MARRIED WITH MR. COOL

MARRIED WITH MR. COOL
PENGAKUAN



Uhum!


Natan tiba-tiba batuk dan ia menutupi mulutnya, karena terkejut mendengar permintaan wanita yang begitu menawan dihadapannya itu.


‘Kenapa ... kenapa wanita ini selalu membuatku semakin tertarik kepadanya? Dengan permintaan seperti itu apakah dia memang sudah mengetahui perasaanku sebenarnya?’ desis Natan dalam hatinya bertanya-tanya.


Tanpa melihat ke arah Raya, pria dingin ini fokus mengarah ke arah lautan yang begitu indah dan ia dengan nada ketus seperti biasa bertanya kepada istri sahnya, “Kenapa kamu tiba-tiba meminta hal itu?”


Raya tersenyum tipis, lalu ia memiringkan kepala dan mencondongkan tubuh ke arah Natan. Sangat terlihat jelas, wajah pria kulkas itu seketika memerah tak dapat disembunyikan maka dari itu Natan masih menutupi mulutnya sampai di bawah mata menggunakan telapak tangannya tersebut.


“Tuan, kenapa wajahmu seperti kepiting rebus? Apakah ada sesuatu yang memalukan atau Anda akan mengiyakan permintaan saya tadi?” suara Raya dipermanja, karena ia ingin menggoda suaminya itu.


Sebenarnya Raya sudah menyadari apa yang dirasakan Natan ketika suaminya ini selalu bertingkah aneh kepadanya. Ia tahu Natan memiliki perasaan berbeda kepadanya, akan tetapi wanita pintar dan sangat menawan ini tidak serta merta mencap pria dingin itu menyukainya. Ia selalu berpikir logis, dan tidak mudah baperan terhadap Natan, karena ia ingin fokus menyelesaikan perasaan masa lalunya itu agar ia bisa membuka hati untuk seseorang yang benar-benar mengharapkannya.


Lagipula Raya sedikit trauma dengan hubungan masa lalunya yang begitu diluar dugaan, orang yang seakan mengharapkan dan mencintainya malah mengkhianati begitu kejam.


Natan melayangkan pandangan ke arah samping, dilihatnya wajah Raya yang sama persis sang ibunda. Perawakannya yang begitu sederhana, tapi selalu membuat tenang. Dari kecil Natan selalu diajak ke pelabuan ini dengan ibundanya. Ketika Natan merasa gundah, kesal, emosinya tak dapat dipaparkan ia selalu kemari bahkan sampai ibundanya tak ada di dunia ini pun, tempat ini adalah menjadi tempat pertama yang selalu ia kunjungi saat ini merasa kehilangan arah.


‘Mah? Apakah Mamah ada di sini saat ini? Wanita yang berada di samping Natan membuat Natan tidak dapat menggunakan logika Natan Mah. Apakah wanita yang saat ini Natan lihat, adalah wanita yang Mamah kirimkan untuk Natan?’ pertanyaan di hati paling dalam itu membuat Natan tak sadar ia menatap Raya, seraya manik matanya meneteskan butiran air mata.


Jari tangannya pun mengusap pipi yang telah dijatuhkan air mata. Pria itu menghindari pandangannya agar Raya tak melihat.


‘Aku kenapa ini? Kenapa perasaanku semakin tak menentu jika didekatkan oleh wanita itu?’ bisik Natan untuk dirinya sendiri.


Raya pun gelagapan, ia terlihat bingung dengan perasaan yang dirasa oleh suami sahnya itu. “Tuan, sebenarnya Anda kenapa? Semakin hari Anda seperti terlihat aneh dan sangat jelas Anda tak dapat mengedalikan apa yang Anda rasakan. Hmm! Jika ada hal yang mungkin sulit Anda katakan, katakanlah kepada saya. Siapa tahu saya bisa membantu Anda.”


Ucapan itu terdengar sangat gampang dilontarkan oleh Raya, sedangkan Natan yang pikiran dan hatinya sedang dikuasai emosi begitu sulit untuk memaparkan apa yang dirasa.


Pria dengan tubuh bidang tegap itu segera membalikkan tubuhnya, ia menatap manik mata indah Raya menyorot, tajam, tapi ada tatapan sendu di dalamnya menjadi satu.


