
Manik mata Raya mengembang, hatinya tiba-tiba terasa sesak bertemu dengan pria yang masih ia cintai.
Sisa rasa yang belum bisa dihapus kini tergores kembali setelah mereka bertatap satu sama lain kini.
"Raya?" guman Derwin, mantan kekasih Raya yang terlihat syok melihat mantan pacarnya sudah menggandeng pria lain.
Terlebih pria itu adalah pria yang ia kenal dan akan menjadi mitra kerjanya beberapa bulan lagi.
'Bukankah itu adalah Natan Moise, putra tunggal dari pebisnis ternama Wiguna Moise? Apa hubungan Raya dengannya?' bisik Derwin dalam hatinya.
Meski Derwin pernah mengatakan bahwa dirinya sudah bosan dan tidak memiliki cinta lagi kepada Raya, akan tetapi dalam relung hati terdalamnya ia masih belum pernah bertemu dengan wanita sebaik Raya.
Bola mata pria tinggi dan memiliki paras yang tampan itu melirik ke arah Derwin dengan tatapan sinis. Lalu kemudian melihat ke arah samping yaitu menuju istri sahnya.
Ia berceletuk dalam hatinya, 'Apa-apaan mereka berdua saling tatap seperti orang pacaran saja! Wanita ini juga, kenapa bisa ia melihat seorang pria seperti itu? Memang dia tidak memiliki tata krama di samping suaminya dia melihat pria seperti terpesona! Dasar!'
Hehe!
Raya tersenyum melihatkan giginya dan menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
"Raya kenapa kamu di sini, apakah kamu berkunjung ke makam Mamahku juga?" tanya Derwin yang mengira jika mantan pacarnya berziarah ke sana pula.
Karena sewaktu mereka bersama Raya sangat sering meminta Derwin untuk mengunjungi makam.
"Ah, anu aku …," ucap Raya seperti pecicilan karena tidak tahu harus mengatakan apa pun, namun pada saat manik matanya mengarah ke arah Derwin dirinya langsung diam seperti mematung.
Derwin kembali membuka suara, ia membungkukkan tubuh dan mengucap salam kepada Natan. "Senang bertemu Anda Pak Natan Moise yang terhormat."
Natan hanya mengangguk pelan, karena ia belum kenal dengan pria yang ada di depannya. Namun, ia kira bahwa pria yang ada di depannya adalah mitra kerja yang akan menjalin kerja sama.
Dan dalam lubuk hatinya bertanya, 'Apa maksudnya pria itu bertanya seperti itu kepada wanita ini?'
Begitu pun dengan pikiran Derwin yang kini penuh akan tanda tanya mengenai Raya dan Natan.
'Apa hubungan mereka berdua? Secepat itukah Raya memiliki hubungan dengan pria berpengaruh di kota ini?'
Tanpa ada kata-kata lagi Natan kembali berjalan, ia merasa kesal dengan apa yang dilakukan istrinya.
Natan menggerutu dengan pelan menuju mobilnya, "Siapa sih pria itu? Seharusnya ia harus menjaga matanya!"
Melihat suaminya begitu kesal. "Tuan, tunggu saya …," panggil Raya sedikit berteriak karena Natan sudah begitu jauh.
Raya menundukkan kepalanya dan berkata kepada pria yang pernah mewarnai kehidupannya dulu.
"Derwin, aku duluan ya karena harus pergi saat ini." Raya pun kembali mengejar suaminya itu.
"Tapi kamu akan datang ke acara pernikahanku dengan Sarah kan, Raya?" tanya Derwin.
Entahlah apa yang dipikirkan Derwin, kenapa dia sangat berharap jika Raya datang kepernikahannya dengan sahabat mantan pacarnya itu.
Apakah ada maksud terselubung dari semua ini?
"Iya nanti aku usahakan datang …," ujar Raya dan fokus mengejar suaminya.
Natan menunggu istrinya untuk masuk ke dalam.
Tok! Tok! Tok!
Raya mengetok kaca mobil beberapa kali, karena Natan memang sengaja mengunci mobilnya dari dalam.
