MARRIED WITH MR. COOL

MARRIED WITH MR. COOL
HAMPA



Sontak bola mata Natan mengembang begitu besar melihat kekasihnya tampak begitu marah dengan sangat kesal. Ia tidak bisa berkedik hanya terdiam menahan nafas.


5 menit kemudian ....


Sejak tadi Raya masih berdiam diri di depan mobil melihat Natan yang hanya melamun seperti kesurupan makhluk halus tak kasat mata.


Hah!


‘Pria ini benar-benar pria yang begitu aneh, sejak tadi tidak sedikitpun kata yang ia lontarkan. Dan ...’


Melihat Natan yang seperti kehilangan nafas membuat Raya sedikit berteriak, “Tuan Anda kenapa?”


Hah!


Segera mungkin Natan menggelengkan kepalanya dan memijat pelipis yang sejak tadi begitu sakit. “Astaga apa yang aku pikirkan tadi? Kenapa bisa aku berilusi seperti itu?”


‘Dia berbicara sendiri?’ bisik Raya dalam hati sembari mengkerutkan dahinya karena tingkah Natan yang tidak bisa ditebak sama sekali.


“Mana mungkin aku bisa memposisikan wanita menyebalkan ini dengan kekasihku, Aurora! Tidak ... tidak ... aku harus mengajaknya ke sebuah ruangan agar Aurora tidak dapat melihatnya!” gumam Natan yang masih memegangi kepala dengan kedua tangannya.


Jika diibaratkan wajah Natan seperti kain yang begitu kusut, karena ia benar-benar bingung dengan apa yang mesti ia lakukan saat ini. Di sisi lain Natan harus menjaga hati seseorang yang telah lama ia kenal dan di satu sisi ia juga tidak ingin membuat hati Raya terluka.


Hah!


‘Sepertinya aku memang benar-benar tidak waras saat ini!’ celetuk pewaris tunggal keluarga Moise ini seraya melirikkan tatapan tajamnya ke arah samping.


Merasa ditatap dengan begitu sinis, Raya pun mengalihkan pandangannya. Bukan karena takut hanya saja Raya tidak ingin Natan marah tidak jelas.


‘Apa benar hatiku kacau karena wanita yang ada di depanku saat ini? Tidak mungkin, aku tidak akan pernah meletakkan perasaanku sepersen pun kepada wanita yang tidak jelas asal usulnya dan ingat Natan ia adalah wanita yang berusaha menghancurkan Moise Grup. Dia adalah wanita berbahaya lebih mengerikan daripada ular berbisa yang sedang berpura-pura menjadi hewan jinak,’ desisnya dalam hati.


Ternyata semua tadi hanyalah replika dalam benak Natan, ketika bila Raya dan Aurora saling bertemu. Namun bagaimanapun juga Natan akan menjaga hati wanita yang beberapa bulan lagi akan dinikahinya.


“Kau, cepatlah ikut saya keluar!” perintah Natan dengan nada yang lantang.


Raya tidak bertanya sama sekali, ia hanya turun dan mengikuti pria berkaki jenjang itu ke bagian resepsionis.


Kedua wanita cantik dengan seragam berwarna navy menundukkan kepala begitu hormat kepada pewaris Grup Moise ini.


“Selamat siang Tuan Natan, ada yang perlu kami bantu? Nona Aurora menitip pesan kepada Anda jika ia sudah menunggu Anda sejak tadi.”


Hmm!


“Iya saya tahu, maka dari itu saya kemari untuk menemuinya,” jawab ketus Natan.


Salah satu wanita yang rambutnya di ikat menyerupai sanggul melirik wanita di belakang Natan. 


‘Siapa wanita ini, tumben sekali Tuan Natan mengajak wanita lain ke apartemen yang ada Nona Aurora. Apakah wanita ini adalah alasan mengapa Nona Aurora ngamuk dan menangis ketika ia menyampaikan pesan kepada kami berdua beberapa menit yang lalu?’ bisik wanita yang memiliki warna rambut coklat itu.


Sedangkan Natan begitu santai memerintahkan kedua wanita cantik dengan rok sebawah lutut untuk mengajak Raya ke ruangan khusus yang ada di lantai dasar.


