MARRIED WITH MR. COOL

MARRIED WITH MR. COOL
AKU MENCINTAIMU



Manik mata mereka masih beradu. Sangat terlihat Natan masih memikirkan, apakah dia langsung menerima permintaan sulit istri sahnya tersebut.


‘Apa? Dia memintaku untuk ikut kekundangan mantan kekasihnya itu?’ celetuk Natan dalam hati sebelum ia berucap kepada Raya dengan memalingkan pandangannya dan raut wajah pria tampan tersebut sangat dingin.


“Apakah pertanyaan itu layak untuk dilontarkan kepada seseorang yang sudah menjadi suami sah kamu sekarang?” Natan malah membuat pertanyaan yang hanya menyebabkan Raya semakin bingung dengan permasalahan ini.


Hah!


Raya menghela napasnya, dan ia tak fokus lagi menatap ke arah Natan. Posisinya kini menegadah, melihat lampu megah di kamar luas sang suami.


Dengan santai wanita cantik nan polos ini berucap tanpa ada keraguan sama sekali. “Saya selalu menganggap Anda sebagai suami sah saya, karena kita sudah mengucapkan janji suci dan tertulis. Namun, saya rasa Anda tidak pernah menganggap saya sebagai seorang istri. Sehingga itu saya berani untuk bertanya tentang hal tersebut. Saya pikir Anda pasti tidak keberatan untuk mengantarkan saya ke pernikahan mantan kekasih saya. Karena Anda tidak pernah menganggap saya ada kan?”


Sontak ungkapan dari mulut indah Raya membuat Natan membeludak. Dengan wajah gusar karena tak setuju dengan ucapan istri sahnya itu, Natan merobohkan bantal kokoh yang ia numpuk sebagai pembatas. Wajahnya pun kini berada di atas wajah Raya.


Natan menyempitkan matanya, sedangkan Raya mengembangkan matanya karena sangat terkejut posisi mereka begitu dekat. Raya pun sampai bisa merasakan deruan napas Natan dari hidung mancungnya itu.


Sebelum berkata, Natan memperhatikan wajah wanita yang membuat ia semakin tidak waras ini. ‘Kenapa aku melakukan ini? Wajahnya sangat dekat? Apakah aku pantas melakukan hal gila ini? Apakah dia semakin membenciku?’ Berbagai pertanyaan menyerca pikiran pria yang seharusnya masih galau terkait kekasih yang telah mengkhianatinya.


Akan tetapi, kini perasaan Natan kepada Raya jauh lebih besar dibanding rasa sakitnya terhadap Aurora.


Apakah Raya adalah wanita yang telah melumpuhkan hati pewaris tunggal dingin ini?


Natan masih menatap manik mata Raya dengan begitu tajam, dan mulut tipisnya itu mulai bergerak. Ingin menjelaskan sesuatu yang belum diketahui Raya saat ini.


“TOLONG TARIK UCAPANMU TADI! Siapa yang tidak menganggapmu sebagai istri, hah? Memang kamu bukan tipe dan kriteria saya sampai kapanpun! Tapi saya tidak pernah mengatakan bahwa kamu bukan istri sah saya. Bagaimanapun juga, kita sudah mengucap janji suci dan tentu saja secara agama serta tertulis kamu adalah wanita yang sudah terikat dengan saya. Camkan itu!” Natan mengarahkan telunjuk dan jari tengahnya mengarah ke matanya lalu ke arah mata Raya. Seperti mengingatkan wanita itu, bahwasanya pendapatnya tadi benar-benar salah.


Setelah memperjelas hal tersebut, Natan segera menjauhkan tubuhnya dari Raya yang sejak tadi kaku seperti patung karena posisi pria dingin itu sangat dekat tanpa jarak sama sekali.


Ekspresi wajah Raya sangat lugu, seperti tidak paham akan maksud yang dikatakan Natan tadi. “Ohh, jadi Anda menganggap saya sebagai istri sah Anda? Tapi Anda tidak akan menyerahkan perasaan Anda ke istri sah Anda bukan?”


Entahlah, pertanyaan Raya tadi bermaksud seperti apa.


Apakah Raya mengetahui apa yang Natan rasakan saat ini, atau hanya mempojokkan suami sahnya itu? Karena Raya tersadar ketika Natan menatapnya, tatapan pria itu sedikit berbeda seperti mana biasanya. Dan lagipula wajah putra tunggal dari Wiguna tersebut memerah, sehingga dengan cepat pria itu menjauhkan wajahnya dari wanita yang dikatakan istri sahnya itu.


