
Bola mata mereka berdua saling berpandangan, dengan mengkedikkan matanya Natan semakin tidak bisa melakukan apa pun selain mempercepat laju mobil mewahnya tersebut.
Saat ini Raya tidak akan protes untuk menyuruh sang suami memelankan kecepatan mobil tersebut, tapi ia hanya ingin diturunkan di pinggir jalan karena ia pikir tidak ingin mengganggu Natan dan kekasihnya.
“Tuan Natan biarkan saya turun dipinggir jalan saja karena saya tidak ingin mengganggu waktu Anda dengan kekasih Anda,” pinta Raya kepada Natan dengan raut wajah memelas.
Tidak ada kata sepatah kata pun terlontar dari mulut tipis pria tampan itu, hanya ada wajah panik yang tampak dengan jelas. Entah apa yang dipikirkan Natan saat ini, hanya dia lah yang mengetahui belenggu dalam hatinya.
Ada dua kemungkinan, ia tidak ingin Aurora kenapa-napa atau dia tidak ingin Raya terlibat dalam masalah ini. Dikarenakan dengan jelas semakin kemari Natan bertingkah aneh karena istri sahnya itu.
“Tuan, saya ...,” ucap Raya kembali, namun Natan dengan cepat melirik tatapan mata yang sangat mematikan. Hal ini membuat bibir Raya dilipat dan tidak mengucapkan sepatah kata lagi, karena ia tahu tatapan Natan mengisyaratkan dirinya agar tetap diam dan tenang.
Hah!
Raya hanya bisa menghembuskan napas, dia pun tidak tahu bagaimana nasibnya nanti ketika bertemu dengan kekasih Natan yang sangat dicintai suaminya itu.
Beberapa menit kemudian dengan dada yang terus berdetak karena kecepatan laju mobil Natan yang hampir membuat nyawa mereka melayang dengan cuma-cuma, akhirnya mereka pun sampai di sebuah apartemen mewah milik keluarga Moise di pusat kota ini.
Dengan cepat Natan bergegas untuk turun dari mobil, tapi berbeda dengan Raya yang hanya diam seperti patung tak bergerak sama sekali.
Hal ini membuat Natan melirik ke arah Raya. “Kenapa kamu tidak turun?”
Raya pun menyambangi untuk menoleh ke arah suami tampannya itu. “Apakah saya ikut turun Tuan? Bukannya Tuan ingin menemui kekasih Anda?”
“Cepat turun ikut saya ke kamar Aurora!” suruh Natan dengan nada tinggi.
Langkah kaki pria jenjang itu tidak bisa diikuti oleh Raya, hal ini membuat wanita polos dan lugu itu harus berlari dengan cepat.
Natan yang sejak tadi sudah berada di depan pintu lift menunggu Raya dengan wajah kesalnya. “Jalanmu seperti siput! Cepat lah.”
“Baik Tuan,” ucap Raya pelan, namun dalam hatinya menjawab ‘Apakah dia bisa berbicara tanpa menggunakan nada tinggi. Kakiku sangat pendek jauh berbeda dari kakinya, dan bagaimana bisa aku mengimbangi jalannya!’
Hosh! Hosh!
Raya sangat lelah harus mengejar Natan sejak tadi, sampai mereka ada di lift yang sama dengan Raya berada tepat di belakang pria itu. Ia melihat dengan detail dan jelas, dari belakang Natan memiliki sisi begitu sempurna tapi jauh beda dengan sikap dan berkataannya yang selalu membuat Raya begitu kesal dan sakit.
Di samping itu Raya berpikir kenapa Natan harus mengajak dirinya untuk menemui Aurora bukankan hal ini akan menimbulkan masalah besar lagi. Karena mendengar ucapan Aurora yang akan membuat dirinya celaka jika Natan tidak menemuinya sekarang juga.
Natan masih diam tidak berdesis sedikitpun.
Ting!
Bunyi suara lift yang menandakan mereka berdua harus keluar.
Seperti biasa, Natan dengan cepat melangkahkan kakinya tanpa melihat istrinya yang susah payah berjalan dilorong apartemen.
“Tuan tunggu saya,” pinta Raya yang tidak kuat lagi untuk mengejar Natan.
