
Mereka berdua masing memikirkan pikiran masing-masing. Natan menunggu jawaban dari rekan kerjanya yang berharap dirinya mendapatkan petunjuk jika bercerita dengan pria yang mungkin memiliki lebih banyak pengalaman tentang cinta ini.
“Kenapa kamu malah diam Daniel? Apakah perasaan yang saya miliki ini memang salah?” tanya Natan.
Hmm!
Pria berbentuk panjang itu mengeram dan menutupi mulutnya, ia benar-benar terlihat sangat berpikir begitu keras untuk mendapatkan jawaban yang pasti untuk atasannya.
“Saya belum mengetahui kondisi Anda saat ini Pak, tapi jika dipikir-pikir tidakkah Anda memutar perasaan itu kepada wanita kedua yang membuat Anda kacau seperti ini?” tanya balik Daniel.
Perasaan Natan semakin kacau dan ia juga sangat bingung. Ketika hendak meneguk alkohol sekali lagi, Daniel menepis tangan atasannya tersebut.
“Tolong jangan minum lagi Pak. Saya tidak ingin berbicara dengan orang yang mabuk!” tegas Daniel sedikit membentak Natan yang ia lakukan baru kali pertama ini.
Natan seakan anak kecil yang langsung mengikuti perintan dari Daniel. Ia meletakkan sloki itu dan tidak menyentuhnya lagi. Arah matanya masih melihat ke bawah seraya tangannya memegangi pelepis pada kepalanya yang begitu menyakitkan dari dalam.
Kepalanya benar-benar ingin pecah karena tidak mengetahui langkah apa yang harus dilakukan pria perfeksionis ini.
“Iya saya tahu jawabanmu, pasti kamu menyuruh saya untuk mengingat apa yang dilakukan oleh wanita kedua bukan? Tidak sepantasnya saya memiliki perasaan kepada wanita lain, disaat saya sudah memiliki kekasih yang bertahun-tahun menemani saya?” ucap Natan dengan tatapan yang berkaca-kaca.
Dari manik matanya yang melambangkan kelinglungan itu membuat Daniel tidak tahu harus mulai berkata dari mana lagi. Natan hanya butuh saran, bukan kritikan.
“Maafkan saya Pak, bukannya saya ingin menbuat Anda tambah bingung tapi menurut saya seperti itu adanya. Tidakkah kita mempertahankan wanita pertama, karena dia adalah wanita yang telah menemani Anda sejak awal?” ujar Daniel kembali mempertegas Natan, bahwa pria itu seharusnya memilih wanita pertama.
Hmm!
Natan diam, menyadari dirinya sendiri. ‘Benar yang dikatakan oleh Daniel tadi. Aku kenapa sih? Sepertinya aku sudah tidak waras karena telah meletakkan perasaanku kepada wanita yang tidak jelas asal-usulnya dan ia juga adalah wanita yang membuat hubunganku dengan Aurora renggang. Seharusnya aku tetap pendirian dan teguh dengan hatiku! Karena Aurora adalah wanita satu-satunya yang sudah memenangkan hatiku!’ bisik Natan dalam relung hatinya yang teramat sesak saat ini karena hanya memikirkan urusan asmara yang begitu membingungkan.
Namun, Daniel tidak melanjutkan bicaranya yang ingin ia lontarkan sebenarnya seperti ini. “Tapi Pak, perasaan tidak ada yang salah dan jika memang hati Anda memilih wanita kedua menikahlah dengannya. Karena jika cinta Anda kuat dengan wanita pertama, Anda tidak akan pernah goyah dengan cinta-cinta yang baru datang!”
Belum sempat menyampaikan hal itu, Natan memutuskan untuk segera pulang karena tubuhnya begitu pegal dan kepalanya hampir pecah rasanya.
“Daniel, saya pulang lebih dulu ya. Dan sebentar lagi kamu dijemput oleh supir pribadi keluarga saya untuk mengantar kamu pulang. Terima kasih untuk malam ini karena kamu sudah menyuarakan apa yang saya sampaikan. Dan tolong jangan membahas masalah ini lagi, karena saya tahu sekarang apa yang seharusnya saya lakukan,” ungkap Natan seraya menepuk-nepuk pundak bawahannya tersebut.
Daniel hanya menganguk tanpa berucap sepatah kata apa pun. Karena ia tahu benar apa yang dirasakan oleh Natan saat ini. Ia juga pernah terlibat cinta kepada kedua wanita yang berbarengan datang dalam hidupnya. Pada saat itu Daniel memilih wanita kedua, karena wanita kedua adalah gadis sederhana yang patut untuk diperjuangkan. Akan tetapi mereka tidak tahu kabar masing-masing sampai saat ini.
