
Dunia Raya yang baru saja berwarna kini gelap kembali. Ia terus berdoa dan berharap agar tangan pria yang ia kecup tersadar. Akan tetapi sudah 2 jam berlalu semenjak dirinya mengatakan bahwa dia sangat mencintai Natan, pria itu tak kunjung tersadar juga.
Sampai ada tiga dokter ahli ke ruangan Natan.
“Permisi Nyonya, kami ingin mengecek kembali kondisi Tuan Natan ...,” izin ketiga pria yang mengenakan jas putih rapi itu.
Satunya menyuntikkan beberapa obat ke bagian infus. Dan satunya lagi memeriksa bola mata Natan untuk mengecek apakah fungsi otak sensorik nya masih berfungsi.
Setelah beberapa menit, ketiga pria yang berprofesi sebagai dokter tersebut izin untuk kembali lagi ke ruang masing-masing.
Tidak hanya mengangguk begitu saja, Raya pun bertanya kondisi sang suami bagaimana detik ini.
“Dok, bagaimana kondisi suami saya? Apakah suami saya bisa tersadar dalam waktu beberapa saat ini?” tanya Raya dengan penuh harap sang dokter menjawab iya.
Tampak ekspresi wajah ketiga dokter ahli itu sendu, Raya pun tahu jawaban yang akan terlontar dari mulut sang dokter sebelum dokter tersebut menjawab suatu hal yang membuat harapan wanita cantik ini pupus begitu saja.
“Mohon maaf sebelumnya Nyonya, kami akan terus berusaha untuk kebaikan Tuan Natan. Kami akan berjanji bagaimanapun kami terus berusaha agar Tuan Natan cepat tersadar,” ucap sang dokter, lalu segera meninggalkan ruangan.
Glek!
Raya hanya bisa menelan salivanya. Kepalanya menunduk sembari melamun melihat lantai berwarna putih rumah sakit. Ia tampak begitu sedih, sampai-sampai tetesan air mata itu kembali menetes dan membasahi lantai.
Wanita ini pun menarik napas, seraya berusaha menaikkan wajahnya agar tetap tegar. “Aku harus tetap tenang dan sabar menunggu Natan tersadar. Aku sangat yakin dalam relung hatiku, pria itu akan tersadar!” gumamnya sambil menatap Natan yang berbaring lemah dengan tatapan sendu.
Kaki Raya melangkah berat, ketika ia ingin duduk di samping Natan dan terus memandangi suaminya.
Karena tak mampu lagi untuk menahan rasa kantuk yang sangat luar biasa, sampai kantong mata Raya hitam seperti panda. Matanya begitu berat, dengan cepat ia meletakkan kepalanya di ranjang Natan dengan posisi ia duduk.
Tubuh sangat remuk, hati begitu rapuh, pikiran kacau balau membuat Raya tak tahu harus berbuat apa selain tidur di samping suaminya.
Sampai ia tak sadar, dirinya begitu terlelap tidur dengan posisi seperti itu. Beberapa jam berlalu, tangan Natan bergerak dan ....
Hah!
Tiba-tiba Raya langsung terbangun, ia seperti setengah sadar karena mungkin nyawanya belum kembali ke dalam tubuhnya. Kepalanya sangat sakit, sehingga ia memijat-mijat pelan dahinya tersebut sambil melihat suaminya yang masih tak sadarkan diri.
Hah!
Helaan napas Raya sangat berat, ia pikir Natan sudah tersadar namun nyatanya pria itu masih berbaring begitu lemah. Senja pun mulai tampak, matahari perlahan ingin beristirahat menemui ketenangan.
Karena rumah sakit Kertha Usaha dekat laut, pemandangan senja hari sangat menakjubkan dilihat dari ruangan ini.
Sontak wanita yang memiliki senyuman begitu manis ini pun berucap seorang diri, akan tetapi ia berharap suaminya itu dapat mendengarnya.
“Tuan, apakah kamu masih senang tertidur? Tuan, cobalah membuka mata Anda sekarang dan lihat sunset yang ada di depan kita begitu indah,” ucap Raya yang melirik ke arah Natan lalu tersenyum paksa karena orang yang sedang diajak bicara masih terlihat begitu lemah.
