
Natan masih menyoroti Raya yang sangat berusaha untuk tampil tegar dan memaksakan tersenyum.
“Jangan menatapku seperti Anda benar-benar simpati kepada saya Tuan. Saya baik-baik saja Tuan, Anda tidak perlu ...,”
Belum saja menyelesaikan ucapannya yang hendak Raya lontarkan. Lengan tangan wanita yang hatinya begitu rapuh itu di tarik dan dengan repleks tangan kekar Natan dengan mudah menggapai tubuh sang istri, tanpa ada yang mengira pria berjas putih bak penggantin pria segera mengecupkan bibirnya pada bibir Raya.
Sontak semua tamu undangan mengarahkan perhatian dan mereka sangat terkejut bercamput takjub dengan pasangan yang sangat serasi ini.
Melebihi penganti yang sedang mengadakan acara pernikahan, tepuk tangan tamu undangan sangat meriah sampai-sampai mereka bersorak, “Waah, ternyata di acara ini ada dua sepasang pengantin yang ingin melihatkan keserasiannya.”
Pok! Pok!
Tepuk tangan tiada henti, semua para tamu yang sangat bahagia melihat keromantisan Natan dan Raya berteriak, “Ayoo Tuan dan Nyonya berdirilah kepanggung, lalu bersandinglah dengan kedua penggantin!”
Gerakan spontan dari Natan membuat Raya sangat terkejut, ia tak pernah menyangka pria yang sangat dingin itu melakukan hal diluar dugaan.
Jantungnya berdetak kencang, dan ia melihat dengan jelas kelopak mata Natan yang tertutup karena ia sangat lembut mengecup bibir Raya.
Napas Natan bergetar sampai kelubuk hatinya sendiri. ‘Apa yang sebenarnya aku lakukan saat ini? Aku tidak tahu pasti apa yang kulakukan. Tapi aku hanya tidak ingin melihat Raya sedih, apalagi ia sampai mengatakan dirinya hancur akibat pria yang telah mengkhianatinya!’ bisik Natan dalam lubuk hatinya terdalam.
Jauh sangat gugup sebenarnya Natan melakukan hal berlebih seperti ini, jantungnya tidak bisa berhenti berdetak, tapi ia tak mampu memberhentikan apa yang dilakukannya saat ini kepada Raya.
Wanita yang hanya mengikuti arahan Natan pun tetap melakukan hal tersebut, dan dalam hatinya bergumam, ‘Apakah ini hanyalah permainanan yang dilakukan oleh Tuan Natan, seakan-akan ia ingin Derwin cemburu melihat apa yang kami lakukan? Tapi entah mengapa ciumannya saat ini jauh berbeda dengan kecupan sebelumnya? Lalu apa yang dipikirkannya?’
Beberapa detik pun berlalu, semua masih berpusat ke arah tamu spesial yang digadang-gadang Derwin, yaitu Natan dan Raya.
Sedangkan mereka berdua sedang menghela napas secara bersamaan, karena detakan jantung mereka tak normal seperti biasanya. Sangat bergetar melebihi rata-rata.
Banyak pasang mata menyoroti mereka dengan pandangan yang malu-malu serta kagum melihat keromantisan Natan terhadap Raya.
Adapun yang berteriak sangat kencang, seorang remaja perempuan muda. “Tuan, saya sangat ingin memiliki suami seperti Anda. Sudah tampan dan sangat sempurna, serta romantis lagi. Saya yakin istri Anda pastinya akan bahagia hidup bersama Anda selamanya!”
Uhuk!
Teriakan remaja muda itu membuat wajah Natan bak tomat rebus, dan ia pun tersendak karena sangat terkejut mendengar hal tersebut. Sedangkan Raya hanya menunduk, wajahnya samar-samar memerah bukan karena teriakan sang remaja putri itu, melainkan ia baru tersadar puluhan pasang mata melihatnya memadukan bibir bersama pria yang dikatakan suaminya itu dikalayak orang ramai.
Hal ini benar-benar membuatnya malu.
Ucapan remaja putri sampai terdengar di telinga Derwin, ia hanya terdiam dan ada benarnya juga yang dikatakan oleh tamu undangannya tersebut. ‘Benar apa yang dikatakan oleh remaja muda itu, tapi mungkin aku tidak akan membiarkan Raya luluh dengan pewaris Moise Grup itu!’ tegasnya dalam hatinya.
