MARRIED WITH MR. COOL

MARRIED WITH MR. COOL
PERTEMUAN KEMBALI



Tanpa bertanya banyak Raya hanya bisa mengikuti langkah Natan menuju ke sebuah batu nisan.


Anastasya Moise


Nama batu nisan yang ada di depan Natan dan Raya. Memang pria ini selalu mengadu ke tempat tersebut dikala hatinya benar-benar kacau.


Saat ini hati Natan ragu untuk menjalankan hubungannya dengan Aurora. Pria tampan ini pun menekukkan kakinya dan jongkok menatap nisan sang ibunda dengan sendu.


'Mah, maaf Natan baru bisa berkunjung ke sini setelah sekian lama. Mah, Natan kini sudah menikah dengan seorang wanita yang dipilih Papa. Tapi Natan rasa, Natan tidak memiliki perasaan sama sekali dengannya karena dia wanita yang tidak Natan kenal. Sedangkan saat ini Natan memiliki seorang wanita yang Natan cintai. Entah apa yang kini Natan rasa, siapa yang harus Natan pertahankan?' guman pria tampan itu sembari mengelus-elus batu nisan sang ibu.


Sontak hal ini membuat hati Raya tergerus, ia seperti mengetahui siapa yang didatangi Natan saat ini. 'Apakah ibu Tuan Natan sudah tiada?' 


Persepsi Raya diperkuat karena sejak pertama kali ia menginjak kediaman keluarga Moise, ia tidak pernah melihat ibu Natan.


Tidak ada kata-kata yang terlontar dari mulut tipis pewaris tunggal itu. Hanya saja hati Natan selalu bertanya dan bertanya kepada sang ibu yang telah tiada.


Raya pun benar-benar tahu apa yang sedang dirasakan Natan saat ini, karena ibunya juga sudah damai di alam atas.


Ia segera mencakupkan tangannya di dalam dada dan melontarkan doa untuk ibunda Natan. 'Nyonya, meski saya tidak tahu Anda tapi saya ingin Anda selalu bahagia bersama Tuhan di alam para Dewa.'


Setelah mengucapkan doa, manik mata Raya dibuka secara perlahan dan di depannya kini ia melihat Derwin sedang berjalan menuju ke sebuah batu nisan yang ada di dekat batu nisan ibunda Natan.


Bola mata Raya membesar, ia seperti kecacingan dan ingin rasanya menghilang seketika. Ia ingin menghindar karena belum siap untuk bertemu kembali dengan mantan pacarnya itu.


Tidak ada pilihan lain, kemeja Natan pun ia rogoh dan ia jadikan tempat persembunyian mendadak. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain bersembunyi di balik tubuh bidang itu.


"Aku harus sembunyi, dia tidak boleh melihatku di sini," celetuk Raya sembari nyosor ke bawah dan memegangi erat kemeja Natan.


Suasana yang tadinya sedih dan sendu, kini berubah menjadi gaduh karena tingkah Raya yang ceroboh.


Ia tidak sadar Natan kini ingin meluapkan emosi karena Raya yang sedang berada di belakang, padahal ia harus berdoa dengan khusyuk kepada almarhum sang ibunda.


'Apa yang dia lakukan? Kenapa dia seenaknya menarik kemejaku?' gerutu Natan dalam hati.


Dan ia pun berdiri dan membuat Raya kelabakan.


Raya yang masih jongkok menengadah ke atas melihat wajah seram suaminya yang ingin menerkam.


"Apa yang kamu lakukan, hah?!" teriak Natan melihat ke bawah.


Sontak hal itu menjadi pusat perhatian, langsung saja Raya melihat ke arah mantan pacarnya yang menoleh ke arahnya.


Ia cepat-cepat berdiri dan memeluk tubuh Natan.


"Tuan, tolong jangan bergerak dan jangan berteriak seperti itu. Nanti saya akan jelaskan semuanya," pinta Raya yang berusaha meraih tubuh Natan yang tidak ingin di sentuh.


"Maksudmu apa?" Natan seperti tidak mendengar apa yang dikatakan istrinya itu.


Sampai-sampai membuat pria yang ada menjurus dengan mereka menoleh, yang tidak lain adalah mantan kekasih Raya Sena.


