
Bagaimanapun juga hubungan Raya dan Derwin seperti hubungan yang diselesaikan secara belah pihak. Sejujurnya Raya masih sangat cinta dan sampai saat ini ia masih belum mengerti dengan tindakan yang dilakukan mantan kekasihnya itu.
Karena yang ia tahu, Derwin sosok pria yang begitu lembut dan selalu menunjukkan kasih sayangnya kepada wanita yang masih termenung menatap makanan yang telah tersedia di atas meja.
“Apa benar, perasaan itu akan berubah? Apakah benar kata selamanya itu tidak nyata, karena Derwin pernah mengatakan bahwa dirinya akan mencintaiku selamanya,” gumam Raya yang berusaha agar air matanya tidak terjatuh, meskipun manik matanya sudah memerah.
Setiap saat ia mengingat kejadian di kafe atas mengakuan Derwin dan Sarah membuat hatinya rapuh berkeping-keping serta sangat sesak tak mampu untuk bernafas.
Apalagi saat ini ia harus berhadapan dengan seorang pria yang tidak memiliki perasaan seperti Natan. Hal tersebut membuatnya tambah frustasi dan ia juga tidak tahu harus berbuat apa.
Hah!
Raya meremas rambutnya, kepalanya benar-benar pusing tidak bisa berpikir sama sekali. “Kenapa dan kenapa? Meski aku berusaha keras berpikir bahwa ada hal yang masih Derwin belum sampaikan kepadaku, semuanya tidak akan berubah. Mereka akan tetap menikah dan aku akan tetap bersama pria yang tidak aku cintai sama sekali. Tapi aku akan berusaha bagaimana pun, aku tidak ingin tinggal bersama seseorang yang tidak menghargaiku seperti Tuan Natan,” gumam Raya yang tanpa sengaja matanya telah terpejam. Karena ia benar-benar lelah, tidak hanya fisik tapi ia merasakan letih akan batinnya yang kacau.
Sedangkan mantan pacar Raya, Derwin Satria bergegas menuju ruangannya dengan wajah yang sedikit kesal. Ia duduk di singgasananya dan melonggarkan dasi yang melinggar di leher.
Jari-jari panjang tangan kanan Derwin memijat dahinya dan ia sungguh kacau saat ini. “Kenapa Raya dengan Pak Natan? Apa hubungan mereka berdua? Kenapa mereka terlihat memiliki hubungan yang sangat intens?” gerutu Derwin yang mengira-ngira.
“Jadi selama ini dia juga membohongiku? Dia juga bermain belakang dengan pria tajir itu? Hah!” teriak Derwin sembari tangannya menghamburkan dokumen-dokumen yang tertata rapi di mejanya.
Wajah pria berkulit kuning langsat itu memerah. Ia tampak begitu marah tidak ada angin dan hujan.
Tapi mengapa Derwin marah, bukankah dia yang meninggalkan Raya dan menginginkan semua ini terjadi? Atau mungkin dia tidak ingin melihat Raya bersama pria lain? Bukankah semua sikap Derwin begitu egois dan sangat rakus akan perasaan?
“Sekertaris Nila ...,” teriak Derwin dari ruangannya.
Dengan cepat wanita memiliki tinggi 169 cm itu masuk keruangan. Manik mata wanita berseragam rapi itu terbelalak karena melihat ruangan yang selalu terlihat rapi dan bersih seperti kandang sapi seketika.
‘Astaga! Apa yang sedang terjadi, sepertinya Pak Derwin sangat frustasi tapi apa yang membuatnya seperti ini? Aku tidak pernah sama sekali melihat wajahnya gusar,’ bisik gadis muda itu dalam hatinya melihat sang atasan yang sangat menakutkan.
“Iya Pak, ada yang harus saya lakukan saat ini?” tanya Nila sembari membungkukkan kepalanya.
“Ambilkan saya air putih hangat, tidak pakai lama cepat!” suruhnya dengan nada yang tinggi.
“Baik Pak.” Setelah selesai menjawab, sekertaris Derwin segera keluar dan mengambilkan apa yang telah diperintahkan atasannya.
Beberapa menit, seperti yang dikatakan Derwin sang sekertaris membawakan air hangat dan meletakkannya di atas meja.
“Ini Pak air putihnya.”
Tanpa menjawab Derwin segera meminumnya, agar suasana hatinya bisa lebih membaik tapi tidak juga.