Wajahnya yang kusut dan terlihat seperti begitu cemburu, ia sengaja hanya menurunkan kaca mobil saja.
"Tuan, saya sudah minta maaf atas kesalahan saya karena telah bersembunyi di dada Anda. Saya benar-benar minta maaf atas kesalahan saya," ungkap Raya begitu lembut.
"Apakah kamu masih ingin pulang ke rumah saya?"
Pertanyaan macam apa ini, apakah ini adalah sebuah tawaran atau ancaman?
Raya seketika terdiam dan ia berpikir keras. "Jika saya mengatakan tidak ingin pulang ke rumah Anda lagi, apakah saya di izinkan balik ke rumah dan memutuskan pernikahan ini?"
Netra mata Natan seketika mengembang dan tatapannya begitu sinis, lebih tajam dari seekor burung elang.
Raya langsung memundurkan wajahnya karena ia begitu takut akan tatapan suami sahnya itu.
"Apa kamu pikir pernikahan itu adalah kegiatan yang main-main? Pernikahan adalah hal yang sakral dan tidak bisa kamu anggap sepele!" teriak Natan seakan ia tidak ingin Raya melepaskan tali ikatan suci ini.
Namun bukankah Natan awalnya menginginkan hal ini karena ia telah memiliki seorang wanita yang sebentar lagi akan dinikahinya.
"Tapi Tuan, bukankah Anda menginginkan hal ini sejak awal. Jadi jika saya tidak ada Anda bisa menikahi ke …,"
"Apa yang kamu katakan itu, hah? Sudahlah cepat masuk dan jangan bahas tentang masalah pribadi saya lagi!" potong Natan sembari berteriak dan matanya melotot begitu menyeramkan.
Raya masih terdiam, padahal pintu mobil sudah di buka. Hal itu semakin membuat Natan murka. "Apakah kamu tuli hah? Sudah kubilang masuk ya masuk!"
Deg!
Raya pun dengan hati yang masih kacau masuk ke dalam mobil seorang pria yang sama sekali tidak ia cintai.
Kini ia masih membayangkan wajah Derwin yang seperti terkejut melihat dirinya dengan pria lain.
'Apakah dia berpikir aku adalah wanita yang tidak baik-baik? Karena belum saja beberapa hari aku sudah bersama pria lain? Tapi kenapa dia menyapa Tuan Natan tadi? Atau mungkin Derwin mengenal pria ini?'
Berbagai macam pertanyaan tersirat dalam benak Raya.
Sedangkan Natan sudah menekan pedal gas begitu cepat.
"Tuan, apakah Anda masih sayang nyawa? Bisakah Anda memelankan laju mobilnya?" suruh Raya yang begitu heran dengan perilaku suaminya itu.
Pria ini memiliki mood swing yang lebih parah dengan seorang wanita yang sedang pra menstruasi. Pikir Raya kepada Natan.
Tidak mendengar sama sekali perintah sang istri ia malah terus melajukan mobilnya begitu cepat.
Raya hanya bisa memejamkan matanya dan ia sudah begitu pasrah dengan nyawanya yang seperti melayang karena laju mobil mewah Natan sangat cepat.
"Tuan …."
"Bisakah kamu diam saja?" tanya Natan dengan nada tinggi begitu kesal.
'Apakah benar pria tadi adalah mantan pacar wanita ini?' tanya Natan dalam hatinya, karena ia mengira bahwa istrinya telah memiliki hubungan spesial dengan pria yang bertemu tadi di makam.
Namun, tiba-tiba telpon Natan berdering dan ia memasangkan bluetooth agar tersambung ke speaker mobil.
"Iya halo?" tanpa melihat nama siapa yang menelpon Natan menjawab.
"Sayang, kamu di mana? Aku ingin bertemu sekarang juga, jika tidak aku akan melukai diriku sendiri!"
Tut! Tut! Tut!
Belum saja Natan membalas telpon dari sang kekasih, Aurora langsung menutupnya tanpa mengucapkan apa pun lagi.
Sontak hal ini membuat Natan dan juga Raya ikut panik setelah mendengar ancaman dari Aurora.
Bersambung.