
Dengan wajah yang sangat gusar sembari masih menarik begitu erat pergelangan tangan Raya, Natan tanpa mengucapkan sepatah kata apa pun berjalan ke parkiran dan ia pun membukakan pintu mobil.
Karena merasa ada yang aneh, Raya melayangkan pandangannya menoleh ke arah belakang. Ia begitu takut ketika ditatap sangat menyeramkan dengan Natan. Segera ia memalingkan padangan.
‘Kenapa dia tampak begitu marah sekali? Apakah aku telah membuat kesalahan dan menyebabkan dia seperti itu?’ celetuk Raya dalam hatinya seraya masuk ke dalam mobil.
Menit berlalu, selama itu Natan masih memandang fokus ke depan tanpa mengeluarkan kata-kata apa pun. Merasa begitu canggung, dan Raya rasa dirinya memiliki suatu kesalahan kepada suami sahnya ini ia pun bertanya, “Tuan? Apakah ada suatu hal yang ingin Anda bicarakan?”
Tidak! Natan masih tidak bergeming sama sekali, matanya berkaca-kaca sepertinya emosinya ia luapkan melalui relung hatinya yang tak dapat ia katakan secara jujur kepada wanita yang duduk di sampingnya ini.
Raya masih menatap Natan, melihat ekspresi wajahnya yang begitu sendu. Terlintas pula seketika ucapan Natan tadi yang mengatakan bahwa Raya kini adalah miliknya seutuhnya! Dari perkataan itu seakan pria tersebut begitu tulus mengungkapkannya dengan ekspresi wajah yang begitu tegas mengarah ke mantan pacar istri sahnya.
Karena Natan tidak menjawab pertanyaan Raya, wanita ini memilih untuk memandang ke arah depan kembali dan ia memutuskan untuk tidak mengeluarkan pertanyaan apa pun. Dikarenakan ia semakin sudah terbiasa dengan perilaku pria yang kini telah menjadi suami sahnya itu.
Tidak bisa dipaksa mengatakan sesuatu, jika ia tidak mengatakannya sendiri.
Namun, seharusnya mereka sudah sampai di rumah. Raya baru tersadar jika arah kediaman Moise bukan kemari melainkan melawan arah. Memangnya Natan mau mengajak Raya kemana pada malam-malam begini?
Raya melirik seraya mengangkat pergelangan tangan kirinya yang terdapat jam tangan. ‘Sudah hampir pukul 10 malam, kenapa Tuan Natan terus melajukan mobilnya? Memang ia ingin mengajakku kemana?’ gumam Raya yang hanya bisa dalam hati, tanpa bertanya kepada sang suami sah secara langsung.
Karena ia juga akan tahu jawabannya sebelum bertanya, pastinya Natan tidak akan menjawab dan hanya terdiam begitu datar.
Akan tetapi, Raya semakin was-was karena Natan melajukan mobil sportnya itu dengan kecepatan yang di atas rata-rata. Sebenarnya apa yang akan dilakukan pria itu? Dan kemana Raya akan di ajak?
Kubil mata Raya mengembang, karena jantung hampir copot ketika Natan memutuskan menginjak pedal gas begitu kuat. Ia tak bisa diam dan ia pun sedikit berteriak dengan ekspresi yang begitu panik, “Tuan! Anda kenapa? Apakah Anda ingin kita menemukan ajal begitu cepat hah?”
Heh!
Bukannya segera menjawab, Natan malah tersenyum begitu tipis tanpa bisa dilihat oleh wanita yang sudah sangat panik itu. Dan ia menjawab dengan ketus, “Kamu diam saja, sebentar lagi kita akan sampai!”
“Sampai? Sampai kemana maksud Anda? Sampai menuju ke alam baka hah?” elak Raya dengan wajah yang masih terjaga sangat panik dan sedikit cemas, karena laju mobil Natan sangat cepat apalagi pria itu sangat gesit menyalip truck-truck malam dan kendaraan besar yang sedang melaju di jalan besar ini.
Hmm!
Natan malah mendesis dan ia melirik dengan sorot mata yang tajam.
Sontak hal itu membuat Raya semakin geram, “Kenapa Anda malah menatap saya? Tolong fokus ke depan Tuan. Apakah Anda ingin kita mati secara sia-sia berdua hah?”
