
Netra mata Natan mendelik sangat tajam ke arah istri sahnya yang sedikit ketakutan. Dalam hati Raya pun berguman, ‘Kenapa? Kenapa dia berekspresi seperti itu? Apakah aku salah berbicara?’
Sama dengan Raya, Natan pun sedang bercakap dengan batinnya sendiri karena berkataan istrinya itu. ‘Siapa sih Derwin? Kenapa wanita menyebalkan ini selalu membawa-bawa namanya, tidak di dunia nyata tapi sampai menembus mimpi wanita ini! Aku harus mencari tahu pria itu. Tapi kenapa aku sangat membenci situasi ini ya? Sepantasnya aku bersyukur dia memiliki pria lain dan aku bisa mengarang alasan kepada Papa bahwa dia telah mengkhianatiku dan aku bisa menikahi Aurora.’
Batin mereka saling saut menyaut akan pendapat masing-masing. Natan masih menatap Raya dengan tatap penuh tanda tanya dan amarah yang ingin segera dikeluarkan.
“Kamu berani ya menyebutkan nama pria lain di depan suami sahmu sendiri!” Namun, setelah mengucapkan itu secepat kilat Natan kembali bersuara dan memperbaiki ucapannya dengan ekspresi yang terkejut.
“Ah, bukan begitu maksud saya. Saya tidak suka kamu meneybutkan pria lain di depan saya!” ucapan ini juga membuat Raya sedikit kebingungan. Sampai-sampai Natan tidak kembali melontarkan pendapat yang masuk akal karena semua ucapannya tadi seakan-akan dirinya begitu cemburu dengan pria yang bernama Derwin!
“Saya ulangi lagi. Harusnya kamu memiliki tata krama dan moral yang bagus, meski kita hanya sebatas suami istri bohongan karena saya terpaksa mengiyakan titah dari Papa, kamu tidak boleh semena-mena menyebutkan nama pria lain di depan saya! Itu semua ada aturannya dalam tahta keluarga Moise!” tegas Natan yang sangat ingin mendengar permintaan maaf dari Raya.
Pria berkaki jenjang dengan tubuh idealis begitu menawan tersebut membalikkan badan, dan dalam relung hatinya sangat ingin Raya mengejarnya dengan wajah yang penuh akan sesal lalu segera meminta maaf.
Namun, alhasil semua itu tidak terlaksana. Malah sejak tadi Raya hanya terpaut diam sembari berpikir keras dengan semua ucapan Natan tadi. ‘Apa maksudnya dia tidak suka mendengar nama seorang pria, bukankan itu semua tidak ada urusannya dengan dia?’
Langkah kaki Natan sampai dipelankan seperti siput, ia menuju ruang tamu tapi dia belum juga mendengar langkah kaki wanita itu. Ia pun mengerutkan dahinya sembari menggerutu dalam hati, ‘Kenapa dia belum datang untuk menemuiku dan meminta maaf?’
Tubuh indahnya itu pun membalik ke belakang. Benar saja Raya tidak mengejarnya sama sekali, apalagi mengucapkan kata perminta maafan. Dengan sorot menjurus lurus pria ini mengubah eskpresi kakunya dan dengan cepat ia melangkah menuju ke depan toilet untuk mencari istri sahnya itu.
Raya yang masih termenung di depan toilet hanya bisa menggaruk-garuk kepala dan baru saja ingin melangkah satu langkah. Kegusaran Natan membuat jantung wanita cantik ini hampir saja lepas.
“Astaga Tuan, Anda membuat saya jantungan saja.”
Hmm!
Natan tidak menjawab sama sekali, ia hanya melihat dengan sorot mata yang menakutkan ke arah Raya.
“Maaf Tuan, apakah masih ada yang perlu Anda bicarakan kali ini?” tanya Raya yang masih belum mengetahui kemarahan Natan saat ini.
Natan belum menjawab.
“Maaf Tuan, apakah Anda ...,” tanya Raya yang terdiam sejenak karena Natan melangkah menuju ke arahnya berlahan.
