MARRIED WITH MR. COOL

MARRIED WITH MR. COOL
SIMPATI



Wajah Raya berubah bak udang rebus, begitu merah dan ia sangat terkejut dengan kedatangan ayah mertuanya yang sangat tiba-tiba datang.


Saat ini Wiguna sedang melihat Raya yang berada di atas tubuh putranya. Natan yang masih terlelap, belum tersadar jika yang dipeluknya kini adalah istri sahnya bukanlah bantal guling. Dan ia masih melayang dialam mimpi indahnya itu. Entah ia sedang memimpikan siapa, sampai-sampai ia bergumam mengatakan cintanya kepada seseorang.


Raya masih terlihat kelimpungan, ingin rasanya ia menendang Natan dan memberitahu bahwa ayah dari suaminya itu sedang melihat mereka berdua.


Berbeda dengan Raya yang sangat jelas terlihat terkejut, ketika melihat adegan romatis yang dilakukan oleh putra dan mantunya itu Wiguna langsung sumringah dan ia berkata, “Wah, maafkan Papah karena telah mengganggu kalian berdua.”


Dengan cepat Wiguna langsung membalikkan badannya, seakan ingin memberikan ruang beberapa saat lagi kepada kedua anak yang sangat ia kasihi itu.


Namun, tanpa menunggu Raya menepis dan berusaha melepaskan tubuhnya yang dipeluk erat oleh Natan. “Tuan! Cepat bangun, Papah Anda kini sedang diluar ruangan!” teriak Raya sembari menggoyangkan tubuh Natan yang terlihat masih tak sadarkan diri. Dan berusaha untuk membangunkan suami sahnya itu.


Natan sangat sulit terbangun, karena kemarin malam ia memutuskan untuk meminum obat tidur. Pikirannya benar-benar sangat kacau terkait Auora dan juga Raya, sehingga ia tidak bisa tidur.


“Kenapa pria ini tidurnya seperti kerbau! Dasar!” gumam Raya.


Ia benar-benar pangling, tidak tahu harus berbuat apa sampai ia mencubit lengan Natan yang memiliki kulit sangat bersih dan akhirnya memerah.


Aaaww!


Teriakan pria yang nyawanya masih belum berada dalam tubuhnya itu sangat keras. Dengan raut wajah yang sangat kesal dan tampak marah, ia pun beranjak serta terheran mengapa Raya berada di depannya.


“Kenapa kamu di sini? Dan kenapa kamu berani mencubitku?” Natan begitu marah dan nadanya sangat tinggi, sehingga Wiguna yang belum jauh dari ruang kerja itu membalikkan tubuhnya.


“Tuan, bisakah Anda mengecilkan suara Anda? Karena Papa Anda sedang ada di luar,” bisik Raya kepada pria yang rambutnya masih acak-acakan, akan tetapi Natan tetaplah tampan meski dalam situasi apa pun.


Natan segera melayangkan pandangan ke arah luar ruangan ini. Benar saja, Wiguna sedang menuju mendekati mereka karena mendengar teriakan dari Natan yang sangat keras.


“Ada apa Nak? Kenapa kamu berteriak kepada Raya?” tanya Wiguna penasaran.


Manik mata Natan mengembang, ia tidak tahu ada sang ayah sedang berada di dekatnya. Seharusnya ia mampu menekan emosinya itu kepada wanita pilihan sang ayah. Dan kini ia pikir sang ayah pastinya akan memberikan penegasan karena Natan tidak memberlakukan Raya dengan baik.


“Pah? Kenapa Papah di sini? Bukannya kata Papa mau ke luar kota hari ini?” Natan malah bertanya balik kepada pria yang sangat dihormati oleh pria tampan ini.


Hmm!


Bukan rahasia besar lagi, tatapan tajam seakan mencekik leher yang dimiliki Natan ternyata adalah tatapan yang dimiliki Wiguna.


Pria dengan ketampanan paripurna sedari dulu dan sampai saat usianya senja ini pun menatap putra satu-satunya itu, seakan dirinya ingin mengetahui jawaban atas pertanyaannya tadi kepada Natan terlebih dahulu sebelum ia menjawab pertanyaan dari Natan.


Mengetahui hal itu Natan segera membuat alibi, agar dirinya aman terkait teriakan kasar tadi kepada istri sahnya.


