MARRIED WITH MR. COOL

MARRIED WITH MR. COOL
BEGITU NAIF



Mulut Natan tak henti untuk terbuka karena ingin makan banyak, agar ia cepat sembuh. Ia juga tak mau berlama-lama di tempat ini, ia ingin bisa menyelasaikan tugas-tugas kantornya yang terbengkalai.


Natan menatap bola mata coklat Raya begitu dalam, ketika wanita itu menggerangkan tangannya membawa sendok yang berisi bubur ayam hangat.


“Tuan, kenapa Anda melihat saya dengan sorot mata seperti itu? Apakah saya memiliki hal yang salah kepada Anda?” tanya Raya yang tak menatap balik sorotan mata tajam suaminya itu.


Hmm!


Natan segera menghindari tatapannya, dan sedikit menundukkan kepalanya.


Hah!


Pria yang wajahnya masih begitu pucat itu saat ini ingin mengucapkan segala hal yang selalu ia tutupi dan bohongi dalam lubuk hatinya.


“Raya ...,” panggilnya dengan penuh penekanan, seperti ada hal yang benar-benar ia ingin sampaikan kepada istri sahnya tersebut.


Huum?


Raya hanya menderumkan suaranya, seakan ingin mendengar perkataan lebih lanjut dari pria yang sangat ia cinta itu.


“Setelah ini bisakah kamu mengantar saya ke taman rumah sakit ini? Ada hal yang ingin saya katakan kepadamu,” ungkap Natan dengan sorot mata yang begitu sendu.


Raya tak bisa menjawab, ketika melihat mata coklat suaminya yang berkaca-kaca ia hanya bisa mengangguk dan menuruti apa yang diinginkan Natan.


Beberapa menit kemudian, Raya meminta beberapa perawat membantunya untuk membondong Natan ke kursi roda. Setelah menjalankan pemeriksaan pergelangan kaki kanan Natan yang tadinya dikatakan patah ternyata tulangnya hanya tergeser, dan itupun juga harus menjalankan beberapa perawatan khusus lagi.


“Bagaimana Nyonya, apakah kami perlu mengantar Anda dan Tuan Natan?” tanya salah satu perawat pria itu kepada Raya.


Raya menggelengkan kepalanya, lalu segera mengucapkan, “Tidak Tuan, saya akan mengajak jalan-jalan suami saya. Dan saya juga ingin memiliki waktu berdua dengan suami saya, terima kasih sebelumnya karena Tuan-Tuan sudah mau membantu.” Raya menyambangi kalimat itu dengan senyuman tulus.


Mereka pun menundukkan kepala setelah mendengar ucapan Raya, lalu meninggalkan pasangan serasa ini.


Ehem!


Natan sedikit tersedak, setelah mendengar ucapan manis dari sang istri.


“Ternyata kamu bisa berkata manis mengenai saya ya Raya. Apakah kamu akan menyebut saya dengan kata suami saya kepada semua orang?” tanya Natan.


Raya menoleh ke bawah, seraya kedua tangannya mulai mendorong kursi roda di lorong ruangan. Wajahnya tampak merah ketika Natan mempertanyakan hal tersebut, ia juga tak tahu mengapa dirinya menyebutkan Natan dengan panggilan seperti itu karena menurutnya hal itu yang paling pantas ia panggil.


Meskipun ia tahu sejak awal Natan tak pernah menganggapnya sebagai pasangan suami istri, hubungan mereka hanya terjalin akibat paksaan dari sang ayah yang tak tahu menahu akan perasaan mereka berdua.


“Iy ... iya Tuan, saya memanggil Anda dengan sebutan seperti itu kepada semua orang. Hmm, apakah saya salah sebut?” tanya Raya dengan suara yang sedikit gagap.


Hahaha!


“Hmm, ada apa Tuan? Apakah ada yang lucu?” Raya kembali bertanya untuk memperjelas suasana hati yang sedang dirasakan oleh suaminya itu.


Natan pun melihat ke belakang, menatap wanita berambut panjang dan indah itu dengan senyuman yang begitu hangat.


Raya mengembangkan matanya, lalu membalas senyuman pria tampan tersebut yang masih mengenakan pakaian berwarna biru milik rumah sakit.


