
Sontak perintah dari Tuan Mudanya itu membuat Laras terkejut sekaligus kesal.
Ini adalah kali pertama Natan memberikan perintah seperti ini kepadanya yang mengucapkan bahwa sebentar lagi pria itu akan segera pulang ke rumah.
"Tunggu saya 10 menit lagi, dan saya minta Mbak Laras serta Ana memilihkan pakaian indah yang akan ia kenakan sekarang juga."
Setelahnya Natan segera menutup telpon dan senyum-senyum sendirian yang masih menatap layar ponselnya itu.
Entah apa yang saat ini di pikirkan? Atau mungkin Natan senang jika sebentar lagi dirinya akan keluar berdua saja dengan istri sahnya itu?
Dubrakk!
Natan membuka pintu ruang meeting yang membuat semua kolega dan petinggi terkejut. Natan Moise, putra tunggal dari CEO baik hati dari Wiguna ini seperti orang yang begitu berbeda.
Ia seperti orang yang sedang di mabuk kasmaran. Atau mungkin efek dari alkohol yang kemarin ia minum masih terasa sampai saat ini?
Hmm!
Natan segera menundukkan kepalanya dan meminta maaf untuk meninggalkan meeting hari ini karena ada urusan mendadak.
"Saya mohon maaf atas ketidaksopanan saya saat ini. Karena saya harus meninggalkan acara meeting yang begitu penting mengenai kerja sama untuk membahas project yang akan dikerjakan di bulan berikutnya," jelasnya lalu melihat Daryan yang menjadi tamu terpenting dalam acara meeting ini.
"Untuk Pak Daryan, saya meminta maaf karena saya tidak bisa mengikuti meeting saat ini sampai akhir."
Lalu ia melirik pria yang sangat dihormatinya, "Untuk Papa aku minta maaf, aku akan pulang ke rumah dan segera meninggalkan ruangan ini. Sampai jumpa dan selamat sore."
Pria pemilik kaki jenjang itu segera melangkahkan kakinya keluar setelah membungkukkan tubuh kepada semua petinggi di sana. Ia seperti seorang suami yang baru saja ditelpon oleh pihak rumah karena istrinya akan segera melahirkan.
Sejak tadi Wiguna memperhatikan putra yang tidak biasa. Hmm! 'Apa gerangan yang membuatnya seperti ini? Apakah ini terkait Raya?' tanya Wiguna dalam hati sembari masih memperhatikan Natan berjalan menuju luar ruangan.
Lalu Wiguna segera merogoh ponselnya dan menelpon Pak Iful untuk menanyakan apa yang membuat putranya tergesa-gesa seperti itu. "Hallo Pak Iful, minta tolong lihat gerak-gerik Natan setelah pulang ke rumah. Dan tolong segera kabarkan saya apa yang terjadi setelahnya."
Pria yang mengenakan jas lengkap sambil membawa tas berisikan berkas itu senyum-senyum sendiri dari keluar ruang meeting sampai menuju tempat parkiran. Entah ia seperti sedang menerima kabar baik atau hatinya sedang berbunga-bunga.
Sampai para kaum hawa begitu heran dan bingung melihat tingkah laku orang kedua di perusahaan ini.
"Wah, kenapa Pak Natan cepat-cepat seperti itu sambil senyum-senyum pula. Bukankah acara meeting masih terselenggara sampai nanti malam?" ucap salah satu karyawatinya.
"Iya, benar sekali apa katamu. Karena pak direktur bilang saat meeting general, katanya perusahaan ini akan menjalin kerja sama dengan CEO muda dari perusahaan terkenal dan ternama dari luar kota," sahut temannya yang masih memperhatikan Natan.
Namun, wanita yang berdiri sejajar di antara mereka wajahnya berubah menjadi merah dan temannya pun menoleh ke arahnya.
"Hey kamu kenapa? Wajahmu seperti udang rebus."
"Waah, sungguh luar biasa wajah Pak Natan. Baru pertama kali aku melihat senyumnya yang begitu indah seperti itu, biasanya ia selalu menampakkan ekspresi serius dan datar," kagum bawahnya.
