MARRIED WITH MR. COOL

MARRIED WITH MR. COOL
PERTENGKARAN KECIL



Memang tidak ada yang mengerti dengan jalan pikir yang dimiliki oleh Natan. Bahkan dia sendiri saat ini tampak begitu bingung dengan apa yang dirasa kepada wanita sederhana di depannya ini.


Manik mata mereka saling beradu, dengan ekpresi yang begitu berbeda. Natan ekspresinya begitu dingin dan mendatar, sedangkan Raya begitu terkejut dan ia kini ingin menjauhkan pria yang memiliki sikap sesuka hati itu.


“Ti ... tidak Tuan, saya hanya ingin mengucapkan terima kasih kepada Anda karena Anda sudah membantu saya tadi,” ucap Raya yang sedikit gagap karena ia masih terngiang dengan perkataan Natan yang ingin mengajak dirinya tidur bersama.


Alis kanan Natan meninggi dan ia menelisikkan matanya yang tajam itu ke arah istri sahnya. “Memang saya membantu apa? Saya tidak melakukan apa pun kepadamu!” 


Natan sengaja berpura-pura karena ia ingin Raya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, dan ada hubungan apa Raya dengan pria yang dilihatnya tadi. Walaupun Natan sudah tahu bahwa Raya adalah mantan dari Derwin Satria, seorang pria yang sangat ambisius untuk membangkitkan perusahaannya yang hampir bangkrut itu.


Hmm!


Raya terdiam, sebenarnya ia tidak ingin membahas hal ini. Dikarenakan semua terkait mantan pacar yang sangat membuatnya kecewa dan sakit itu.


“Terima kasih karena Tuan sudah membantu saya terlepas dari seseorang pria tadi,” jawab Raya secara terpaksa. Karena wajah Natan semakin gusar dan ia tidak akan berhenti bertanya sebelum wanita ini menjawab apa yang ditanyakannya.


“Memang siapa pria itu? Dan saya tadi melihat kamu membawa sebuah undangan pernikahan juga,” ungkap Natan yang terus menyelidiki Raya sampai tuntas, setuntas-tuntasnya!


Hmm!


Raya melayangkan pandangannya, ia bingung harus menjawab jujur atau ia harus membuat sebuah alasan agar Natan tidak lagi bertanya-tanya mengenai hal ini.


Namun, Raya memilih untuk jujur meski ia tahu mungkin saja Natan akan marah besar dan memberitahu papahnya agar wanita itu segera diusir.


“Dia adalah seseorang yang sangat saya sayangi secara tulus. Tapi perasaan saya saja tidak cukup untuk membuktikan hal itu. Dan ia memilih untuk menikah dengan seseorang yang dia pilih sendiri,” ujar Raya sembari tersenyum, tapi hatinya begitu hancur mengatakan hal ini.


Hah!


Natan menghela napas, lalu ia berceletuk berucap, “Jangan berpura-pura menjadi sosok yang begitu kuat deh. Menangislah jika kamu ingin menangis, bagaimana mungkin seseorang yang kamu cintai bisa memilih wanita lain untuk dinikahi!”


Raya yang tadinya menunduk mengangkat wajahnya, dan menatap manik mata berwarna coklat milik Natan begitu sendu. Entah beberapa detik ia melihat wajah pewaris tunggal itu, tetesan air mata mengalir dengan deras.


“Iya, semua yang Anda katakan tadi benar! Tidak akan ada seseorang yang mampu mengikhlaskan seseorang yang dia cintai memilih orang lain. Apalagi orang yang dicintainya itu memilih mengkhianat!” Emosi Raya benar-benar tidak dapat terkontrol saat ini.


Baru pertama kali wanita ini berani berteriak kepada Natan, dengan wajah yang begitu kacau. Tetesan mata tak henti-henti mengalir. Jika diibaratkan saat inilah kesabaran Raya habis seperti layaknya air pendungan yang meluap.


Sampai-sampai kaki wanita ini gemetaran dan ia menggenggam tanggannya begitu erat.


Sontak hal ini membuat Natan diam terpaku. Ia tidak bisa melakukan apa pun, dan ia sangat menyesal dengan pertanyaannya tadi sampai membuat wanita yang dihadapannya ini menangis begitu sendu.


Ia mencoba mendekat dan memberikan pelukan hangat, akan tetap dia harus memikirkan dua kali lipat. Baru saja ingin merangkul Raya, pria ini kembali lagi ke posisi semula.


“Hmm, janganlah menangis,” pinta Natan singkat tak ingin melihat seorang wanita menangis.


Namun, tidak seperti biasanya Raya yang akan menuruti ketika diminta untuk melakukan apa pun. Kali ini, Raya berani melawan Natan. Entah mengapa wajah Natan ia anggap sebagai Derwin yang sangat ingin diberikan pelajaran, sekadar meluapkan rasa sakit yang sedang merangsang di hatinya saat ini.


