Love Affair

Love Affair
PART 9



“Raya, kamu tidak sarapan dulu?” tanya Tante Tessa


Raya menebarkan senyumnya pada Tessa,  “Sarapan di Cafe saja, Tante. Soalnya hari ini Raya banyak kerjaan.”


Raya mencium pipi kiri dan kanan Tessa. Tatapan Bayu dan Raya bertemu, namun Raya segera menghindari tatapan itu. Saat di halaman rumah, Defin sudah menunggu. Dia melarang Raya untuk pergi sendiri karena sebentar lagi Bayu akan berangkat ke kantor.


“Ini perintah dari Tuan Bayu,” ucap Defin


“Aku tidak terikat apapun padanya. Jadi jangan halangi jalanku!”


Bayu memang keterlaluan. Sudah menyakitinya secara fisik dan kini luka memar di lengan Raya masih terasa nyeri di tambah lagi perkataan Bayu semalam membuat hatinya lebih sakit. Sebenarnya apa masalahnya jika Raya memiliki teman lawan jenis. Begitulah yang berkecamuk dalam hati Raya.


Raya segera masuk ke dalam taksi yang sudah di pesannya yang memang sudah menunggu sejak tadi.


“Kamu kenapa, Raya? Akhir-akhir ini kamu banyak diam. Apa ada masalah?” tanya Intan


Raya menggelengkan kepanya, “Tidak ada. Aku hanya memikirkan pekerjaan saja.”


"Kalau itu jangan terlalu di pikirkan. Kamu tidak lupakan tujuan kita buat Cafe ini."


"Iya, Intan. Aku sejenak lupa tujuan kita hanya untuk bersenang-senang."


“Kita harus cari karyawan baru untuk mengisi posisi yang kosong.”


“Memangnya ada yang mengundurkan diri?”


“Iya, Wina berhenti.”


Raya terkejut saat mendengar nama itu disebut, “Wi... Wina?”


Intan mengangguk seraya duduk di samping Raya, “Padahal kinerjanya bagus selama kerja di sini. Tapi entah kenapa dia tiba-tiba mengundurkan diri.”


“Mungkin saja dia mendapatkan pekerjaan baru yang lebih baik.”


“Dia mengatakan karena ada urusan pribadi yang tidak bisa di tinggal. Menurutku aneh saja, dia terkesan buru-buru. Dia memberitahu aku lewat pesan singkat dan setelah aku coba menghubunginya, nomornya sudah tidak aktif lagi.”


“Menurutku hal itu wajar saja.“


"Semua wajar bagimu, Raya." Intan kesal dengan respon sahabatnya yang terkesan tidak mendukung kecurigaannya.


"Sudah jangan di pikirkan. Masih banyak di luar sana yang bisa kita jadikan karyawan. Tadi kamu mengatakan padaku agar tidak memikirkan pekerjaan tapi lihat sekarang kamu yang mencurigai karyawan yang memang sudah tidak ingin bekerja dengan kita."


Apa yang sudah dilakukan Om Bayu sampai Wina mengundurkan diri. Jangan sampai hal buruk terjadi pada gadis itu. Batin Raya


“Raya, aku sudah dapat konsep baru untuk Cafe kita. Gimana kalau nanti kita bicarain sama yang lain?”


“Iya, tapi aku selesaikan kerjaan aku dulu ya.”


“Gimana kalau nanti waktu jam makan siang. Sekalian kita makan diluar?”


“Boleh juga, setelah pekerjaan ini selesai kita berangkat.”


Setelah memastikan semua kerjaannya selesai, Raya dan rekan kerjanya menuju mall untuk makan siang dan membahas masalah Cafe. Semua perencanan sudah tersusun rapi, hanya tinggal menunggu desain selesai dan akan segera di kerjakan.


Untuk mengisi waktu luangnya Raya dan Intan memutuskan untuk menonton film di bioskop. Gedung bioskop terletak di lantai empat mall itu, maka mereka langsung menuju kesana.


Pandangan Raya dilepaskan pada etalase-etalase yang terpampang di sekitarnya. Untuk sesaat, Raya mulai melupakan kerisauan hatinya. Ya, dia begitu risau memikirkan permasalahan yang dihadapi. Terutama persoalan Bayu, maupun Wina. Raya takut gadis itu mendapat masalah karena dirinya.


Raya duduk di ruang tunggu, sedangkan Intan sedang membeli minuman dan popcorn.


“Mau nonton, Raya?” sapa sebuah suara yang sempat mengejutkan Raya. Raya terperangah saat mengetahui siapa yang menyapa.


Javier!


Kini Javier telah berdiri di hadapannya. Di sisi Javier ada seorang gadis, yang sebenarnya tidak cantik, tapi cukup menarik. Gadis itu terlihat begitu dewasa dengan rambut yang dibiarkan terurai sampai ke pundak.


“Kalau nonton, ayo sama-sama. Kayaknya kamu sendirian.”


“Aku lagi nunggu teman. Kamu duluan saja,” sahut Raya agak gugup sambil melirik ke arah gadis di samping Javier. Javier bisa menangkap arti lirikan itu.


“Oh iya, kenalkan. Ini Siska.”


Kemudian Raya dan siska, saling berjabat tangan. Siska menyambutnya dengan senyuman. Senyumnya terlihat seperti dipaksakan. Sorot matanya yang tajam, mengisyaratkan adanya ketidak senangan terhadap Raya. Sebagai gadis dewasa, Raya bisa menangkap itu, meskipun terlihat samar.


