MARRIED WITH MR. COOL

MARRIED WITH MR. COOL
PANGGIL SAYANG



Semenjak itu Natan menyadari perasaannya sendiri terhadap wanita yang selalu setia menemaninya di saat ia mengalami kecelakaan.


Hari-haripun berlalu, Natan saat ini sedang belajar berjalan tanpa kursi roda.


“Apakah Anda bisa Tuan?” tanya Raya yang menampilkan mimik wajah begitu khawatir.


Natan yang berpegangan erat pada penyangga dibagian kanan dan kiri, terus menerus berusaha menggerakkan kakinya yang telah lama tak digerakkan untuk berjalan.


Karena sempat mengalami pergeseran dibagian pergelangan kaki kanan, dan mengalami kram otot, Natan pun harus kembali menggerakkan kakinya dan berusaha agar bisa berjalan seperti sedia kala.


Ketika usaha dan usaha dia lakukan secara terus menerus, akhirnya pria yang sangat dicintai oleh Raya itu pun bisa berjalan meskipun hanya pelan-pelan tanpa memegangi penyangga yang ada di sisi sampingnya.


Sontak hal itu membuat wanita yang selalu menjaga dan merawat suaminya itu berteriak kencang, “Yeeeey! Anda berhasil Tuan, saya sangat bahagia melihatnya.” Setelah riang gembira, Raya begitu terharu ia menutup mulutnya dan kedua matanya telah mengalir beberapa butir air mata kebahagiaan melihat sang suami sudah bisa menggerakkan kakinya perlahan.


Natan pun menarik wajahnya, melirik seorang wanita yang sangat ia cintai menangis bahagia ketika ia sudah bisa berjalan. Dalam hati Natan berbisik untuk wanita yang ia sayangi, ‘Raya, terima kasih banyak karena kamu telah sabar merawat ku dalam keterpurukan seperti ini.’


Setelah berlatih sebentar, Natan ingin mengirup udara segar. Mereka sedang berada di luar ruangan seraya menghirup udara segar.


Raya duduk di samping sang suami dan ia pun mendengar permintaan secara tiba-tiba pewaris tunggal keluarga Moise ini. “Raya, bisakah kita mengulang kisah kita? Saya ingin kita menggelar upacara pernikahan lagi, agar semua orang tahu bahwa wanita cantik dan baik sepertimu adalah istri saya.”


Kalimat itu membuat jantung Raya seperti terhenti beberapa detik, kubil matanya membesar dan mulutnya menganga karena terkejut.


Tumben sekali seorang pria kulkas seperti Natan bisa berbicara layaknya seorang pria pada umumnya. Bisa merayu dengan kalimat yang begitu manis, sehingga sang wanita merasa luluh lantah dan meleleh saat itu juga.


Natan malah tersenyum melihat ekspresi wajah Raya yang begitu lucu itu, ia pun menutup mulutnya dengan mengepalkan jari tangan kanannya. Lalu menghempaskan penglihatannya yang tadi menatap sang istri.


“Raya, kamu kenapa? Apakah ada hal yang salah dengan ucapan saya tadi?” Natan malah bertanya seperti tak tahu apa yang dirasakan istrinya itu.


Tentu saja hati Raya seperti sedang bermain roller coaster, ia tak tahu harus menjawab apa karena hal itu adalah hal yang sangat ia nanti dari mulut seorang pria yang sangat ia cintai.


Raya segera menggelengkan kepalanya, ia pun cepat menjawab pertanyaan Natan yang masih tersenyum bahagia akibat ekspresi sang istri. “Tidak Tuan, saya hanya terkejut dengan apa yang Anda katakan barusan. Karena menurut saya sejak dulu pernikahan adalah hal yang sangat berarti bagi saya.”


Natan mencoba menggoda istri sambil menyempitkan kedua matanya sampai hampir tak kelihatan. “Hmm! Maksudmu jadi pernikahan kita selama ini tidak berarti? Apa begitu?”


Hah?