Sedangkan di lain sisi, tepatnya diparkiran mobil wanita yang sangat mengetahui mobil kekasihnya pun terkejut. “Apakah Natan sedang diklub ini sekarang? Ini mobil miliknya. Aku harus hati-hati, dan segera pulang. Pantas saja ia tiba-tiba menelponku, untung saja aku segera berlari mencari tempat sepi agar dia tidak curiga,” gumamnya seperti terbirit-birit ingin meninggalkan tempat yang di dalamnya sangat banyak lautan manusia yang ingin menghilangkan penat sejenak.
“Sayang, kamu memangnya sedang menerima telpon dari siapa sih kenapa harus mencari sepi seperti ini? Apakah kamu tidak sabar melakukan permainan liar denganku nanti malam?” teriak seorang pria kepada wanita itu.
“Sebentar Sayang, tadi aku menerima telpon dari keluargaku. Dan aku juga tidak sabar melakukan permainan itu di ranjang hotel nanti Sayang,” ujar wanita yang berpenampilan sexy itu kepada pria yang sedang ia rangkul dengan erat.
Akan tetapi semuanya tidak seperti berkiraannya, mereka malah berpapasan dengan Natan. Sontak hal itu membuat kedua pasang mata mereka saling bertemu dan mengembang.
“Kamu? Kenapa kamu di sini? Katanya sedang di apartemen?” tanya Natan dengan nada yang datar.
Sejak awal ia tidak salah dengan apa yang dia lihat tadi. Seorang wanita yang sangat dikenalnya mengenakan pakaian minim kain itu bermesraan dengan pria yang saat ini Aurora rangkul. Namun, karena tidak dapat mengejar sang kekasih prasangkanya itu ia tepis dan fokus dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai perasaannya saat ini.
Dan seperti semesta sudah memberikan petunjuk, dengan kebusukan yang dilakukan Aurora sejak lama.
Tidak hanya sekali dua kali Aurora berganti-ganti pasangan, tapi sudah beribu kali. Ia sangat senang bermain perasaan dan tidak puas dengan apa yang selama ini Natan berikan kepadanya.
Manik mata pria yang benar-benar kacau itu melirik cara berpakaian Aurora yang tidak layak sama sekali. Ia menggerakkan bola matanya melihat dari ujung kepala sampai ujung kaki sang kekasih.
“Apakah cara berpakaian seperti ini menurutmu adalah cara berpakaian yang baik, Aurora?” tanya Natan dengan ekpresi yang sedikit emosi, tapi ia berusaha agar tetap terlihat tenang.
Natan benar-benar terkejut, karena sepengetahuan dirinya Aurora adalah gadis yang kalem dan tidak pernah berpenampilan layaknya seorang wanita penghibur seperti ini.
Aurora menganga, ia masih begitu syok dengan apa yang dilihat dihadapannya saat ini. Jantungnya berdegup dengan kencang, bukan takut diputuskan oleh Natan. Tapi dia lebih takut jika rencananya sejak dulu gagap dipertengahan jalan. Ia hanya ingin harta dari Natan, bukan hati dari pewaris tunggal keluarga Moise ini. Sedangkan pria yang ada didekat Aurora tampak bingung dengan apa yang mereka berdua bicarakan.
“Aku sedang berbicara denganmu Aurora. Aku tidak sedang bertanya dengan beberapa mobil di parkiran ini? Apakah kamu berpikir aku adalah orang bodoh yang berbicara hanya sendiri dan memiliki perasaan begitu dalam sendiri kepadamu juga?” Natan terus melontarkan pertanyaan-pertanyaan tanpa jeda.
Karena jujur, hatinya begitu hancur saat ini ketika sang kekasih membohonginya. Apalagi dengan jelas pada saat di table tadi dia melihat Aurora bermain bibir dengan pria yang berada disampingnya ini. Maka dari itu Natan sangat terkejut dan dia segera mengejar wanita yang sangat dicintainya ini.
Aurora melangkahkan kakinya mendekati Natan, dan ia berupaya untuk memberikan sentuhan kepada pria yang ada didekatnya ini. Namun, dengan cepat Natan menepis sentuhan lembut dari wanita yang sangat ia sayangi.
“Tolong jangan menyentuhku, Aurora. Aku tahu apa yang kamu lakukan dengan pria itu tadi, dan ini adalah jawaban dari hubungan kita selama ini. Detik ini juga, aku tidak ingin melihatmu lagi dan kita sudahi saja hubungan ini. Kita putus!”
Bersambung.