MARRIED WITH MR. COOL

MARRIED WITH MR. COOL
MASIH PENASARAN



Mereka saling berpandangan tiada henti. Natan seperti memiliki sesuatu hal kepada wanita yang ada di dekatnya ini.


“Hmm, maaf Tuan apakah saya boleh bertanya apa yang Anda inginkan sehingga saya mendapatkan maaf dari Anda?” tanya Raya ingin memastikan apa yang diinginkan oleh pria yang memiliki tatapan tajam ini.


‘Apa yang sebenarnya ia mau? Apakah dia sedang memiliki rencana yang buruk?’ bisik Raya dalam hati. Sebelumnya wanita ini tidak pernah menilai seseorang buruk, tapi terkecuali dengan pria yang memiliki wajah dingin ini.


Karena sejak awal Natan tidak sama sekali pria ini menunjukkan perilaku baik kepada Raya. Maka dari itu wanita malang ini menaruh antisipasi kepada pria yang sama sekali tidak memiliki perasaan tersebut.


Natan masih belum menjawab pertanyaan dari Raya, ia malah menaikkan alis kirinya dan menelisik wanita yang dianggap menyebalkan ini dengan begitu dalam.


“Nanti saya akan memberitahu apa yang harus kamu patuhi! Dan kamu tidak bisa menolak apa yang saya perintahkan!” tegas Natan lalu dia membalikkan badan indahnya itu mengarah ke kasur empuknya itu.


“Sudahlah jangan berbicara dengan saya lagi, saya ingin beristirahat lalu tidur. Karena waktu saya lebih berharga dibanding berbicara kepada wanita sepertimu!” celetuk Natan yang membuat Raya semakin membenci pria yang sudah menjauh darinya itu.


Plak!


Ingin rasanya Raya menekan kepala itu dari atas dan memberikan hantaman maut kepada suami sahnya ini. Tapi keinginan yang akan dilakukan oleh Raya ditepis, ia harus bersabar menghadapi pria yang baru pertama kali ia temui ini.


Hah!


‘Baru pertama kali aku bertemu pria seperti dirinya!’ gumam Raya dalam hati sembari menggeleng-gelengkan kepada dan mengusap-usap dadanya yang kesal akibat perkataan Natan tadi.


Tidak mau ambil pusing, ia segera menuju ke sofa dan merebahkan tubuh yang sangat remuk itu.


Hah!


Raya menghela napasnya seraya melihat ke lampu mewah di atas. Malam ini ia hanya ingin melupakan apa yang sudah terjadi tadi. Ia tidak ingin mengingat-ingat apa yang sudah Derwin lakukan kepadanya.


Akan tetapi, ia masih berpikir dengan cukup keras mengenai mengapa Derwin mengatakan hal tersebut. “Katanya, dia harus bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan? Tapi kenapa tatapannya tadi seperti menginginkan suatu hal dulu terulang kembali? Apakah dia menyesal dengan apa yang sudah dia lakukan saat ini? Hah! Aku sama sekali sudah tidak peduli dengannya. Aku hanya berharap dia dan Sarah hidup bahagia untuk menata bahtera rumah tangga yang akan segera dibangun beberapa hari lagi ini.”


Wanita ini terdiam seketika, ia berpikir apakah dirinya harus datang kepernikahan mantan pacarnya itu atau tidak perlu.


“Tapi dia sudah memintaku untuk datang ...,” gumam Raya kembali sambil memegangi pelipisnya karena otaknya begitu pusing memikirkan hal ini saja.


Tanpa sadar, Natan masih terjaga dan ia mendengar Raya bergumam meski tidak terlalu jelas.


“Hey, apa yang sedang kamu bicarakan? Kamu benar-benar wanita stress ya, berbicara hanya seorang diri?” teriak pelan Natan mengarah ke Raya.


Sontak hal ini membuat Raya menoleh ke belakang, dan melihat Tuannya yang sudah mengenakan selimut untuk segera tertidur pulas.


“Ah, maafkan saya Tuan. Maaf telah membuatmu terganggu,” ujar Raya dan menundukkan kepalanya lalu memalingkan pandangan untuk tertidur.


‘Hmm, memangnya ucapanku tadi cukup keras ya?’ tanya Raya dalam hatinya seorang diri.


Beberapa menit kemudian, dengan wajah yang belum dibasuh dan pakaian yang dia kenakan sejak pagi belum diganti, Raya segera tertidur dengan pulas tanpa peduli.


Ia benar-benar lelah, dan lagipula kamar Natan begitu dingin akibat AC yang dinyalakan temperaturnya begitu rendah. Sehingga membuat tubuh Raya tidak lengket dan begitu sejuk.