Ia menyempitkan manik mata lalu bergumam, "Masih ada orang seperti mereka di masa sekarang. Tidak tahu tata krama, kenapa harus melakukan hal memalukan itu di tempat pemakaman seperti ini?"


Karena merasa risih, Derwin segera meletakkan bunga mawar putih itu ke makam ibunya lalu bergegas ke luar, karena enggan melihat pasangan yang menurutnya sedang dimabuk asmara tanpa tahu tempat dan kondisi.


Ketika ia melewati Natan dan Raya, lirikan mata kesal menjurus ke arah pasangan itu sembari menggerutu kembali, "Apakah mereka tidak tahu tempat?"


Sedangkan Raya berusaha untuk tak terlihat sama sekali oleh Derwin. Wanita yang masih berlindung di dada suaminya pun mengintip sang mantan yang sudah berjalan menuju keluar.


Raya menghembuskan napas, pelipisnya dipenuhi oleh butiran keringat dan wajahnya tampak pucat seperti baru saja melihat hantu. Yah, memang mantan adalah makhluk yang benar-benar menakutkan karena tak kadang ia terbayang padahal susah payah berusaha untuk dilupakan.


Natan yang sejak tadi mengkerutkan dahinya kembali meninggikan nadanya, "Apa sih yang kamu lakukan?"


Namun, sebenarnya Natan terkejut dengan apa yang dilakukan istri sahnya itu.


'Apa dia mencoba menggodaku di tempat seperti ini? Tapi seharusnya dia tahu sekarang kita sedang di mana,' bisik Natan dalam hati.


Raya memastikan Derwin sudah tidak ada lagi di sana, lalu kemudian ia segera menundukkan kepala dan membungkukkan tubuhnya.


"Tuan Natan saya minta maaf atas apa yang saya lakukan tadi. Saya tahu ini perbuatan yang benar-benar melanggar norma, tapi saya mohon pengertiannya karena …," jelas Raya yang menghentikan ucapannya itu.


Natan yang masih menatap dengan tajam pun ingin mengetahui apa alasan Raya melakukan hal tersebut kepadanya, yang tiba-tiba memeluk tidak ada angin dan hujan.


"Karena apa?"


Hmm!


Raya sempat ragu untuk mengatakan sejujurnya, tapi mau tidak mau ia harus menjelaskan apa yang telah ia lakukan kepada Natan.


"Jadi tadi ada mantan saya yang sedang berziarah ke makam ibundanya. Saya masih belum siap untuk bertemu dengannya Tuan."


Natan terdiam, karena sempat sebelumnya ia bertanya tentang hal ini tapi tidak ia teruskan dikarenakan ada telpon dari Aurora.


Natan sedang tidak mood membahas masalah pria yang dulu pernah ada di hati Raya. Ia hanya terdiam dan kembali mengelus batu nisan sang ibunda.


"Mah, Natan izin pulang ya. Semoga Mamah bahagia di alam sana, Natan sayang Mamah."


Tanpa menoleh ke arah Raya, Natan melangkahkan kakinya menuju ke parkiran. 


"Tuan tunggu saya," pinta Raya yang sedikit berlari karena langkah kaki Natan begitu cepat.


Mereka pun menuju ke sebuah tempat yang khusus memarkirkan mobil di sana sebelum menuju ke pemakaman mewah itu.


"Tuan, bisakah kamu menungguku?" Pinta Raya kembali kepada Natan.


Akan tetapi Natan seperti begitu kesal, entah apa yang sedang merasukinya. Mengapa pria ini seperti seorang wanita yang sedang mengalami pra menstruasi? Moodnya benar-benar berantakan.


Semakin Raya meminta, Natan semakin melangkahkan kakinya begitu cepat.


"Tuan …," panggil Raya yang terhenti.


Sreet!


Mobil berwarna merah berhenti telat di depan Raya, untung saja wanita ini tidak kenapa-napa.


Hanya saja Raya terkejut dengan laju mobil merah itu. Salah wanita itu juga yang tidak melihat jalanan karena terlalu fokus mengejar suaminya itu.


Tidak menunggu lama pengendara mobil merah langsung turun dan …


Mereka berdua saling bertatapan dan manik mata mereka membesar satu sama lain.


Bersambung.