Dubraak!
Aawwgh!
Desis Raya dengan memegangi kepalanya yang terbentur punggung sang suami. ‘Kenapa tiba-tiba berhenti di sini?’ ujar Raya dalam hati sambil mengelus-elus pelepisnya yang terasa sakit akibat punggung tegak Natan.
“Ada apa Tuan kenapa Anda berhenti di tengah jalan begini?” tanya Raya begitu heran.
Natan masih berdiri membelakangi Raya, entah sejak tadi apa yang ia pikirkan. Apakah ia sedang memikirkan bagaimana cara membujuk kekasih yang seperti anak kecil itu agar tidak melakukan tindakan gegabah? Atau bagaimana cara mengatakan perasaan yang membuat ia terbelenggu karena wanita pemilik sikap sederhana ini seperti Raya?
Jawabannya hanya Natan lah yang tahu.
Biasanya Natan akan murka jika Raya bertingkah ceroboh, tapi dengan pelan ia menoleh istrinya dengan mata yang begitu sayu.
Melihat suaminya tampak begitu aneh, Raya semakin takut. ‘Pria ini benar-benar aneh, memang apa yang dia mau saat ini? Apakah aku harus pergi dari sini dan membiarkan mereka berdua menyelesaikan masalah mereka masing-masing?’ kata Raya dalam hatinya.
Natan masih menatap dengan begitu sendu mata Raya, seakan ia ingin mengucapkan banyak kalimat yang dilontarkan tapi tampaknya begitu sulit.
‘Kenapa hatiku sakit? Apa yang harus aku lakukan saat ini? Aku tidak mengerti dengan perasaan yang sedang aku rasakan? Aku sudah berjanji kepada Aurora akan menikahinya beberapa bulan lagi, tapi kenapa perasaanku seakan berubah? Kenapa beberapa hari ini wajah wanita menyebalkan ini selalu terbayang dalam pikiranku? Aku tidak boleh begini, bagaimana pun juga Auroralah yang telah menemaniku beberapa tahun saat aku berada di titik terendah,’ lirih Natan dalam hati.
“Tuan, apakah ada yang ingin Anda sampaikan kepada saya? Sepertinya ada hal yang ingin Anda sampaikan?” tanya Raya sembari memajukan wajahnya, karena ia sangat bingung dengan tatapan pria yang sebelumnya selalu menampakkan kegusaran di wajahnya itu.
Namun bagi Raya kali ini tatapan Natan begitu berbeda, entah lah tatapannya seperti kosong dan pria itu tampak seperti pria menyedihkan sekali.
‘Kenapa dia menatapku dengan tatapan seperti memiliki kesedihan? Apa yang sebenarnya ia pikirkan? Aku harus segera pergi dari sini sebelum ia kembali murka layaknya macam!’ bisik Raya sembari menatap Natan.
“Tuan sepertinya Anda sedang tidak baik-baik saja, dan mungkin Anda harus menyelesaikan masalah Anda dan kekasih Anda dengan baik. Lagipula saya tidak ada hubungannya di sini, sebaiknya saya pergi saja.”
“Siapa yang mengatakan jika kamu tidak ada hubungannya hah? Kenapa kamu harus datang ketika saya ingin berkomitmen dengan wanita yang telah membantu saya disaat saya terpuruk! Siapa kamu? Kenapa kamu membuat saya begini!” teriak Natan.
Sontak kalimat yang terlontar dari suami sah Raya membuat wanita ini tambah bingung. Dan ia tidak tahu harus menjawab apa. Raya hanya mengkerutkan dahinya karena kepalanya hampir pecah akibat Natan yang semakin aneh.
“Saya ingin kamu tetap di sini!” Natan kembali berteriak kepada Raya.
Ada suara ribut, membuat Aurora cepat-cepat membuka pintu dan ia yakin suara itu adalah milik sang kekasih.
Glek!
Bola matanya membesar ia begitu terkejut karena Natan tidak sendiri tapi bersama gadis kampung yang sangat ia benci.
“Kenapa kamu mengajak gadis ****** ini ke apartemenku, Sayang!”
Langsung saja Natan dan Raya juga terkejut mereka segera menoleh ke arah Aurora.
Bersambung.