MARRIED WITH MR. COOL

MARRIED WITH MR. COOL
TANPA IZIN



"Ana, di sana Nyonya Raya," tunjuk wanita mengenakan baju maid itu mengarah Ana yang sedang sibuk memotong duri mawar.


Bunga yang memiliki keindahan ini adalah bunga yang paling disenangi oleh Natan.


Raya menundukkan kepalanya, dan tak lupa dia mengucapkan terima kasih. "Terima kasih, karena sudah mengantarkan saya."


Pelayan yang pura-pura baik itu dengan sigap menundukkan kepala dan membalas ucapan Raya, "Jangan mengatakan hal itu, Nyonya Raya. Ini adalah tugas saya."


Hmm!


'Apakah membicarakan seseorang adalah menjadi tugas juga di kediaman ini?' Bisik Raya dalam hatinya.


Mereka pun saling melempar senyum hambar dan kemudian Raya melangkah dengan pelan, niat hati menjahili Ana.


Namun, bukan Raya namanya jika tidak bertingkah ceroboh. Kakinya menginjak tetesan air yang sedang berada di area kebun, (sebagian daerah dipasang keramik untuk dasar). Tidak sengaja Raya pun terpelincir, tapi untungnya wanita ini bisa menahan berat badannya sehingga ia tidak sampai terjatuh.


Mendengar kegaduhan tersebut, Ana pun melirik ke arah suara yang membuat dirinya sedikit terkejut.


"Astaga, Raya …," teriaknya sembari melempar gunting yang dibawa dan berlari ke arah Raya yang kini hampir terjatuh.


Ketika Ana sudah dekat dengan wajah yang begitu khawatir dan sangat cemas, Raya malah melemparkannya senyuman tanpa merasa ada apa pun.


Hehe!


"Jangan khawatir Ana, aku tidak apa-apa kok," papar Raya sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Bagaimana aku tidak khawatir, aku melihatmu hampir tersungkur. Lalu bagaimana jika kamu kenapa-napa, hum?" cemas Ana, melebihi ibu kandungnya.


Kini Raya menampilkan wajah memelas dan matanya berkaca-kaca, karena sudah lama sekali ia tidak melihat wajah cemas yang begitu tulus seperti Ana lakukan.


"Loh kenapa kamu ingin menangis saat ini? Apakah ucapanku tadi, Raya?" tanya Raya yang perasaannya kini sedikit sensitif.


Raya menggelengkan kepalanya pelan seraya menghapus tetesan air mata yang telah mengalir tak sampai pipinya.


"Terima kasih ya, Ana. Terima kasih karena telah mengkhawatirkanku sampai segitunya. Tapi aku tidak apa-apa Ana, aku baik-baik saja," jelas kembali Raya.


Lalu mereka pun menuju ke sebuah area bunga mawar tumbuh.


Bukan hanya Natan yang menyukai bunga indah ini, tapi Raya juga sangat menyukai bunga yang melambangkan arti cinta tersebut.


Jika Natan beranggapan bunga mawar adalah lambang keindahan, berbeda jauh dengan Raya yang berasumsi bahwa bunga mawar adalah bunga yang dapat menyakiti seseorang, karena duri yang dimilikinya.


"Apakah kamu suka mawar, Ana?" Raya menoleh ke arah temannya itu yang sedang sibuk memotong-motong duri.


Ana tersenyum. "Bukan aku yang menyukainya, tapi Tuan Muda Natan."


Raya memasang wajah tanpa ekspresi, setiap kali ia mendengar kata suaminya itu entah mengapa ia merasa jika pria tersebut adalah rivalnya.


Apalagi ia merasa bahwa sikap Natan kemarin itu sangat aneh. 


Raya yang merasa bosan pun meminta kepada Ana untuk diantar keluar rumah sebentar saja.


"Ana, aku sangat bosan bisakah kita keluar sebentar saja. Mungkin hanya sekadar mencari angin?" Raya menunjukkan gigi kepada temannya.


Hmm!


Ana terdiam, dia sebenarnya tidak memiliki wewenang apa pun memberikan izin Raya untuk keluar dari kediaman Keluarga Moise ini. Tidak ada yang bisa dilakukan Ana selain meminta izin kepada Tuan Natan sebelumnya.


"Maaf Raya, bukannya aku tidak ingin mengajakmu keluar rumah. Aku juga tahu pastinya begitu bosan diam saja tanpa melakukan apa pun," jelas Ana.


