
Benar saja, Natan sudah mempersiapkan batasan berupa bantal yang ditumpuk agar Raya dan dirinya tidak tidur secara berdekatan.
“Ingat apa yang saya ucapkan tadi kepadamu, jangan pikir saya peduli selamanya kepadamu. Saya hanya sedikit terharu terhadap perkataanmu tadi. Saya hanya ingin membalas apa yang kamu pedulikan kepada saya. Dan lagipula saya tidak ingin memiliki hutang budi kepadamu!” ujar Natan dari batasan tempat tidur besar nan empuknya itu.
Raya tidak membalas, ia hanya menggerutu dalam hatinya mengenai pria yang begitu menyebalkan menurutnya tersebut.
‘Ada pria seperti ini! Sangat menyebalkan dan membuat emosi meledup!’
Mereka berdua saling membelakangi punggung masing-masing dan berpikir akan mantan kekasih mereka. Natan memikirkan tabiat yang dilakukan Aurora tadi dan Raya masih memikirkan perilaku yang sudah diperbuat oleh Derwin sedia kala.
Netra mata mereka sama-sama hampir mengeluarkan air mata dan mereka pikir secara berbarengan.
‘Ternyata cinta itu sungguh menyakitkan ya!’
Adanya pengkhianatan dan tidak adanya kesetiaan dalam sebuah hubungan membuat mereka berdua mempredikat cinta itu sangat menyakitkan. Hati seperti remuk berkeping-keping ketika sebuah ketulusan dibalas dengan dusta.
Cinta yang mereka berikan kepada pasangan masing-masing begitu lembut dan tulus, tapi apa yang pasangan mereka berikan? Hanya kepedihan dan rasa sakit yang menyebabkan trauma untuk meletakkan hati kepada seseorang kembali.
Hah!
Helaan napas begitu sesak terdengar begitu jelas diantara Natan dan Raya. Hal ini menyebabkan Natan tersadar jika wanita yang tidur disampingnya itu belum tidur.
“Hey! Apakah kamu sudah tidur?” tanya Natan untuk memastikan Raya.
Seketika mendengar suara pria yang sangat ia benci itu, Raya menutup mulutnya dan tanpa sadar ia menjawab pertanyaan Natan yang seharusnya tidak ia jawab.
“Sudah Tuan.”
Hah!
Natan kembali menghela napas dan ia memukul pelan dahinya, yang selalu dibuat pusing dengan apa yang diperbuat istri sahnya tersebut.
“Jika seseorang yang sudah tidur, dia tidak akan menjawab pertanyaan seseorang yang melontarkan pertanyaan kepadanya!” ketus Natan.
Ia pun menggelengkan kepalanya dan kembali berbisik, ‘Apakah aku bisa membuka hatiku? Dan melupakan Aurora begitu saja? Apakah aku perlu membuka hatiku kepada wanita yang sangat menyebalkan ini? Posisku dengannya saat ini sama. Yah! Sama-sama dikhianati oleh seseorang yang sangat kita cintai.’
Mendengar hal itu, Raya memejamkan matanya dan kembali menjawab ucapan Natan, “Tadi saya sudah tidur Tuan, dan sekarang tidur kembali.”
“Raya ...,” panggil Natan untuk pertama kalinya kepada istri sahnya itu.
Huum?
Raya hanya mengeluarkan desis seperti ingin mendengar lanjutan dari pertanyaan Natan lebih lanjut. Mereka masih berada dalam posisi masing-masing, dan tidak saling tatap. Wanita ini bertanya dalam hati, ‘Tumben sekali Tuan Natan memanggilku dengan menyebutkan nama depanku.’
“Apakah kamu masih mencintai mantan kekasihmu itu?” tanya Natan dengan suara berat.
Deg!
Semua hal itu hanya Natan yang mengetahui jawabannya. Karena hati Natan begitu hancur dan dia tidak tahu jawaban apa yang ia butuhkan saat ini.
Sontak pertanyaan Natan membuat tanda tanya besar bagi seorang wanita yang jelas-jelas masih memikirkan sang mantan, meskipun ia tidak berharap akan bisa bersama lagi dengan Derwin. Karena ia memang sedang berusaha ikhlas menghadapi masalah asmara yang dia hadapi saat ini.
“Kenapa Anda menanyakan hal yang tidak penting seperti itu, Tuan?”
