MARRIED WITH MR. COOL

MARRIED WITH MR. COOL
PERASAAN KACAU



Wiguna ingin meninggalkan ruangan sang putra dan ia melanjutkan kegiatannya kini yang akan keluarga kota dalam waktu terbilang lama.


“Natan, Papah titip tugas yang harus dikerjakan ya,” ujar Wiguna seraya melangkahkan kaki meninggalkan ruangan besar sang putra.


Huum!


Natan menganggukkan kepalanya. “Baik Pah, tenang saja urusan perusahaan di sini biar Natan yang urus semua.”


Mendengar kalimat itu dari putranya, Wiguna tersenyum dan ia baru saja melihat Natan kecil yang masih meminta pria berusia senja itu untuk digendongnya. ‘Nak, kamu sekarang sudah dewasa. Papah yakin, kamu bisa menentukan kehidupanmu sendiri. Dan sampai sini Papah akan menuntunmu, setelah itu kamu bisa memilih jalanmu sendiri,’ bisik pria yang memiliki hati lembut ini kepada putra satu-satunya.


Jam pun berjalan dengan cepat, acara meeting yang terselenggara oleh para pemimpin yang akan bekerja sama dengan perusahaan bonafit ini pun usai.


Natan membersihkan proposal-proposal yang disampaikan dan diskusikan sejak pagi tadi dalam ruangan meeting. Matanya menunjuk jam tangan yang melingkar dipergelangan tangan kirinya. ‘Sudah pukul 7 malam, apakah dia sudah makan?’ tanya dalam hati.


Tersadar atasannya terlihat melamun, Daniel pun mendekat. “Pak Natan ... kenapa Anda hanya terdiam? Apakah hari ini sangat melelahkan menurut Anda?” tanya Daniel sedikit mencondongkan tubuhnya, karena Natan saat ini sedang dalam posisi duduk dan menggenggam berkas tebal di tangannya.


Menyadari sumber suara ini, pria tampan ini menggelengkan kepalanya dan menoleh ke arah Daniel. “Ah, tidak saya hanya memikirkan sesuatu saja.”


Hmm!


Raut wajah Natan sudah bisa ditebak oleh Daniel. “Apakah Anda sedang memikirkan wanita yang Anda incar?”


“Tidak! Saya sedang tidak bermain-main Daniel, lagipula saya sudah memiliki kekasih yang ingin saya nika ...,” kalimat itu terhenti seketika saat pria ini memikirkan janjinya kepada Aurora, sang kekasih.


Daniel pun mengkerutkan dahi, seakan bertanya-tanya kenapa atasannya itu tidak meneruskan apa yang akan dirinya katakan.


“Pak, apakah Anda tidak apa-apa?” tanya Daniel untuk memastikan.


Natan sangat pandai sejak kecil memendam perasaan sendiri, bahkan dia sama sekali tidak ingin berbagi kisah hidupnya terutama asmaranya kepada siapapun. Namun, akhir-akhir ini ia merasa membutuhkan sosok yang mampu untuk dijadikan pendengar mengenai masalah yang ia alami saat ini.


Di satu sisi, ia tidak bisa melepaskan janjinya kepada Aurora, wanita yang menunggunya untuk dinikahi. Dan di satu sisi, hatinya sudah mulai bergerak ketika ia berada dekat dengan Raya, wanita yang awalnya dia benci itu.


Rasanya jika dibiarkan kepada pria yang hampir tidak pernah merasa kegundahan dalam hatinya ini ingin pecah, hanya karena terkait cinta.


“Daniel, apakah kamu ada waktu saat ini? Saya ingin minum beberapa gelas saja, apakah kamu bisa menemani saya?” pinta Natan.


Tidak menolak, sebagai pria Daniel tahu atasannya ini pasti memiliki masalah yang berusaha ia selesaikan namun tidak mampu. Sehingga ia lampiaskan semuanya ke alkohol, walaupun Natan sebenarnya tidak bisa minum banyak.


“Iya, saya akan menemani Anda. Tapi sebelumnya saya akan memberikan makan Tora dulu, Pak. Tunggu sebentar,” ujar Daniel dan ia segera meninggalkan ruangan meeting itu untuk memberikan makan kepada ikan mas kesayangannya.


Hah!


Natan hanya bisa menghela napas, karena Daniel tidak pernah lupa memberikan makan ikan masnya tersebut setiap detik dan setipa waktu. Apakah Tora adalah ikan yang begitu berarti bagi pria pemilik pesona begitu menawan yang sama dengan Natan itu?


