
Setelah melakukan meeting seharian, dan pertemuan dengan kolaga dalam menjalankan pembangunan yang sempat tersedat karena musibah yang dialami pewaris tunggal Moise Grup ini. Mereka pun segera beristirahat di sofa ruang Natan.
“Niel, sejak tadi saya memperhatikanmu tidak konsisten dalam melakukan persentasi untuk para pengusaha? Atau kamu memang tidak bisa mengalihkan perhatianmu terhadap wanita yang sangat ingin kamu tahu?”
Sembari merapikan tumpukan laporan dengan wajah yang begitu masam dan sangat lelah, Daniel menjawab ketus pertanyaan sahabatnya itu.
“Iya, karena Pak Natan tidak memberitahu saya segera siapa sebenarnya wanita yang saya cari selama ini. Harus menunggu beberapa jam, setelah melakukan pekerjaan seharian.” Lirik Daniel kepada Natan, lalu ia meminum segelas air putih untuk menenangkan diri.
Sejujurnya Daniel memang tak mampu untuk perpikir jernih, tidak bisa bersikap secara profesional. Ini kali pertama, karyawan terbaik yang dimiliki oleh Moise Grup menunjukkan sikap tak karuan, seperti yang pernah dialami Natan ketika ia mulai jatuh cinta dengan Raya.
Apakah memang benar cinta dapat membuat seseorang terkadang bodoh atau bersikap tak seperti biasanya? Itu yang sedang di alami, pria memiliki paras bak dewa dan sangat menawan ini terkait wanita pemilik senyum begitu meluluhkan yang ia temui beberapa tahun silam.
Heh!
Natan malah menampilkan senyum tipis seraya menutup mulutnya, karena ia ingat sekali ia pernah bersikap sama seperti sahabatnya tersebut.
Logika yang selalu ia pakai tak berfungsi dengan baik, bahkan bisa mengalahkan dengan perasaan yang sangat menggebu-gebu mengenai seseorang yang sangat ia inginkan.
Hah!
Daniel menghela napas, dan memberhentikan kegiatannya sejenak. Ia menyempitkan kubil matanya, menerka-nerka bahwa apa yang dijanjikan Natan terkait pria itu mengetahui siapa wanita yang berada di dalam foto Daniel hanya omong kosong.
“Pak, jangan-jangan Anda membohongi saya?”
Heh?
Natan pun menoleh melihat sahabatnya sedang memasang wajah ingin menerkam. “Hah!” Natan begitu lelah, ia pun menghela napas sebelum menjawab pertanyaan dari Daniel.
“Saya kan sudah bilang kepadamu, setelah semuanya selesai kamu harus mampir ke rumah saya di sana kamu akan mengetahuinya,” jawab pelan Natan, yang biasanya akan penuh emosi dan penekanan.
Satu jam pun berlalu, jam menunjukkan pukul 9 malam dan mereka pun segera bergegas pulang ke rumah.
“Niel, kamu menginap saja di rumah saya ya. Ini sudah malam, besok pagi kita berangkat kerja berbarengan,” perintah Natan yang duduk di samping kiri mobil mewahnya.
Sambil menyupir, dan fokus ke depan Daniel melirik sebentar lalu kemudian kembali melihat ke depan. “Saya tidak membawa pakaian ganti Pak, lagipula saya belum pernah ke rumah Anda, masa iya saya merepotkan Anda.”
“Ini adalah perintah, kamu tidak bisa menolak apa yang sudah saya perintahkan!” Seperti biasa, Natan adalah Natan yang selalu memberikan perintah sesuka hati.
Mau bagaimana lagi, jika Natan sudah melontarkan kata-kata perintah itu ia tak bisa menolah atasannya.
Sampailah di mansion mewah Keluarga Moise, Daniel yang memang dari putra orang ternama juga tak heran melihat kemegahan dan bangunan yang bergaya klasik ini. Ia hanya berjalan sejajar dengan atasannya.
Raya yang sejak tadi menunggu suaminya pun memeluk dengan erat. “Sayang, selamat datang di rumah. Aku sudah memasak makanan kesukaanmu.”
Natan dengan bahagia menyambut hangat pelukan sang istri dengan senyuman yang terbaik. “Sayang, kenapa kamu belum tidur jam segini. Kan sudah ada Ana dan Mbak Laras, tolong istirahatlah.”