"Lalu, apakah aku tidak boleh ke luar rumah ini Na?" tanya Raya terlihat bingung. Pikirannya tidak akan pernah bisa keluar dari rumah ini.


'Astaga, apakah aku akan terperangkap di sini selamanya tanpa boleh keluar rumah?' asumsinya sebelum tahu apa yang akan dikatakan Ana selanjutnya.


"Bukan begitu Raya. Aku tidak memiliki kewenangan di sini sebelum ada izin dari Tuan Besar Wiguna, atau Tuan Muda Natan," jelas kembali Ana.


Raya menghela napasnya. 


Tapi Ana sedang tidak membawa ponsel, ia pun meminta izin kepada Raya untuk menunggunya di sini.


"Tunggu ya Raya, aku akan meminta izin dulu sama Tuan Natan."


Raya mengangguk pelan sembari memasang slop tangan yang digunakan Ana tadi dan mengambil gunting.


Belum saja Ana melangkah jauh, tiba-tiba Laras muncul dengan wajah sinisnya.


"Mau kemana kamu?" celetuk Laras kepada juniornya.


"Hmm, anu Mbak Laras. Saya ingin menelpon Tuan Natan, karena Nyonya Raya ingin keluar mencari angin," jawab Ana polos.


Laras melirik ke arah Raya yang sedang asyik memotong-motong bunga kesayangan Natan dengan tatapan sini.


'Dasar kampungan! Sudah dikasih hidup mewah bak princess dia malah ingin keluar!' gerutu Laras dalam hati yang teramat membenci Raya.


Lalu wanita berwajah antagonis ini pun kembali menatap Ana dengan sinis. "Kamu pikir hari ini Tuan Natan sedang free hah? Apa kamu pikir Tuan Natan bisa mengangkat telponmu? Hari ini Tuan Natan sedang mengadakan rapat penting dengan para petinggi, kamu tidak bisa menelponnya sesuka hati!" nada bicara Laras meninggi, sehingga membuat Raya tersadar jika Ana belum masuk ke dalam.


Raya pun mendekati mereka berdua.


Hmm!


"Ada apa ini?" tanya Raya sembari melemparkan senyum hangat kepada kedua orang yang ada di depannya mengenakan seragam maid.


Ana pun menceritakan apa yang ia lontarkan tadi kepada Laras.


"Jadi tidak bisakah Mbak menelponnya sebentar saja?" pinta Raya.


Hehe!


Senyum masam tersirat dari wajah Laras. Jika ia menolak permintaan wanita yang memiliki kuasa besar di sini, ia akan mendapatkan masalah besar juga. Sehingga mau tidak mau, ia mencoba untuk menghubungi Natan.


"Tunggu sebentar ya Nyonya, saya akan menghubungi Tuan Muda."


Laras berpikir, Natan akan menjawab telpon itu tapi tidak akan memberikan izin kepada Raya untuk keluar.


Dreet! Dreet!


Suara telpon berbunyi di meja ruangan meeting. 


'Mbak Laras? Kenapa dia menelponku? Atau mungkin ini berhubungan dengan wanita itu? Karena aku pernah berpesan kepada dirinya dan Ana untuk memperhatikan Raya lebih detail?' bisiknya dalam hati.


Tidak seperti biasa dia izin keluar dari ruang meeting.


Setelahnya ia mengangkat telpon dengan cepat. "Iya Mbak Laras ada apa? Apakah situasi di rumah baik-baik saja?"


Ia buru-buru mendengar apa yang ingin dikatakan wanita yang sudah sangat ia percayai itu. Sebenarnya dia berharap Mbak Laras akan membahas mengenai Raya.


"Begini Tuan Natan, Nyonya Raya ingin keluar rumah untuk mencari suasana baru," ujar Laras dalam telpon.


Tiba-tiba ekspresi wajah Natan berubah, yang tadinya datar kini sedikit menyunggingkan bibirnya naik ke atas. Namun, ketika juga ia dengan cepat mengembalikan ekspresi datarnya itu.


"Jangan berikan dia izin untuk keluar rumah!"


Namun, Natan belum menyelesaikan ucapannya.


Laras sangat bahagia mendengar perintah dari Tuannya itu, karena apa yang dia duga benar adanya.


Tapi tebakan Laras salah besar. Natan kembali memberikan perintah kepada senior maid itu, "Jangan berikan dia keluar jika bukan dengan saya!"


Bersambung.