“Tidak penting katamu? Pertanyaan itu adalah penting bagi saya. Jika saya sudah bertanya, saya membutuhkan jawaban darimu. Saya tidak butuh pertanyaan balik darimu!” tegas Natan yang membalikkan tubuhnya mengarah ke sisi Raya.
Wanita yang telah mengenakan baju tidur dan celana panjang ini pun juga mengganti posisi tubuhnya. Kini mereka saling berhadapan, akan tetapi masih belum bisa melihat wajah antara lain karena terbatas bantal yang ditumpuk Natan tadi.
Sebelum menjawab Raya menghela napas dan ia memejamkan matanya. Merasa sudah tenang, ia pun menjawab. Karena setiap kali ia mengingat Derwin menghina harga dirinya di cafe tempat mereka memutuskan hubungan, hatinya benar-benar rapuh dan sangat sakit.
“Saya adalah wanita yang sangat bodoh Tuan. Karena saya mencintai secara tulus pria yang sama sekali tidak mengganggap saya ada. Jika Anda menanyakan hal terkait apakah saya masih mencintai mantan saya? Saya akan menjawab saya sedang berusaha untuk memudarkan rasa cinta saya kepadanya.”
Natan terdiam, ia menerka jawaban dari istri sahnya itu. Raut wajahnya berubah menjadi sendu.
‘Benar katamu, kita tidak akan bisa memberhetikan secara cepat rasa yang kita miliki kepada seseorang yang sangat kita cintai. Hanya waktu yang bisa menjawab semuanya. Cinta akan pudar untuk seseorang yang tidak pantas mendapatkan cintai itu,’ gumamnya dalam hati.
Namun, bukan Natan namanya jika ia tidak berusaha untuk membuat Raya merasa ingin memukulnya saat ini juga.
“Ohh, baguslah kamu mengakui bahwa dirimu itu bodoh! Tentu saja kamu adalah wanita bodoh. Untuk apa mencintai pria yang jelas-jelas tidak menginginkanmu! Sudahlah jangan mengajak saya bicara lagi. Saya ingin istirahat!” ketusnya dan mengubah posisi tubuhnya memberikan punggung ke arah Raya.
Ucapan Natan membuat Raya terdiam. Dia tidak menjawab dan hal ini membuat Natan merasa aneh, mengapa Raya tidak menanggapi apa yang sudah dia lontarkan tadi.
‘Apakah dia merasa tersinggung dengan kalimat yang terlontar dari mulutku tadi? Tapi jelas-jelas dia sudah mengakui bahwa dirinya bodoh. Hmm, aku perlu bertanya kembali kepadanya,’ desisnya dalam hati.
UHUM!
Natan sengaja pura-pura seperti batuk, dan dia berusaha mendengar napas Raya yang dia harap tembus dari pembatas dibuatnya tadi.
Namun, Natan rasa istri sahnya itu masih belum bergeming dan tidak terdengar suara bergerakannya. Manik matanya pun menyempit dan karena penasaran ia tidak sabar untuk melihat langsung Raya.
Ia pun beranjak dan kini dia duduk, lalu menoleh ke arah Raya. Ternyata Raya memang sengaja terdiam, terlihat butiran bening dari matanya membasahi bantal Natan.
Mereka tidak saling berucap, hanya saja mata mereka beradu cukup lama. Dan hal ini membuat Natan tak mampu untuk menatap lama-lama manik mata indah wanita cantik yang ada di depannya itu. Langsung saja Natan menghindari tatapan tajamnya itu.
“Tolong jangan menatap saya seakan kamu menginginkan belas kasihan dari saya!” celetuk Natan seraya menutupi mulutnya.
“Tuan, bisakah saya meminta bantuan kepada Anda? Besok adalah hari H pernikahan Derwin dan Sarah. Apakah Anda bisa mengantar saya kesana?” Sebenarnya sejak tadi sebelum Natan pulang ke rumah, hal ini yang sangat dipikirkan oleh Raya.
Dan sebenarnya juga ia tidak ingin datang kepernikahan sang mantan. Akan tetapi Derwin terus menghubungi Raya, ia hanya meminta wanita yang dulu menjadi pasangannya itu untuk datang. Mau tidak mau, karena ingin mendoakan hal baik untuk kedua orang yang di sayangi dulu, Raya pun mengiyakan apa yang diinginkan sang mantan kekasih.
Namun, pertanyaan Raya membuat Natan menelisik dan kembali menatapnya dengan wajah yang dingin. Akankah Natan mengabulkan permintaan sang istri sah?
Bersambung.