MARRIED WITH MR. COOL

MARRIED WITH MR. COOL
TANGISAN DALAM DIAM



Relung hati Wiguna sangat sakit sebenarnya ketika melihat tetesan air mata dari putra tunggalnya itu. Terakhir kali Natan mengeluarkan air mata sekencang-kencangnya pada saat sang ibu meninggalkannya untuk selama-lamanya.


Saat itu pula Wiguna sudah berjanji kepada istrinya, jika dia harus merawat Natan dan tidak akan membuat putranya merasa sedih. Namun sayang, saat ini ia harus berterus terang mengenai Aurora kepada putranya. Agar Natan mengetahui fakta sesungguhnya yang sungguh menyakitkan.


Raya sejak tadi memperhatikan Natan yang sedang menundukkan kepalanya. Terlihat jelas ia sangat berusaha agar tetap tegar dan tidak mengeluarkan air matanya itu.


“Maafkan Papa Natan. Bukannya Papa ingin membuatmu sedih, tapi kamu harus tahu semua fakta tentang cinta terkadang membuat kita sakit. Dan disaat itupula lah kita harus mengikhlaskan apa yang dikehendak Tuhan untuk kita,” ucap Wiguna yang melangkahkan kakinya mendekati sang putra sembari menepuk-nepuk pelan pundak Natan.


“Semoga masalah yang saat ini menimpamu segera menyadarkan bahwa setiap cinta yang dimiliki terkadang harus berakhir begitu saja. Kamu tidak bisa memaksakan diri untuk mempertahankan apalagi memperjuangkan cinta yang kamu miliki untuk wanita tersebut. Papa hanya ingin mengatakan, hargailah wanita yang kini ada didekatmu yang selalu menghargaimu sebagai seorang pria,” bisik Wiguna yang mencondongkan tubuhnya dan mulutnya berada dekat di telinga Natan.


Hah!


Wiguna menghela napas kelegaan, karena ia telah berhasil memberitahu hal ini secara terus terang kepada seseorang yang sangat ia sayangi di dunia ini. Kendatipun sebenarnya sejak awal ia tidak mengungkapkannya, ia hanya ingin Natan mengetahui sikap buruk Aurora sebenarnya seiring berjalannya waktu.


Natan yang sudah mengetahui kemarin malam sikap buruk mantan kekasihnya itu hanya terdiam. Ia sangat terkejut, ternyata Aurora sejahat itu sudah membohonginya sejak lama.


“Baiklah, Papa izin keluar dan beberapa jam lagi Papa akan berangkat ke luar kota.” Wiguna mengambil beberapa proposal yang sudah ada di meja Natan, lalu ia melanjutkan perkataannya, “Natan Papa ambil proposalnya ya dan oh iya ini ada surat undangan yang kemarin Papa bicarakan kepadamu.” Wiguna mengeluarkan surat undangan dari jasnya tersebut.


Sontak hal ini membuat Raya terkejut melihat surat undangan yang dibawa oleh ayah mertuanya itu. ‘Apa? Bukannya itu surat undangan Derwin dan Sarah? Kenapa Tuan Wiguna mendapatkannya? Apakah Tuan Wiguna mengenal Derwin?’ bisik Raya dalam hati.


“Natan tolong datanglah ke acara pernikahan Derwin bersama Raya ya. Itu saja yang Papa minta.” Wiguna terlihat terburu-buru dan ia tersenyum kepada Raya, “Nak Raya jaga kesehatan ya ... bahagialah bersama putra Papa.”


Senyuman Wiguna begitu tulus, Raya hanya bisa menganggukkan kepalanya dan berpikir bisakah ia akan bahagia bersama seseorang yang tidak pernah mencintainya ini?


Setelah itu pandangan Raya kembali memperhatikan suaminya itu yang hanya terdiam saja seraya menundukkan kepalanya. Tidak seperti biasa Natan yang selalu menyebalkan bagi Raya. Kini wanita itu merasa dirinya harus menemani suami sahnya dan ingin sekali menyemangatkan Natan. Akan tetapi ia tidak berani, mendekati Natan saja ia tidak memiliki nyali.