“Raya, apakah kamu tahu saya sangat bahagia saat ini,” ujar Natan dengan mengembalikan penglihatannya ke arah depan.


“Bahagia karena apa Tuan?” tanya Raya begitu polos.


Natan kembali tersenyum, meski ia tak melihat wajah cantik istrinya itu. Ia pun segera menjawab pertanyaan dari wanita yang baru ia sadari bahwa Raya adalah wanita yang benar-benar patut untuk diperjuangkan dan dipertahankan.


“Saya sangat bahagia ketika kamu memanggil saya dengan sebutan ‘suami saya’ kepada semua orang.”


Jawaban itu membuat manik mata Raya melirik ke arah samping, lalu kembali ke depan ia merasa malu ketika mendengar hal itu langsung dari mulut Natan, seorang pria yang sangat menyebalkan semenjak mereka bertemu.


“Hmm! Saya juga sangat bahagi ketika Anda mengatakan bahagia, saat saya menyebut Anda dengan sebutan seperti itu. Karena saya memang mengganggap Anda sebagai suami saya, ketika kita mengucapkan perjanjian suci dihadapan Tuhan,” ucap Raya sembari mencari tempat yang begitu indah di belakang rumah sakit ini.


Rumah sakit swasta ini memiliki taman yang begitu indah di belakang, banyaknya bunga mawar dan bunga-bunga lainnya bermekaran. Serta ada air terjun buatan, yang menghiasi taman ini.


Seketika saat mendengar percikan air tersebut membuat hati dan pikiran sangat tenang.


Raya duduk tepat di samping Natan, dan mereka pun menikmati indahnya taman yang terletak di belakang gedung rumah sakit.


Mata tak saling menatap, akan tetapi hati sudah bersatu sejak beberapa lama. Natan memulai berbincangan yang ia ingin katakan kepada sang istri, “Raya, apakah kamu membenci saya?”


Huum?


Wanita itu langsung mengarah ke samping, menatap detail wajah Natan dengan bertanya-tanya. Namun, Natan tak mengarah untuk melihat Raya, ia tetap fokus melihat air yang mengalir dari atas begitu apik.


“Kenapa Anda menanyakan hal itu?” Raya tak mengerti apa yang dikatakan suaminya.


“Raya ...,” Saat ini Natan pun menggerakkan lehernya berlahan, untuk melihat wajah cantik sang istri.


“Apakah kamu membenci pria yang begitu naif seperti saya? Saya akan katakan kepadamu, bahwa saya adalah pria yang sangat payah karena saya adalah pria suka sekali berbohong. Saya sudah menyadari sejak dulu kamu adalah wanita yang sebenarnya saya cintai, tapi karena saya tidak ingin tersakiti untuk kedua kalinya saya selalu membohongi diri saya sendiri mengenai dirimu. Sekuat hati saya menahan rasa cinta yang saya miliki kepadamu, dan selalu mencari kesalahanmu agar saya dapat membencimu, tapi apa yang terjadi? Perasaan dan hati yang saya miliki kepadamu terus saja bertumbuh dan bertumbuh. Saya lelah terus-terusan berbohong kepada diri saya sendiri, hal itu selalu membuat saya terpuruk dan saya sangat membenci diri saya sendiri. Sewaktu kita di pantai beberapa hari lalu, sebenarnya saya sangat ingin menyampaikan sesuatu hal yang jujur kepadamu, tapi seperti yang saya katakan tadi kepadamu saya adalah pria yang begitu naif. Saya harap kamu tidak membenci saya, Raya ...,” Natan panjang lebar menjelaskan apa yang telah membelenggu mengenai dirinya kepada sang istri.


Raya dengan senyum tipisnya memengangi pundak sang suami begitu lembut, ia pun buka suara. “Saya juga adalah wanita yang sangat naif dan menyedihkan, seharusnya saya cepat tersadar sejak dulu bahwa saya telah memiliki pria seperti Anda dalam hidup saya. Seharus saya tak perlu memikirkan seseorang yang sudah tak mengganggap saya, dan seharusnya lagi saya terus terang kepada Anda mengenai perasaan saya.”


Bola mata mereka beradu satu sama lain, memancarkan penuh cinta.


Lalu dengan bersamaan mereka mengucapkan untuk pertama kalinya bahwa mereka saling mencintai satu sama lain.


Bersambung.