“Kata Anda, saya harus menangis saat ini juga. Tapi kenapa Anda meminta saya tidak menangis ketika saya menuruti apa yang Anda inginkan, hah? Sebenarnya apa yang Anda mau dan apakah semua pria sangat menyebalkan seperti ini?”


Hmm!


“Maksudmu bagaimana? Tidak semua pria menyebalkan seperti yang kamu pikirkan ya? Kamu saja yang mungkin menyebalkan!” elak Natan yang tidak menerima apa yang dilontarakan Raya tadi.


Namanya perasaan kacau, dan ingin meluapkan rasa kecewanya. Raya juga tidak berpikir ingin mengatakan hal itu, akan tetapi entah mengapa kalimat tersebut terlontar dengan mudah dari mulut tipis wanita baik ini.


“Diamlah Tuan, saya sedang tidak ingin berbicara dengan Anda!” teriak Raya dan ia membalikkan tubuhnya seraya melangkah ke sofa untuk merebahkan tubuhnya yang begitu remuk itu.


Hmm!


Ada rasa kesal dan ada rasa senang juga bercampur menjadi satu mengenai Raya. ‘Baru kali ada orang yang sangat berani kepadaku. Wah, wanita menyebalkan itu semakin hari semakin membuatku begitu penasaran kepadanya,’ gumam pria tampan ini dalam hatinya, sambil masih menatap jelas punggung istri sahnya itu.


Natan memutuskan untuk tidak melanjutkan bertengkaran kecil itu dengan Raya. Ia juga tahu diri, ia hanya tidak ingin membuat wanita yang kini telah menjadi istri sahnya itu semakin sedih. Kendatipun hal tersebut bukan tanggung jawabnya, dan sebenarnya ia tidak peduli bilamana Raya sedang merasakan kesedihan yang begitu mendalam.


Karena ia masih berprinsip teguh, jika Raya adalah wanita yang jahat dan ingin merencanakan hal jahat untuk menjatuhkan keluarga Moise ini.


“Aku tidak peduli sama sekali, entah dia nangis atau tidak!” ucapnya pelan bergumam pada diri sendiri, seraya membaca buku sebelum tidur.


Namun, seketika dia terdiam dan netra matanya seakan ingin melirik wanita yang ada di sofa itu. Ia penasaran apa yang dilakukan Raya saat ini.


Samar-samar dia melihat Raya sedang menundukkan kepala, sepertinya wanita itu sedang membaca sesuatu. Karena tidak dapat menjangkau secara jelas, pria ini pun berniat untuk berpura-pura ke kamar mandi, sehingga ia dapat memastikan apa yang sedang wanita itu baca.


Mata Raya mengembang. Tangisan yang sejak tadi mengalir, kini tak menetes. Seakan air mata wanita ini sudah habis dan ia tidak bisa menangis lagi.


Ia memegangi kartu undangan yang diberikan Derwin tadi kepada Raya. Ia membaca kalimat demi kalimat yang tercantum indah di kartu undangan tersebut. 


Raya berpikir, tidak pantas dirinya berteriak seperti tadi kepada Natan. Karena bukan Natanlah yang dia benci. Setelah hatinya sedikit tenang, ia benar-benar ingin meminta maaf.


Tap! Tap!


Raya mendengar langkah kaki yang berjalan mendekatinya. Raya sengaja tidak menoleh ke arah Natan, yang ada di depannya karena sedang melintasi untuk ke kamar mandi.


Hmm! ‘Ternyata dia sedang membaca kartu undanganan pernikahan mantan kekasihnya itu!’ gerutu Natan dalam hatinya.


Mereka memutuskan tidak saling berbicara. Dan Natan seakan acuh dengan apa yang dilakukan Raya, meski ia ingin memastikan apa yang sedang dilakukan wanita itu.


Beberapa menit kemudian Natan keluar dari kamar mandi.


“Astaga, kamu membuat saya terkejut!” teriaknya seketika melihat Raya berdiri hanya terdiam tepat di depan kamar mandi.


“Tuan maafkan perkataan saya tadi. Tak seharusnya saya berteriak kepada Anda ...,” ucap Raya begitu tulus sembari menundukkan kepalanya dan membungkukkan tubuhnya begitu hormat kepada Natan.


Seketika pria ini langsung senyum sumringah, tapi langsung tersadar dan kembali memasang wajah dingin dan datar.


“Saya tidak menerima permintamaafanmu! Kecuali kamu menuruti apa yang saya pinta,” ujar Natan yang memiliki strategi baru. Entah strategi untuk membuat Raya semakin sakit atau sebaliknya.


Bersambung.