
Natan mendengar dengan detail segala penjelasan dari anak buah yang sangat dia percayai itu.
Huum! “Iya, apa yang kamu tahu lagi Daniel? Siapa mantan pacar dari Derwin?” tanya Natan sembari memasuki mobilnya.
Dengan tangan kanan yang memegangi setir dan tangan kiri masih mendengar apa yang dijelaskan oleh anak buahnya itu, tampaknya Natan sedang tidak fokus.
Di tengah jalan raya yang dibilang cukup ramai, karena malam ini adalah puncak di mana orang-orang pada menikmati weekend.
Disamping Raya hanya bisa diam, dan beberapa kali melirik Natan karena pria itu yang menatap dirinya terlebih dulu.
“Siapa yang kamu bilang?!” teriak Natan dengan ponsel yang masih ia genggam erat itu. Entah apa yang sebenarnya Natan dan Daniel bicarakan.
Meski terlihat begitu serius, Raya tampaknya tidak peduli karena menurut wanita ini Natan memiliki kesibukan yang tiada tara. Walaupun waktu diparkiran dia sempat sedikit terkejut karena Natan menyebut nama mantan pacarnya, tapi Raya bukanlah wanita yang bodoh karena banyak orang memiliki nama Derwin bukan hanya mantan pacarnya saja.
Raya menikmati sepanjang jalan yang diwarna lampu-lampu jalanan yang begitu indah. Ia ingat bayangan sang ibunda dulu, ketika malam minggu ia akan sengaja tidak mengambil lembur agar bisa menemani wanita yang ia anggap bidadari tanpa sayap itu.
Berbagi es krim coklat, atau menyuapi kue yang terbuat dari tepung beras begitu nikmat. Entah mengapa tetesan air matanya mengalir sedikit, lalu ia dengan cepat mengusapnya.
Namun, beberapa detik kemudian pada saat Natan tidak fokus melihat ke depan pada saat menyetir karena hpnya terjatuh ke bawah.
“Tuan, awas ada orang di depan Anda!” teriak kencang Raya habis di dalam mobil, dengan cepat Natan menginjak pedal rem dengan kuat.
Mereka saling tatap, dan tanpa perlu mendengar aba-aba dari Natan, wanita yang memiliki kepedulian besar itu langsung keluar.
“Hey, tunggu saya!” pinta Natan yang segera menyusul istri sahnya itu.
“Astaga, semoga bapak itu tidak apa-apa,” gumam Raya dengan memegangi dadanya yang masih tampak begitu terkejut akan kejadian tadi.
Pria setengah baya sudah tersungkur di dinginnya aspal jalan raya besar itu, tapi Raya tidak bisa jelas melihat wajah pria yang masih diam itu.
Tampaknya pria tersebut tidak apa-apa, ia mungkin hanya terkejut akan layu mobil sport Natan.
“Pak, Anda tidak apa-apa maafkan saya karena ...,” ucap Raya terhenti seketika, pada saat pria setengah baya itu menoleh ke arah dirinya.
Ia bungkam tak percaya, di saat ini ia harus bertemu dengan pria yang tega menjualnya tanpa perasaan sama sekali. Namun, meskipun begitu Raya tetep menghormati pria yang sangat dicintai almarhum ibunya tersebut.
Dengan hormat ia membungkukkan tubuh dan sembari mengulurkan tangan untuk membantu sang ayah bangun. “Ayah ....”
Tampak sumringah wajah pria yang tega menjual putri sambungnya ini. “Raya, kamu apa kabar Nak?”
Natan yang ada di samping pria itu hanya diam, dan ia terlihat bingung akan sambutan dari pria yang bermau alkohol itu.
“Ayah, apakah Ayah sedang mabuk? Ayah harus menjaga kesehatan Ayah saat ini, karena Raya sudah tidak bisa menemani Ayah lagi,” ucap lembut Raya yang menatap ayah sambungnya itu dengan simpati karena penampilan Arif begitu memprihatinkan. Baju compang-camping, rambut acak-acakkan, dan wajah begitu lusuh.
“Nak, apakah kamu memilik uang? Ayah sangat memerlukannya karena Ayah baru saja kalah judi dan semua uang Ayah habis begitu banyak,” ujar Arif yang tidak memiliki malu sama sekali.