Ekspresi wajah Natan memang tidak bisa diduga sama sekali, setelah mendengar lontaran kata dari mulut istrinya malah pria itu tersenyum. Entahlah apa yang sedang ia pikirkan saat ini? Katanya yang rumit itu adalah pikiran dan berbuatan wanita, tapi mengapa seorang pria seperti Natan pikirannya sangat rumit sekali!
“Saya tidak mau ikut dengan Anda ke alam baka! Intinya saya masih ingin hidup dan menjalankan kehidupan dengan lebih baik lagi!” jawab tegas Raya.
Mobil sport Natan pun mengantar mereka kesebuah tempat, yang begitu indah dengan lampu-lampu neon berada dipinggiran pantai.
Kepanikan wajah Raya berangsur memudar, dan ekspresinya berganti dengan decak kagum yang sangat luar biasa.
“Pantai? Kenapa kita kemari Tuan?” Raya menoleh ke arah Natan. Tidak seperti tadi dengan wajah yang sangat datar dan kaku, Natan memberikan senyum tulus kepada Raya lalu dia pun berkata, “Turunlah, nanti kita ketinggalan melihat kapal besar yang akan berlayar.”
Mereka pun akhirnya turun dari mobil. Sebenarnya Natan memutuskan untuk melajukan kecepatan mobilnya karena ingin menunjukkan kepada Raya suatu hal yang begitu indah.
Dan tempat ini juga adalah tempat rahasianya meluapkan segala emosi semenjak dirinya ditinggal oleh sang ibunda.
Ia telah berjanji kepada mendiang ibundannya, bilamana ia telah meletakkan hati kepada seorang wanita begitu tulus ia akan mengajak wanita itu ketempat ini. Bahkan Aurora, yang pernah mengisi hati Natan pun tak pernah diajak untik mengetahui tempat seindah ini.
Benar saja ketika mereka beranjak keluar dan berjalan menyusuri jalan yang terbuat dari kayu kokoh di samping pantai, mereka melihat kapal besar yang sedang berlayar. Natan mengetahui jam operasional kapal yang sering berlayar, tepat pukul 10 malam. Meski niatnya sangat sederhana, ia hanya ingin Raya melihat hal indah menurutnya, namun semua ini adalah hal yang sangat berarti.
“Tuan kapalnya benar-benar indah, tampak bercahaya,” ujar Raya menoleh ke arah samping seraya tersenyum, lalu ia memiringkan kepalanya seakan tahu maksud Natan. Wanita ini pun melanjutkan ucapannya, “Jangan bilang Anda melajukan kecepatan mobil Anda karena ingin menunjukkan kapal indah ini kepada saya?”
Hmm!
Secara otomatis Natan mengangguk, lalu ia baru tersadar bahwa dirinya sudah berprinsip agar tetap menjaga sikapnya kepada Raya. Ia tak ingin wanita yang ada disampingnya ini besar kepala.
Lalu ia mengelak, “Jangan sok tau deh kamu. Saya sangat ingin melihat kapal itu karena saya ingin. Tidak ada sama sekali terlintas untuk menunjukkannya kepadamu. Karena kebetulan kamu dan saya satu mobil, ya mau bagaimana lagi saya harus mengajak kamu kemari!”
Hehe!
Raya menutupi mulutnya itu dan ia tak mampu menahan ketawa pelannya itu, karena melihat ekspresi Natan yang tampak begitu jelas berbohong.
“Sepertinya Anda tidak pandai berbohong Tuan. Saya mengetahui dari ekspresi wajahmu, jika Anda menginginkan saya melihat kapal indah itu juga kan?” Raya mencoba memecahkan suasana, karena wanita ini sangat bosan mendengar ucapan ketus dari suami sahnya itu.
Natan melirik mata Raya seperti sedang mendesaknya untuk mengakui itu. Namun, bukan Natan namanya jika pria ini tidak keras kepala. Ia tetap kekeh menjawab tidak kepada Raya.
Raya hanya menggangguk lalu ia kembali melontarkan pertanyaan, “Tuan, saya ingin bertanya kepada Anda. Apakah permintaan saya yang meminta Anda berperilaku layaknya seorang suami dapat diperpanjang?”
Sontak mendengar pertanyaan dari wanita yang ia sukai membuat debaran jantung seorang kulkas 15 pintu ini hampir copot, lalu manik matanya mengembang karena begitu terkejut akan permintaan sang istri sah.
Bersambung.