Sontak hal ini membuat Raya sedikit takut karena ekpresi dan tingkah suami sahnya tersebut.
“Tuan, apa yang sedang ingin Anda lakukan?” Raya melihat dengan jelas, netra mata Natan seperti memiliki sejuta ucapan kepadanya namun pria itu sendiri tak mampu untuk melontarkannya.
Deg!
Natan terus berjalan maju sedangkan Raya melangkah mundur perlahan, yang ingin menghindari pria dengan tatapan lebih tajam dari burung elang yang akan mencabik-cabik mangsanya.
Tak!
Glek!
Raya menelan salivanya dan baru pertama kali jantung wanita ini berdegup sangat kencang dan karuan dan ia sungguh tidak suka dengan posisi ini.
Deg! Deg! Deg!
“Tuan sebenarnya apa yang ingin Anda lakukan kepada saya?” tanya Raya kembali, namun manik mata berwarna coklatnya itu tidak mampu menatap balik sorotan tajam yang dimiliki oleh pewaris tunggal keluarga Moise ini.
“Seharusnya kamu tahu apa yang saya inginkan!” jawab Natan singkat dengan masih melihat detail wajah gadis polos yang ada dekat sekali dengannya ini.
“Tuan saya bukanlah hantu ataupun Tuhan, yang mengetahui apa yang Anda inginkan disaat Anda bahkan belum memberitahu saya apa yang Anda inginkan,” tanggapan Raya yang membuat Natan sedikit mengangkat bibirnya dan tersenyum tipis.
“Apa yang kamu katakan benar, seharusnya saya memberitahumu apa yang saya inginkan.” Suara serak Natan membuat tubuh Raya menggelora tak tentu arah.
Natan kini mencondongkan wajahnya lebih dekat dengan Raya. “Apa kamu masih belum mau melihat wajah saya?” tanya Natan kepada istrinya yang kini hanya bisa menutup matanya.
Hembusan napas yang begitu lembut Natan miliki mencekik pori-pori wajah Raya. Hal ini membuat wanita itu semakin tidak leluasa dan sangat tidak menyukai posisi ini.
“Saya hanya terganggu dengan posisi kita saat ini Tuan,” ujar Raya jujur.
Huum!
Natan tersenyum kembali tanpa suara. Dalam hatinya berkata, ‘Hahaha, apakah aku berhasil membuat wanita menyebalkan ini ketakutan! Aku akan memberikan pelajaran baginya karena dia sudah membuatku kesal! Aku akan terus menakut-nakuti dengan caraku seperti ini, tapi apa yang dia rasakan saat ini ya? Apakah dia sedang berpikir bahwasanya aku akan merasakan bibir tipisnya ini?’
Begitupun Raya, dia sedang berbincang dengan dirinya sendiri terkait posisi Natan yang sama sekali tidak membuatnya nyaman dan sangat sulit untuk bergerak.
‘Dia kenapa sih? Apa yang ingin dia lakukan kepadaku? Tapi tenang Raya, jika dia melakukan hal yang tidak-tidak kamu bisa menunjukkan kekuatan saltomu kepadanya!’ Raya sudah membentengi dirinya sejak awal, jika benar Natan akan melakukan hal yang senonoh kepadanya.
“Apakah kamu takut dengan saya, sampai-sampai kamu tidak ingin membuka matamu itu?” Natan terus mencoba menjahili istri sahnya tersebut.
Raya tidak menjawab sama sekali apa yang ditanyakan suaminya itu. Sampai saat Natan kembali mencondongkan wajahnya, tiba-tiba kakinya terasa sedikit kaku dan membuat mereka jatuh dipermukaan lantai marmer secara bersamaan.
Dubraaak!
Posisi Natan kini di atas tubuh mungil Raya, dan parahnya lagi bibir pria tampan tersebut tanpa sengaja menyentuh bibir tipis Raya.
Bola mata mereka saling beradu dan mengembang satu sama lain. Jantung mereka pun tak dapat berhenti berdegup kencang sejak tadi.
Bersambung.