Dengan cepat Natan melanjutkan tumpukan berkas itu. Lagi-lagi bayangan Raya terlintas dalam benaknya, bukannya wajah Aurora.


Memang tidak bisa dipungkiri lagi, perasaan mengenai cinta bisa membawa dampak besar dalam segi apa pun dikehidupan seseorang yang mengelaminya. Termasuk Natan, pria yang begitu cuek bahkan tidak pernah seperti ini sebelumnya pada saat meletakkan hatinya kepada Aurora dulu.


Tapi entah mengapa, wanita yang baru saja datang dalam kehidupannya memporak-porandakan relung hatinya yang benar-benar di jaga.


Natan seperti orang yang sangat kehilang arah, ia tidak bisa mengendalikan emosi dalam logika dan perasaanya saat ini. Semua proposal itu dia biarkan berantakan dan ia meranjak ke suatu sudut berdiri seraya melamun, entah sedang memikirkan apa.


“Ayo berangkat sekarang Pak,” teriak Daniel dari luar setelah memberikan Tora makan.


Natan tidak bergeming sedikitpun, karena ia sedang menatap lampu cemerlap dari ruangan ini yang dibatasi oleh kaca. Ia menoleh Daniel yang memanggilnya lalu melemparkan remot mobil mewah miliknya kepada rekan kerjanya itu.


“Kamu yang bawa mobil saya Daniel,” suruh Natan sembari berjalan dan kedua tangannya berada di sela kantong celana kain di kiri dan di kanan.


Wajahnya masih tetap datar dan dingin.


Namun, ketika ia sedang menyusuri lorong dan kini berada di lantai satu direktur utama sekaligus pewaris tunggal ini melihat ada beberapa karyawannya lembur juga. Lalu tatapan tajam yang ia miliki mengarah ke beberapa karyawan, yang rata-rata adalah wanita.


Ia mendekati mereka, dan diikuti Daniel dari belakang. Dan ia segera berucap dengan nada yang tegas, “Kalian kenapa masih di kantor jam segini? Bukannya saya sudah mengatakan kepada seluruh karyawan jika kalian tidak boleh lembur meskipun banyak tugas yang harus dikerjakan?”


“Saya tegaskan lagi kepada kalian, kami akan membayar uang lembur kalian yang ini. Dan saya tidak ingin lagi melihat ada karyawan yang lembur, karena saya ingin kalian segera beristirahat setelah melakukan kegiatan padat di kantor!”


Ucapan itu terlontar dari mulut pria tampan yang sangat diidolakan oleh para kaum hawa ini. Setelah Natan dan Daniel meninggalkan beberapa karyawan yang pada devisi itu didominasikan oleh wanita, para karyawan tersebut berteriak histeris karena melihat orang kedua di perusahaan ini.


“Waah Pak Natan begitu tampan, aku baru melihat wajahnya sedekat ini!”


“Pak Daniel juga sangat tampan, mereka adalah pangeran yang tidak bisa ditandingi pesonanya.”


“Siapapun yang akan menjadi istri Pak Natan pastinya akan bahagia. Dan aku yakin wanita itu adalah wanita hebat, karena bisa meluluhkan hati pria yang tampak begitu sempurna seperti Pak Natan.”


Kalimat-kalimat itu selalu terlontar di kantor, karena Natan adalah pria yang sangat digilai oleh para wanita di mana pun.


Tibalah di tempat tujuan, Natan tidak menunggu lama lagi dia segera memesan minuman yang mengandung alkohol begitu besar.


Namun, Daniel seakan memastikan kepada atasannya itu. “Pak, Anda kan tidak pandai dalam minum, lagian Anda memiliki sakit lambung kan? Apakah tidak apa memesan minuman itu?”


Natan menggelengkan kepalanya, “Tidak apa Daniel, malam ini aku hanya ingin meluapkan emosiku saja.”


“Memang masalah apa yang Anda sedang hadapi, Pak? Saya tidak pernah melihat Anda sekacau ini?” tanya Daniel yang sangat penasaran dengan apa yang sedang dialami atasan yang tampak perfeksionis itu.


Namun, ketika ingin menjawab pertanyaan Daniel, manik mata suami sah dari Raya Sena itu mengembang dan ia sepertinya melihat wanita yang ia kasihi berada dalam satu club ini.


Hah?


Bersambung.