Wanita ini pun melanjutkan apa yang ingin ia katakan kepada pria yang telah membuat hatinya bergerak itu, seraya memandangi matahari yang sebentar lagi memeluk langit.
“Tuan, apakah kamu tahu harapan terbesar saya saat ini? Saya ingin Anda juga dapat melihat sunset itu, dan saya berharap Anda dapat mendengar apa yang saya harapkan saat ini. Tolong jangan tinggalkan saya di sini sendiri, saya ingin Anda menjadi bagian dari hidup saya.”
Raya tersenyum memandangi matahari yang sudah terbenam begitu saja. Beberapa menit kemudian, ada yang mengetok pintu dari luar.
“Iya, tunggu sebentar,” ucap Raya, lalu dengan cepat ia mengarah ke sumber suara.
Di waktu yang bersamaan, Natan kembali menggerakkan tangannya. Meski wajahnya tak dapat tersenyum lepas, hatinya sudah bisa tersenyum bahwasanya ternyata ia mendengar semua yang digumamkan oleh wanita yang sangat ia cintai itu.
Sebenarnya Natan sudah tersadar, sebelum Raya terbangun dari tidurnya tadi. Akan tetapi Natan memang sengaja berpura-pura masih mengalami koma, agar pria ini tahu seberapa besar wanita itu mengharapkan Natan berada di kehidupannya.
Datanglah Ana dan beberapa pelayan lainnya, ia membawakan makanan dan juga membawakan peralatan mandi untuk Natan.
“Nyonya Raya, kami membawakan peralatan Tuan Natan,” ucap Ana.
Raya menganggukkan kepalanya, “Terima kasih semua, bisa letakkan di sini saja,” perintah Raya menunjukkan Ana dan beberapa pelayan di meja ruangan seperti apartemen ini.
Saat mereka ingin keluar, Ana berbisik, “Raya, perlukah aku membantumu untuk membasuh Tuan Natan?”
Hmm?
Bola mata Raya membesar, ia bingung harus menjawab apa. Masa iya ada wanita lain harus melihat hal sensitif yang dimiliki suaminya itu.
“Atau kamu saja bisa sendiri?” tanya Ana kembali yang sebenarnya sangat khawatir akan temannya itu.
Terlihat Raya sangat berpikir sangat keras, dalaman suaminya harus diganti karena sudah berjam-jam di diemankan saja.
Mau tidak mau, sebagai seorang istri yang sampai saat ini belum pernah disentuh dengan Natan pun harus membuka dan menggantikan dalaman baru untuk sang suami.
Tapi ....
Membayangkan hal itu saja Raya sudah hampir pingsan, tapi kembali lagi dengan keyakinannya jika Natan tidak akan tahu bahwasanya wanita ini akan menggantikan dan menggunakan dalaman kepada sang suami.
Dengan tegas ia memberanikan untuk berpendapat, “Ana, biar aku saja yang membasuh dan mengganti dalaman Tuan Natan.”
Wajah Ana memerah, serasa ia yang akan mengalami apa yang akan di alami Raya berikutnya. Karena Ana tahu persis, jika Raya belum sama sekali pernah di sentuh oleh tuan mudanya itu.
Sudah tidak ada siapa pun di ruangan ini, selain dirinya yang sedang memeras handuk kecil untuk membasuh pria yang masih terbaring tak sadarkan diri.
Begitu tulus Raya merawat suaminya dengan penuh kasih, tidak ada sedikitpun kotoran yang menempel di tubuh suaminya itu.
“Tuan Natan, apakah kamu bisa cepat tersadar? Agar kamu bisa membasuh diri sendiri,” gumam Raya, dengan nada yang bercanda agar dirinya tak menangis lagi melihat ketidaksadaran suaminya.
Raya hanya belum tersadar sejak awal, suaminya terus berusaha agar tetap berbaring lemah agar tak ketahuan.
Sampai tiba saatnya Raya harus mengganti dalaman suaminya itu.
Hah!
Natan hanya bisa menghembuskan napas dari dalam hatinya, padahal ia begitu malu dengan apa yang akan dilihat Raya. Namun, bagaimanapun ia terlihat pasrah dengan semua yang dilakukan oleh istinya tersebut.
Bersambung.