“Gimana lengan kamu sudah sembuh?” tanya Javier


“Ya... sudah mendingan, kok.”


“Ayo, kita masuk udah mau mulai filmnya.” Intan menarik tangan Raya.


“Aku, masuk dulu ya,” ucap Raya seraya tersenyum pada Javier dan Siska.


“Raya, apa yang baru saja kamu lakukan. Kamu lihatkan pacarnya tidak suka sama kamu,” ucap Intan yang sedang menikmati popcorn


“Ya, aku juga tidak enak kalau langsung pergi begitu saja. Untung kamu datang.”


“Tatapan wanita itu, seperti ingin membunuh kamu.”


“Sudah, jangan menggosip terus. Aku memang tidak mempunyai hubungan apapun dengan Javier hanya kenal saja dan tidak lebih.”


"Tapi jika kamu menyukai Javier aku akan membantu kamu agar wanita itu tidak mengganggu kalian."


"Jangan konyol, Intan." Raya menendang kaki Intan


"Tidak ada masalah jika mereka belum menikah. Tapi, kalau mereka sudah menikah jangan coba-coba mengganggunya."


"Iya." Raya terdiam seribu bahasa. Entah apa yang akan di katakan sahabatnya jika dia tahu hubungan Raya dengan Bayu.


Saat film sudah di putar. Semua mata fokus memandang ke depan. Begitu juga dengan Raya, namun pikiranya jauh melayang. Hanya sedikit kecewa saat mengetahui Javier sudah memiliki kekasih. Bukan dia ingin memiliki hubungan yang lebih. Raya hanya merasa nyaman saat bercerita dengan Javier. Jika Javier sudah memiliki kekasih dia harus menjaga jarak, karena tidak ingin masalah baru akan muncul.


🌟🌟🌟


Begitu sampai di Cafe, Raya memilih langsung menuju kamar pribadinya yang terletak di ruang kerja. Raya malam ini memilih untuk tidak pulang.


Di luar masih saja gerimis. Mendung hitam memayungi langit kota. Jalanan basah. Raya membuka bajunya perlahan. Bekas luka memar di lenganya belum juga hilang, bahkan bertambah parah karena perbuatan Bayu.


Mata Raya menerawang jauh. Hidup sebatang kara membuatnya kehilangan arah. Semua masalah harus dia hadapi sendiri.


Kemudian air matanya tumpah. Saat membaca pesan singkat dari Tantenya yang menanyakan keberadannya dan menanyakan pukul berapa Raya akan pulang. Perasaannya benar-benar hancur. Betapa tidak, kasih sayang tulus dari Tante Tessa dia balas dengan racun.


Suara pintu yang berderit, sempat membuyarkan lamunan Raya. Raya menatap kearah pintu dan disana sudah ada Bayu. Setelah sadar, segera dia menghapus air matanya dan segera mengenakan kembali pakaiannya.


“Kenapa kamu tidak pulang ke rumah?” tanya Bayu


“Aku sedang ingin sendiri.”


Bayu meraih tangan Raya yang sedang menutupi lenganya, “Maaf, jika kemarin aku melewati batas.”


Bayu memoleskan obat berupa gel bening, terasa sejuk saat menyentuh kulit Raya.


“Aku tidak menyangka kalau memarnya seluas ini.”


“Sebelum itu, memang sudah terkena benturan saat perjalanan ke Villa.”


“Randra, memang selalu saja ceroboh.”


"Tapi kamu yang membuat memarnya semakin parah."


"Maka dari itu aku datang."


"Kamu punya indra ke enam atau ada kamera tersembunyi yang kamu simpan di setiap sudut ruangan ini?"


"Aku mengetahui semuanya dan kamu tidak perlu tahu semua itu berasal dari mana."


Setelah tidak ada lagi yang mereka bicarakan, lalu mereka pun sama-sama terdiam. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Suara rintik hujan yang semakin deras memenuhi telinga mereka.


Raya masih termenung dengan pikirannya, ketika sebuah tangan dengan lembut menyentuh jari-jemarinya. Raya menatap Bayu.


“Untuk sementara aku ingin tinggal disini,” ucap Raya


“Tiga hari... aku hanya mau tiga hari kamu tinggal disini.”


Bayu menarik Raya kepelukannya. Mengusap pucuk kepala Raya dengan lembut.


“Aku takut... aku tidak sanggup bertemu Tante Tessa,” ucap Raya dengan berlinang air mata.


“Jangan pikirkan yang lain, semuanya aku yang akan menanggungnya. Semua ini bermula dariku bukan kesalahan kamu, Raya.”


“Semua yang dikatakan Mama, memang benar adanya. Aku memang tidak pantas hidup. Aku hanya membawa masalah untuk siapa saja.”


“Ssst... tidak perlu kamu pikirkan lagi perkataan Mamamu. Dia hanya tidak bisa menerima kenyataan dan menjadi depresi. Dia melampiaskan kemarahanya padamu.”


Setelah memastikan Raya tertidur lelap. Bayu pulang ke rumahnya. Tepat pukul satu dini hari. Tessa sudah tertidur saat Bayu masuk kekamar.


Akhir-akhir ini Tessa sudah sedikit berubah. Dia lebih sering di rumah dan hanya sesekali pulang terlambat. Semuaya sudah terlambat, kini hati Bayu sudah berpindah. Hanya rasa bersalah yang tertinggal.


 


✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨


FOLLOW IG AUTHOR: @hanania442