Ia melangkahkan kakinya pelan seraya berucap ke arah Raya, “Kamu ini sebenarnya siapa? Kenapa diri saya malah tidak bisa mengendalikan perasaan saya sendiri itu karena kamu!” tunjuk Natan lalu ia melanjutkan perkataannya, “Buatmu ini mungkin lelucon yang ingin kamu ketawakan, karena saya pernah mengatakan kepadamu kamu adalah wanita yang jauh dari kriteria saya dan tidak akan mungkin saya jatuh hati kepadamu! Tapi kenapa ... kenapa ketika kamu muncul dikehidupan saya seakan saya melupakan prinsip kuat yang saya paparkan hah? Apa yang kamu lakukan kepada saya?”


Raya yang sangat bingung itupun hanya bisa menjauhi Natan dengan melangkah mundur. Ia tak tahu jawaban apa yang mesti ia lontarkan kepada pria yang benar-benar terlihat aneh ini.


“Tolong katakan kepada saya, apakah kamu memang memiliki motif terselubung untuk mematikan hati saya hah?” ujar kembali Natan dengan netra matanya yang berkaca-kaca.


Benar-benar emosi Natan tak terkendali, ia mengatakan setiap kalimat yang terlontar dari mulutnya adalah berasa dari hati yang terdalam untuk Raya. Ia sungguh tidak paham sebenarnya perasaannya kepada Raya itu apa.


Raya menggelengkan kepalanya pelan, seperti bingung dan ia mencoba menenangkan Natan dengan mengungkapkan sesuatu, “Tolong katakan to the point apa yang ingin Anda sampaikan kepada saya Tuan. Saya tidak mampu untuk meraba-raba apa yang saat ini Anda lontarkan kepada saya?”


Hah!


Natan memberhentikan langkahnya dan ia memejamkan mata beberapa detik sambil menghembuskan napas. Dan tanpa ragu lagi ia pun berkata, “Sepertinya saya telah jatuh cinta kepada wanita yang jelas-jelas bukan kriteria saya!”


Hum?


Raya memiringkan kepalanya, ia terus mencoba mengartikan apa yang diucapkan Natan.


“Iya, saya mencintai wanita yang berada tepat di depan saya saat ini!” lanjut Natan menyoroti mata Raya.


Sontak pengakuan itu membuat kubil mata Raya mengembang, ia tak dapat mengeluarkan kalimat apa pun dalam mulutnya karena ia benar-benar terkejut dengan apa yang dikatakan Natan kepadanya.


Ia menutup mulutnya, sungguh ia terkejut!


Baru kali pertama ia mendengar ucapan tulus ini dari seorang pria, sebelumnya Derwin tidak pernah mengatakan bahwa pria itu mencintai Raya. Derwin hanya mengatakan jika dirinya tertarik dengan wanita sederhana seperti Raya.


Akan tetapi Natan begitu gentle sebagai seorang pria, ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan apa yang dirasa dirinya ketika berada bersama Raya.


Lagipula cinta tak tahu kapan datangnya, secara tiba-tiba Natan sudah menyakinkan dirinya sendiri bahwa ternyata ia benar-benar mencintai istri sahnya itu.


Ia tak dapat menahan segala kegundahan yang dirasanya lagi kepada Raya. Ia terus bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, apakah perasaan ini patut diungkapkan lalu dipertahankan?


Ternyata keputusan malam ini mengenai pengakuan perasaannya kepada istri sahnya telah bulat. Ia tak mau menunda-nunda lagi, karena begitu tersiksa jika Natan melihat Raya masih mengingat masa lalunya itu.


Ia tidak ingin hati Raya dimiliki siapapun selain dirinya. Karena dia sudah berjanji kepada dirinya sendiri, untuk menjaga dan mencintai Raya setulus hati. Ia akan memulai kisah asmara yang sebenarnya tanpa saling menyakiti satu sama lain.


Tatapan mereka masih saling beradu, manik mata indah Raya berkaca-kaca entah apa yang saat ini ia rasakan.


“Tapi kenapa Anda mencintai saya Tuan?” Raya bertanya karena ia terlihat masih begitu terkejut.


Hum?


Natan memalingkan pandangannya, lalu ia menjawab pertanyaan sang istri, “Apakah jatuh cinta harus ada alasannya? Saya tidak mengerti kenapa bisa-bisanya saya mencintai wanita sepertimu!”


Bersambung.