Memang Natan selalu menjadi perbincangan dan topik pertama di perusahaan ini.
Di parkiran basement, Natan buru-buru mencari mobilnya yang berwarna putih. Entah apa yang ia pikirkan sampai-sampai membuat ujung kepalanya terbentur dengan badan mobil mewah itu pada saat ingin membuka pintu.
Awwh!
Dia saja tidak mengetahui apa yang dirasakan apalagi kita?
Lalu ia segera menginjak pedal gas serasa berucap, "Tunggu aku!"
Sedangkan Raya, Laras, dan Ana sedang sibuk mencarikan pakaian yang pas untuk wanita yang memiliki hati indah ini.
Sejak tadi Raya tidak menemukan pakaian yang tepat. Dan ia pun bertanya begitu polos kepada Laras maupun Ana, "Mbak, Ana saya hanya ingin menghirup udara saja kenapa harus mengenakan pakaian mewah seperti ini? Baju yang saya kenakan saja sudah cukup kok."
Ana langsung tersenyum dengan kepolosan temannya itu. Sedangkan Laras menaikkan alisnya dalam hati ia berkata, 'Dasar wanita kampungan! Dia lebih cocok tinggal di desa daripada di rumah mewah ini!'
"Nyonya, ini adalah perintah dari Tuan Muda Natan. Apa Anda mau melanggar perintahnya hum?" ujar Laras sedikit ketus.
Memang, Laras sejak awal tidak pernah menampilkan hal baik kepada Raya. Hanya saja ia pintar menyembunyikan muslihat liciknya itu.
Raya pun hanya mengangguk pelan dan ia bergumam dalam hati, 'Padahal pakaian ini masih layak untuk dikenakan. Tapi kenapa pria itu selalu membuat anak buahnya repot untuk mengurusku?'
Lalu ia pun mendapatkan blouse sederhana berwarna nude dan celana kain panjang berwarna putih. Raya nampak begitu menawan.
"Waah Nyonya Raya sangat cantik sekali," kagum Ana yang memanggil Raya dengan sebutan Nyonya karena masih ada Laras.
Berbeda dengan Ana yang begitu kagum, Laras hanya diam dan memasang wajah masam sama sekali tidak mengatakan apa pun.
Braak!
Tiba-tiba tanpa mengetuk pintu, Natan sudah tiba dan melirik ke arah sudut. Untung saja Raya sudah mengenakan pakaian dengan rapi.
"Apakah kamu sudah siap?" teriak Natan mendekati Raya dan kedua maidnya.
Seperti biasa Laras melangkah dan menundukkan kepala. "Tuan Natan, Anda sudah datang. Saya sudah memilihkan pakaian yang lebih bagus ketimbang dikenakan Nyonya Raya saat ini. Pakaiannya terlihat sederhana dan tidak menarik sama sekali."
Ana yang mendengarkan merasa geram, tapi berbeda dengan Raya yang sedikit terkejut ia pun bertanya kepadanya dirinya sendiri, 'Hmm apakah pilihanku begitu jelek? Ah, tidak juga pilihanku tetap yang terbaik bagiku.'
Natan diam belum menjawab sama sekali, tapi dari lirikan mata pria ini yang begitu tajam, Laras tahu apa yang akan dilontarkan Tuannya.
Hmm!
Laras begitu senang karena ia tidak sabar mendengar gertakan Natan yang akan membuat hati Raya sakit.
Manik mata Natan dan Raya saling bertemu, tanpa kata mereka masih saling pandang. Sehingga beberapa menit kemudian Natan bertanya, "Apakah kamu nyaman mengenakan pakaian itu?"
Tanpa ragu Raya mengganggukkan kepala, "Iya saya nyaman mengenakannya. Karena terlihat sederhana dan tidak ribet."
Natan mengangguk pelan dan ia pun segera mengajak Raya keluar.
"Ayo kemarilah katanya kamu ingin keluar mencari angin."
Sontak hal itu membuat Laras sedikit kesal dan kecewa. 'Kenapa Tuan Natan bersikap lembut seperti itu kepada wanita kampungan tersebut?! Atau jangan-jangan dia …,' gumamnya terhenti dalam hati.
Bersambung.