“Ayah, maafkan Raya Yah. Ayah tahu kan saat ini Raya sudah tidak bekerja, dan semua tabungan Raya sudah Ayah ambil juga. Jadi Raya tidak mempunyai uang sepersen pun Yah,” jawab Raya dengan suara yang lembut. Karena ia ingin memberikan uang, tapi dia juga tidak memiliki uang sedikitpun.
“Alah! Kamu mau ngeyel ya, kamu mau jadi anak durhaka hah! Karena tidak mau menuruti apa yang dipinta oleh orang tuamu?!” teriak Arif kepada Raya hal ini membuat Natan mendelik dan terkejut.
Natan pun mendekat dan ia mencoba melindungi wanita yang wajahnya sedikit ketakutan itu. “Apakah telinga Anda berfungsi dengan baik? Apakah Anda tidak bisa mendengar yang dikatakan dia tadi? Kenapa Anda memaksa wanita ini memberikan uang kepada Anda!” tegas Natan.
Hal ini membuat Arif naik pitam, ia tidak mengetahui bahwa yang diajak bicaranya saat ini adalah putra tunggal dari Wiguna Moise, seseorang yang sangat dia takuti karena kekuasaan yang dimiliki pria itu.
“Hey, anak muda kamu siapa hah? Tidak perlu ikut campur tentang masalahku dengan putriku ya!” teriak Arif begitu brutal.
Raya tahu, jika sang ayah mabuk pasti akan melakukan tindakan yang diluar nalar. Ia mencoba berbicara baik-baik kembali.
“Maafkan Raya, Yah. Tolong jangan berkata seperti itu dengan pria ini,” ujar Raya seraya melirik Natan sebentar lalu ia kembali menoleh ke arah Arif.
Hmm!
Dalam hati Natan menilai Raya, ‘Apakah wanita ini berusaha untuk melindungiku?’
“Apa! Kamu sekarang sudah lancang ya Raya, kamu berusaha mempermalukan ayahmu di depan pria ini hah? Memang siapa pria ini?” tanya Arif seraya melotot dan menunjuk ke arah Natan.
“Dia adalah ...,” perkataan Raya tak dapat dilanjutkan karena bukannya dia tidak mengakui bahwa Natan adalah suaminya sekarang. Ia hanya tidak ingin, jika Arif tahu Natan adalah pewaris tunggal Moise, pria licik itu akan berusaha mengerus harta Natan sampai tak tersisa yang akan dia gunakan untuk main wanita, judi, dan mabuk.
Sedangkan Natan menelisik bola mata Raya yang sudah berkaca-kaca, wanita ini tampak kebingungan dan itu yang membuat Natan terdiam karena dia juga ingin tahu tentang apa yang akan dikatakan Raya mengenai dirinya.
“Cepat jawab pertanyaanku, dasar anak yang tidak berguna!” Tangan Arif begitu cepat mendarat ke kepala Raya, sehingga ia hampir tersungkur ke aspal.
Sontak hal itu membuat Natan tak terima istri sahnya diperlakukan seperti itu. Dengan cepat ia menghantam pipi Arif tanpa pikir panjang.
Buuk!
Darah tersumbar dari mulut kotor Arif, dan wajah pria setengah baya itu pun memerah.
“Apakah kau adalah seorang pria? Dan apakah seorang yang pantas disebut ayah hah?” teriak Natan kepada Arif yang berusaha mengusap darah yang keluar dari hidungnya itu.
Dengan cepat Raya segera menghentikan apa yang dilakukan oleh Natan. “Tuan saya mohon, tolong jangan sakiti ayah saya,” pinta Raya yang tidak masuk akal.
“Hah? Apa katamu? Kamu memintaku untuk tidak menyakiti seseorang yang sudah menyakitimu?” heran Natan.
Kepala Natan pusing dan ia memutuskan untuk meninggalkan Arif segera. Sebelum ia meninggalakan pria yang diyakini ayah Raya, pria tampan ini membuang sejumlah uang dihadapan Arif dan mendekatkan mulutnya ke samping telinga Arif, ia pun memberikan peringatan, “Jangan ganggu Raya lagi, karena dia sudah menjadi tanggung jawabku sekarang!”
Bersambung.