Ia hanya terdiam dan memperhatikan Natan sedetail mungkin. Walaupun Natan sudah tidak lagi mengeluarkan air matanya.


Ada hal yang ingin Raya tanyakan kepada Natan, mengapa Tuan Wiguna mendapatkan undangan pernikahan Derwin juga. Namun ia urungkan niatnya untuk bertanya, ia hanya memilih diam.


Sedangkan Natan masih berada dalam keadaaan yang benar-benar tidak bisa digambarkan. Hatinya yang sejak kemarin malam ia kukuh agar tetap tegar dan melupakan kejadian itu, semakin rapuh.


Perasaan yang pernah Raya rasakan ketika mengetahui sikap asli dari mantan kekasihnya dulu, kini Natan rasakan.


Wajahnya benar-benar kehilangan arah, dan tidak ada rona kehidupan sama sekali. Menyadari hal itu Raya segera mengambilkan segelas air putih yang berada di ruangan pertama kali ia bertemu Natan.


“Tuan, minumlah segelas air ini agar Anda merasa lebih baik lagi,” ucap Raya yang mencondongkan tubuhnya memberikan segelas air putih tersebut kepada pria yang benar-benar membutuhkan penyemangat ini.


Natan pun menggerakkan wajahnya ke atas melihat Raya dengan tatapan yang penuh kesedihan. Ia mengambil gelas itu namun tidak ia minum. Ia hanya meletakkan segelas air putih tersebut tepat di meja kaca yang berada di depannya.


Setelahnya ia menarik tangan kanan Raya, sampai membuat tubuh wanita ini bergerak dan ...


Natan dengan sangat erat memeluk tubuh mungil Raya, dengan lembut dan suara sedikit berat pria itu berkata, “Tolong biarkan saya memelukmu seperti ini beberapa menit saja. Saya hanya perlu mengkondisikan emosi saya agar menjadi lebih baik lagi. Dan tolong jangan mengeluarkan pertanyaan apa pun dulu, karena saya hanya ingin ada seseorang yang mampu membuat saya lebih baik saat ini.”


Ungkapan itu tampak begitu tulus, sampai ketika Natan meletakkan wajahnya dipundak Raya kain yang menempel pada pundak wanita cantik ini basah. Ternyata Natan menangis tanpa suara. Ia tidak ingin dilihat menangis kembali dengan Raya, maka dari itu wajahnya ia sembunyikan dibelakang istri sahnya ini.


Glek!


Raya menelan salivanya. Seketika hatinya pun tampak begitu tersayat akibat sakit yang ia rasakan dulu mengenai Derwin.


‘Pasti sangat sakit yang kini kamu rasakan Tuan. Saat saya menyadari semua hal di dunia ini tidak sesuai dengan keinginan saya dan harapan yang membuat saya kuat juga menyakiti saya, di saat itupula saya sangat ingin lenyap di dunia ini. Saya pikir tidak ada pilihan lain lagi selain meninggalkan dunia selama-lamanya, namun semua itu tidaklah benar kamu harus tetap tegar dan tetap bertahan dengan masalah apa pun yang kamu hadapi. Dikarenakan semuanya akan tetap berjalan, sekalipun kita begitu hancur,’ gumam Raya dalam hatinya seakan memberitahu Natan.


Awalnya tangan Raya terjaga, ia tidak memeluk tubuh suaminya itu. Namun, beberapa detik ia merasakan kehangatan dan tangisan dalam diam Natan semakin menjadi-jadi, sehingga ia membalas pelukan sang suami dengan erat.


Lalu ia pun berucap, “Saya tidak mengatakan saya dapat merasakan apa yang Anda rasakan saat ini. Tapi saya akan mengatakan sepertinya saya bisa merasakan apa yang Anda rasakan kini. Karena saya pernah merasakan hal tersebut juga. Saya hanya berharap, Anda bisa tegar mengadapinya. Karena segala hal yang sudah bersangkut paut terkait cinta dari hati pastinya ada dua kemungkinan, kalau tidak bahagia yah akan berakhir menyedihkan dan menimpulkan rasa sakit yang teramat sakit.”


Natan masih dalam pelukan hangat Raya dengan tangisan dalam diamnya yang begitu menyakitkan.


Bersambung.