Wanita cantik dengan memakai baju berwarna nude itu pun menggerakkan kedua tangannya, seperti menandakan semua yang dipikirkan Natan salah besar. “Tidak, bukan begitu maksud saya Tuan. Hmm! Bagaimana ya saya bingung mengatakannya.” Raya menggaruk kepala yang tentu saja tidak gatal.


Melihat gelagat sang istri yang sangat linglung membuat Natan begitu puas. Ia pun tersenyum menatap mata indah Raya.


“Saya tahu apa yang kamu maksud Raya, dan terima kasih ya kamu sudah mau menjadi istri saya.”


Natan pun kembali melanjutkan ucapannya kepada wanita yang sangat ia sayangi tersebut. “Raya, bisakah mulai sekarang jangan memanggil saya dengan sebutan Tuan. Bisakah kamu memanggil saya dengan sebutan Sayang?”


Tatapan mata Natan kali ini seperti setrum yang dibuat untuk menarik Raya.


Karena Natan adalah makhluk yang bisa dikatakan hampir sempurna!


Glek!


Raya menelan salivanya, mempersiapkan jawaban tepat untuk menjawab permintaan sang suami tadi.


Hmm!


Ia hanya bisa menggeram awalnya, lalu Natan kembali melontarkan sebuah pertanyaan karena ia sangat penasaran dengan jawaban dari sang istri. “Apakah kamu mau menyebut saya dengan panggilan Sayang. istriku?”


Raya melirik, ia pun mulai berani menatap bola mata coklat milik sang suami tercinta. Jantungnya tak henti-hentinya berdetak, ini kali pertama Natan memanggilnya dengan sebutan istriku.


“Apakah saya bisa bertanya kepada Anda terlebih dahulu?” tanya Raya.


Natan melengkukkan bibirnya ke atas begitu lebar, dengan senyuman hangat yang begitu tulus itu Raya mulai melontarkan pertanyaannya kepada Natan. “Jika Anda meminta saya memanggil Anda Sayang, apakah Anda juga bisa memanggil saya dengan sebutan yang sama?”


Huum!


Ketika mendengar kalimat yang dilontarkan Raya, wajah Natan datar lalu ia pun tersenyum lebar disertakan tawa tipis.


“Raya ... Raya ...” Natan menggelengkan kepalanya. “Raya kamu adalah wanita yang benar-benar menjadi takdir saya. Saya sangat berterima kasih karena kamu adalah wanita yang sejak dulu saya cari dan saya butuh wanita seperti dirimu.”


Setelah berkata seperti itu, Natan pun mendekatkan wajahnya ke arah Raya.


Kubil mata wanita cantik ini sudah membesar, dalam hatinya pun berpikir jika Natan akan melakukan sentuhan cinta yang membuatnya ketar-ketir tak karuan. Namun ...


Natan pun hanya meletakkan dagunya di bahu sang istri, lalu mendekatkan mulut tipis itu di telinga Raya dan berbisik, “Tentu saja saya akan memanggilmu dengan sebutan Sayang karena saya sangat mencintaimu.”


Kalimat itu selalu terngiang-ngiang dalam benak Raya, sampai beberapa hari pun berlalu. Natan sudah diizinkan untuk pulang dan ia bisa bekerja seperti mana biasanya.


Mereka akan merayakan pernikahan mereka setelah project besar yang tertunda beberapa bulan lalu terselesaikan.


Di saat Natan ingin ke ruangan Daniel, partner kerjanya yang sudah ia anggap sebagai sahabat tanpa mengetuk pintu pewaris ini langsung masuk saja karena ia ingin menceritakan segala hal yang ia simpan beberapa waktu lalu.


Namun, ia melihat sepertinya Daniel sedang melihat sebuah foto yang ia pegang dan pria itu menatapnya dengan penuh kesedihan.


Natan yang merasa harus bertanya pun melontarkan pertanyaan, “Niel kamu kenapa?”


Sontak pria yang tak menyadari kehadiran atasannya itu segera menghapus tetesan air matanya yang tak sengaja mengalir, dan menyembunyikan foto tersebut. Sebenarnya foto apa yang dilihat oleh pria yang selalu memancarkan keceriaan di kantor ini?


Bersambung.