
Netra mata Raya menelisik sangat tajam ke arah ayah mertuanya itu, seakan ia tak ingin menunggu lagi apa yang dikatakan Wiguna berikutnya. Seraya menggoyangkan pundak sang papa, Raya berderu dan menangis kepada pria setengah baya itu.
“Pah ... tolong jangan membuat Raya semakin khawatir akan Natan. Tolong Pah, beritahu apa yang terjadi kepada Natan sampai dia masuk ke ruang operasi gawat darurat!” Nada bicara Raya pun meninggi, ia bukannya marah kepada Wiguna hanya saja hatinya tampak gundah mendengar berita yang akan dilontarkan pemilik perusahaan raksasa di kota ini.
Wiguna menahan segala kesedihannya saat ini, ia berusaha mengatur napas agar tetap tenang. Padahal pria ini sudah di kota seberang, dengan jet pribadinya Wiguna langsung secepat kilat menuju rumah sakit Kertha Usada untuk mengetahui kondisi putra tunggalnya.
“Nak Raya ...,” panggil Wiguna yang kini meletakkan kedua tangannya di pundak wanita yang sudah sangat ia anggap sebagai anak perempuannya itu.
“Papah mendapatkan kabar dari pengawal yang selalu mengawasi Natan, pada saat Natan hendak berangkat kerja di tengah gemruh hujan yang deras ia mengalami insiden yang tak dapat dihindari. Keterangannya ia menabrak truk tronton membawa kayu jati lantas mobilnya terjungkal terbalik ...,” ungkap Wiguna dengan suara sedikit gemetaran. Karena ketika sampai di rumah sakit, dirinya melihat kepala sang putra bercucuran darah begitu banyak serta kaki kanan Natan mengalami luka yang begitu parah.
Hah!
Seketika napas Raya terhenti dan ia tidak dapat menggerakkan mulutnya sama sekali setelah mendengar penjelasan dari ayah mertuanya itu. Kubil matanya mengembang, tubuhnya begitu dingin, wajahnya pucat pasi serta kepalanya ingin pecah! Sungguh ironis yang telah di alami pria yang telah ia percaya akan menjadi partner hidupnya kelak.
Kaki Raya pun melemah, ia tak mampu menopang berat tubuhnya sehingga ...
Dubrak!
Tubuh mungil Raya tersungkur di lantai rumah sakit yang begitu dingin.
Beberapa jam pun berlalu ...
Raya masih tak ingat apa yang terakhir ia ucapkan kepada ayah mertuanya itu. Kepalanya benar-benar sakit, bahkan membuka mata saja terasa sangat sulit untuk dilakukan oleh wanita yang begitu rapuh akan masalah besar dihadapinya.
Dalam kalbu kegelapan, ia berharap bahwa semua ini hanyalah mimpi belaka. ‘Tuhan semua yang saat ini aku alami hanya mimpi kan’? Aku belum bangun dari tidurku tadi?’ gumamnya dalam hati yang bergitu terisak.
Akan tetapi harapan yang sangat ia harapkan semuanya tidak sesuai harapan. Semua ini adalah hal nyata yang harus dihadapi oleh Raya dengan lapang dada.
Pelan-pelan ia membuka matanya, dan seraya menyempitkan manik matanya tersebut dengan tangan yang memegangi pelipis bagian kanan. Ia melihat ruangan yang sangat asing baginya, korden berwarna putih bersih serta ranjang yang berbeda dengan ranjang di mansion mewah keluarga Moise.
“Raya ..., apakah kamu sudah tersadar?” Terdengar suara yang begitu antusias saat melihat wanita cantik itu sudah tersadar.
Suara itu tak lain adalah Ana, teman yang selalu berada di samping Raya saat dirinya sudah dinyatakan sebagai mantu tunggal keluarga Moise.
“Ana ...,” panggil pelan Raya sembari wanita cantik itu ingin beranjak dari ranjang rumah sakit. Akan tetapi Ana bersikeras agar Raya tetap berbaring dan beristirahat dengan cukup untuk memulihkan kestabilan emosi yang begitu menurun.
“Raya, kamu jangan banyak bergerak dulu. Beristirahat lah, jangan beranjak. Aku ditugaskan oleh Tuan Wiguna untuk menjagamu dan tidak membiarkanmu keluar dari ruangan yang sudah disewa khusus untukmu,” tegas Ana memberitahu wanita yang berstatus sebagai istri sah dari Tuan Mudanya tersebut.