Sebenarnya apa yang diinginkan dari seorang Derwin kepada Raya? Tidak bisakah dia melepaskan wanita yang telah disakitinya berbahagia dengan pria lain? Namun kenapa masih saja mengganggu kehidupan wanita yang sangat ia cintai? Dan mengapa secara bersamaan ia juga menanamkan luka di lubuk hati Raya? Apakah dia benar-benar manusia yang sangat egois?
Acara selanjutnya adalah dansa, semua tamu undangan diperbolehkan ikut berdansa bersama-sama di atas panggung yang besar itu.
“Ayoo Tuan dan Nyonya naiklah, untuk berdansa bersama ...,” suruh beberapa tamu undangan kepada Natan dan Raya.
Derwin pun melihat kejadian itu, ia berteriak pelan dengan senyuman palsunya memanggil Natan dan Raya agar ikut memeriahkan acara pernikahannya dengan Sarah.
“Tuan Natan dan Raya, ayo kemarilah dan ikut berdansa. Kesediaan kalian berdua adalah tanda hormat kepada kami yang sedang berbahagia dalam acara pernikahan ini. Karena kalian adalah tamu undangan yang sangat spesial, kami harap ajakan kami bisa kalian terima,” ujar Derwin sembari menatap Raya tak henti-hentinya.
Ketika Derwin memberikan senyum palsunya itu, Sarah pun memperhatikan sang suami. Dalam hatinya berdesis sangat kesal, ‘Sialan kenapa mereka harus hadir di acara pernikahan kami? Awalnya aku mengundang Raya kemari agar dia benar-benar sakit hati dan bisa melepaskan Derwin dariku! Tapi kenapa dia malah mengajak pria yang mengaku sebagai suaminya? Dan mereka sangat bertindak seenaknya, seakan yang menikah adalah mereka bukan kami!’
Natan berkomitmen dengan apa yang sudah ia katakan kepada Raya sebelum memasuki gedung ini. Bagaimanapun ia akan berperilaku layaknya seperti seorang suami yang sangat mencintai istrinya.
Raya masih tetap diam mendengar ajakan dari mantan kekasihnya itu, sedangkan Natan dengan wajah yang kembali datar ketika melihat Derwin menarik pelan pergelangan tangan sang istri, lalu ia pun tersenyum hangat.
“Sayang, apakah kamu ingin berdansa bersamaku?” ujar Natan sangat lembut, sangat jauh berbeda dengan kelagatnya yang sangat menyebalkan.
Kubil mata Raya mengembang dan secara otomatis ia seakan tak dapat menolak ajakan suami yang sangat berbeda seperti biasanya itu.
Raya seperti patung yang hanya bisa menggerakkan kepalanya mengarah ke sang suami.
“Baiklah Sayang, kita akan berdansa bersama-sama di panggung,” nada suara Natan sengaja diperbesar agar Derwin dan Sarah dapat mendengar ucapan lembut pria tersebut.
Lirik mata Natan yang seakan benar-benar memberikan pelajaran kepada kedua manusia yang sudah membuat Raya merasa sakit dan hancur.
Mereka berdua pun beranjak secara bersamaan, dan berjalan beriringan bagaikan seorang raja dan ratu. Semua pasang mata menyoroti cara berjalan pasangan yang dianggap begitu romantis dan serasi ini.
Raya sangat gugup karena kini ia menjadi pusat perhatian untuk puluhan orang yang ada di gedung mewah tersebut. Dan ia tak melihat ternyata ada kabel yang melilit saat dia berjalan, sontak ia tak dapat menjaga keseimbangan tubuhnya ....
Dress putih Raya terangkat, akibat kaki wanita itu meninggi karena tak mampu menjaga keseimbangan. Namun, dengan sigap Natan meraih pinggang istri sahnya itu dan berusaha untuk menyeimbangkan tubuh mereka.
Manik mata mereka menyorot satu sama lain, sehingga membuat semua kembali berteriak dengan bahagia. “Waah seperti adegan dalam flim-flim romantis.”
“Tuan Natan dan Nyonya Raya, kalian adalah pasangan yang sangat kami kagumi!” teriakan para tamu undangan kembali bersorak melihat kelakukan mereka berdua.
Namun, Natan berbisik kepada Raya, “Hey! Tubuhmu sangat berat, saya tidak kuat mempertahankannya begitu lama. Cepat beranjaklah, atau kamu memang nyaman saya pegang seperti ini?”
Lagi-lagi ucapan Natan membuat netra indah Raya mengembang. ‘Astaga kenapa Tuan Natan sangat berbeda saat ini?’ Setelah berbisik dalam hati, wanita itu pun beranjak dengan wajah yang memerah kembali.