Namun, bukannya tertidur seperti yang dia bilang tadi. Manik mata Natan malah terjaga, sejak tadi ia mengubah posisi tidurnya ke samping kanan dan kiri. Ia tidak bisa tidur sama sekali, hanya karena memikirkan apa yang akan dia lakukan kepada istri sahnya itu.


Hah!


Sebetulnya ia sejak tadi ingin memberikan selimut itu kepada Raya, tapi ia tidak ingin melakukan hal tersebut. Karena ia tidak ingin dianggap peduli kepada wanita yang sangat dibencinya itu.


Baru ketika Raya tertidur lelap, ia memberanikan diri dan kini ia berdiri tepat di dekat Raya seraya memengangi selimut tebal itu.


Hmm!


Tatapannya tidak pernah tidak tajam, ia melihat Raya secara detail dan dalam hatinya terusik kalimat yang menandakan dirinya seperti ada rasa kepada istri sahnya ini.


‘Kenapa wajahnya saat tidur tampak berbeda? Kenapa dia seperti memiliki aura yang membuat hatiku bergerak?’


Namun, kumandang dalam hatinya segera ia tepis melalui logikanya. ‘Aduh, kenapa aku bisa berpendapat seperti itu? Tidak mungkin aku mengatakan hal tadi kan mengenai wanita yang sangat menyebalkan ini? Tidak ... tidak, aku tarik semua yang aku katakan tadi terkait wanita ini. Ingat Natan, dia adalah wanita yang menyebabkan hubunganmu dan Aurora semakin memiliki jarak. Kamu seharusnya teguh akan pendirianmu, Natan. Kamu harus fokus kepada Aurora bukan malah dengan wanita menyebalkan ini!’


Hati dan logika selalu beradu satu sama lain, memiliki pendapat yang sangat berbeda sejak awal kemunculan wanita yang memiliki sifat sederhana ini.


Wanita sederhana yang mampu membuat hati seorang pewaris tunggal dan pria yang memiliki sikap dingin ini bergerak dengan cepatnya.


Natan kembali berucap dengan pelan sambil mencondongkan tubuhnya yang akan mengenakan selimut ke seluruh tubuh wanita itu. “Wajahnya sangat mirip seperti Mamah.”


Deg!


Tiba-tiba jantung pria pemilik paras yang begitu menawan ini tersendat. Dag-dig-dug ia rasakan, seperti seseorang yang mengalami perasaan jatuh cinta.


Bola matanya tiba-tiba mengembang, wajahnya memerah bagaikan tomat yang direbus. Sungguh perasaannya seperti terombang-ambing bagaikan kapal laut yang tidak tahu arah tujuan karena ombang yang menerjangnya.


Itu yang saat ini dirasakan Natan, ketika dirinya melihat Raya dengan jarak yang begitu dekat. Napas hangat yang keluar dari hidung wanita ini dapat Natan rasakan. Udara napas itu sampai menembus kalbu dalam batin seorang pria yang sangat tidak percaya akan cinta sejati ini.


Tidak ingin berlama-lama, ia segera menyelimuti Raya sampai wajahnya. Agar wajah cantik itu tidak lagi mengganggunya.


“Dia seperti setan yang akan selalu menghantui mikiran dan hatiku!” celetuk Natan sembari berjalan menuju kasur dan segera tidur.


Keesokan paginya.


Dari sudut lorong terdengar teriakan dari seorang pria yang sangat dikenal Natan. “Hallo pak, selamat pagi. Hmm, kenapa Anda sudah datang pagi-pagi sekali?” sapa Daniel kepada atasannya.


Natan masih terdiam, karena wajahnya tampak lesu dan kantong matanya begitu hitam. Sepertinya ia kurang tidur. Tampilannya tidak seperti biasa, kemeja yang tidak ia masukkan ke celana kain panjang itu, dasi yang tidak ia kenakan dan jasnya yang entah kemana. Biasanya rambutnya tidak akan gusar selehaipun, karena rambut yang berstyle klimis itu. Namun kini ia tampak kacau.


“Pak Natan, apakah Anda sedang sakit? Apakah saya perlu memanggilankan dokter untuk Anda?” tanya Daniel yang mengikuti Natan berjalan seiringan menuju lift.


Tidak ada siapa pun di kantor, kecuali penjaga karena memang jam kerja masih jauh.


“Daniel ...,” panggil Natan sambil menghentikan langkahnya dan ia seperti ingin mengucapkan suatu hal yang serius kepada anak buah yang sudah ia anggap sebagai sahabatnya ini.


“Saya ingin berbicara mengenai mantan pacar Derwin Satria!”


Bersambung.