Pria berperawakan mempesona ini mengusap-usap wajahnya karena ia masih sangat menggantuk seraya memikirkan alasan tepat untuk memberikan pemahaman kepada sang ayah. Setelahnya ia melirik kembali sang ayah yang wajahnya begitu datar dan terlihat sangat marah.


Sedangkan Raya berusaha juga untuk mendinginkan suasana, agar sang suami dan ayah mertuanya itu tidak bertentangan.


“Tuan Wiguna ...,”


Pria setengah baya itu pun melepaskan tatapan tajamnya ke arah Natan, dan kini melayangkan padangan ke arah sang mantu dengan suara lembutnya. “Raya, sudah saya bilang beberapa kali. Tolong panggil saya dengan sebutan Papa atau Ayah, senyamanmu saja. Anggap saya sebagai ayahmu.”


Huum!


Raya masih belum terbiasa memanggil Wiguna dengan sebutan papa. Dan itu membuatnya sedikit agak kaku.


Mendengar permintaan dari Wiguna, wanita yang memiliki paras cantik natural ini segera menundukkan kepada dan menjawab, “Maafkan saya Pah atas panggilan yang saya sebutkan tadi salah. Saya hanya memberitahu kepada Papa, jika Tuan Natan tadi mengigau. Karena saya bingung ingin melakukan apa kepadanya, saya malah mencubit lengannya. Semua ini bukanlah salah Tuan Natan, sayalah yang salah Pah.”


Suara Raya sangat lembut, membuat Wiguna benar-benar mengingat mendiang istrinya. Wajah setengah baya yang tadinya sedikit kesal ini berubah seketika menjadi hangat kembali.


“Ohh jadi begitu, baiklah Papah mengerti. Tapi Raya, kenapa kamu masih memanggil Natan dengan sebutan Tuan? Apakah kamu tidak ingin memanggilnya SAYANG?” Wiguna mencoba bergurau kepada sang mantu dengan tujuan agar Raya dan Natan memiliki ikatan yang teramat berarti.


Akan tetapi Raya dan Natan seketika saling berpandangan satu sama lain. Dan dengan cepat Natan menjawab, “TIDAK!”


Hah?


Sontak hal itu membuat Wiguna terheran, “Kenapa kamu menjawab ‘tidak’ Natan? Apakah benar kamu masih mencintai kekasih yang jelas-jelas Papa tidak akan pernah menyetujui hubungan kalian itu?”


Sebenarnya Natan ingin menjawab ‘iya’, namun karena dirinya memang sedang berusaha tidak akan jatuh cinta kepada Raya, otomatis ia menjawab TIDAK seakan memberitahu kepada Raya bahwa dirinya tidak akan mudah untuk meletakkan hatinya kepada wanita seperti dia.


Namun, satu kata itu membuat Wiguna geram dan ingin rasanya ia membongkar semua kebusukan yang dilakukan oleh kekasih putranya, yang saat ini sudah menjadi mantan.


Wiguna tidak mengetahui bahwa putranya baru saja memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan kekasihnya tersebut.


“Kenapa Papa mengatakan hal itu?” tanya Natan dengan sedikit ketus, karena ia enggan membahas mengenai Aurora kini.


“Natan, sudah berapa kali Papa mengatakan jika apa yang Papa lakukan untukmu ini adalah kebaikanmu. Papa tidak ingin kamu hidup dengan seorang wanita yang setiap kali mengganti pasangan sesuka hati!” Saatnya Wiguna untuk membuka kartu.


Hal itu masih ditelaah oleh Natan. Karena ia pikir, Aurora melakukan hal tersebut hanya kemarin saja. Tapi nyatanya ...


“Maksud Papa bagaimana?” Natan semakin tidak mengerti.


Dan Wiguna memceritakan apa yang sudah dia lihat sejak lama dan memberikan pemahaman untuk sang putra. Hati Natan benar-benar sakit mendengar apa yang dikatakan ayahnya tersebut. Begitu pula dengan Raya yang merasa simpati kepada pria dingin di dekatnya ini.


Tanpa sadar seperti mengeluarkan emosinya, Natan meneteskan air mata karena sejak lama ia sudah dikhianati oleh wanita yang sangat dicintainya.


Dalam hati Raya bergumam, ‘Apa yang Anda rasakan kini bisa saya rasakan juga Tuan Natan. Pastinya sakit bukan karena dikhianati dengan seseorang yang sangat kita cintai?’


Bersambung.