Sedikit melayangkan pandangan, selebihnya Natan hanya bisa terpaku dan tidak melihat manik mata Raya yang begitu indah itu.


“Maksudmu apa? Perasaan? Saya tidak akan pernah meletakkan perasaan saya kepadamu. Sudah saya jelaskan tadi, bahwa kamu bukanlah tipe saya dan tidak akan pernah!” Natan sedikit meninggikan nada suaranya dan ia mengambil guling serta bantal. Ia beranjak dan dengan cepat Raya bertanya, “Anda mau tidur di mana Tuan?”


Natan dengan wajah kesal dan tatapan sinis menoleh ke belakang, lalu ia menjawab dengan ketus sekali, “Kamu tidak perlu tahu!”


Ia keluar dari kamar, dan pria itu dengan mata yang sayu karena sudah mengantuk dan merasa mual karena ia meminum alkohol tadi pun segera menuju ke ruang kerja yang ada di samping kamarnya tersebut.


Hah!


“Kenapa bibirnya sangat indah dan matanya juga! Aku tidak mungkin mengatakan bahwa diriku sudah meletakkan perasaan kepadanya! Aku harus terus bersikap seperti ini, agar dia tidak seenaknya dan lagipula aku juga belum terlalu tahu sifat aslinya!”


“Tapi kenapa malah dia yang meminta diantar ke kundangan mantan kekasihnya itu? Lihat saja wanita menyebalkan, aku akan melakukan suatu hal agar kamu tahu apa yang sebenarnya aku rasakan ketika kamu memintaku untuk pergi bersamamu ke acara itu!” gumam Natan seperti anak kecil yang meletakkan gulingnya di depan dada.


Keesokan paginya ....


Tidak sadar karena tubuh lelah, kepala pusing, dan perut mual, Natan tertidur dengan pulas. Sampai handphone yang dia lupakan di kamar beberapa kali berdering karena Natan tidak menginfokan bahwasanya dia memang berencana mengambil off day hari ini.


Dreet! Dreet!


Begitu pula dengan Raya yang begitu lelah. Didukung dengan kasur Natan yang unlimited edition begitu besar dan empuk itu, Raya sangat lelap tanpa mendengar handphone Natan sejak tadi berdering.


Sampai ini adalah ketujuh kalinya Daniel menelpon sang atasan. Bawahannya itu sangat khawatir karena terakhir kali Daniel bertanya melalui pesan, Natan masih menjawabnya. Akan tetapi dipagi ini sang atasan tidak ada kabar sama sekali.


Karena nyawa sudah berada di dunia nyata. Raya terkejut karena baru saja ia mendengar dering telpon yang menusuk indra mendengarannya. Wanita itu mengusap-usap matanya dan segera mengambil telpon Natan yang ia pikir penting.


Raya memboyong tubuhnya yang masih setengah sadar, dan ia bertanya kepada Ana yang kebetulan ada di dekat sana.


“Ana, apakah kamu melihat Tuan Natan?”


Ana terdiam, karena yang ia tahu Natan belum keluar dari kamar sama sekali dipagi hari ini. Malah dia pikir Raya dan Natan sedang tidur bersama dengan pulasnya.


“Loh, aku tidak tahu Raya. Bukannya Beliau ada dikamar yang sama denganmu?” tanya balik Ana yang kelimpungan.


Raya mengangguk dan ia pun segera berucap, “Iya benar Ana. Tapi ada suatu hal kemarin malam. Nanti aku ceritakan deh, saat ini aku hanya ingin mencarinya dan memberikan ponsel Tuan Natan karena mungkin panggilan ini sangat penting.”


Baru saja ingin beranjak mencari Natan sekuat tenaga, Laras datang dengan wajah songong dan ia berucap, “Tuan Natan ada di ruang kerjanya!”


Tanpa menjawab Raya hanya menundukkan kepalanya, mengisyaratkan ucapan terima kasih dan ia segera melangkah dengan melihat dering ponsel Natan yang hendak mau berhenti.


Sampainya di ruang kerja suaminya itu. Ia melihat Natan dengan wajah yang teramat lelah dan bergumam, “Kenapa pria ini tampak berbeda ketika sedang tidur? Seketika aku simpati melihatnya.”


Baru saja bergumam, kaki Natan mengait kaki Raya dan otomatis tubuh wanita itu tak mampu untuk mengokoh. Tubuhnya pun terjatuh tepat di atas Natan. Tanpa sadar Natan memeluk erat tubuh Raya, dengan mata yang masih terpejam rapat dan ia bercelatuk, “Aku mencintaimu.”


Bersambung.