Namun, hatinya yang masih membelenggu karena bertanya-tanya mengenai kondisi suaminya itu membuat Raya tak mudah untuk mengiyakan perintah yang dilontarkan oleh sahabat perempuannya tersebut.
Wanita yang tubuhnya masih terasa begitu lemas ini berusaha untuk bangkit dari ranjang. Sama seperti tadi, Ana masih berusaha agar membuat Raya tetap berbaring di ranjang.
“Raya! Sudah aku katakan kepadamu, tolong beristirahatlah. Aku sangat tahu perasaanmu bagaimana saat ini, tapi kamu juga harus mementingkan kondisi kesehatanmu. Jika Tuan Natan tahu kamu seperti ini Beliau akan meminta hal yang sama dengan apa yang kukatakan kepadamu!” Kembali Ana dengan tegas memberitahu sahabatnya itu.
Baru kali ini dari mulut wanita cantik itu keluar kata suami untuk pria yang dulunya ia benci.
Tak bisa berkata apa pun lagi, Ana hanya bisa menuruti apa yang dilakukan oleh Raya. Kedua wanita itupun melangkahkan kaki ke luar ruangan, mereka mengarah ke ruang Natan.
Hujan yang begitu deras kini pun telah hilang, akan tetapi hati Raya masih saja menangis begitu deras sama seperti tadi ketika Natan meninggalkannya lalu mengalami kecelakaan maut.
Tidak seperti tadi di depan ruangan khusus itu ada Wiguna yang berdiri tegap di sana. Hanya terlihat beberapa mengawal tengah menjadi putra tunggal Wiguna Moise.
“Tuan ... Tuan ... apakah kalian mengetahui di mana Papah sekarang?” tanya Raya pelan.
Beberapa pengawal di sana memberi hormat kepada Raya, ada salah satu menjawab, “Tuan Wiguna sedang konsultasi dengan beberapa dokter mengenai operasi yang telah dijalankan Tuan Muda Natan sejak tadi Nyonya.”
Manik mata Raya menyorot kaku, ia begitu sayu dan berharap penuh operasi Natan berjalan dengan lancar.
“Lalu apakah hasil operasi Tuan Muda Natan sudah keluar Tuan?” tanya Ana sangat mengkhawatirkan tuan mudanya itu.
Mereka secara serempak menganggukkan kepala.
“Tuan, apakah Anda mengetahui hasil operasi Natan?” Raya tak henti untuk bertanya dan ia ingin mengetahui kondisi suaminya.
Perkataan pun dilontarkan oleh salah satu pengawal kepercayaan Wiguna. “Nyonya Raya, kami mendapatkan pesan dari Tuan Wiguna jika Tuan Natan memerlukan waktu beberapa hari untuk tersadar karena ada gangguan dari fungsi otak Tuan Natan. Dan Anda juga di suruh tetap beristirahat di rumah ....”
“Tidak!”
Teriak Raya sembari menggelengkan kepalanya, “Saya tidak akan pulang sampai Natan ikut pulang ke rumah juga! Saya akan tetap menemani suami saya di sini, bagaimanapun keadaannya saya akan berada di sampingnya.”
Wiguna pun datang dengan beberapa dokter ahli.
“Nak Raya, apakah kamu baik-baik saja?” tanya Wiguna melihat putrinya yang terlihat begitu pucat dan rapuh itu.
“Pah, Raya tidak ingin pulang ke rumah sampai Natan tersadar dan ikut pulang ke rumah juga bersama Raya. Raya akan tetap di sini menemani Natan, Pah,” tegas Raya kepada ayah mertuanya itu.
Bukan maksud apa-apa, akan tetapi Wiguna hanya ingin Raya beristirahat agar putrinya itu tak sakit dan membuat mentalnya lemah.
24 jam pun berlalu, Natan masih terbaring dengan peralatan yang menghiasi kepalanya. Hanya ada Raya di menunggu suaminya di dalam ruangan. Wanita ini tak tidur sama sekali, ia hanya bisa melihat suaminya terbaring tak sadarkan diri.
“Natan, kamu harus berjanji kepadaku, kamu harus tetap hidup. Kita baru saja ingin merasakan kehidupan sempurna satu sama lain, tapi kenapa kamu jahat sekali harus berbaring seperti ini? Apakah kamu tidak ingin hidup bersamaku?” gumam Raya dengan manik mata yang meneteskan air mata.
Wanita ini pun memegangi tangan Natan lalu mengecupnya sembari berbisik, “Tolonglah cepat tersadar Natan, aku sangat mencintaimu!”
Bersambung.