Begitu manja, Raya menggelengkan kepalanya seraya melingkarkan kedua tangan di leher Natan. “Aku ingin menyambut kepulangan suamiku.”
Biasa, pemandangan pasangan suami istri yang baru bisa menunjukkan kebucinan mereka setelah perasaan yang selalu menggerogoti.
Daniel sedikit terkejut, ternyata atasannya yang selalu menutupi kisah asmaranya ternyata sudah memiliki seorang spesial. Dan ia bisa menebak, bahwasanya yang membuat Natan benar-benar galau berat pastinya wanita yang memiliki senyum sederhana ini.
Raya tak sadar ternyata suaminya membawa seorang teman, baru ia menoleh ke belakang. Dan Daniel segera menundukkan kepalanya memberikan hormat kepada Nyonya Muda di keluarga ini.
Tak seperti biasa Ana yang menyambut kedatangan Tuan Mudanya itu, hanya ada pelayan lainnya dan juga Laras.
“Oh iya, mana Ana Sayang?” tanya Natan akan kehadiran pelayannya itu.
Hem ....
Raya bergema, ia menunjuk ke belakang karena Ana tiba-tiba izin ke toilet entah kata dia perutnya tak enak dan seperti mual.
Natan hanya mengangguk saja.
Sampai kedua pria itu makan malam di temani Raya, Ana pun tak kunjung datang.
“Sudah selesai, terima kasih atas makan malamnya ya Sayang,” ungkap Natan sembari mengelus-elus pundak kepala wanita cantik yang duduk di sampingnya.
Raya hanya tersenyum hangat kepada suaminya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Natan pun menoleh ke depan, melihat Daniel yang merogoh ponselnya. Entah ia membalas pesan dari siapa.
“Niel, nanti kamu akan di antar oleh Mbak Laras. Di sana sudah tersedia pakaian ganti dan juga kemeja yang hendak kamu kenakan besok pagi untuk bekerja. Kamu pasti lelah kan seharian mengurus proposal dan banyaknya persentasi untuk kenerja bulan depan, jadi istirahatlah dengan baik.”
Sebagai seorang sahabat, Natan sangat memperhatikan Daniel dan itu membuat Raya senyum-senyum sendiri. Karena pria yang dulunya begitu dingin dan terlihat sangat cuek dengan siapa pun, ternyata memiliki sifat aslinya yang tak terduga sedikitpun.
“Terima kasih ya Pak,” ujar singkat Daniel, dan ia pun mengikuti arahan Laras yang sudah menunggunya ke suatu kamar terbaik di mansion megah ini.
Namun, dalam setiap hentakan kaki yang ia gerakkan masih tersirat sutau yang membuat ia sangat penasaran. ‘Sebenarnya apa yang ingin Pak Natan beritahu aku? Kenapa ia belum memberitahuku mengenai wanita yang ada di foto jadul yang aku ambil diam-diam waktu itu?’ bisik Daniel dalam hati.
Karena sudah mengetahui sikap buruk Natan yang sedikit pelupa, ia pun hanya bisa pasrah akan perkataan atasannya tadi. Dan selalu menekankan bahwa ‘Mungkin Pak Natan Lupa!’
Sedangkan ketika Natan dan Raya sudah berada di depan kabar, pria ini dengan romatis mengecup dahi istrinya dan mengucapkan, “Sayang, aku mau ke belakang dulu ya. Sebentar saja kok tidak lama, dan jika kamu sudah mengantuk tidurlah duluan.”
Tampak terlihat sangat serius, Natan dengan cepat melangkahkan kaki dengan cepat. Ia menuju ke kamar Ana.
Tok! Tok!
“Ana, apakah kamu ada di dalam?” tanya Natan dari luar seraya masih mengetok pintu.
Uhuk! Uhuk!
Terdengar ada suara batuk yang mendekati pintu untuk membukanya.
Benar saja tampak Ana yang terlihat pucat dan matanya memerah membuka pintu, tapi ia masih saja bisa menyambut Natan dengan hormat. “Selamat malam Tuan Muda, maaf saya tak bisa menyambut Anda.”
“Tidak perlu mengkhawatirkan hal itu, ini minumlah!” Natan memberikan beberapa pil untuk Ana.
Dengan cepat wanita muda itu segera meminum beberapa pil itu tanpa bertanya apa fungsi dari semua pil tersebut yang diberikan oleh tuannya.
Sebenarnya apa yang terjadi dengan pelayan terbaik dari keluarga Moise ini?
Bersambung.