“Tinggalkan saya sendiri di sini. Oh ya, acara meeting yang kita rencanakan nanti sore batalkan saja!” titah Derwin.
“Tapi Pak, bukankah Bapak menantikan hal ini sudah bertahun-tahun agar bisa bekerja sama dengan perusahaan bonafit seperti Moise Crops. Dan perusahaan kita juga sedang tidak stabil dan kita memerlukan patner kerja yang dapat membantu membangun perusahaan ini lagi,” ujar Nila yang mengingatkan atasannya karena ia tahu perjuangan Derwin tidak mudah untuk dapat bekerja sama dengan perusahaan raksasa seperti Moise Crops tersebut.
Hah!
Memang benar apa yang semua Nila katakan. Derwin harus mati-matian berjuang untuk mendapatkan persetujuan kerja sama dengan perusahaan besar tersebut. Tapi yang menjadi masalahnya adalah Derwin melihat putra tunggal pemilik perusahaan raksasa itu pergi ke makan ibunya bersama Raya, wanita yang selalu ia kagumi sampai kapan pun.
Hah!
“Batalkan saja, dan kirimkan surel kepada Pak Wiguna langsung bahwa perusahaan kita tidak bisa mengadakan meeting hari ini. Tolong katakan saya sedang tidak enak badan dan tidak bisa bangun,” titah Derwin kembali.
“Sekertaris Nila, tolong jangan bertanya apa pun lagi karena suasana hati saya sungguh berantakan. Tolong lakukan apa yang sudah saya katakan!” lanjut Derwin yang sudah wanti-wanti memberitahu Nila agar ia tetap diam dan melaksanakan apa yang sudah ia perintahkan.
Tangan kanan Derwin mengepal dengan kuat dan memukul meja kerjanya dengan keras.
Baaak!
“Kenapa aku sakit melihat Raya bersama pria itu? Bukankah aku beberapa hari lagi akan menikah dengan Sarah? Apa yang sebenarnya aku rasakan?!” teriak Derwin seraya meneteskan air matanya.
Apakah ia menyesal dengan yang dilakukannya kepada Raya Sena, seorang wanita yang sangat mengerti dia dan selalu mendukungnya di saat ia berada di titik terendah sekalipun. Namun, kenapa dia melakukan tindakan gegabah seperti ini?
Sungguh benar-benar penuh akan tanda tanya. Derwin adalah pria yang sangat egois dan tidak bisa menjaga perasaannya yang ternyata masih memiliki kasih kepada Raya Sena.
Ia kini hanya bisa termenung.
“Bagaimanapun juga aku harus bertemu dengan Raya dan meminta maaf kepadanya dengan cara baik-baik,” tekad Derwin. Ia melipat kedua tangannya dan meletakkan kepala di atas lipatan tersebut.
Baru kali ini Derwin mengeluarkan air mata setelah sekian lama di saat kedua orang tuanya meninggalkan dirinya pergi ke surga.
“Kenapa aku harus mengeluarkan air mata? Aku harus bertanggung jawab dengan apa yang telah ku lakukan. Ingat, di rahim Sarah ada darah dagingku.”
Penyesalan selalu datang di akhir, sama seperti yang Derwin rasakan kepada Raya. Ia mengingat kekejaman yang telah dia lakukan bersama Sarah untuk membuat Raya hancur berkeping-keping.
Di saat itu juga ia sangat jijik dengan dirinya sendiri. Hanya ada satu hal yang dapat ia lakukan saat ini, adalah meminta maaf kepada Raya meskipun ia tahu wanita itu akan memaafkan mereka berdua tanpa mereka mengucapkannya.
Beberapa jam kemudian ....
“Bee, sudah mulai malam aku izin pulang ya,” ucap Natan sembari mengecup kening kekasihnya itu.
Wajah Aurora tampak berubah, ia seperti tidak ingin jika Natan meninggalkannya. “Tidakkan kamu menginap di sini?”
“Tidak Bee, besok pagi aku ada meeting bersama duta dari luar negeri. Maaf bila mengecewakanmu, aku akan menyempatkan diri untuk meluangkan waktu untukmu. Aku pamit ya ...,” ujar Natan lalu bergegas ke lantai bawah.
Ia seperti terburu-buru seraya bergumam, “Apakah wanita menyebalkan itu baik-baik saja di kunci di ruanganku?”
Bersambung.