“Tolong bawa wanita ini ke ruangan saya dan kunci ruangannya dari depan,” perintah Natan kepada kedua bawahannya seraya melirik mata Raya yang indah.


Pria itu pun melayangkan pandangan dan melangkahkan kaki menuju ke lantai atas untuk menemui sang kekasih. Tampak dia begitu santai padahal ia tahu jika Aurora bisa saja akan bertindak gegabah karena dirinya.


Tapi ia meyakini bahwa sang kekasih tidak akan bertingkah bodoh. Mimik wajahnya yang panik di dalam mobil tadi ketika mendengar ancaman Aurora itu karena ia terkejut dan juga sangat membenci situasi seperti ini.


Hatinya bercabang dan otaknya pun bercabang.


“Tuan, tidak sebaiknya saya pulang saja dan diam di rumah dibanding di sini?” tanya Raya takut-taku berani.


Natan terdiam, lalu dia dengan cepat menoleh ke arah belakang. “Apa kamu berani melawan perintahku?” 


Baru saja melontarkan perkataan seperti itu kedua wanita yang mengenakan seragam lengkap langsung mengait tangan Raya masing-masing dan segera membawanya ke ruangan khusus milik Natan.


“Nona sebaiknya Anda menuruti apa yang diperintahkan Tuan Natan kepada Anda, jangan sampai Anda membuat Tuan Natan murka karena sangat mengerikan,” bisik salah satu wanita cantik yang menjabat sebagai resepsionis itu.


Lagi-lagi Raya hanya bisa terdiam dan dia pun di ajak ke ruangan yang terletak di lantai satu. Ruangan itu benar-benar luas dan sangat indah, tapi tetap saja membuat Raya tidak nyaman.


“Nona maafkan kami karena harus menguncimu di ruangan ini karena semua ini adalah titah dari Tuan Natan.”


Setelah mengunci pintu, mereka berjalan pelan menuju ke depan sembari berdiskusi mengenai wanita yang di ajak Natan ke apartemen ini.


“Hey apa mungkin wanita itu adalah wanita simpanan Tuan Natan?” tanya wanita yang sejak tadi memperhatikan Raya.


Hussh!


Temannya langsung meletakkan telunjuk di depan bibir, mengisyaratkan rekan kerjanya. “Kecilkan suaramu Nia, jangan membuat spekulasi yang tidak-tidak siapa tahu wanita itu adalah teman Tuan Natan.”


“Mana mungkin ada teman se sepesial wanita itu, Diah. Aku yakin wanita itu adalah penyebab Nona Aurora ngamuk-ngamuk tadi menunggu Tuan Natan di loby depan, tapi Tuan Natan lama sekali datangnya,” pendapat Nia.


“Hush! Sudah aku katakan kepadamu Nia, jangan memiliki persepsi sendiri. Kita kan belum tahu apa penyebab Nona Aurora ngamuk seperti itu,” elak Diah.


“Coba kamu bayangkan, yang kita tahu selain tampan dan tampak begitu sempurna, Tuan Natan adalah pria yang sangat setia pada Nona Aurora. Mana mungkin Tuan Natan bisa melakukan hal itu. Terlebih semua sudah tahu dan rumor akan pernikahan Tuan Natan dan Nona Aurora akan segera menikah juga,” sambung Diah kembali agar temannya tidak berpendapat yang tidak-tidak.


Mereka pun kembali bertugas.


Di samping itu Natan sejak tadi hanya diam di depan kamar, tidak langsung menekan tombol bel.


Namun setiap detik setiap menit Aurora mengecek cctv yang berada di depan pintu. Sontak ia meneteskan obat mata pada kedua matanya agar terlihat dirinya benar-benar menangis.


Gleek!


Natan sedikit terkejut karena ia belum saja menekan bel, tapi ...


“Sayang, kamu kemana saja aku sudah sejak tadi menunggumu ....” Aurora segera memeluk erat tubuh Natan, namun pria ini tidak balik memeluknya.


Entah apa yang dirasakan Natan saat ini. Ia merasakan kehampaan dalam hatinya. ‘Kenapa aku seperti ini kepada Aurora?’


Bersambung.