang, seperti ada yang menelpon. Dengan cepat teman yang ada di sampingnya bernama Nia melirik, dengan wajah terkejut ia menoleh Diah.


“Yah, Tuan Natan menelpon itu.”


Sontak Diah menyerahkan Nia untuk melanjutkan pengunjung tersebut konsultasi dengan temannya di samping. Dengan cepat ia merogoh ponselnya dan mengangkat panggilan dari pria nomer dua di perusahaan ini.


“Eek, selamat siang Tuan, apakah ...,”


Tut! Tut! Tut!


Telpon dari Natan dimatikan, pria itu memang sengaja hanya miss call saja karena dia tidak ingin Aurora tahu bahwa dirinya membawa Raya ke gedung apartement ini.


Setelah membaca pesan dari Natan, Diah segera menyiapkan beberapa makanan dari dapur pribadi pewaris Moise Crops.


“Nia, aku tinggal sebentar ya karena ada perintah dari Tuan Natan,” izin Diah kepada temannya.


Beberapa menit kemudian Diah menyiapkan makanan dan membuka pintu ruangan yang di tengahnya ada Raya.


Diah berpikir wanita itu akan tertidur atau rebahan, namun ketika ia masuk ke dalam.


“Nona, maaf telah mengganggu Anda. Ini ada makanan sedikit dari Tuan Natan,” ucap Diah begitu sopan meletakkan napan di atas meja kaca tersebut.


Ternyata Raya sejak tadi hanya diam dan tidak melakukan apa pun. Ia duduk melamun menatap foto Natan dan Aurora yang dicetak besar di ruangan itu.


Meskipun Natan telah lama berpacaran dengan Auora, Natan selalu menjaga kesucian Aurora bahkan saat ia menginap di apartemen Auora pun, pria tersebut memutuskan untuk tidur di lantai bawah.


Raya pun menundukkan kepalanya dan segera bangun untuk menyambut salah satu wanita yang membawanya kemari tadi.


“Nona, apakah saya masih dikunci di tempat ini?” tanya Raya.


“Sepertinya begitu Nona, saya juga tidak tahu. Dan saya mengucapkan maaf karena telah mengunci Anda sendirian di sini,” ungkap Diah dengan mimik wajah yang merasa bersalah.


Raya melambaikan tangannya, mengisyaratkan bahwa bukan Diah lah yang salah tapi Natan lah yang seharusnya meminta maaf kepadanya karena pria tersebut sudah semena-mena menyuruh anak buahnya untuk mengunci di ruangan ini seorang diri.


Beberapa detik Diah izin untuk keluar dan meminta Raya memakan makanan yang dia bawakan.


Namun, Raya tidak berselera makan. Ia tiba-tiba ingat dengan kejadian tadi pagi ketika ia bertemu Derwin, mantan kekasihnya yang sangat ia kasihi.


“Beberapa hari lagi Derwin dan Sarah akan menikah, apakah aku harus datang menemui mereka dan mengucapkan salam kepada mereka?”


Bersambung.